Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Belah duren


__ADS_3

"Sayang kalau kamu tidak suka jangan memaksakan diri, kamu tidak usah memakainya, aku akan menyuruh bawahanku untuk membawakan kamu baju lagi, yang sesuai dengan keinginan kamu," ucap Rafa lagi masih dengan wajah yang semakin kasian, yang membuat Rara semakin merasa tidak enak jika merepotkan Rafa lagi, padahal Rara hanya terlalu polos saja hingga tidak mengetahui rencana terselubung suaminya itu.


"Nggak kok aku suka kamu tidak perlu menyuruh bawahan kamu lagi untuk membawakan baju, aku ke dalam dulu untuk memakainya," ucap Rara lalu segera masuk ke dalam kamar ganti.


Ya ampun Rafa tidak akan mikir macam-macamkan jika aku memakai ini di depannya sebentar, inikan bawahannya yang siapkan jadi aku tidak ada niat sedikitpun untuk berpakaian sexy di depannya, ini pertama kalinya di dalam hidupku memakai pakaian sexy di hadapan pria lain batin Rara.


Rara tidak tahu saja kalau Rafa malah akan sangat menyukai jika Rara berpakaian sexy, bahkan itulah yang sangat dia tunggu-tunggu.


"Tapi Rafa kan suamiku jadi nggak apa-apa, iya pakai saja terus pijitin Rafa lalu tidur," ucap Rara meyakinkan dirinya sendiri agar memakai pakaian transparan itu dan juga sangat terbuka.


Duh istriku lama banget yah, aku benar-benar sudah tidak sabar nih, apa aku susul saja yah, tapi nanti dia curiga dan pasti terlihat jelas kalau aku nggak sabaran batin Rafa.


"Sabar Rafa..sabar, pelan-pelan saja oke," ucap Rafa pada dirinya sendiri.


Tak lama Rara pun keluar dan Rafa langsung menoleh kepada Rara.


"Glukk.." Rafa menelan salivanya dengan kasar begitu dia melihat pemandangan yang sangat indah di depan matanya.


Ini jauh lebih sexy dari yang aku bayangkan batin Rafa.


Rara tampak sangat malu dan juga mencoba menutupi bagian dadanya.


"Sayang apa kamu mencoba merayuku?" tanya Rafa sambil berjalan mendekati Rara dengan tatapan mesumnya.


Rara langsung menggelengkan kepalanya begitu mendengar ucapan Rafa.


"Tidak sama sekali," ucap Rara cepat.


"Lalu kenapa kamu berpakaian sexy begini sayang?" tanya Rafa lagi sambil memeluk Rara dari belakang dan memberikan kecupan-kecupan lembut di leher istrinya itu yang membuat Rara langsung merinding seketika.


"Emm ini karena di dalam hanya ada baju yang belum selesai jahit saja, nggak ada baju lain lagi," ucap Rara.


"Apapun alasannya kamu sudah membangunkan sesuatu sayang, jadi kamu harus bertanggung jawab untuk menidurkannya kembali," ucap Rafa.


Rara tampak bingung setelah mendengar ucapan Rafa.


"Apa yang bangun?" tanya Rara.


"Sebentar kamu akan mengetahuinya sendiri," ucap Rafa yang mulai ******* leher istrinya itu.


"Emm Rafa, ayo aku pijitin kamu katanya tadi kamu capek," ucap Rara berusaha agar Rafa menghentikan aksinya itu.

__ADS_1


Rafa malah mengangkat tubuh istrinya itu bridal style membuat Rara sedikit terkejut.


Rafa lalu membaringkan Rara di tempat tidur dan segera menindih tubuh istrinya itu.


Ya ampun rusak deh bunga mawarnya, padahal tadi sudah tertata sangat rapi sampai-sampai aku tidak ingin merusaknya batin Rara.


Rafa terus memperhatikan wajah istrinya itu hingga Rafa fokus melihat ke bibir merah istrinya itu.


"Ra..," ucapan Rara berhenti karena Rafa sudah mencium bibirnya dengan sangat lembut.


Rara melihat Rafa yang berbeda malam ini, tatapannya sayu penuh dengan gairah. Rara pun membiarkan Rafa yang menciumnya, Rara tidak tahu berciuman walaupun sebelum-sebelumnya Rafa menciumnya juga namun Rara belum ahli juga dalam berciuman.


Rafa kenapa apa karena pakaian aku ini, sehingga dia begini, gimana kalau Rafa menginginkan haknya batin Rara yang mulai tersadar dengan sentuhan Rafa malam ini seakan-akan Rafa menginginkan lebih daripada yang pernah mereka lakukan.


Rafa mulai membuka bajunya terlebih dahulu membuat Rara semakin deg-degkan.


"Rafa kenapa kamu membuka baju?" tanya Rara.


Istriku ini polos sekali, mau belah duren nggak enak kalau pakai baju batin Rafa.


"Panas sayang," jawab Rafa.


"Kenapa kamu menindihku terus, apa kamu tidak mau tidur, kamu lagi capek kan," ucap Rara sambil berharap Rafa akan segera tidur, Rara masih tidak tahu harus berbuat apa kalau sampai Rafa meminta haknya malam ini dia tidak ada persiapan sama sekali dan menurut yang pernah dia baca itu akan sakit jika baru pertama kali dilakukan.


"Sayang apa kamu mencintaiku?" tanya Rafa sambil menatap kedua mata Rara yang masih di tindihnya.


Rara pun menganggukan kepalanya.


"Iya aku mencintaimu," jawab Rara.


"Aku juga sangat mencintai kamu," ucap Rafa lalu mengecup bibir Rara lembut.


"Apa aku boleh meminta hak aku?" tanya Rafa.


Deg... jantung Rara serasa ingin copot begitu mendengar pertanyaan Rafa.


"Kamu tidak mau?" tanya Rafa sambil memasang wajah yang sedikit kecewa.


Rafa bisa saja langsung melakukannya tanpa bertanya kepada Rara, sekarang saja dia benar-benar lagi susah payah untuk menahannya, tubuh Rara sangat menggoda untuknya, tapi Rafa memutuskan untuk bertanya kepada Rara terlebih dahulu.


"Bukannya begitu hanya saja aku takut, bukankah itu sangat sakit, aku belum ada persiapan sama sekali," ucap Rara yang pipinya sudah merona gara-gara membahas yang seperti itu pada Rafa.

__ADS_1


"Kamu tidak usah takut sayang, aku akan pelan-pelan," ucap Rafa lalu mencium kening Rara.


"Aku mau memberikan hak kamu," ucap Rara yang membuat Rafa langsung tersenyum seketika.


Aku nggak mungkin menolaknya karena itu dosa lagian aku sangat mencintai dia juga, aku harus bisa menahannya batin Rara.


Rafa mulai mencium bibir istrinya sambil tangannya yang sudah bermain di tempat lain.


Setelah di bibir Rafa mulai menjil*at daun telinga Rara hingga turun ke leher, Rafa ******* leher Rara dan juga memberikan tanda kepemilikan di leher Rara. Rara benar-benar susah payah untuk menahan desahannya.


Tangan Rafa tidak tinggal diam dia mulai menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh istrinya. Rara benar-benar di buat merasakan hal yang tidak biasa oleh Rafa.


Rafa mulai bermain ke area sensitif Rara yang lain membuat Rara tidak bisa menahan desahannya.


Rafa benar-benar pandai melakukan foreplay padahal ini juga baru pertama kali akan dia lakukan.


Rara terus bermain di area sensitif Rara.


Rafa benar-benar semakin tidak tahan begitu melihat Rara menggigit bibir bawahnya.


"Aku akan melakukannya sekarang sayang," ucap Rafa yang sudah penuh dengan gairah sambil mengambil posisi.


Rara pun hanya menganggukan kepalanya sambil merasa benar-benar deg-degkan.


"Aaah sakit," rintih Rara begitu benda tumpul mulai menerobos area sensit*ifnya.


"Tahan yah sayang," ucap Rafa lalu mencium bibir Rara sambil terus menerobos area sensit*tif Rara yang sangat sempit itu.


Air mata Rara langsung keluar begitu milik Rafa berhasil menerobos selap*t dara*hnya.


Rafa menghentikan aktifitasnya dan membiarkan dulu, dia tidak bergerak sama sekali.


"Sayang maafkan aku," ucap Rafa begitu melihat Rara mengeluarkan air matanya.


"Nggak apa-apa kok kamu nggak usah minta maaf, aku istrimu dan memberikan hak kamu adalah kewajibanku," ucap Rara.


Rafa pun tersenyum dan mulai menggerakan secara pelan-pelan.


Rara yang tadinya kesakitan mulai merasakan kenikmatan sedikit demi sedikit, walaupun masih ada perih-perihnya juga tapi semua itu bercampur dengan kenikmatan.


Kamar itu penuh dengan suara desahan-desahan oleh keduanya yang keluar begitu saja tidak bisa mereka tahan.

__ADS_1


Rafa tidak cukup hanya satu kali, sehingga mereka melakukannya berkali-kali. Hingga nanti jam 4 baru mereka tidur karena kelelahan.


__ADS_2