
"Halo Fania,, jangan di tutup dulu dengar dulu penjelasan aku,," ucap Reno namun Fania sudah lebih dulu menutup panggilan telfonnya dengan Reno sambil mencari tempat yang bagus untuk menunggu Ana ketika pulang dari rumah Reno.
Fania tidak perlu lagi capek-capek mencari tau karena dia sudah sangat yakin Ana masih berada di dalam rumah Reno.
Dasar wanita sialan,, bisa-bisanya Reno mengompres pipi dia,, sedangkan aku di suruh pulang,,, padahal aku menampar dia juga karena kesalahan dia,, nggak bisa di biarkan begini,, lama-lama dia bisa mengambil hati Reno sepenuhnya,, hati mama Reno dia sudah ambil,,, sekarang saja aku curiga Reno dan Ana ada main di belakang aku,, batin Fania.
Sedangkan Reno kembali menelepon Fania,, dan Fania yang mendengar bunyi ponselnya segera melihat nama kontak yang meneleponnya,, dia langsung tidak menggubris panggilan telfon itu begitu melihat panggilan telfon itu dari Reno.
Cih dasar,, pasti dia mau membohongi aku lagi,, dia menyuruh aku untuk jangan salah paham sedangkan yang dia lakukan itu sudah pasti akan membuat aku salah paham,, wanita mana yang tidak akan mikir macam-macam kalau pacarnya seperti itu pada wanita lain,, batin Fania kesal dengan yang dilakukan Reno.
"Aduh Fania angkat dong panggilan telfon dari aku," ucap Reno sambil menelepon kembali Fania. Namun lagi-lagi Fania tidak mengangkat panggilan telfon dari Reno.
"Telfon aja terus aku juga nggak bakalan angkat Reno,, siapa suruh kamu buat aku kesal,," ucap Fania.
Dan memang benar Reno terus menelepon Fania yang membuat akhirnya Fania mengangkat panggilan telfon dari Reno.
"Ada apa sih? kamu nggak capek apa nelfon terus?" ucap Fania kesal. Sebenarnya dia suka Reno menelepon terus karena berarti dia penting untuk Reno tapi begitu mengingat Reno yang memperlakukan Ana dengan baik,, Fania seketika menjadi kesal.
"Nggak capek,, makanya kamu dengar dulu dong penjelasan aku,,, kamu jangan marah Fania supaya aku nggak nelfon terus,, kamu hanya salah paham saja kok,, aku itu mencintai kamu dan nggak pernah selingkuh seperti yang kamu pikirkan itu,, aku dan Ana nggak ada hubungan spesial,, percaya sama aku,," ucap Reno.
"Percuma Reno,, kalau itu yang mau kamu ucapkan terus,, aku nggak bakalan percaya,, aku nggak bodoh Reno,, udahlah nggak usah nelfon terus aku sibuk,, aku lagi mau mencari pria lain,, untuk apa juga aku setia sama kamu kalau hanya untuk kamu selingkuhi,, lebih baik aku selingkuh juga kan biar kita sama," ucap Fania.
Deg....
Mendengar ucapan itu membuat Reno menjadi lemas seketika,,, Reno benar-benar tidak bisa jika Fania akan berselingkuh darinya.
"Fania jangan pernah lakukan itu,, kalau kamu lakukan itu, kamu akan melihat sisi lain dari aku yang nggak pernah kamu bayangkan sebelumnya,, coba saja kamu selingkuh kalau kamu nggak percaya dengan omongan aku,, kamu jangan menyesal nanti jika selingkuhan kamu itu tiada lagi di dunia ini,, ucap Reno serius.
"Kamu saja bisa selingkuh kan,, jadi biarkan aku juga selingkuh Reno,, kamu nggak perlu melarang aku biar kita sama,, iyakan?" ucap Fania.
"Aku sudah bilang berkali-kali aku itu nggak selingkuh Fania,, nggak selingkuh,, kamu kenapa sih nggak percaya sama aku,, aku itu nggak bohong,, kamu mau aku jelaskan dengan cara bagaimana? biar kamu percaya sama aku kalau aku nggak selingkuh dari kamu," ucap Reno.
"Usir Ana,, aku nggak suka dia lama-lama ada di rumah kamu," ucap Fania.
Aku ingin cepat menghabisi dia,, malas banget harus menunggu begini,, batin Fania.
Reno menggelengkan kepalanya begitu mendengar ucapan Fania.
"Fania aku nggak mungkin mengusir dia,, dia itu tamu mama aku,, lagian dia nggak salah apa-apa jadi aku nggak ada alasan untuk mengusir dia,, sekarang juga dia lagi sibuk dengan mama aku,, mereka itu sangat dekat,, jadi aku nggak mungkin mengusir Ana,, lagian tanpa di usir pun dia akan pulang kok sebentar,," ucap Reno.
"Udahlah Fania kamu stop mikir macam-macam,, dan jangan selingkuh,," ucap Reno.
"Siapa kamu ngatur-ngatur aku?" ucap Fania sinis.
"Aku itu pacar kamu Fania,, apa kamu lupa? kita masih pacaran sekarang,, dan aku sangat mencintai kamu," ucap Reno.
"Ya udah kita nggak usah jadi pacar saja kalau gitu,, karena aku sudah nggak mencintai kamu lagi," ucap Fania.
Reno benar-benar kaget begitu mendengar ucapan Fania karena dia tidak ingin putus dari Fania,, wanita yang dia cintai.
Duhh bodoh banget sih aku,, kok aku minta putus sih,, aku kan mencintai Reno,, aku nggak mau putus dari dia,, batin Fania.
"Fania kamu kok minta putus sih,, aku nggak mau putus dari kamu Fania,, apa kamu nggak mengerti kalau aku sangat mencintai kamu," ucap Reno.
"Hmm terserah kamu saja lah,," ucap Fania.
"Terserah apa?" tanya Reno.
"Terserah kau saja mau menganggap hubungan kita ini apa, aku tuh udah kecewa sama kamu Reno,, jadi terserah kamu saja,,,," ucap Fania.
"Kok gitu sih Fania masa terserah aku,, kamu kenapa berubah begini sih,, kenapa kamu nggak se percaya diri dulu,, biasanya kamu tuh nggak akan perduli sama wanita manapun karena kamu tau kalau aku sangat mencintai kamu dan nggak akan berpaling dari kamu,, tapi sekarang kamu malah begini,, percayalah aku seperti dulu,, aku nggak akan pernah menyia-nyiakan kepercayaan yang sudah kamu berikan sama aku Fania,," ucap Reno.
"Aku nggak bisa seperti dulu Reno setelah melihat semuanya yang terjadi di rumah kamu tadi,, setelah tau kamu mengompres pipi Ana,, aku jadi semakin tidak percaya sama kamu,, lihat baik-baik wanita itu,, dia itu wanita bermuka dua yang hanya sok polos di depan kalian,, tapi kamu sudah termakan dengan rayuan dia,, wajah sok polos dia,, kamu bahkan baru ada kesempatan menelepon aku sekarang,,, padahal aku juga tadi kena tamparan Reno dan itu sangat sakit tapi kamu lebih perduli dengan Ana,,, wanita yang baru kamu kenal di bandingkan aku yang sudah lama bersama kamu Reno,, aku pacar kamu seharusnya kamu lebih memprioritaskan aku dibandingkan dia,," ucap Fania.
Reno lagi-lagi menggelengkan kepalanya begitu mendengar ucapan Fania yang sedang cemburu buta pada Ana,, wanita yang tidak tau apa-apa mengenai hubungan mereka dan tidak salah apa-apa tapi Fania membawa-bawa Ana.
"Diamkan kamu,, kamu nggak bisa lagi menyela perkataan aku karena yang aku katakan itu adalah kenyataan nya,, aku benar-benar kecewa sama kamu Reno," ucap Fania yang merasa semakin sakit hati pada Ana dan juga Reno.
"Fania aku itu diam karena bingung mau menjelaskan dengan cara bagaimana lagi sama kamu biar kamu percaya sama aku nggak menuduh aku sembarangan lagi,, apalagi membawa-bawa Ana,, itu saja,, bukan karena ucapan kamu tadi itu benar," ucap Reno.
"Sudahlah,, nggak usah kamu pakai bingung segala,, aku muak bicara dengan kamu, jangan telfon aku lagi," ucap Fania lalu segera menutup panggilan telfonnya dengan Reno.
Reno menarik nafasnya lalu membuangnya kembali.
"Kenapa sih Fania itu ribet banget,, aku jujur dia nggak percaya,, padahal aku aja nggak pernah bohong sama dia,, pakai di tutup segala panggilan telfonnya,," ucap Reno.
Sebentar aku telfon dia lagi deh,, kalau aku telfon lagi sudah pasti dia nggak akan angkat,,, kalaupun dia angkat sudah pasti dia akan marah-marah,, batin Reno lalu segera pergi ke tempat Ana dan mamanya.
Fania yang berharap di telfon lagi dengan Reno semakin kesal karena Reno tidak menelepon dirinya lagi.
Tuh kan apa aku bilang,, dia emang sangat menjengkelkan dan juga sudah berubah,, masa dia nggak menelepon aku lagi,, segitu doang perjuangan dia,, nggak sama seperti dulu,, kalau dulu dia akan mohon-mohon banget bila perlu dia datang menemui aku,, nah ini dia nggak nelfon dia nggak datang menemui aku,, aku yakin banget dia sedang ketawa-ketawa bersama Ana dan mamanya,, batin Fania kesal.
Fania yang sudah menemukan tempat untuk menunggu Ana semakin tidak sabar ingin menyingkirkan Ana akibat kemarahannya pada Reno.
__ADS_1
#############
Kantor Rafa.
"Sayang kamu udah mau pulang?" tanya Rafa.
"Iya,, kan kamu udah makan juga,, aku nggak mau ganggu kamu kerja," jawab Rara.
"Kamu nggak ganggu sama sekali kok,, malahan aku semakin bersemangat kalau ada kamu disini," ucap Rafa.
"Hmm dasar mana ada seperti itu,, aku lebih baik pulang saja,, nggak enak juga sama Citra kalau aku disini,, nanti dia merasa jadi obat nyamuk lagi," ucap Rara sambil tersenyum melihat Citra.
Citra tidak konsentrasi sama sekali karena dia sedang fokus melihat Fandi yang sedang bicara melalui telfon,, perhatian Citra selalu tertuju pada Fandi namun Fandi tidak menyadari sedikit pun,, karena perhatian dia juga tertuju pada orang lain.
Rara dan Rafa tersenyum begitu melihat Citra yang selalu fokus pada Fandi,, dan Fandi yang fokus pada dunianya sendiri.
"Sayang sepertinya Citra itu selalu memperhatikan Fandi,, iyakan? jangan-jangan dia suka lagi sama Fandi," ucap Rafa pelan kepada istrinya.
"Nanti aku tanyakan,, tapi walaupun dia suka sudah pasti dia tidak akan jujur sih," ucap Rara.
"Iya juga sih,, tapi siapa tau aja kan dia akan jujur,," ucap Rafa.
"Iya sih siapa tau aja," ucap Rara.
"Cit,, ngapain kamu perhatiin Fandi terus? dia memang seperti itu kalau berhubungan dengan Rara,, jangan kamu perhatikan terus," ucap Rafa yang membuat Citra terlonjak kaget.
Citra segera menoleh kepada Rafa dan Rara.
Duhh bisa-bisanya gue lihatin dia terus dan juga fokus sama dia terus,, padahal dia lagi telfonan,, dasar loe Citra,, apa nih alasan gue sama Rara dan Rafa,, mereka pasti udah mikir macam-macam nih,, batin Citra.
Fandi hanya menoleh sebentar lalu tetap fokus pada teman bicaranya melalui telfon.
"Mmm nggak kok,, aku nggak perhatiin Fandi tuh,, hanya kebetulan aja kalian lihat aku sedang melihat sama dia jadi kalian pikir aku lagi perhatikan dia," ucap Citra memberikan alasan meskipun dia tidak yakin dengan alasan yang dia buat sendiri.
Duhh Rara dan Rafa percaya nggak yah sama alasan nggak masuk akal aku,, batin Citra.
Rara dan Rafa tertawa mendengar alasan Citra.
"Cit,, alasan kamu nggak masuk akal,," ucap Rafa.
Sedangkan Fandi sedikit terkejut begitu mendengar laporan dari anak buahnya.
Rafa mengernyitkan keningnya begitu melihat ekspresi wajah Fandi yang terlihat berbeda.
"Ada apa Fandi?" tanya Rara penasaran.
"Emm nggak ada apa-apa kok Ra, hanya urusan kerjaan aja,, kalian udah mau balik yah?" tanya Fandi.
Rafa tau pasti ada yang tidak beres hanya saja Fandi sembunyikan dari Rara.
"Beneran Fandi,, kamu terlihat aneh gitu,," ucap Rara.
"Iya beneran kok,, aku hanya sedikit capek saja makanya seperti tadi," ucap Fandi memberikan alasan.
"Iya sayang Fandi nggak mungkin bohong,,, kalian pulang lah,," ucap Rafa.
"Hati-hati yah,, dan jangan kemana-mana,, di rumah aja,, tunggu aku pulang," ucap Rafa kepada Rara.
"Oh ya udah,, kita balik dulu,, Fandi jangan terlalu kecapean kamu istirahat juga,, kalian berdua jangan terlalu sibuk kerja saja dong,, perhatikan juga kesehatan kalian,,," ucap Rara kepada Rafa dan Fandi.
"Iya sayang,, aku kan ada kamu yang selalu perhatian sama aku,, Fandi nih kasihan nggak ada yang perhatian sama dia karena jomblo,, Citra kamu mau nggak perhatian pada Fandi?" tanya Rafa yang sengaja ingin menggoda Fandi dan Citra.
Citra sedikit terlonjak kaget begitu mendengar ucapan Rafa.
Sedangkan Fandi hanya menggelengkan kepalanya dan tidak menganggap serius perkataan Rafa.
"Nggak mau lah,, apa-apaan sih Rafa,, suka banget ngejek aku dan dia,, kita itu musuhan," ucap Citra sambil melihat Fandi yang datar-datar saja.
"Iya deh yang musuhan," ucap Rara sambil tersenyum.
"Ya udah kalau gitu kita balik dulu yah," pamit Rara kepada Rafa dan Fandi.
"Iya Ra,,, hati-hati yah,, jangan mau dekat-dekat dengan orang yang kamu belum kenal sebelumnya,, meskipun dia baik," ucap Fandi yang membuat Citra langsung tersinggung padahal maksud Fandi bukan untuk menyinggung Citra.
"Kamu kenapa bicara seperti itu,, aku nggak ada niat jahat sedikit pun pada Rara," ucap Citra sambil melihat kesal pada Fandi.
Fandi langsung mengernyitkan keningnya bingung begitu mendengar ucapan Citra.
"Kenapa kamu nyolot sih,, emang kamu yang aku singgung,, sementara aku cuma mengingatkan Rara saja,, kok kamu malah merasa sih?" ucap Fandi yang langsung membuat Citra tampak diam sejenak.
Iya juga yah,, kan belum tentu aku yang dia maksudkan Fandi,, batin Citra.
"Yah siapa tau aja,," ucap Citra.
__ADS_1
"Udah-udah aku yakin kok yang Fandi maksud itu bukan kamu Cit,, kalian jangan ribut melulu,, nanti jodoh loh,," ucap Rara.
"Isshhh,, ayo kita pulang Ra," ucap Citra.
"Iya ayo,," ucap Rara.
"Ra ingat yah pesan aku tadi," ucap Fandi lagi.
"Iya Fan,," ucap Rara sambil tersenyum.
Rara pun salam kepada Rafa lalu mereka segera pulang.
##########
"Loh pak sopir yang tadi mana? kok jadi orang ini Ra," bisik Citra pada Rara.
"Aku juga nggak tau,, Rafa menggantinya kali, tapi kenapa," ucap Rara pelan.
"Silahkan masuk Nyonya,," ucap pria itu sambil membukakan pintu untuk Rara.
"Kamu siapa?" tanya Rara.
"Saya sopir pengganti Nyonya,, karena tadi teman saya sedang tidak enak badan jadi dia meminta tolong sama saya untuk menggantikan dirinya dulu mengantar Nyonya pulang,, ucap pria itu yang membuat Citra mengernyitkan keningnya bingung.
"Tapi kok suami saya tidak bilang tadi," ucap Rara.
"Iya Ra,, Rafa nggak bilang apa-apa tadi,, coba kamu telfon dulu," ucap Citra.
"Oh itu karena barusan saja tuan Rafa mengizinkan mungkin ketika kalian sedang jalan menuju ke mobil,, itulah dia belum sempat memberitahukan kepada Nyonya," ucap Pria itu.
"Ayo Nyonya silahkan masuk," ucap pria itu lagi.
"Aku telfon Rafa dulu untuk memastikan semuanya,, karena Rafa bilang aku harus hati-hati,,, Fandi juga bilang aku jangan dekat-dekat dengan orang yang aku nggak kenal sebelumnya," ucap Rara pelan agar tidak di dengar oleh pria itu karena takut menyinggung perasaan pria itu.
"Nyonya maaf bukannya saya mau melarang atau ikut campur tapi tuan Rafa sedang kerja sekarang karena tadi saja ketika saya telfon untuk memberitahukan dia mengenai pergantian orang, dia bilang kalau dia sangat sibuk dan mau lanjut kerja lagi,,," ucap pria itu yang membuat Rara langsung mengurungkan niatnya.
"Kenapa Ra?" tanya Citra.
"Benar juga yang dia katakan,, Rafa pasti sedang sibuk sekarang,, jadi kita masuk saja,, lagian nggak mungkin juga kan dia orang jahat,, secara ini masih di area nya Rafa,,, jadi nggak mungkin juga dia mau berani," ucap Rara.
"Kamu yakin Ra?" tanya Citra yang merasa sedikit takut pada pria yang akan menjadi sopir mereka.
"Iya,," ucap Rara lalu mereka pun segera masuk ke dalam mobil begitu pun dengan Citra,, pria itu langsung tersenyum jahat sambil menutup pintu mobil,, begitu Rara dan Citra sudah masuk ke dalam mobil.
"Ada apa Fan? pasti sudah ada informasi mengenai pria tadi kan?" ucap Rafa begitu sudah yakin Rara dan Citra sudah pulang.
"Iya sudah ada,, dia bukan pemilik perusahaan itu,, dia hanya suruhan saja," ucap Fandi.
"Sudah ku duga ada yang tidak beres dengan orang tadi,, dia bicara saja kadang gugup dan seperti ada yang dia sembunyikan,,, dia juga terlihat tidak berpengalaman sama sekali makanya aku ragu,,, wajahnya baru aku lihat dan tiba-tiba mau mengajak kerjasama," ucap Rafa.
"Sepertinya dia punya tujuan untuk menghancurkan nama baik perusahaan kamu,,, dia ingin menyabotase,, tapi aku curiga dia mempunyai tujuan lain,,, karena dia terlalu gegabah aja kalau tujuannya hanya seperti itu,, perusahaan besar seperti ini mana mungkin kan akan segampang itu jatuh dalam perangkap mereka yang sangat gegabah ini,, aku curiga dia hanya mencari informasi saja Rafa,," ucap Fandi.
"Kamu tau siapa pemilik asli perusahaan itu?" tanya Rafa.
"Ini dia pemiliknya,, apa kamu tau siapa dia? aku sama sekali tidak mengenalnya,," ucap Fandi sambil memperlihatkan foto pemilik perusahaan itu yang asli.
Rafa pun menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tidak mengenal dia,, siapa orang ini?" ucap Rafa sambil mengernyitkan dahinya.
Lalu tiba-tiba ponsel Rafa berdering. Rafa dengan segera melihat nama kontak yang meneleponnya.
"Siapa?" tanya Fandi.
"Sopir yang mengantar istriku,, ada apa yah,, apa istriku mau ke tempat lain,," ucap Rafa sambil mengangkat panggilan telfon dari anak buahnya.
"Halo ada apa?" tanya Rafa langsung.
"Istriku mau kemana?" tanya Rafa lagi.
"Halo tu,, tuan,, maaf tuan sa,, sa,, saya teledor,, sepertinya Nyonya se,, sekarang dalam bahaya tuan,, sa,, saya di,, di..."
Hening...Tak ada suara apapun karena pria itu telah pingsan lagi,,, dia telah di pukuli habis-habisan dan begitu dia sadar sedikit dia langsung menelepon Rafa,, untung ponselnya tidak di ambil,, karena dia di kira sudah meninggal.
"Halo,, halo,," ucap Rafa namun tak ada jawaban lagi.
Deg....
Jantung Rafa langsung berdetak dengan sangat cepat. Terlihat jelas Rafa begitu panik.
Fandi ikutan panik.
"Ada apa Rafa?" tanya Fandi.
__ADS_1
"Istriku dalam bahaya," ucap Rafa yang langsung berjalan keluar dari dalam ruangannya.