Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Sudah yakin


__ADS_3

Rara kamu dimana sih, jangan buat aku panik begini dong batin Rafa sambil terus mencari-cari keberadaan Rara.


Sementara Rara masih menangis sejadi-jadinya di tengah derasnya hujan, walaupun tubuhnya sudah sangat dingin namun dia tak perduli sama sekali.


"Kenapa sih aku mesti cinta sama kamu Rafa, kenapa...kenapa kamu juga setega ini sama aku" teriak Rara di tengah derasnya hujan.


"Kenapa aku mesti kepo tadi, kenapa aku mesti pengen tahu pembicaraan kamu dengan Gracia, akhirnya aku mendengar semua yang tidak ingin aku dengar, Rafa kamu benar-benar cowok brengsek" teriak Rara lagi masih dengan tangisannya.


Tiba-tiba Rara tidak merasakan lagi hujan mengenai dirinya dan ternyata setelah dia melihat, Aldi telah memakaikan payung kepada dirinya.


Dan kenapa salalu kamu Aldi yang ada di saat aku sedih begini batin Rara sambil melihat Aldi.


"Sudah teriak-teriaknya?" tanya Aldi sambil menatap Rara dengan tatapan sulit di artikan.


"Loe dengar semuanya?" tanya Rara sambil menggigil karena dia benar-benar kedinginan.


Mereka tak perlu berbicara terlalu nyaring karena jarak mereka yang dekat.


"Iya gue dengar semuanya Rara, seharusnya loe nggak perlu teriak-teriak karena Rafa. Peganglah ini" ucap Aldi sambil memberikan payung kepada Rara lalu dia membuka jaketnya dan langsung di pakaikan kepada Rara.


"Aldi loe nggak dingin?" tanya Rara.


"Nggak kok Rara gue nggak dingin justru loe yang kedinginan, dan juga gue laki-laki. Rara loe nggak perlu teriak-teriak karena Rafa, ikutlah denganku" ucap Aldi.


Rara pun hanya bengong setelah mendengar ucapan Aldi.


"Maksud loe ikut kemana?" tanya Rara setelah selesai dengan bengongnya.


"Ke rumah gue Rara atau loe mau pulang kembali ke rumah loe?" tanya Aldi.


Rara pun teringat dengan Rafa yang sudah pasti masih berada di rumahnya sedang telfonan dengan Gracia. Rara juga nggak mau kelihatan seperti sekarang di depan Rafa.


Kalau gue ikut Aldi apa nggak apa-apa, gue kan tidak ada hubungan dengan Aldi dan juga rumahnya itu dimana, gue belum pernah ke rumahnya, jangan-jangan gue cuma berdua dengan Aldi, gue nggak mau itu tidak baik buat gue batin Rara.


Aldi yang melihat Rara seperti sedang memikirkan sesuatu langsung mengerti arah pikiran Rara, Aldi pun hanya tersenyum.


"Rara udah deh loe nggak usah mikir macam-macam disana itu ada banyak pelayan, jadi ikutlah denganku, supaya loe cepat ganti baju nanti loe sakit, besok loe nggak ke kampus emang?" ucap Aldi.


Rara pun teringat bahwa besok dia final.

__ADS_1


"Iya gue mau ikut loe Aldi, kalau memang disana banyak pelayan, gue nggak mau pulang dalam keadaan seperti ini dan juga lagi galau seperti ini" ucap Rara.


Aldi pun tertawa setelah mendengarkan ucapan Rara membuat Rara mengernyitkan keningnya bingung.


"Kenapa loe tertawa sih?" tanya Rara kesal.


"Ayo sini ikut gue dulu nanti gue jelaskan" ucap Aldi sambil menuntun Rara buat ke mobilnya sambil memakai payung bersama.


Aldi pun segera membukakan pintu buat Rara lalu dengan segera dia juga masuk ke dalam mobil.


Aldi pun tampak akan menghubungi seseorang.


"Beritahu dokter pribadiku untuk segera ke rumah dan juga pakaian buat wanita yang langsing segera siapkan" perintah Aldi lalu dengan segera menutup panggilan telfonnya.


"Wanita yang langsing dan dokter pribadi" ucap Rara ulang.


"Iya Rara itu khusus untukmu, loe nggak mungkin kan memakai baju loe terus" ucap Aldi.


"Memang itu cukup buat orang itu memilihkan baju, dan juga buat apa dokter gue tidak apa-apa kok" ucap Rara namun tiba-tiba Rara mulai bersin-bersin.


"Itu loe udah mulai bersin-bersin berarti loe kenapa-kenapa, dan juga orang yang gue telfon tadi itu pasti mengerti dengan maksud gue" ucap Aldi lalu mulai mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.


"Nggak kok Rara loe nggak pernah merepotkan gue, yang buat gue repot itu suami loe yang membuat loe galau dan akhirnya jadi begini" ucap Aldi.


"Ihh apaan sih, oh iya kenapa tadi loe tertawa?" tanya Rara.


"Ya ampun loe masih ingat juga, gue tertawa karena loe bucin banget sama Rafa, Rara pokoknya loe nggak usah lagi teriak-teriak dan galau seperti tadi yah, keenakan dianya tahu nggak" ucap Aldi.


"Entahlah Aldi gue pengen banget seperti yang loe bilang tapi susah banget tahu nggak" ucap Rara sambil tertunduk.


"Gue ajarin loe deh" ucap Aldi.


"Memang bisa?" tanya Rara dengan polosnya.


"Bisa dong Rara apa sih yang nggak bisa di dunia ini, loe nggak usah sedih-sedih lagi deh, besok kan loe juga mau kerja sama gue jadi harusnya loe senang dong" ucap Aldi memberi semangat.


"Oh iya yah, Aldi makasih yah loe selalu ada disaat gue sedih" ucap Rara tulus.


"Iya gue senang kok lakuin itu" ucap Aldi lalu tertawa mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


Rara pun teringat dengan ponselnya yang tidak dia bawah.


"Gimana yah, apa aku harus menghubungi Rafa menggunakan ponsel Aldi biar dia tidak mencari aku, tapi gimana yah dia juga pasti tidak mencariku sih karena pasti dia masih sayang-sayangan dengan Gracia. Sudahlah Rara loe nggak penting buat Rafa, ingat saja itu batin Rara.


Begitu tiba di rumah Aldi mereka langsung di sambut, segera Aldi dan Rara di berikan handuk karena memang baju keduanya yang sudah basah, hal itu membuat Rara hanya terheran-heran sambil tertunduk, karena dia tidak menyangka akan di sambut seperti itu dan juga rumah Aldi yang sangat mewah di mata Rara.


"Sudah siap yang saya perintahkan tadi?" tanya Aldi kepada seorang wanita yang bekerja di rumah Aldi juga yang di telfonnya tadi.


Aldi memang sengaja menyuruh wanita.


"Sudah tuan muda, dokternya sudah ada di ruang tamu menunggu tuan muda" ucap wanita itu.


"Oke baiklah, Rara segera ganti bajumu, dia akan menemani loe"


"Haa nggak usah gue bisa sendiri kok" ucap Rara yang tidak biasa dengan itu semua.


"Nggak boleh Rara, dia tahu semuanya cara menangani orang yang habis terkena air hujan agar tidak sakit jadi menurut saja, setelah itu dokter akan memeriksa loe juga, oke nggak usah membantah gue mau ke kamar gue juga membersihkan diri, setelah itu gue bakalan nemuin loe lagi" ucap Aldi lalu segera pergi tanpa mendengar ucapan dari Rara lagi.


Rara pun akhirnya menurut kepada ucapan Aldi, karena memang tidak ada pilihan lain buatnya, mau pulang juga tidak bisa dia tidak tahu jalan pulang.


Sementara itu di tempat lain, Rafa bertemu dengan orang suruhannya masih dengan hujan deras.


"Tuan saya menelepon tuan, tapi tuan tidak angkat jadi saya langsung melacak saja keberadaan tuan"


"Istriku dimana, sudah kamu temukan keberadaannya?" tanya Rafa langsung tanpa basa-basi.


"Dia bersama Aldi tuan, saya mau langsung membawa istri tuan tapi nanti istri tuan curiga" ucap pria itu yang sudah yakin Rafa mengetahui Aldi.


#################


Mampir ke novelku yang lain juga yah judulnya...


-Aku bukan pelakor


-Takdirku bersamamu


-Cinta presdir tampan


klu nggak nemu di pencarian,, tinggal klik fotoku ajah,,semuanya novelku ada di profil

__ADS_1


Makasih sebelumnya buat yang sudah baca😊😊😊


__ADS_2