
"Iya,, kamu masih sibuk yah?" tanya Rara pelan.
"Udah nggak kok, mereka udah mau balik," jawab Rafa.
"Ini pasti istri pak Rafa yah?" tanya Denis.
"Iya,," jawab Rafa.
"Wah cantik yah,, lebih cantik dilihat secara langsung daripada melalui televisi,," ucap Denis yang sengaja ingin merayu Rara dengan pujian namun tidak berpengaruh sama sekali pada Rara.
"Iya dia memang cantik,, apalagi kalau sedang bercinta dengan aku," ucap Rafa yang membuat Fandi,, Rara,, dan Citra melongo tak percaya setelah mendengar ucapan Rafa. Rara benar-benar merasa malu sambil mencubit sembunyi-sembunyi pinggang suaminya.
"Aww sayang nanti di rumah dong kalau mau main colek-colek jangan sekarang,," ucap Rafa yang langsung membuat Rara menyembunyikan wajahnya di belakang Rafa karena malu.
Denis benar-benar tidak suka mendengar itu.
"Kita permisi dulu kalau begitu pak Raka,," pamit Denis.
"Iya,," ucap Raka.
Denis dan asistennya pun segera berjalan keluar dari dalam kantor Rafa menuju mobil mereka.
Rafa langsung membawa Rara ke dalam dekapannya yang sedang bersembunyi di belakangnya tadi.
Rafa tertawa melihat raut wajah Rara.
"Malu nih pasti," ucap Rafa.
"Iyalah,, aku nggak mau lagi memperlihatkan wajahku pada orang tadi," ucap Rara.
Karyawan yang melihat kemesraan bosnya itu benar-benar merasa iri pada Rara yang bisa diperlakukan seperti itu oleh Rafa di depan umum.
"Kamu kok bicara seperti itu sih sama mereka?" ucap Rara.
"Karena aku nggak suka,, Fandi selidiki pria tadi,," ucap Rafa serius.
"Iya,, memang aku akan menyelidikinya,, dia terlihat mencurigakan,," ucap Fandi.
"Oh kamu juga merasa seperti itu?" ucap Rafa.
"Iya,," ucap Fandi.
"Baguslah,, memang nggak salah pilih asisten aku,," ucap Rafa dengan bangganya.
"Ayo kita masuk ke ruangan ku," ucap Rafa.
Mereka pun segera berjalan menuju ke lift khusus.
Citra melirik Fandi yang sedang fokus pada ponselnya.
Fandi sedang memberikan tugas pada anak buahnya untuk menyelidiki Denis.
Dia kalau lagi serius gini ganteng banget,, terus dia tumben nggak ribut,, biasanya dia kan paling kesal banget kalau lihat aku,, batin Citra sambil terus melirik Fandi yang masih fokus pada ponselnya.
"Sayang kamu kesini di antar sopir kan?" tanya Rafa.
"Iya, tadinya kita mau naik mobil Citra,, tapi kamu kan nggak mengizinkan jadi gitu deh," jawab Rara.
"Baguslah,, bukannya aku nggak mengizinkan tapi kamu itu istriku pasti banyak yang tidak suka sama kamu,, dan bahkan juga mungkin musuh-musuh aku mengincar kamu,,, jadi kamu harus di jaga baik-baik karena kamu itu kelemahan aku," ucap Rafa.
"Citra,, kamu mengerti kan dengan maksud aku?" tanya Rafa sambil menoleh ke belakang,, yang membuat Citra terlonjak kaget karena sejak tadi dia melirik-lirik Fandi terus.
Rafa dan Rara pun tertawa melihat Citra.
"Ada yang lagi nggak fokus nih,, sepertinya sedang nggak fokus karena ada cowok ganteng di sampingnya," ledek Rafa.
"Hah,, apa-apaan sih,, nggak lah,, kamu sembarangan aja kalau nuduh Rafa," ucap Citra cepat.
"Udah terciduk masih aja ngeles kamu Cit," ucap Rara juga.
"Haduhh sepasang suami istri ini nggak percaya banget sama aku," ucap Citra.
Citra melirik sedikit kepada Fandi yang tidak memberikan respon apa-apa padahal biasanya Fandi sangat cepat merespon,, Fandi masih tetap fokus pada ponselnya.
Fandi masih fokus mengenai Denis karena dia memang sudah curiga Denis memiliki tujuan lain,,, apalagi tadi sewaktu melihat tatapan Denis pada Rara,,, Fandi akan tidak perduli tentang disekitarnya kalau mengenai keamanan Rara,, karena Fandi masih sangat mencintai Rara meskipun hanya dia saja yang tau tentang perasaannya pada Rara dan akan selalu menjaga Rara.
"Iyalah nggak percaya kan kita udah lihat kamu lagi fokus lirik-lirik cowok ganteng di sebelah kamu,, yang nggak tau apa yang sedang dia lakukan itu sampai-sampai dia tidak merespon apapun yang kita ucapkan,, padahal kan biasanya dia tidak terima kalau di gangguin," ucap Rara sambil melihat Fandi.
Sementara Rafa sudah tau apa yang sedang dilakukan Fandi,, karena Fandi kalau mengenai keselamatan Rara selalu nomor satu untuknya,, tapi Rafa tidak pernah berpikir kalau Fandi akan mencintai Rara.
Sementara di tempat lain,, di dalam mobil Denis masih memikirkan Rara yang baru di lihatnya secara langsung lalu tiba-tiba ponselnya berdering membuat Denis langsung mengambil ponselnya yang beradu di dalam kantung celananya.
Denis dengan cepat mengangkat panggilan telfon dari orang itu.
"Halo,," ucap Denis begitu mengangkat panggilan telfon dari orang itu.
"Gimana kamu hari ini bertemu dengan Rafa kan? lancar pertemuan kalian? dia tidak curiga kan?" tanya orang itu.
"Tidak sama sekali bos,, pertemuan kita berjalan lancar dan aku bertemu dengan target utama kita,," ucap Denis.
"Rara?" tanya orang itu.
"Iya Rara bos,," jawab Denis.
__ADS_1
"Hemm bagus,, tidak ada yang curiga kan sama kamu?" tanya orang itu lagi.
"Iya tidak ada,," jawab Denis.
"Oke,, lanjutkan rencana kita,,, cari kesempatan untuk berbicara dengan Rara,,"
"Iya bos,," ucap Denis.
"Oke," ucap orang itu lalu segera menutup panggilan telfonnya dengan Denis.
"Fan,," ucap Rara sambil menyentuh bahu Fandi membuat Fandi sedikit terlonjak kaget.
"Iya Ra,, ada apa?" tanya Fandi.
"Kamu kenapa sih? kok ngurusin ponsel melulu,, kamu lagi berkabar yah sama wanita incaran kamu?" goda Rara karena tidak biasanya melihat Fandi seperti itu padahal Rara tidak tau saja di belakang dia,, Fandi selalu seperti itu jika mengenai urusan Rara.
Deg...
Perasaan Citra campur aduk begitu dia mendengar ucapan Rara,, Citra tidak tau kenapa dia bisa merasa seperti itu,, padahal dia dan Fandi tidak ada hubungan apa-apa,, bahkan mereka saling membenci tapi begitu mendengar ucapan Rara dia seperti tidak ikhlas jika Fandi sedang berkabar dengan wanita lain.
Apa benar Fandi sedang berkabar dengan wanita lain? tapi mana mungkin sih,, hanya saja kelakuan dia sekarang itu memang seperti sedang berkabar sih karena sangat fokus pada ponselnya walaupun ekspresi wajahnya terlihat serius nggak ada senyum-senyumnya sama sekali seperti orang lain yang kalau berkabar dengan cewek yang dia cintai pasti senyum-senyum,, batin Citra sambil menunggu jawaban dari Fandi atas pertanyaan Rara.
"Fandi benar kamu sedang berkabar dengan seorang wanita? kamu kenapa nggak jawab sih aku bertanya loh tadi,, udah dua kali ini aku bertanya sama kamu," ucap Rara.
Fandi pun tersenyum lembut pada Rara.
"Nggak kok Ra," ucap Fandi sambil mengelus lembut rambut Rara,, karena gemas dengan ekspresi wajah Rara ketika sedang bertanya sambil cemberut karena tidak di gubris olehnya.
Rafa dengan cepat memindahkan tangan Fandi dari rambut istrinya.
Citra melongo tak percaya begitu melihat perlakuan lembut Fandi pada Rara,, yang sangat berbeda jauh ketika Fandi berbicara dengan dirinya.
Rara kok mudah sekali yah membuat Fandi seperti itu,, padahal Fandi kan ngeselin,, tapi kenapa dia kalau sama Rara nggak ada ngeselin nya sedikit pun,, batin Citra.
"Tangan di kondisikan jangan ambil kesempatan dalam kesempitan kamu," ucap Rafa.
"Ya ampun cuma gitu doang,, santai aja," cibir Fandi.
"Nggak bisa dong,, coba deh kalau kamu nanti punya istri pasti kamu nggak bakalan terima kalau istri kamu diperlakukan seperti itu,," ucap Rafa lagi.
"Hemm iya kan aja deh,, berdebat dengan bos pasti kalah aku mah," ucap Fandi.
Rara hanya tersenyum begitu mendengar ucapan Fandi.
"Jangan di masukkan ke hati yah ucapannya Rafa," ucap Rara pada Fandi.
"Eittss masa Rafa sih,, kamu panggilnya sayang dong," protes Rafa karena tidak mau Rara memanggilnya dengan sebutan nama.
"Gitu dong," ucap Rafa sambil tersenyum lalu ingin mencium bibir Rara namun di tahan dengan Rara cepat.
"Kamu nggak lihat tuh ada Fandi dan Citra,, malu tau,," ucap Rara sambil menutup bibir suaminya itu yang mau asal nyelonong saja.
"Oh iya,," ucap Rafa sambil nyengir yang membuat Rara menggelengkan kepalanya begitu pun dengan Fandi dan Citra.
"Oh iya kamu masak apa sayang?" tanya Rafa.
"Kesukaan kamu," jawab Rara sambil tersenyum bahagia.
Fandi ikut bahagia dan tersenyum kalau melihat Rara tersenyum dan itu tidak luput dari perhatian Citra.
Kok aku semakin curiga yah,, kalau Fandi itu suka sama Rara,, batin Citra.
"Kesukaan aku yah kamu sayang,, dan kamu kan bukan makanan," ucap Rafa.
"Isshhh maksud aku makanan kesukaan kamu," ucap Rara lagi.
"Oh," ucap Rafa lalu mengecup sebentar bibir Rara di depan Fandi dan Citra.
"Astaga Rafa," ucap Fandi.
"Hehehe maaf nggak bisa tahan," ucap Rafa sambil nyengir tanpa dosa.
"Emang sengaja kamu," ucap Fandi.
"Nggak loh,," ucap Rafa lagi.
##############
Ana memutuskan untuk menelepon Aldi terlebih dahulu bahwa dia akan pulang sore,, takutnya kakaknya itu akan cemas apabila dia lebih dulu pulang daripada dirinya.
Aldi yang sedang ingin makan siang,, langsung mengambil ponselnya begitu dia mendengar ponselnya berdering.
Begitu melihat Ana yang menelepon dengan segera dia mengangkat panggilan telfon dari Ana.
"Halo dek,, ada apa? lagi dimana? kamu udah balik ke rumah?" tanya Aldi bertubi-tubi.
Astaga kakak aku ini,, kalau bertanya seharusnya satu-satu dong,, ini banyak banget dia tanyanya,, batin Ana.
"Kak bisa nggak tanya satu-satu," ucap Ana.
"Oke,, ada apa kamu nelfon?" tanya Aldi mengikuti kemauan Ana.
"Aku mau bilang kalau aku baliknya sore,,, nanti kakak udah di rumah aku belum sampai di rumah lagi,, aku takut kakak khawatir jadi aku beritahu memang deh," ucap Ana.
__ADS_1
"What!!! pulanglah cepat dek nggak baik lama-lama di rumah orang,, buat repot yang punya rumah,," ucap Aldi sengaja agar Ana mau pulang.
"Ishhh nggak kok kak,," ucap Ana.
"Ya ampun beneran loh dek,, nggak bagus di rumah orang lama-lama,, repotin tau," ucap Aldi.
"Tante aku ngerepotin nggak?" tanya Ana langsung pada mama Reno.
Astaga nih anak tanya langsung lagi sama orangnya,, batin Aldi sambil menggelengkan kepalanya.
"Nggak dong,, kamu nggak merepotkan sama sekali," jawab mama Reno cepat.
"Tuh kakak dengar sendiri kan?" ucap Ana dengan bangganya.
"Yah mana ada tante itu mau mengaku dek di depan kamu langsung,, kan nggak enak sama kamu nanti kamu mewek lagi,," ucap Aldi sambil menahan tawanya.
"Isshh kakak kok ngomong gitu sih," ucap Ana.
Dia manja banget sama kakaknya,, pasti dia di sayang banget nih sama kakaknya,, batin Reno yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Ana dan Aldi.
"Hahaha bercanda,, ya udah iya deh kamu hati-hati aja yah,, jangan ngerepotin orang," ucap Aldi lagi.
"Iya,, mana ada aku mau gitu," ucap Ana cepat.
"Kan mengingatkan dek," ucap Reno lagi.
"Iya kakakku sayang," ucap Ana.
"Oh iya kakak udah makan siang belum?" tanya Ana sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
"Ini baru mau makan,, kamu udah?" tanya Reno balik.
"Udah dari tadi kok kak, ya udah kakak lanjut kalau gitu makannya,,, makan yang banyak biar gemuk kayak aku,, berisi,, jangan kurus kerempeng,," ledek Ana lalu tertawa.
"Kalau lewat telfon berani sekali ngeledek aku yah kamu, ya udah balik sekarang deh,, nggak boleh balik sore," ucap Aldi sambil menahan tawanya.
"Isshh kok gitu kan bercanda doang,, nggak mau kak,," ucap Ana cepat.
"Iya tau kok,, aku juga cuma bercanda aja," ucap Aldi.
"Kirain beneran ihh," ucap Ana.
"Ya udah aku tutup dulu telfonnya yah,, takut kakak berubah pikiran," ucap Ana lagi.
"Hahaha ada-ada aja,," ucap Aldi.
"Bye kakakku sayang yang jomblo,,, jangan lupa makan yah karena jomblo itu butuh tenaga,,," ledek Ana sambil menahan tawanya lalu segera menutup panggilan telfonnya dengan Aldi cepat.
Mama Reno dan Reno tersenyum mendengar ledekan Ana pada Aldi.
"Dasar tuh anak menghina kakaknya padahal dia juga jomblo tuh,," ucap Aldi sambil menggelengkan kepalanya.
########
Sementara di kantor Rafa.
Fandi dan Citra benar-benar hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rafa yang sangat manja pada Rara sedangkan Rara benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan Rafa yang sengaja bermanja-manja di hadapan Citra dan Fandi.
"Udah woi udah," ucap Citra.
"Apaan dahh Citra,, aku tuh emang udah biasa kali seperti ini manja pada istriku,, di suapin seperti ini, iya kan sayang?" ucap Rafa sambil melihat Rara.
"Biasanya kamu makan sendiri loh," ucap Rara yang langsung membuat Rafa nyengir.
Istriku jujur banget sih,, batin Rafa.
"Tuh kan,, dasar si Rafa nggak menghargai banget orang jomblo disini,, kita jomblo disini," ucap Citra sambil melihat Fandi namun Fandi seperti ada di dunianya sendiri,, dia masih asik dengan ponselnya karena sedang menunggu kabar dari anak buahnya.
Rara yang melihat Fandi asik dengan ponselnya langsung mengambil ponsel Fandi yang membuat Fandi sedikit terlonjak kaget.
"Ada apa Ra?" tanya Fandi.
"Kamu tuh yang ada apa,, sejak tadi sibuk dengan ponsel terus,, ayo dong kamu makan Fandi,, nanti kamu sakit loh kalau telat makan," ucap Rara.
"Baiklah," ucap Fandi.
"Ponsel aku dong," ucap Fandi lagi lembut.
Dia tidak pernah marah sama sekali kalau Rara yang seperti itu padanya,, berbeda lagi kalau orang lain,,, pasti dia sudah marah sejak tadi,, batin Citra lagi-lagi.
Citra terus memperhatikan Fandi yang selalu lembut pada Rara berbeda jika Fandi kepada dirinya pasti tidak pernah selembut itu.
"Ini tapi fokus makan dulu,, jangan main ponsel terus," ucap Rara sambil memberikan kembali ponsel Fandi.
"Siap bos," ucap Fandi sambil tersenyum.
"Emang nggak bisa kita membantah kalau udah bos yang bicara,," ucap Rafa.
"Apaan sih," ucap Rara malu.
"Ayo makan lagi,, Cit ayo makan jangan bengong," ucap Rara sambil nyengir.
"Hah,, iya Ra,," ucap Citra juga yang sedikit terkejut.
__ADS_1