Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Karena lagi galau yah?


__ADS_3

"Tidurlah sayang,," ucap Rafa sambil memeluk Rara yang terlihat sangat kelelahan. Bagaimana tidak Rafa meminta bukan hanya satu kali.


"Kan dari tadi mau tidur sayang,, hanya kamu saja tuh yang minta terus,," ucap Rara.


"Abis enak banget sayang,," ucap Rafa sambil nyengir.


Mereka berada di dalam selimut tanpa menggunakan sehelai benang pun.


"Tuh kan tangan kamu,, mau ngapain lagi tuh,," rengek Rara karena merasakan tangan Rafa sudah mulai naik lagi untuk memegang benda kenyal yang selalu di pegang nya.


"Aduh maaf sayang tanganku khilaf nih,," ucap Rafa.


"Sambil tidur sayang nggak apa-apa kan biar lebih enak tidurnya,," ucap Rafa lagi.


Rara hanya menggelengkan kepalanya sambil membiarkan Rafa melakukan apa yang dia inginkan.


Rara mencoba untuk tidur karena dia benar-benar sangat kelelahan.


########


Pagi harinya di kamar Reno.


Reno bolak-balik sambil melihat ponselnya. Fania belum juga menghubungi dirinya,, padahal Reno sangat berharap kalau bangun pagi dia akan melihat pesan dari Fania tapi harapannya sia-sia karena belum ada juga pesan dari Fania padahal dia benar-benar sangat merindukan wanita itu dan dia juga sangat berharap Fania tidak akan marah lagi pada dirinya.


Fania kamu kenapa sih masih marah saja,, kenapa kamu sebegitu marahnya padahal aku memberitahukan semua itu untuk kebaikan Zahra dan kamu juga,, tapi kenapa kamu harus seperti ini pada aku,, aku pikir kamu tidak akan setega ini pada aku,, apa aku nggak berarti sama sekali untuk kamu,, batin Reno.


Reno memutuskan untuk menghubungi Fania lagi,, tapi ponsel Fania belum aktif-aktif juga.


Astaga ponsel dia tidak aktif-aktif juga,, tega banget sih kamu Fania,, aku harus bertemu dengan dia,, batin Reno.


Sementara di tempat persembunyian Zahra.

__ADS_1


"Fania ponsel loe belum aktif-aktif juga sampai sekarang?" tanya Zahra sambil sarapan pagi.


"Iya belum,, aku malas mengaktifkan ponselku karena aku masih kesal dengan Reno,," jawab Fania.


"Kamu nggak kasihan gitu sama dia?" tanya Zahra.


"Yah kasihan karena aku tau dia pasti terus menelepon aku,, hanya saja dia itu ngeselin banget jadi biarin aja lah,, sekali-kali tega sama dia,, lagian dia nggak akan kemana-mana juga,, dia akan tetap suka sama aku,, dia itu nggak bakalan bisa marah sama aku,, karena dia sangat mencintai aku,," ucap Fania lagi.


"Enak kamu yah,," ucap Zahra.


"Iya sih enak,," ucap Fania.


"Kalau kamu gimana sama Reno?" tanya Zahra.


"Gimana apanya?" tanya Fania balik.


"Yah perasaan kamu sama dia sekarang? apa kamu cinta dia atau gimana?" tanya Zahra.


"Oh kirain nggak lagi sekarang,," ucap Zahra.


Zahra tau bagaimana Fania mencintai Reno dulu. Hanya saja Fania memang memiliki sifat tidak jauh beda dengan dirinya. Dan juga keras kepala.


"Ehh Reno itu kaya nggak sih?" tanya Zahra yang memang belum terlalu mengetahui tentang Reno karena dia juga fokus pada pacarnya yang sekarang sudah menjadi mantannya.


Fania tampak berpikir dan mengingat-ngingat sewaktu dia ke rumah Reno. Dan Fania baru sadari jika Reno itu orang kaya. Sewaktu di rumah Reno,, Fania tidak terlalu fokus untuk menilai karena dia kesal dengan mama Reno.


"Iya kaya Zahra,, aku baru sadar sekarang loh,, yah meskipun kalau di bandingkan dengan Rafa tentu Rafa lebih kaya,, hanya saja Reno kaya kok,," ucap Fania.


"Oh pantas saja dia itu style lumayan mahal harga-harganya dan juga mobil dia bagus juga,, ternyata dia kaya,," ucap Zahra setelah mengingat kembali penampilan Reno,, yang dirinya baru sadari juga,, karena Reno memang tidak pernah menceritakan tentang keluarganya. Tapi semua itu bisa terlihat dari fasilitas yang di dapatkan Reno.


"Reno nggak kerja gitu? pasti ayahnya punya perusahaan kan?" ucap Zahra lagi.

__ADS_1


"Nggak,, dia kuliah aja belum selesai kok,, yah kamu tau kan kalau aku selalu ngajakin Reno ke club dan dia pun juga begitu,, terus kumpul-kumpul,, kamu juga suka ikut kan bersama mantan kamu,, jadi dia itu nggak mikirin kuliah dia,, karena dia udah malas,, padahal sebenarnya dia pintar kok karena tugas aku dia yang selalu kerjakan hanya sudah terpengaruh saja makanya dia begitu,," ucap Fania lalu tertawa.


"Oh pantas saja yah kamu suka lebih dulu selesai daripada aku,, karena kalau aku kan selalu bayar orang dan juga memanfaatkan Rafa waktu itu,, dulu aku suka heran hanya malas juga untuk bertanya,, aku pikir kamu asal jawab aja makanya cepat selesai,," ucap Zahra.


"Nggak mungkinlah,, asal jawab pun aku juga malas,, itu semua karena Reno,, dia itu melihat tugas aku dan dia mau membantu aku mengerjakannya,, jadi sudah pasti aku mau lah,," ucap Fania.


"Awalnya itu aku ragu banget tau nggak karena seorang Reno mengerjakan tugas aku,, karena aku sudah tau juga kuliah dia aja nggak selesai-selesai,, dia juga nggak masuk kuliah,,, tapi begitu Reno sudah selesai kerjakan dan aku tanya nih sama orang yang lebih tau menurut aku yah,, ternyata benar dia kerjakan dan juga udah bagus banget,, kaget banget dong aku,," ucap Fania.


"Terus aku tanya sama Reno kan kenapa dia bisa kerjakan tugas aku sebagus itu,, sedangkan dia saja nggak masuk-masuk kuliah walaupun jurusan kita sama kan,, terus dia bilang karena aku tau dan aku cuma malas saja ke kampus,, dan kalau yang seperti itu sangat mudah,, dia malahan menyuruh aku untuk lebih banyak belajar lagi,, disitu aku tau kalau dia itu pintar juga,," ucap Fania lagi.


"Jadi kita sama jurusan?" tanya Zahra ulang.


"Iya,, hanya beda kampus saja sih,," jawab Fania lagi.


"Oh gitu yah,, aku benar-benar nggak nyangka kalau si Reno itu pintar,, dan kamu nggak mau bilang-bilang juga biar aku menyuruh dia untuk mengerjakan tugas aku juga,," ucap Zahra.


"Hmm malas banget,, kan aku kasihan juga sama dia,," ucap Fania sambil nyengir.


"Lebay banget,," cibir Zahra.


Sedangkan di rumah Reno.


Reno segera ke luar kamar menuju meja makan karena dia yakin mamanya sudah menyiapkan sarapan pagi,, walaupun di rumah Reno ada pelayan tapi mama dia tetap menyiapkan sarapan pagi untuknya dan ayahnya juga.


"Mama," ucap Reno sambil duduk di kursinya.


"Ayah," ucap Reno lagi sambil tersenyum.


"Baru mama mau memanggil kamu Ren,," ucap mama Reno.


"Tumben bangun pagi kamu,, karena lagi galau yah?" ejek mama Reno.

__ADS_1


__ADS_2