Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Lanjut,,,


__ADS_3

Ya ampun tertawanya sangat mengerikan,, kalau dia tertawa seperti itu pada pria yang ingin dia dapatkan sudah pasti pria itu tidak akan menyukainya,,, batin anak buah Gracia lagi.


Ekspresi wajah Gracia seketika berubah begitu melihat anak buahnya sendiri.


"Kenapa kamu tidak tertawa? apa yang kamu pikirkan?" bentak Gracia sambil melihat anak buahnya dengan tatapan mata tajam.


"Aku ingin tertawa tadi bos,, tapi takut mengganggu kesenangan bos,," ucap anak buah Gracia sambil keringat dingin,,, karena dia sangat tau Gracia apabila dia tidak menyukai orang dia tidak segan-segan untuk langsung menghilangkan nyawa orang itu.


"Oke tumben kamu pintar,," ucap Gracia lalu kembali melanjutkan tawanya lagi.


Huuff selamat-selamat,, untung saja dia bisa menerima alasan dari aku,, dia ini seperti psikopat saja, batin anak buah Gracia.


"Sudah biarkan mereka melanjutkan perjalanan mereka,,, aku yakin anak buah Rafa pasti sedang menuju kesini,,, atau tidak kita mungkin akan masuk jebakan mereka,, nggak boleh gegabah menghadapi mereka apalagi dia punya Fandi yang cerdas dan teliti,,," ucap Gracia lagi sambil melihat mobil Rafa.


"Baik bos," ucap anak buah Gracia lagi lalu segera menurunkan kecepatan mobilnya.


Rafa yang melihatnya benar-benar bingung.


"Kenapa dengan orang itu?" ucap Rafa sambil melihat ke belakang dan Rara pun ikut melihat juga.

__ADS_1


"Ada apa Rafa?" ucap Fandi penasaran sambil fokus menyetir mobil.


"Kamu pelan aja Fandi,, dia sudah tidak mengejar,," ucap Rafa.


"Hah,, tidak mengejar lagi,," ucap Fandi yang malah membuat Fandi tampak sangat kepikiran,, padahal Fandi sudah sengaja akan membuat Gracia masuk ke dalam jebakannya.


"Kok bisa? siapa lagi mereka?" ucap Fandi.


"Entahlah,, sepertinya dia menyadari atas apa yang kita sudah rencanakan Fandi," ucap Rafa.


"Kenapa banyak sekali akhir-akhir ini kejadian yang benar-benar selalu di luar dugaan,, aku curiga semua kejadian akhir-akhir ini dalangnya adalah orang yang sama,, sampai saat ini bosnya kita belum temukan,," ucap Fandi.


"Aku juga berpikiran seperti itu,," ucap Rafa.


"Oh iya plat mobil orang itu,, apa kamu melihatnya Rafa dan mengingatnya?" tanya Fandi yang baru menyadari sesuatu supaya bisa dia cari tau.


Rafa pun tampak mengingat-mengingat.


"Dia tidak punya plat mobil," jawab Rara yang benar-benar mengingat,, karena sebenarnya tadi dia teringat akan hal itu untuk bisa dicari tau oleh Rafa,, tapi dia tidak melihat itu pada mobil Gracia.

__ADS_1


"APA!!!" ucap Rafa dan Fandi secara bersamaan.


"Kamu yakin sayang,, mobil itu nggak punya plat mobil tadi?" tanya Rafa ulang.


"Iya Ra kamu yakin?" tanya Fandi juga.


Rara pun dengan segera menganggukkan kepalanya.


"Iya aku sangat yakin,, karena sebenarnya tadi aku mau mengingat plat mobil orang itu untuk jaga-jaga siapa tau kalian butuhkan,, tapi dia nggak punya plat mobil," ucap Rara.


"Astaga bagaimana bisa mobil tidak punya plat,, bisa sebebas itu," ucap Fandi.


"Tapi itu memudahkan kita juga untuk mendapatkan mobil itu" ucap Fandi lagi.


"Rafa kamu mengerti kan,, maksud aku?" ucap Fandi.


Rafa yang memang sudah mengerti tampak sudah menelepon anak buahnya.


"Mereka pasti belum jauh,," ucap Fandi.

__ADS_1


"Iya,, jadi gimana kita lanjut ke rumah sakit atau nggak nih?" ucap Rafa lagi.


"Lanjut,," ucap Fandi cepat membuat Rafa langsung tersenyum penuh maksud.


__ADS_2