Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Hanya alasan kamu saja.....


__ADS_3

Note : KALIAN BISA BACA BAB SEBELUMNYA DULU SUPAYA NYAMBUNG,, KARENA TADI AKU REVISI...


##############


"Ana kamu istirahat dulu yah,, dan jangan mikirin apa-apa,, pokoknya kamu santai aja,, dan ingat kamu akan bisa seperti dulu lagi,, aku akan membantu dan menemani kamu," ucap Reno yang tak henti-hentinya mengingatkan Ana.


Ana pun menganggukkan kepalanya.


"Aku ke pemakaman Fania dulu karena sepertinya hari ini juga Fania akan di makamkan," ucap Reno lagi.


"Ya ampun seharusnya kak Reno tadi pergi aja ke pemakaman Fania," ucap Ana merasa bersalah.


"Nggak apa-apa kok Ana,, kamu nggak usah merasa bersalah seperti itu,, santai aja lah," ucap Reno walaupun dalam hatinya dia benar-benar masih merasa sedih sekali karena kehilangan Fania,, dia benar-benar tidak menyangka kalau Fania akan meninggal secepat ini,, hanya karena kecemburuan Fania.


"Aku ke pemakaman Fania dulu yah," ucap Reno lagi.


"Iya," ucap Ana.


"Mama nggak larang aku kan?" tanya Reno kepada mamanya.


"Nggak kok,, pergilah ke pemakaman dia,," ucap Mama Reno.


Reno pun pamit kepada semua orang yang berada di dalam ruangan itu lalu segera berjalan keluar dari dalam ruangan itu menuju mobilnya.


Reno memutuskan menelepon Zahra terlebih dahulu.


Zahra dengan malas mengangkat panggilan telfon dari Reno.

__ADS_1


"Ada apa lagi Reno? udah selesai kamu jenguk Ana? dasar nggak ada hati kamu Reno,, Fania tuh meninggal dan kamu malah memutuskan untuk menjenguk Ana,, Fania benar-benar bodoh jatuh cinta sama cowok seperti kamu," ucap Zahra langsung begitu sudah mengangkat panggilan telfon Reno.


"Udahlah Zahra,, kamu jangan marah-marah terus,, aku bersama mamaku tadi,,, dan Ana juga seperti itu karena aku dan Fania,, kamu mengertilah,, aku tau kamu tau semuanya mengenai rencana Fania,, kecemburuan Fania karena dia pasti curhat sama kamu,, tapi kenapa sih kamu nggak menghentikan dia Zahra,, kenapa kamu biarin dia mengikuti kemarahannya dan akhirnya malah membuat dia meninggal dunia Zahra,," ucap Reno yang malah membuat Zahra semakin kesal pada Reno.


"Enak sekali kamu berbicara seperti itu,, apa kamu nggak tau gimana pacar kamu itu kalau diberitahu,, dan kamu malah menyalahkan aku sekarang,, kamu lah yang salah sebenarnya Reno,, coba kalau kamu nggak gatal sama Ana,, pasti Fania nggak mungkin melakukan itu semua,, pasti Fania nggak akan meninggal Reno,, pasti sekarang dia masih hidup,, ingat ini semua terjadi karena kamu dan Ana," ucap Zahra.


"Aku akan menuntut balas semuanya atas apa yang telah kalian lakukan pada Fania,, ingat itu Reno,, aku nggak akan membiarkan kalian hidup dengan enak-enakan," ucap Zahra.


"Sudahlah Zahra nggak usah gila kamu,, dimana Fania di kuburkan,, aku ingin datang ke pemakamannya," ucap Reno.


"Untuk apa lagi kamu tau,, kamu nggak perlu tau,, urus saja Ana,, nggak usah datang ke pemakaman Fania,, karena Fania pasti nggak butuh kamu datang ke tempat pemakaman dia,," ucap Zahra.


"Kamu yakin Zahra? aku ini pria yang sangat dicintai Fania,, kamu tau sendiri kan? jadi mana mungkin dia nggak mau aku datang," ucap Reno lagi.


"Fania juga sudah meninggal Reno,, jadi nggak pentinglah sama keinginan dia yang menginginkan kamu datang," ucap Zahra.


Zahra yang masih kesal akhirnya memutuskan untuk memberitahukan Reno juga karena dia sebenarnya sedang malas berdebat dengan Reno.


Reno yang sudah tau segera menyetir mobilnya menuju ke alamat yang telah disebutkan Zahra pada dirinya.


Di jalan ketika Reno sedang menyetir mobilnya,, Reno terbayang-bayang saat-saat terakhir dia bersama Fania ketika di rumahnya,, Fania yang kena tamparan,, Fania yang merusak daging,, Fania yang marah-marah tidak jelas,, Fania yang marah-marah melalui panggilan telfon,, Fania yang tidak percaya pada dirinya meskipun sudah dia jelaskan berkali-kali mengenai hubungannya dengan Ana yang tidak ada hubungan spesial tapi Fania juga masih tidak percaya,, semua itu terbayang-bayang.


Reno benar-benar sedih dengan akhir kisah cintanya dengan Fania seperti ini,, dia benar-benar tidak menyangka.


#############


Begitu sampai,, Reno langsung dilihat dengan tatapan tidak suka oleh Zahra.

__ADS_1


"Ngapain juga kamu datang kesini Reno,, Fania sudah dimakamkan,, nggak ada hati memang kamu Reno,,," ucap Zahra kesal.


Dan memang benar tidak ada lagi orang disekitar situ,, hanya Zahra saja yang masih ada,, yang sengaja menunggu kedatangan Reno.


Reno melihat makam Fania tanpa menggubris Zahra yang masih terlihat sangat sedih. Reno pun menaburkan bunga sambil menangis karena dia tidak bisa lagi menahan air matanya.


"Nggak usah menangis seperti itu,, Fania nggak akan bangun lagi walaupun kamu menangis seperti itu,, kamu nggak ada disaat dia di makamkan,,, itu sudah cukup membuktikan betapa tidak berartinya Fania buat kamu Reno,,,," ucap Zahra.


"Zahra bisa nggak kamu nggak usah marah-marah terus,, kita lagi berada di makam Fania,, jadi stop kamu marah-marah,, Fania akan sedih kalau kamu marah-marah terus seperti ini," ucap Reno sambil melihat Zahra.


"Hmmm sudahlah aku rasa percuma saja bicara dengan kamu karena kamu pasti nggak akan mendengarkan ucapan aku,," ucap Reno lalu segera pergi dari pemakaman Fania namun Zahra menahan tangannya.


"Kenapa lagi sih Zahra?" ucap Reno sambil melepaskan pegangan tangan Zahra pada tangannya.


"Apa segitu nggak pentingnya Fania untuk kamu,, sampai-sampai kamu datang ke pemakaman dia hanya sebentar dan kamu pergi lagi," ucap Zahra kesal dengan tingkah Reno.


Reno langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal begitu mendengar ucapan Zahra.


"Fania itu sangat penting buat aku Zahra,, aku nggak bisa lama-lama disini tuh yah karena kamu,, kamu marah-marah terus,, aku nggak tahan orang marah-marah sama aku disaat aku sedih seperti ini,," ucap Reno yang malah membuat Zahra langsung tertawa,, Reno semakin bingung dengan Zahra yang tiba-tiba tertawa.


"Aku tau itu hanya alasan kamu saja,, sebenarnya kamu mau pergi menemui Ana lagi kan,, dan kamu sudah senang sekarang karena Fania telah meninggal jadi kamu bebas untuk bersama dengan Ana,, nggak ada yang bakalan gangguin kalian lagi," ucap Zahra.


Reno tampak menghembuskan nafasnya kasar begitu mendengar ucapan Zahra.


"Terserah kamu mau mikir apa deh Zahra,, yang intinya aku mau pergi dari sini karena malas dengar kamu yang marah-marah terus,, kamu nggak tau berada di posisi aku itu seperti apa," ucap Reno.


"Dasar laki-laki pembohong,, kamu jujur saja Reno,, kamu mau pergi menemui Ana kan?" ucap Zahra lagi.

__ADS_1


"Kalau iya kenapa memangnya,,, itu urusan aku Zahra mau menemui Ana atau nggak,," ucap Reno lalu segera berjalan menuju mobilnya lagi karena malas dengar omelan Zahra lagi.


__ADS_2