Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Penawaran


__ADS_3

"Zahra itu kan sepasang pelayan miskin" ucap Fania kepada Zahra.


"Iya, mereka berdua sepertinya ada hubungan" ucap Zahra.


"Lebih baik loe foto deh, biar kita buat mereka malu" ucap Fania.


Zahra pun mengikuti ucapan Fania.


#####


Rafa mengikuti Rara untuk belanja ke pasar dan ini pertama kalinya buat dia berbeda dengan Rara yang sudah terbiasa.


Walaupun pertama kali buat dia tapi Rafa berusaha untuk terlihat biasa saja supaya Rara tidak curiga.


Rara belanja dengan cepat dan menawar juga membuat Rafa hanya memperhatikannya dan memegang belanjaan Rara.


"Rara kok kamu nggak menawar sama ibu-ibu tadi?" tanya Rafa bingung.


"Oh karena tadi ibu-ibunya udah tua kasian kalau aku harus nawar sama dia" ucap Rara.


"Berarti kalau yang muda-muda kamu nggak kasian?" tanya Rafa lagi.


"Kasian juga hanya tadi memang harganya mahal banget makanya aku menawar" ucap Rara.


Rafa pun hanya tersenyum kemudian Rara melanjutkan lagi membeli apa saja yang di butuhkannya.


Setelah selesai mereka pun kembali ke rumah mereka. Rafa langsung istirahat begitu sampai di rumah sementara Rara mulai memasak.


Setelah memasak Rara membangunkan Rafa untuk makan bersama.


#####


Malam harinya Rara benar-benar belajar karena mereka mau final lagi tapi Rafa hanya rebahan sambil bermain game di pangkuan Rara seperti tidak ada beban hidup.


"Rafa kamu nggak belajar?" tanya Rara.


"Nggak aku udah tahu jawabannya" jawab Rafa santai.


"Kamu main curang yah?" Tanya Rara penuh selidik.


"Nggak lah, aku tuh udah belajar Rara dan pasti besok soalnya gampang-gampang" ucap Rafa.


"Tapi aku nggak pernah lihat kamu belajar" ucap Rara lagi.


"Aku belajar pada saat dosen menjelaskan" ucap Rafa lagi.


Rara pun diam sambil kembali konsentrasi terhadap pelajarannya.


Ketika sedang asik belajar dan Rafa juga sedang asik bermain game tiba-tiba ponsel Rara berdering.


Rafa langsung menghentikan bermain gamenya dan menanyakan kepada Rara siapa yang meneleponnya.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Rafa.


"Oh ini Fandi" jawab Rara.


Rafa langsung mengambil ponsel Rara dari tangannya.


"Biar aku yang angkat, kamu lanjut belajar lagi" ucap Rafa.


Rara pun hanya menggelengkan kepalanya kemudian melanjutkan belajarnya.


"Halo Fandi, kenapa telfon istriku?" tanya Rafa setelah berada jauh dari Rara.


"Mau mastiin ajah kalau Rara nggak ketiduran lagi, lagian kenapa sih loe yang angkat terus panggilan telfon dari gue, ini masih nomor ponsel Rara kan" ucap Fandi.


"Dia nggak ketiduran dia lagi belajar sekarang dan ini masih nomor ponsel Rara hanya kalau loe yang nelfon gue yang bakalan angkat, makanya loe nelfon di nomor gue ajah nggak usah di nomor istriku" ucap Rafa.


"Mau-mau gue dong" ucap Fandi.


"Udah ahh ngeselin loe" ucap Rafa kemudian mematikan panggilan telfon dari Fandi secara sepihak.


Fandi pun hanya tertawa mendengar ucapan Rafa.


Rafa mendekat kembali ke Rara sambil memberikan ponsel Rara kembali.


"Apa yang di katakan Fandi?" tanya Rara kepada Rafa.


"Oh dia hanya mau memastikan kalau kamu nggak ketiduran lagi" jawab Rafa.


Rara pun hanya tersenyum dan itu di lihat oleh Rafa.


"Nggak kenapa-kenapa kok, aku cuma suka ajah sama perhatian Fandi, dia benar-benar sahabat yang sangat perhatian kan" ucap Rara.


"Aku juga perhatian, kamu suka yah sama Fandi?" tanya Rafa penuh selidik.


"Iya aku suka sebagai sahabat" jawab Rara.


Rafa pun bernafas lega, entah kenapa dia tidak bisa terima kalau Rara menyukai Fandi lebih dari sahabat.


Rara kembali melanjutkan belajarnya dan Rafa kembali melanjutkan bermain gamenya dengan baring di pangkuan Rara.


"Rafa aku buatin kamu minum yah?" Tanya Rara.


"Boleh" jawab Rafa.


"Ya sudah awas dulu" ucap Rara sambil melihat Rafa yang masih asik baring di pahanya.


Rafa pun bangun sambil mengikuti Rara di dapur.


"Kenapa ikut, tunggu di tempat tadi ajah Rafa" ucap Rara.


"Takut" ucap Rafa sambil memeluk Rara yang sedang berjalan dari belakang.

__ADS_1


Rara pun hanya diam melihat kelakuan Rafa, Rara tahu kalau Rafa hanya berbohong kalau dia takut.


"Rafa bisa lepasin dulu nggak pelukanmu ini, aku mau buat minum loh ini" ucap Rara.


"Ya sudah buat ajah, aku maunya seperti ini terus" Kata Rafa.


Rara pun kembali diam setelah mendengar ucapan Rafa dan melanjutkan membuat minumnya.


Rafa lagi-lagi tersenyum.


Aku senang banget sekarang, ternyata yang di bilang Fandi tentang Rara itu memang benar. Kenapa dulu aku menyukai Zahra yah yang nggak ada baiknya sama sekali batin Rafa.


Di saat lagi asik memeluk Rara, ponsel Rafa tiba-tiba berdering ternyata yang meneleponnya adalah Zahra.


"Zahra nelfon aku" ucap Rafa yang masih di dengar oleh Rara.


Rara pun melihat Rafa.


"Ya sudah angkat saja Rafa siapa tahu penting" ucap Rara.


"Palingan juga nggak penting, sudahlah lebih baik aku nggak usah mengangkatnya" ucap Rafa kemudian mematikan panggilan telfon dari Zahra.


Namun lagi-lagi Zahra meneleponnya.


"Angkat saja Rafa" ucap Rara lagi.


Rafa pun mengangkat panggilan telfon dari Zahra.


"Ada apa Zahra?" Tanya Rafa langsung setelah mengangkat panggilan telfon dari Zahra.


"Santai dong pelayan kalau loe ngomong, gue cuma mau ngasih loe penawaran" ucap Zahra.


"Penawaran, loe gila yah gue nggak tertarik sama sekali sama penawaran loe" ucap Rafa kesal.


Rara hanya mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Zahra karena Rafa speaker panggilan telfon dari Zahra jadilah Rara mendengarnya juga.


"Loe yakin nggak tertarik sama penawaran dari gue, gue lihat loe yang lagi mesra-mesraan di motor sama Rara pelayan miskin itu, kalau foto kalian gue sebar pasti kalian bakalan malu, tapi gue bisa kok nggak nyebarin itu semua asal loe mau kasih contekan gue besok pas kita final" ucap Zahra.


Rafa pun tertawa mendengar ucapan Zahra, membuat Rara dan Zahra bingung dengan ekspresi Rafa.


"Emang loe pikir gue takut, loe sebarin ajah gue nggak perduli dan gue juga nggak bakalan malu begitupun dengan Rara, ngapain kita mesti malu sih dan ingat ini baik-baik gue nggak bakalan bantu loe sedikit pun, emang loe pikir gue Rafa yang bodoh seperti dulu" ucap Rafa.


Zahra benar-benar kesal mendengar ucapan Rafa.


"Loe pacaran yah dengan Rara?" Tanya Zahra.


"Emang iya gue pacaran dengan dia, emang kurang jelas yah yang loe foto itu" ucap Rafa.


Zahra langsung mematikan panggilan telfonnya mendengar jawaban Rafa yang jauh dari rencananya.


"Rafa kok kamu ngomong seperti itu sama Zahra bukannya kamu sangat mencintai Zahra, dia bisa jauh dari kamu loh kalau ngomong seperti tadi" ucap Rara dengan raut wajah bingungnya.

__ADS_1


"Aku sudah tidak mencintai dia sedikit pun karena aku sudah mencintai wanita lain" ucap Rafa sambil menatap Rara dengan tatapan lembut.


"Haa siapa yang kamu cintai? kok aku nggak tahu" tanya Rara penasaran.


__ADS_2