Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Kenapa jadi kita


__ADS_3

"Gimana nih apa yang harus kita lakuin?" tanya preman itu kepada temannya.


"Kita harus ikuti lah perintah orang tadi, emang loe mau kita berurusan dengan Rafindra Alexander" ucap preman yang satunya lagi sambil menyetir mobil.


"Nggak mau gue berurusan dengan orang seperti Rafindra Alexander" ucap preman itu.


"Jadi kita harus buat dua orang wanita itu melayani kita dengan senang hati" ucap preman itu.


"Tapi gimana caranya?" tanya preman yang satunya.


"Kita ancam saja lagian percuma mereka teriak di sana tuh sepi dan satpamnya juga kan sudah mereka urus" ucap preman yang satunya.


"Oke lagian mereka juga cantik-cantik tapi sepertinya sudah tidak perawan tapi tak apa-apalah mereka juga sudah membayar kita setengah" ucap salah satu preman itu.


#####


Di rumah tante Fania


Zahra dan Fania yang menunggu kedua preman itu benar-benar tidak sabar.


"Lama banget sih mereka" ucap Zahra kepada Fania sambil melihat jam.


"Mungkin sebentar lagi" ucap Fania dengan kesalnya.


Tak lama kedua preman itu pun datang dengan sudah menyusun rencana.


Zahra dan Fania mendengar suara mobil preman itu langsung menunggu preman itu di kamar sebelah dengan sudah menyiapkan obat.


Kedua preman itu pun sudah masuk ke dalam rumah mereka mengunci pintu lalu masuk ke dalam kamar tempat yang sudah di siapkan untuk Rara sebelumnya. Mereka mencari-cari kamera itu terlebih dahulu setelah menemukannya mereka sudah memutuskan untuk melakukan satu persatu dengan temannya yang akan merekam.


Kedua preman itu pun masuk ke kamar sebelah tempat Zahra dan Fania berada.


"Wanita itu kok nggak ribut, apa dia sudah pingsan?" tanya Zahra kepada salah satu preman itu.


"Dia nggak kami bawah, kami berubah pikiran" ucap preman itu.


"Maksud kamu apa haa" ucap Zahra dengan marahnya.


"Kami mau kalian yang melayani kita" ucap preman itu dengan senyum mesumnya lalu mereka mulai mendekati Zahra dan Fania. Dan di mulai dari kamu ucap preman itu lagi sambil mencolek dagu Zahra.

__ADS_1


"Jangan macam-macam kalian yah" ucap Fania marah.


"Nggak kok kita nggak macam-macam, kita hanya akan membuat kalian puas sayang" ucap preman yang satunya sambil mencolek dagu Fania.


Preman yang satunya benar-benar sudah tidak sabar melihat Zahra yang pakaiannya sangat sexy. Sedangkan Zahra dan Fania benar-benar takut dan merasa jijik melihat kedua preman itu karena mukanya sudah lebam-lebam di tambah tidak ada ganteng-gantengnya sedikit pun. Zahra dan Fania bingung kenapa malah jadi mereka yang harus melayani kedua preman itu dan juga kenapa wajah mereka sudah lebam-lebam.


"Kenapa kalian jadi seperti ini?" tanya Zahra dengan terus mundur.


"Karena kita di bayar dengan lebih mahal oleh orang lain" ucap salah satu preman itu dengan berbohong.


"Siapa orangnya?" tanya Fania.


"Kalian nggak perlu tahu" ucap preman itu.


"Kita akan bayar kalian lebih mahal dari orang itu" ucap Zahra.


"Kita nggak mau, kita hanya ingin di layani oleh kalian berdua, kita sudah cukup dengan bayaran orang itu" ucap salah satu preman itu dengan senyum mesumnya lalu menarik tangan Zahra.


"Ayo ikut ke kamar sebelah sayang" ucap preman itu sambil menarik tangan Zahra.


"Lepasin" berontak Zahra.


"Lepasin teman gue" teriak Fania sambil mau mendekati Zahra namun di tahan oleh preman yang satunya.


Zahra pun tetap memberontak sampai di paksa masuk ke dalam kamar.


"Loe bisa diam tidak" bentak preman itu. Loe mau melayani gue secara baik-baik lalu setelah itu gue lepasin atau loe mau melayani gue secara paksa lalu setelah itu gue bunuh ucap preman itu dengan senyum liciknya yang membuat Zahra diam seketika.


"Oke gue layani loe, tapi loe jangan bunuh gue" ucap Zahra terpaksa.


"Nah gitu dong, loe harus terlihat menikmatinya karena gue mau video awas saja kalau loe berani nggak menikmatinya sayang nyawa loe taruhannya" ucap preman itu dengan sadisnya.


"Kenapa mesti loe video gue nggak mau" ucap Zahra benar-benar tidak terima dan mencoba untuk kabur namun tidak bisa.


"Oh berarti loe mau langsung ke alam lain" ucap preman itu dengan tawanya.


"Oke-oke lakuin apa yang loe mau yang penting loe jangan bunuh gue" ucap Zahra pasrah.


"Begitu baru bagus" ucap preman itu. Kemudian memulai videonya.

__ADS_1


Preman itu pun menuntaskan hasratnya kepada Zahra dengan Zahra yang suka rela melayaninya walaupun dalam hatinya Zahra benar-benar tidak terima.


"Ternyata kamu sudah jebol yah sayang tapi nggak apa-apa untung kamu cantik" ucap preman itu kepada Zahra.


Zahra hanya diam dan pasrah saja, preman itu sangat menikmati berbeda dengan Zahra yang ingin segera berakhir.


Di kamar lain Fania sedang di goda oleh preman yang satunya yang juga sudah tidak sabar. Sedangkan Fania bingung kenapa Zahra tidak bersuara lagi meminta tolong atau berontak yang hanya dia dengar samar-samar seperti suara Zahra yang sedang mendesah.


Setelah percintaan panas antara Zahra dan preman itu, Zahra dan preman itu keluar kamar dengan Zahra yang sangat kelelahan bagaimana tidak preman itu meminta dua kali dan sangat lama sedangkan preman itu keluar kamar dengan senyum puas.


Preman itu membuka pintu kamar tempat Fania dan preman satunya lagi berada. Fania terkejut melihat Zahra yang sudah acak-acakan dan bekas-bekas kissmark di lehernya.


"Zahra kenapa loe jadi begini, kenapa loe mau melayani dia" ucap Fania.


Belum sempat Zahra memberitahukan alasannya kepada Fania, Fania sudah di tarik paksa oleh preman yang satunya yang sudah tidak sabar.


"Ayo sini sayang loe juga akan rasain apa yang di rasain teman loe" ucap preman itu setelah membuka pintu kamar lalu menguncinya.


"Jangan harap" ucap Fania lalu berusaha keluar kamar namun di tahan.


Preman itu pun mengancam Fania sama seperti ancaman yang di berikan kepada Zahra karena memang kedua preman itu sudah menyusun rencana sebelum ke rumah tante Fania tadi.


Fania pun dengan terpaksa mengikuti kemauan preman itu beserta preman itu yang juga memvideo aktivitas mereka.


Preman itu menuntaskan hasratnya kepada Fania dengan senang hati.


"Sayang loe udah nggak perawan ternyata" ucap preman itu kepada Fania sedangkan Fania hanya berusaha menikmatinya saja.


Zahra di kamar sebelah juga hanya mendengar samar-samar suara desahan Fania.


Kenapa jadi kita yang alami ini batin Zahra tidak terima.


Setelah lama menunggu akhirnya Fania keluar juga dari kamar bersama preman itu dan ternyata preman itu juga menyuruh Fania melayaninya dua kali.


"Sepertinya kita harus bertukar pasangan" ucap preman yang sedang bersama dengan Zahra lalu tersenyum mesum lagi.


Mendengar itu membuat Zahra dan Fania melotot tak percaya namun itulah yang terjadi Zahra kembali di bawah ke kamar sebelah oleh preman yang di layani Fania tadi dan Fania tetap di situ.


Dan mereka harus memuaskan lagi kedua preman itu tanpa di video lagi. Setelah puas preman-preman itu pun pergi dengan membawa rekaman video itu dan meninggalkan Zahra dan Fania yang kelelahan penuh dengan bekas kissmark di tubuh mereka. Zahra dan Fania harus melayani lima kali kedua preman itu.

__ADS_1


#####


Di tempat lain Rara sudah di antarkan pulang oleh Rafa dan tak lupa Rara mengucapkan kata terima kasih dengan banyak kali membuat Rafa sedikit tertawa karena dia sudah mendengar kata terima kasih itu mulai dari tempat kejadian sampai di kos Rara. Tak lupa juga Rara menyuruh Rafa hati-hati karena takut kalau Rafa akan di tunggu oleh kedua preman itu dengan membawa temannya yang lain.


__ADS_2