
Di perjalanan Reno masih terus menghubungi Fania namun nomor ponsel Fania masih belum aktif-aktif juga membuat Reno berdecak kesal.
Fania,, Fania kenapa belum aktif-aktif juga sih nomor ponsel kamu,, apa kamu nggak bosan apa,, secara kamu kan nggak bisa kalau nggak buka sosial media,, tapi kok ini dia tahan banget yah menonaktifkan nomor ponselnya selama ini,, apa jangan-jangan dia punya nomor ponsel lain,, tapi nggak mungkin juga deh kayaknya karena pasti aku tau,, mungkin kartu Zahra kali yah yang dia pakai,, batin Reno.
"Astaga Reno kamu bodoh banget sih,, kenapa kamu nggak menghubungi Zahra coba,, supaya bisa bicara dengan Fania, pasti nomor ponsel Zahra aktif nih,, nggak mungkin kan nggak aktif sampai sekarang,," ucap Reno di dalam mobilnya.
Reno menghentikan mobilnya lebih dulu lalu menelepon Zahra.
Zahra yang sedang duduk santai di buat terkejut dengan bunyi ponselnya,, dia sedikit bingung siapa yang menelepon dirinya di jam begini,,, karena ayahnya tidak biasa menelepon dirinya jam segini. Dan kalau pacar pun dia sudah tidak memiliki pacar sama sekali.
Dengan segera Zahra melihat ponselnya dan dia langsung mengernyitkan dahinya begitu melihat nama ponsel yang meneleponnya ternyata Reno.
Ngapain nih anak nelfon gue,, apa karena Fania mungkin yah, batin Zahra sambil melihat Fania yang sedang duduk-duduk santai sambil ngemil walaupun tadi mereka baru saja selesai sarapan.
"Fania,, nih Reno nelfon aku," ucap Zahra yang langsung membuat Fania menghentikan aktivitas ngemilnya lalu melihat Zahra.
"Reno? pacar aku?" tanya Fania.
"Iyalah pacar kamu,, mau siapa lagi memangnya," ucap Zahra.
"Kok dia nelfon kamu sih bukannya nelfon aku,, jangan-jangan dia mau ngajakin kamu selingkuh lagi karena aku cuek sama dia,," ucap Fania kesal.
"Sembarangan aja yah pikiran kamu itu,, mana mungkin sih Reno mau ngajakin aku selingkuh,, dia nelfon aku pasti karena nomor ponsel kamu nggak aktif tuh," ucap Zahra sambil menahan kekesalannya.
Hmm Zahra juga kenapa nggak angkat-angkat sih,, apa jangan-jangan karena Fania larang yah, batin Reno yang sudah sejak tadi menelepon Zahra namun Zahra tidak mengangkat juga panggilan telfon dari dirinya membuat Reno semakin lemas saja.
"Oh iya lupa,, aku belum mengaktifkan ponselku,," ucap Fania sambil nyengir padahal mereka habis membahas tadi masalah ponsel yang sengaja dia nonaktifkan tapi Fania sudah lupa saja.
"Udah dia matiin juga kok,, nggak perlu aku angkat lagi,," ucap Zahra lalu kembali menyimpan ponselnya.
Lebih baik aku menelepon Zahra lagi,, siapa tau kali ini dia mau mengangkat panggilan telfon dari aku,, batin Reno lalu segera menelepon Zahra lagi.
Zahra berdecak kesal begitu mendengar ponselnya berdering lagi sedangkan Fania langsung melihat lagi ke arah Zahra.
"Siapa?" tanya Fania.
"Reno lagi?" tanya Fania.
"Iya nih Reno lagi,, aku mau apain nih,, ngeselin banget sih Reno, ganggu aja aku lagi butuh ketenangan juga,," omel Zahra.
"Nih bicara deh kamu Fania,, palingan dia juga mau bicara sama kamu,," ucap Zahra sambil memberikan ponselnya pada Fania.
"Nggak mau ahh,, kamu aja dulu Zahra yang bicara siapa tau aja dia nggak cariin aku,, kan bisa malu aku,," ucap Fania sambil memberikan kembali ponsel Zahra.
"Angkat Zahra,, nanti keburu mati lagi panggilan telfonnya," ucap Fania.
"Biarin aja deh,, malas aku mengangkatnya,, kamu aku suruh angkat malah nggak mau,,," ucap Zahra lalu dengan sengaja menutup panggilan telfon dari Reno.
Astaga si Zahra ini kok malah di matiin sih,, tega banget tuh anak yah,, batin Reno lalu menelepon Zahra lagi.
"Yah Zahra kok gitu sih,," ucap Fania kesal sambil melihat Zahra.
"Makanya kalau udah nggak bisa marah lagi,, buruan aktifkan ponsel kamu,, supaya Reno nggak nelfon aku lagi,, karena aku bakalan menutup panggilan telfon dari dia lagi nih kalau dia menelepon lagi,," ucap Zahra.
"Yah angkat dulu dong,, setidaknya aku tau ada maksud apa dia nelfon kamu," ucap Fania tidak mau kalah.
Pada akhirnya ponsel Zahra lagi-lagi berdering dan itu dari Reno lagi.
"Itu pasti Reno lagi kan?" tanya Fania.
"Iya Reno,," jawab Zahra dengan malas.
"Ya udah angkat dong Zahra,, tanyain aja kenapa dia menelepon kamu,," ucap Fania lagi.
"Iya deh,, ngeselin banget kamu tau nggak," ucap Zahra lalu segera mengangkat panggilan telfon dari Reno,, dengan memasang wajah malas dan kesalnya.
__ADS_1
"Halo Ren, kenapa kamu nelfon aku?" tanya Zahra.
"Kamu mau berikan ceramah aku lagi,,, aku malas dengarnya,," ucap Zahra lagi.
Zahra kepedean banget sih,, aku hanya mau menanyakan Fania kali,, percuma saja rasanya memberitahukan kamu, toh nggak bakalan kamu dengar juga,, batin Reno.
"Nggak kok Zahra,, aku nggak ada niat untuk ceramah oke,, aku hanya mau menanyakan tentang Fania,, dia lagi disitu kan?" tanya Reno.
Zahra melihat ke arah Fania begitu mendengar ucapan Reno.
Tuh kan sudah aku duga sebelumnya,, batin Zahra.
"Iya nih,, dia lagi ada disini sekarang mau kemana lagi memangnya,, ada apa sih tanyain Fania?" ucap Zahra pura-pura tidak tau apa-apa tentang Fania dan Reno.
Fania tersenyum begitu mengetahui Reno ternyata menelepon Zahra untuk menanyakan dirinya.
"Tanyain dong kok nomor ponselnya nggak aktif-aktif sih,, aku telfon loh dari kemarin tapi nggak aktif-aktif juga,," ucap Reno.
"Oh itu karena dia sengaja memang nggak aktifkan nomor ponselnya dia kesal sama kamu,, sampai sini paham?" ucap Zahra.
"Beritahu dia aku minta maaf,, atau kasih dong ponsel kamu sama dia,, aku bicara sama dia sebentar aja,," ucap Reno.
"Fania,, Reno mau bicara nih sama kamu,, mau nggak?" tanya Zahra.
"Nggak mau, aku masih benci dan jengkel sama dia," jawab Fania yang masih di dengar oleh Reno juga.
"Tuh dengar sendiri kan dia nggak mau bicara dengan kamu,, jadi sampai sini aja yah,, tutup gih telfonnya," ucap Zahra dengan santainya.
Fania,, Fania,, sok banget sih nggak mau bicara padahal ekspresi wajahnya jelas banget kalau dia ingin sekali bicara dengan Reno, batin Zahra sambil melihat Fania.
"Rayu dia dong Zahra,, kamu mah tega banget sama aku,," ucap Reno lagi.
"Idihh kan kamu yang tega duluan sama aku jadi aku malas yah bantuin kamu,,,, siapa suruh kamu cari masalah jadi yah rasain deh,, aku nggak mau ikut campur yah sama urusan kalian,, karena aku yakin pasti Fania marah sama kamu karena kamu yang salah sama dia,," ucap Zahra.
"Astaga Zahra tega banget kamu sama aku,, bilang dong sekali lagi,, aku mau bicara sama dia,, aku mau minta maaf,, dia nggak usah marah-marah lagi,, dia mau apa,, biar aku belikan dan cari kan supaya dia nggak marah lagi,, asal jangan yang terlalu mahal saja karena aku belum kerja," ucap Reno serius yang malah membuat Zahra tertawa.
"Kenapa kamu malah tertawa sih Zahra?" tanya Reno.
"Yah abis kamu sok banget tau nyuruh aku tanya Fania,, dia mau apa biar nggak marah lagi,, tapi kamu bilang juga jangan yang terlalu mahal,, nggak modal banget sih jadi cowok,," ejek Zahra.
"Itu kan kenyataannya Zahra,, aku nggak punya banyak uang, karena belum kerja,," ucap Reno.
"Bukannya kamu kaya," ucap Zahra.
"Nggak lah,, aku nggak kaya,, yang kaya itu orang tua aku,, sedangkan aku nggak masih belum kerja ini,, masih mau lanjut kuliah dulu,, sekarang berikan dong ponsel kamu sama Fania,,, mau bicara aku,, bilang saja aku kangen sama dia,," ucap Reno lagi.
"Fania,, nih Reno kangen sama kamu,, dia mau bicara sama kamu,, bicara gih sama dia,," ucap Zahra.
"Aku nggak mau,, aku nggak kangen sama dia,, dan malas bicara sama dia," ucap Fania lagi dan masih di dengar dengan Reno.
Astaga tega banget sih Fania sama aku,, batin Reno.
"Udah dengar lagi kan kamu,, dia nggak mau bicara sama kamu,, jadi nggak usah mengharap lagi untuk bicara dengan dia,, dan tutup telfonnya sekarang,, oke Reno,," ucap Zahra lagi.
"Bilang dulu sama dia,, dia mau apa nanti aku belikan yang penting dia nggak marah lagi,, please Zahra kamulah harapan aku satu-satunya," mohon Reno.
"Apaan sih kamu lebay banget,," ucap Zahra.
"Fania kamu mau apa? Reno bakalan belikan buat kamu asal kamu nggak marah lagi sama dia,," ucap Zahra.
"Nggak mau apa-apa kok aku,, aku hanya nggak mau aja bicara dengan dia,, karena aku lagi kesal sama dia,," ucap Fania.
Sok jual mahal juga nih Fania,, batin Zahra sambil tertawa di dalam hatinya.
"Udah dengar kan Reno Fania bilang apa,, jadi udah dulu yah,, nggak usah telfon lagi,, aku kesal kalau kamu telfon terus,," ucap Zahra.
__ADS_1
"Ya ampun tega banget sih pacar aku,, beritahu aku sayang banget sama dia nggak usah marah-marah lagi dong,,," ucap Reno senjata terakhir untuk merayu Fania.
"Fania,, Reno sayang banget sama kamu nggak usah marah-marah lagi katanya sama dia," ucap Zahra lagi.
"Aku nggak bisa berhenti marah sama dia,, udah matiin aja telfonnya Zahra nggak usah bicara lagi dengan dia," ucap Fania pada Zahra.
"Dengar lagi kan kamu Reno,, jadi udah dulu yah Ren,, bye,," ucap Zahra.
"Tunggu,, tunggu,," ucap Reno cepat.
"Ada apa lagi?" tanya Zahra.
"Aku kesitu yah,, nih sekarang aku udah di jalan mau kesitu,," ucap Reno.
"Tapi aku ketemu dengan Fania yah,," ucap Reno lagi.
"Iyalah Reno,, siapa juga yang mau ketemu dengan kamu sih,," ucap Zahra.
"Fania,, nih Reno mau kesini,, kamu mau nggak?" tanya Zahra.
"Nggak,, aku nggak mau,, awas saja kalau dia datang aku bakalan marah selama-lamanya sama dia," ucap Fania yang membuat Reno terlonjak kaget.
"Astaga tega banget sih,, iya-iya aku nggak datang asal dia nggak marah selama-lamanya sama aku,, sekarang dia marah dulu deh kalau gitu,, aku bakalan hubungi dia nanti kalau dia sudah tidak marah lagi,," ucap Reno pada akhirnya.
"Oke Reno,, aku tutup dulu yah panggilan telfonnya kalau gitu,, selamat galau Reno,," ejek Zahra lalu segera menutup panggilan telfonnya dengan Reno.
Astaga Zahra masih sempat-sempatnya gangguin aku,, batin Reno sambil melihat ponselnya.
"Yah putar balik deh kalau gini ceritanya,,, dia nggak mau aku datang,, kasihan banget sih aku,," gumam Reno.
Nggak usah balik di rumah dulu deh,, mendingan ke tempat teman aku aja,, kalau di rumah ada mama yang akan ngomel-ngomel lagi kalau melihat aku yang galau begini gara-gara Fania,, padahal mama nggak tau aja rasanya jadi aku,,, batin Reno.
"Reno ngomong apa?" tanya Fania.
"Hmm kamu ini,, tadi Reno ingin bicara dengan kamu tapi kamu nggak mau,, sekarang kamu tanya-tanya aku,, nggak jelas juga kamu,," ucap Zahra.
"Jawab aja Zahra,, tadi Reno ngomong apa lagi,," ucap Fania.
"Dia bilang kamu marah aja dulu,, dia akan menghubungi kamu lagi nanti kalau kamu sudah nggak marah lagi sama dia,," ucap Zahra.
"Isshh dasar cowok nggak peka banget,," ucap Fania yang membuat Zahra melongo tak percaya begitu mendengar ucapan Fania.
"Mau kamu itu apa sih Fania,, tadi Reno itu pengen banget bicara sama kamu,, tapi kamu nggak mau,, ehh giliran di biarin dulu kamu marah,, kamu malah bilang dia nggak peka,, nggak jelas juga kamu,," ucap Zahra.
"Yah seharusnya dia usaha dong,, masa dia biarin aku marah sama dia,, ngeselin banget,," ucap Fania lagi sambil memasang wajah kesalnya.
"Nggak tau yah kalian berdua itu,, terutama kamu,, bikin pusing aja tau nggak,, lebih aku ke kamar supaya lebih tenang," ucap Zahra sambil berjalan meninggalkan Fania yang sedang kesal.
Heran gue sama Fania itu,, sok marah juga sih,, padahal gue tau juga dia itu cinta sama Reno,, nggak bisa lama-lama marahan dengan Reno,, batin Zahra sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Sementara di tempat lain.
Mama Reno sedang keluar jalan-jalan dengan menyetir mobilnya sendiri. Dia tidak sengaja melihat Ana yang keluar dari dalam mobil.
Itu Ana kan,, ya ampun nggak nyangka bakalan ketemu dia lagi secepat ini,, kali ini aku harus bisa mendapatkan kontaknya,, batin Mama Reno yang sangat senang begitu melihat Ana.
Tapi dia memicingkan matanya begitu melihat Ana sepertinya jadi incaran tukang jambret dan memang benar tas Ana di jambret.
Berani-beraninya yah kamu menjambret tas Ana,, batin Mama Reno sambil melihat Ana yang sedang teriak-teriak minta tolong karena di jambret.
Mama Reno segera turun dari dalam mobilnya dan menunggu tukang jambret itu lewat di dekatnya karena kebetulan jalan itu disitu sempit. Dia turun sambil memegang payung yang kebetulan dia ingat ada di dalam mobilnya. Dan begitu tukang jambret itu lewat di dekatnya dia langsung mengarahkan payung itu kepada mereka membuat yang bawa motor oleng dan akhirnya jatuh.
Ana sangat senang akhirnya penjambret itu jatuh,, dengan segera dia berlari ke tempat penjambret itu bersama warga dan warga yang lain juga sudah memegang penjambret itu.
"Kamu ini masih muda bukannya kerja malahan menjambret,," omel mama Reno sambil menghantamkan sepatu heels miliknya kepada kedua penjambret itu.
__ADS_1
Membuat penjambret itu meringis kesakitan. Mama Reno sedang kesal pada Reno tapi dia juga sayang anaknya susah untuk terlalu marah pada Reno,,, jadilah dia melampiaskan pada penjambret itu kemarahannya kebetulan juga yang mereka jambret adalah Ana.