
Zahra yang lagi berada di rumahnya benar-benar bingung mau membalas Rara dengan cara bagaimana lagi, belum lagi dia memikirkan cara agar Rafa mau membantunya seperti dulu yang dengan senang hati mau menuruti kemauannya.
Zahra pun menghubungi Fania.
"Halo Fania, loe lagi dimana?" tanya Zahra setelah Fania mengangkat panggilan telfon dari Zahra.
"Di rumah lagi belajar gue bentar sore mau final loh, udah belajar loe?" tanya Fania kepada Zahra.
"Belum gue belajar, malas gue percuma juga gue belajar nggak bakalan bisa masuk ke otak gue dan mengingatnya" jawab Zahra.
Fania menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Zahra dari balik telfon, Fania memang sangat mengerti dengan sifat Zahra yang malas sekali belajar. Dia hanya mengandalkan kecantikannya dan orang lain. Dulu dia selalu menggunakan Rafa yang sangat pintar.
"Udah deh lebih baik loe belajar, mau loe ingat atau tidak yang penting loe udah belajar dan membacanya siapa tahu ajah kan sebentar ada yang loe ingat biar sedikit, atau jangan-jangan loe mengharapkan bantuan dari Rafa lagi yah bentar?" tanya Fania dari balik telfon.
"Gue awalnya seperti itu Fania, gue udah bela-belain melakukan penawaran sama dia tentang foto itu dan loe tahu dia jawab apa" Kata Zahra.
"Apa memangnya dia jawab?" tanya Fania penasaran karena Zahra memang belum menceritakan kepada Fania.
"Dia jawab kalau dia nggak perduli malahan dia bilang kalau mereka berdua pacaran, menjengkelkan banget kan" Ucap Zahra.
Fania tertawa mendengar ucapan Zahra.
"Kenapa loe tertawa? senang yah loe, teman loe di gituin" ucap Zahra.
"Iya senang banget" ucap Fania masih dengan tertawanya.
"Diam nggak loe" ucap Zahra kesal dari balik telfon.
Fania pun berusaha untuk diam.
"Loe nggak patah hati kan Zahra?" ledek Fania setelah menyelesaikan tawanya.
"Haa patah hati loe gila yah, amit-amit gue patah hati tahu nggak, ngapain gue patah hati, orang cantik pantang buat patah hati apalagi cowoknya model seperti Rafa hanya pelayan seperti itu" ucap Zahra dengan nada suara jijik.
"Siapa tahu ajah Zahra, selama ini kan Rafa selalu ngejar-ngejar loe dan sekarang sudah tidak lagi karena Rara, kalah saing loe sama Rara" ledek Fania lagi lalu tertawa.
"Ketawa terus loe yah, gue nggak pernah perduli soal itu, malahan gue senang tahu nggak karena gue nggak di gangguin lagi sama Rafa biar saja dia sama-sama Rara, sesama pelayan kan cocok" ucap Zahra.
__ADS_1
"Kalau loe lihat Rafa baik-baik sebenarnya Rafa itu ganteng loe Zahra nggak rugi juga kalau pacaran dengan dia, coba deh loe perhatikan baik-baik" ucap Fania sambil mengingat wajah Rafa lalu tertawa lagi.
"Darimananya coba dia ganteng, mata loe lagi rabun yah, lagian biar pun dia ganteng tapi dia itu hanya pelayan nggak level banget Fania, jangan-jangan loe suka yah sama Rafa dari tadi loe itu memuji dia terus" ucap Zahra.
"Gila loe gue mau suka sama pelayan, Rafa itu jauh banget dari tipe gue yah, gue juga nggak suka pelayan kali coba kalau Rafa kaya kayaknya gue bakalan suka" ucap Fania.
"Terus pacar loe mau loe kemanain?" tanya Zahra.
"Yah nggak kemana-kemanain di simpan ajah atau di gunakan pas lagi butuh" ucap Fania.
"Kasian banget yah pacar loe tapi udah deh ngapain sih kita bahas itu nggak penting banget, lagian Rafa juga hanya pelayan miskin" ucap Zahra.
"Lebih baik kita mikirin cara buat balas dua orang pelayan itu yang nggak tahu diri" ucap Zahra lagi.
"Aku nggak tahu mau balas bagaimana lagi sekarang, loe tahu kan kita terus yang sial kalau mau balas Rara" ucap Fania.
"Iya sih tapi kalau kita coba terus pasti nanti kita berhasil lagian gue kesal banget sama pelayan itu yang selalu terlihat lemah dan selalu dekat dengan Fandi" ucap Zahra.
"Emm dekat dengan Fandi atau dengan Rafa yang loe kesal" ledek Fania lagi.
Zahra benar-benar kesal mendengar ucapan Fania yang sejak tadi mengejeknya.
"Iya deh percaya gue, tapi loe itu terlalu fokus ke Rara tahu nggak seharusnya loe juga berusaha mendekati Fandi biar Rara nggak ada yang belain" usul Fania.
"Loe tahu kan susah banget dekatin Fandi, gue sebenarnya juga heran kenapa Rara bisa dekat banget dengan Fandi tahu nggak" ucap Zahra.
"Iya sama gue juga heran banget dan gue lebih heran lagi karena Fandi nggak tertarik sama kecantikan loe, mana sekarang Rara tambah banyak yang belain karena dia sudah pacaran dengan Rafa" ucap Fania.
"Iya tapi ada bagusnya juga kalau Rafa pacaran dengan Rara jadi Fandi berarti belum mempunyai pacar dan gue bisa deketin dia. Bisa di simpulkan juga kalau Fandi tidak menyukai Rara berarti" ucap Zahra senang.
"Yakin banget loe Fandi jomblo, siapa tahu ajah Fandi punya pacar makanya dia nggak pernah menghiraukan loe yang berusaha mendekati dia" ucap Fania.
Zahra pun berpikir sejenak.
"Nggak mungkin pasti Fandi nggak punya pacar, loe nggak pernah lihat kan dia dekat dengan cewek lain selain Rara dan sekarang Rara sudah pacaran dengan Rafa berarti dia nggak punya pacar" ucap Zahra yakin.
"Iya juga sih, tapi udah dulu deh telfonannya gue mau belajar tahu nggak, lebih baik loe belajar dulu siapa tahu kalau loe pintar, Fandi jadi mau dekat-dekat dengan loe" ucap Fania lalu tertawa.
__ADS_1
"Sialan loe, gue mau ke rumah loe ajah deh sekarang" ucap Zahra sambil mengambil kunci mobilnya.
"Terserah loe deh asal jangan ganggu gue dan bawain gue makanan yah, singgah beli ajah di restoran tempat kerja pasangan pelayan itu siapa tahu loe bisa buat mereka di pecat" ucap Fania lagi.
"Boleh juga tuh" ucap Zahra kemudian mematikan panggilan telfon secara sepihak dan langsung menuju ke restoran.
#####
Rafa yang sedang buru-buru buat kembali ke restoran terpaksa harus berhenti dulu karena motornya mogok dia terpaksa harus memperbaikinya dulu.
Begitu sampai di restoran ekspresi wajah Rafa seketika berubah yang tadinya dia masih tersenyum di motor karena mengingat wajah Rara sekarang ekspresi wajahnya benar-benar dingin. Sekarang terlihat betul ekspresi wajah dingin dan berkuasanya yang tidak pernah dia perlihatkan kepada Rara.
Rafa masuk ke dalam restoran dan langsung mengumpulkan karyawannya bahkan dia menutup sementara restoran. Rafa mulai menginterogasi semua karyawannya bahkan manajer pun ikut dia interogasi.
Karyawan yang terlibat masalah tadi dengan Rara benar-benar pucat apalagi yang menampar Rara sangat panik dan pucat.
Rafa masih bertanya baik-baik kepada mereka namun tidak ada yang mau mengaku. Fandi pun datang karena tadi dia di hubungi oleh Rafa dan Rafa memberitahukan semuanya membuat Fandi benar-benar marah sama seperti Rafa.
Rafa yang sudah kehabisan kesabaran langsung melihat di rekaman CCTV dan dia benar-benar semakin marah melihat semuanya.
Rafa langsung turun tangan untuk memberikan pelajaran kepada pelayan itu seperti yang dilakukan kepada Rara membuat Fandi terkejut, dia tidak pernah melihat Rafa semarah itu dan mau membalas perbuatan orang lain biasanya Rafa menyuruh Fandi untuk melakukan itu.
Fandi sekarang benar-benar yakin kalau Rafa sudah mencintai Rara.
"Kalian semua dengar baik-baik, Rara itu pacar saya, pacar dari pemilik restoran ini jadi kalian harus memperlakukan dia seperti kalian memperlakukan saya walaupun dia tidak tahu apa-apa" ucap Rafa masih dengan amarahnya walaupun dia sudah melampiaskan sebagian kepada pelayan yang menampar Rara.
Rafa tidak bilang bahwa Rara adalah istrinya karena dia ingin mengakui semuanya di saat yang tepat.
Semua orang yang mendengarnya terkejut mendengar ucapan Rafa karena yang mereka tahu Rafa dan Rara hanya teman sekelas. Rafa memang tidak pernah membawa pacarnya dan tidak pernah di lihat dekat dengan wanita cuma Fandi dan orang tua Rafa yang tahu kalau Rafa pernah menyukai Zahra.
Mereka jadi mengerti kenapa Rafa sangat lembut dan perhatian kepada Rara karena ternyata Rara adalah kekasih Rafa.
Pelayan yang mencari gara-gara kepada Rara benar-benar menyesali perbuatan mereka.
"Sudah Rafa biar aku yang mengurus mereka" ucap Fandi mencoba menurunkan amarah Rafa.
Tanpa mereka sadari ada satu orang yang benar-benar terkejut mendengar itu semua.
__ADS_1
Orang itu Zahra.
Rafa pemilik restoran ini, restoran yang sangat bagus dan mewah ini, berarti Rafa batin Zahra.