Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Tersenyum manis


__ADS_3

"Ngapain Zahra nelfon loe?" tanya Fandi.


"Nggak tahu juga sih, tapi palingan dia mau minta supaya gue bantu dia buat final bentar sore" ucap Rafa dan tidak mengangkat panggilan telfon dari Zahra.


"Oh iya juga yah, nggak usah loe angkat, cewek kayak Zahra itu nggak ada gunanya kerjanya cuma nyusahin orang ajah tahu dan sombong banget lagi" ucap Fandi.


"Iya loe benar banget, kenapa gue dulu ****** banget yah suka sama dia, Zahra itu benar-benar wanita sombong dan nggak ada baik-baiknya sama orang lain coba dia baik dulu mungkin gue masih tergila-gila sama dia" ucap Rafa.


"Emang iya gue kan udah bilang sejak dulu sama loe cuma loe ajah yang keras kepala dan Zahra itu nggak mungkin menjadi baik" ucap Fandi lagi.


Baru Rafa mau bicara, lagi-lagi Zahra menelepon dirinya. Rafa pun langsung menonaktifkan ponselnya.


"Ganggu banget tuh orang" ucap Fandi sinis.


"Iya heran gue, oh iya ngapain loe datang kesini, sengaja loe kan mau gangguin gue" ucap Rafa.


"Sembarangan ajah kalau loe ngomong, malas banget gue gangguin loe tahu nggak, tidak ada manfaatnya buat gue" ucap Fandi.


"Hem terus ngapain loe kesini?" tanya Rafa.


"Gue mau kasitau loe ajah kalau gue udah urus pelayan-pelayan yang menyakiti Rara bahkan mereka semua sudah sangat menderita sekarang, loe mau gue musnahkan saja atau gimana?" tanya Fandi dengan santainya.


"Buat menderita saja nggak usah musnahkan nanti Rara curiga" ucap Rafa.


"Bukannya sekarang pasti Rara sudah curiga kalau dia mengetahui pelayan-pelayan itu tidak bekerja lagi di restoran jadi lebih baik gue musnahkan saja" ucap Fandi.


"Udahlah nggak usah pokoknya buat saja mereka menderita sedikit demi sedikit terlebih dahulu, loe itu harus mengontrol emosi loe dan gue sebenarnya juga sangat kesal kepada mereka tapi kita nggak boleh bairin mereka meninggal dengan cepat terlalu enak buat mereka" ucap Rafa dengan senyum dinginnya.


"Susah gue kontrol kalau sudah menyangkut orang-orang yang penting buat gue, tapi okelah gue ikuti yang loe perintahkan" ucap Fandi.


"Loe nggak suruh gue masuk nih" ucap Fandi lagi.


"Oh iya lupa gue, gue pikir loe mau langsung pulang saja" ucap Rafa sambil nyengir kuda.

__ADS_1


"Gue mau masuk, gue mau numpang makan tahu nggak" ucap Fandi kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.


Rafa pun tersenyum sambil mengikuti Fandi yang masuk ke dalam rumahnya.


Sedangkan Zahra yang sedang berada di rumah Fania terus menelepon Rafa walaupun ponsel Rafa sejak tadi dia nonaktifkan.


"Zahra loe itu telfon siapa sih dari tadi bolak-balik kayak setrika tahu nggak, capek gue lihat loe" ucap Fania kesal.


"Gue lagi telfon Rafa tahu nggak" ucap Zahra.


Fania pun langsung menghentikan membaca bukunya.


"Mau ngapain loe telfon dia, dia kan ngga berniat bantu loe atau loe punya cara lain buat bentar sore" ucap Fania.


"Gue nggak mau minta bantuan ke dia, gue cuma mau tanya ajah dia lagi ngapain sekarang, dia udah makan atau belum" ucap Zahra sambil senyum-senyum.


"Loe masih waras kan Zahra, masih sehat kan loe" ucap Fania sambil berjalan mendekati Zahra dan menempelkan telapak tangannya di dahi Zahra untuk memeriksa suhu tubuhnya.


"Apaan sih loe, iyalah gue masih sehat" ucap Zahra sambil menyingkirkan tangan Fania dari dahinya.


"Dia bukannya nggak mengangkat telfon dari gue tahu cuma ponselnya ajah yang lagi nggak aktif" ucap Zahra.


"Yah terus ngapain loe telfon dia terus kalau ponselnya nggak aktif Zahra, loe habis kesambet setan apa sih" ucap Fania.


"Gue nggak kesambet setan apa-apa tahu dan gue nelfon dia terus itu supaya gue tahu ponsel dia itu udah aktif atau belum, loe harus tahu kalau gue sekarang sudah memutuskan untuk mendapatkan Rafa mau bagaimana pun caranya" ucap Zahra yakin.


Fania semakin terkejut mendengar ucapan Zahra.


"Loe kenapa sih Zahra bukannya loe nggak mau berurusan dengan Rafa lagian tadi loe telfonan dengan gue loe senang banget Rafa pacaran dengan Rara jadi dia nggak gangguin loe lagi, tapi sekarang loe yang mau gangguin dia bahkan loe mau mendapatkan dia bagaimanapun caranya, heran gue sama loe" ucap Fania.


"Iya gue memang harus mendapatkan dia, gue berubah pikiran untuk membiarkan dia bersama dengan Rara. Pokoknya sekarang gue harus mendapatkan Rafa supaya Rara menderita dan patah hati" ucap Zahra.


"Loe yakin Zahra mau lakuin itu?" tanya Fania.

__ADS_1


"Yakin banget lah" jawab Zahra lalu tersenyum.


"Loe yakin mau dekat-dekat dengan Rafa?" tanya Fania lagi memastikan.


"Iya yakin banget" jawab Zahra dengan keyakinannya.


"Rafa miskin loe Zahra, loe kan paling nggak suka dekat-dekat dengan orang seperti itu" ucap Fania.


"Demi buat Rara menderita gue bakalan suka gue nggak perduli lagi sama miskinnya Rafa, lagian sepertinya gue udah suka sama Rafa setelah gue lihat-lihat dia memang ganteng kok seperti kata loe" ucap Zahra sambil membayangkan diriya bersama Rafa yang kaya.


"Terserah loe deh Zahra, gue heran banget kenapa loe tiba-tiba suka sama Rafa tapi kembali lagi semuanya terserah loe" ucap Fania sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya pokoknya loe nggak usah memikirkan kenapa gue bisa suka sama Rafa, sekarang loe bantuin gue ajah buat dapatin Rafa" ucap Zahra.


"Bukannya Rafa sejak dulu tergila-gila sama loe jadi pasti nggak bakalan susah, loe tinggal baik-baik ajah sama dia dan dandan yang cantik pasti dia langsung suka sama loe" ucap Fania santai.


"Sekarang kan ada Rara cewek miskin itu" ucap Zahra.


"Loe urus dong Rara masa loe di kalah sama Rara dalam menghadapi cowok, lagian mereka pacaran juga gue yakin baru jadi pasti belum terlalu cinta lah masih gampang merusak hubungan mereka, apalagi Rafa sangat suka loe dulu hanya loe ajah yang terlalu sombong akhirnya dia bersama Rara, coba loe pikir kalau loe masih baik pasti sampai sekarang Rafa masih ngejar-ngejar loe" ucap Fania sambil mengingat kelakuan Zahra kepada Rafa.


"Benar juga kata loe" ucap Zahra.


Mereka pun melanjutkan pembicaraan mengenai Rafa dan Rara.


Sementara di rumah Rafa dan Rara, Rara tampak malu-malu bertemu Fandi sejak kejadian tadi apalagi Fandi yang selalu menggoda mereka berdua membuat Rara benar-benar merasa semakin malu. Rafa hanya tersenyum saja setiap kali Fandi menggoda Rara dan dirinya sambil melihat wajah merona Rara. Setelah makan Fandi memutuskan untuk pulang.


Rafa tidak mengaktifkan ponselnya sama sekali sampai mereka di kampus pun. Sedangkan Fandi masih belum datang ke kampus.


Ketika Rafa sedang berjalan sambil menggenggam mesra tangan Rara tiba-tiba seseorang memanggil namanya dari belakang.


Rafa dan Rara sama-sama berbalik ke belakang.


Rafa dan Rara melihat Zahra yang lagi tersenyum manis kepada Rafa sambil berjalan mendekati Rafa.

__ADS_1


Zahra kenapa dia tersenyum seperti itu, tumben batin Rafa.


__ADS_2