Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Nggak boleh lengah sedikit pun,,,


__ADS_3

Rafa langsung meremas kertas itu begitu dia sudah membaca tulisannya.


"Ini di buat dari darah manusia tuan,, masih tercium jelas tadi baunya," ucap anak buah Rafa lagi.


"Kalian nggak lihat pelakunya?" ucap Rafa.


"Kalau kita tidak tuan,,, tapi yang berjaga di luar sedang memburu pelakunya karena mereka melihatnya tadi,," ucap anak buah Rafa lagi.


"Oke kita tunggu mereka," ucap Rafa.


"Jangan sampai istriku tau tentang ini,, aku nggak mau dia khawatir,," ucap Rafa lagi.


"Iya baik tuan," ucap anak buah Rafa bersamaan.


"Bawa dia ke ruang bawah tanah,, aku mau mengurus istriku dulu, kirimkan aku pesan kalau orang itu sudah berada di ruang bawah tanah,,," ucap Rafa lalu berjalan menuju ke kamar.


Ruang bawah tanah itu hanyalah Rafa dan anak buahnya yang tau sedangkan Rara tidak tau apa-apa mengenai ruang bawah tanah itu. Disitu tempat untuk melenyapkan orang-orang yang bermasalah dengan Rafa.


Rafa berjalan sambil memikirkan tentang tulisan yang dibacanya tadi.


Istriku yang lemah masih juga mereka incar,, siapa mereka,, apa salah istriku di incar terus,, pasti ini musuh aku,, atau yang iri sama istriku,, batin Rafa.


Rafa yang tadinya memasang raut wajah serius berubah menjadi biasa saja begitu masuk ke dalam kamar.


Dia tersenyum melihat Rara yang sedang tidur di tempat tidur,, Rafa pun menutup kamar lalu datang mendekat kepada Rara,, Rara tersenyum sambil melihat Rafa.


"Ada apa tadi?" tanya Rara yang penasaran.


"Bukan apa-apa kok sayang,, hanya saingan bisnis saja,, kamu nggak usah mikirin itu,, kamu tidur saja yah," ucap Rafa.


Rara mengernyitkan keningnya bingung begitu melihat Rafa yang tidak ikutan tidur,,, Rafa hanya menyuruh dirinya tidur saja.


"Kamu nggak tidur?" tanya Rara.

__ADS_1


"Ayo kamu tidur juga," ucap Rara lagi.


"Aku sebentar sayang baru tidur,, aku cuma mau memastikan kamu sudah tidur saja dulu,, aku masih ada urusan sebentar," ucap Rafa sambil mengelus lembut rambut Rara.


"Benarkah? aku ingin peluk-peluk kamu juga," ucap Rara sengaja karena dia takut Rafa akan mengurus sesuatu yang berbahaya.


"Kamu takut yah aku akan melakukan hal yang berbahaya?" tanya Rafa sambil mencolek gemas hidung Rara.


"Nggak kok aku memang ingin memeluk kamu," ucap Rara berusaha terlihat biasa saja padahal betul dugaan Rafa.


"Hmm bohong banget,, nggak biasanya loh sayang kamu akan minta peluk gitu,, kan biasanya aku yang minta peluk dan ini tiba-tiba kamu yang meminta peluk sudah pasti kamu sengaja," ucap Rafa lagi.


Rara pun langsung nyengir begitu mendengar ucapan Rafa yang benar adanya.


"Iya emang benar,, aku takut kamu melakukan hal-hal yang berbahaya sebentar,, aku nggak mau kamu dalam bahaya," ucap Rara.


"Aku lihat tadi anak buah kamu wajahnya tegang-tegang jadi pasti ada yang nggak beres,, kalau urusan bisnis pasti tidak akan setegang itu mereka,, iyakan?" ucap Rara sambil melihat Rafa.


"Iya bukan tentang bisnis tapi ini nggak berbahaya kok sayang,, itu hanya lalat pengganggu saja,, nggak usah kamu pikirkan itu,, sekarang kamu tidur saja biar aku yang mengurus mereka," ucap Rafa lagi.


"Nggak kok,, aku nggak keluar rumah aku hanya di dalam rumah saja menunggu laporan anak buah ku nggak mungkin kan sayang anak buah ku melapor sampai masuk ke dalam kamar kita,, makanya itu aku menyuruh kamu untuk tidur duluan biar aku keluar untuk bicara dengan anak buah ku,, karena tadi kan kamu takut sendirian di kamar," ucap Rafa lagi sambil tersenyum lembut pada Rara.


"Oh gitu,, ya udah kamu keluar aja bicara sama mereka aku nggak takut kok,, aku nungguin kamu aja,, aku nggak mau tidur duluan," ucap Rara.


"Yah jangan dong sayang,, aku bicaranya pasti lama,,, dan kamu akan capek menunggu jadi kamu tidur duluan saja yah," ucap Rafa lagi.


Nggak mungkin aku membiarkan kamu menunggu aku sayang sedangkan anak buah ku belum mengirimkan pesan sekarang berarti orang itu belum ada di ruang bawah tanah,, batin Rafa.


"Tuh kan pasti berbahaya nih,, makanya kamu menyuruh aku tidur duluan,, aku nggak mau,, kamu nggak usah keluar kamar,, kamu disini aja," ucap Rara sambil memeluk pinggang Rafa dan itu membuat Rafa langsung tertawa.


"Isshh kok malah tertawa sih kamu?" ucap Rara kesal.


"Yah karena kamu lucu sayang,, ini nggak bahaya kok istriku sayang,, aku hanya nggak mau kamu begadang saja,, jadi kamu tidur yah,, aku nggak keluar melakukan hal-hal yang bahaya,, oke,, jadi kamu tidur yah," ucap Rafa lagi.

__ADS_1


"Iya deh kalau gitu tapi beneran yah?" ucap Rara lagi.


"Iya sayang," ucap Rafa.


Rara pun berusaha untuk tidur. Dan tak lama dia akhirnya tidur karena memang dia sudah sangat mengantuk namun dia paksakan diri untuk menunggu Rafa masuk ke dalam kamar.


Rafa tersenyum sambil menutup tubuh istrinya dengan selimut,, lalu dikecupnya kening Rara setelah itu dia keluar kamar kembali untuk menemui anak buahnya.


Anak buah Rafa tampak tegang membuat Rafa mengernyitkan keningnya bingung.


"Ada apa?" tanya Rafa.


"Mereka membawa senjata tuan,, ada satu orang yang terkena tembakan tapi sampai sekarang masih di ikuti sama yang lain," ucap anak buah Rafa.


"Yang terkena tembakan udah balik?" tanya Rafa.


"Iya tuan dia lagi menuju kesini," ucap Anak buah Rafa.


Rafa dikejutkan dengan kedatangan Fandi malam-malam dan tiba-tiba,, padahal Fandi tidak diberitahukan mengenai kejadian di rumah Rafa.


"Fandi ada apa? kok kamu kesini?" tanya Rafa.


"Rara mana?" tanya Fandi.


"Di dalam kamar,, dia sedang tidur,, ada apa memangnya?" tanya Rafa.


"Oh syukurlah,," ucap Fandi.


"Kamu sudah tau mengenai kejadian di rumah aku barusan?" tanya Rafa.


"Iyalah sudah tau,, semenjak penculikan Rara aku jadi semakin berjaga-jaga,, karena aku yakin pasti ada orang di belakang mereka,, kita nggak mengenal mereka Rafa,, iyakan? jadi sudah pasti mereka itu bukanlah pelaku utamanya,, hanya karena mereka terlalu setia sama bosnya makanya mereka nggak mau mengaku meskipun sudah disiksa berulang-ulang kali," ucap Fandi.


"Iya aku juga berpikir seperti itu,, hanya aku nggak menyangka kalau mereka akan bergerak secepat ini,," ucap Rafa.

__ADS_1


"Sekarang kita nggak boleh lengah sedikit pun,, anak buah ku sudah membantu anak buah kamu untuk mengejar mereka,, kata anak buah ku mereka sangat lincah mengendarai motor,, dan anak buah kita hanya beberapa saja yang bawa motor yang lainnya bawa mobil,," ucap Fandi.


"Anak buah ku ada yang terkena tembakan," ucap Rafa.


__ADS_2