Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Biar kamu bebas


__ADS_3

Gracia langsung panik begitu mengetahui bahwa Zahra dan Fania sedang menuju ke rumahnya sedangkan sekarang Rafa masih ada di rumahnya.


Gracia mulai memikirkan ide untuk memperlambat Zahra dan Fania sampai di rumahnya.


"Emm Zahra gue bisa minta tolong nggak?" tanya Gracia.


"Bisa dong"


"Gue minta tolong lu singgah belikan gue makanan yah, pokoknya dimana ajah deh yang penting enak dan juga mahal" ucap Gracia.


Gracia langsung kepikiran dengan makanan karena dia memang lagi lapar dan Rafa membawakan dia makanan yang rasanya sangat tidak disukai oleh Gracia, malahan Gracia berpikir bahwa makanan yang dibawakan Rafa itu makanan sampah tidak layak di konsumsi.


Zahra tertawa mendengar permintaan Gracia.


"Kok loe tertawa sih?" ucap Gracia kesal.


"Abis loe lucu, bukannya loe sekarang lagi jalan dari salah satu keluarga Alexander yang kaya raya itu, masa iya dia nggak kasih makan loe sih" ucap Zahra lalu tertawa lagi.


"Duh panjang ceritanya, pokoknya loe beliin gue makanan dan sekarang gue udah di rumah tahu, gue udah pulang sejak tadi" ucap Gracia pelan agar tak terdengar oleh Rafa.


"Oh gitu yah bagus deh, oke kalau gitu gue tutup dulu" ucap Zahra.


"Oke"


Zahra pun menutup panggilan telfonnya dengan Gracia.


"Kenapa sepupu loe?" tanya Fania sambil fokus mengemudikan mobil.


"Ini dia nitip makanan, jadi kita cariin dulu dia makanan"


"Emang di rumahnya nggak ada pembantu?" tanya Fania.


"Ada sih cuma dia emang gitu orangnya kalau lagi malas makanan rumah"


"Oh gitu yah, ya udah di restoran depan situ saja loe beliin dia makanan" ucap Fania yang teringat bahwa tidak jauh lagi mereka akan melewati sebuah restoran.


"Bagus nggak restorannya?"


"Bagus, mewah. Udah deh disitu ajah pokoknya" kata Fania.


"Oke deh"


Mereka pun singgah sebentar ke restoran tersebut.


#####


Sedangkan Gracia langsung memikirkan lagi caranya mengusir Rafa secara halus agar Rafa tidak merasa curiga.


Rafa pun memperhatikan Gracia yang sepertinya sedang berpikir.


"Kenapa sayang, siapa yang menelepon kamu tadi?" tanya Rafa.


"Emm itu sayang orang tua aku mau datang ke sini sekarang, kamu bisa pulang dulu kan sayang sekarang" ucap Gracia.

__ADS_1


"Loh kenapa, aku mau ketemu sama mereka kan sejak dulu aku nggak pernah ketemu mereka sayang" ucap Rafa.


"Nanti ajah sayang jangan sekarang, mau yah" ucap Gracia dengan ekspresi imutnya yang di buat-buat.


"Emm baiklah sayang, tapi kamu habiskan dulu makanan kamu dong"


"Iya sayang, aku pasti habiskan sebentar begitu kamu pulang"


"Ya sudah aku suapi kamu tiga sendok lagi kalau begitu baru aku pulang" ucap Rafa sambil mulai menyuapi Gracia lagi.


Gracia benar-benar terpaksa memakan itu padahal dia sebenarnya sangat ingin sekali membuang makanan itu.


"Udah tiga sendok sayang, ayo buruan kamu balik nanti orang tua aku keburu datang sayang"


"Baiklah, habiskan makanan kamu yah, aku nggak mau kamu sakit, aku pulang dulu" pamit Rafa.


"Iya sayang, terima kasih yah sudah perhatian padaku" ucap Gracia lalu tersenyum dan menggandeng lengan Rafa yang sedang berjalan ke depan.


"Aku kan pacar kamu sudah pasti aku akan perhatian padamu"


"Aku jadi semakin sayang sama kamu" ucap Gracia.


"Sama aku juga, ya sudah aku balik yah, makanannya di habiskan" ucap Rafa sambil memakai helmnya.


"Iya sayang pasti aku habiskan, kamu hati-hati yah" ucap Gracia lalu tersenyum manis.


"Iya sayang"


Setelah mengucapkan itu, Rafa langsung mengendarai motornya keluar dari halaman rumah Gracia.


"Heem habisin makanan sampah ini, ihh ogah banget" ucap Gracia sambil melihat makanan yang di bawakan Rafa tadi.


"Lebih baik aku buang di tempat sampah deh, rasanya saja seperti sampah" omel Gracia.


"Rafa itu orang kaya, gue pikir dia mau bawain gue makanan yang enak dan juga berkelas, ehh ini malahan bawain gue makanan sampah begini, sepertinya dia sudah terbiasa banget jadi orang miskin, tapi sabar Gracia kalau loe udah menikah dengan dia pasti kehidupan loe semakin bahagia dan dia juga nggak mungkin berpura-pura miskin terus" ucap Gracia sambil membuang makanan itu di tempat sampah.


Tak lama Zahra dan Fania sampai di rumah Gracia.


"Untung saja Rafa sudah pulang" ucap Gracia lega begitu melihat kedatangan Zahra dan Fania.


"Mana titipan gue?" tanya Gracia begitu Zahra berada dekat dengan dia.


"Sabar dong, nih titipan loe" ucap Zahra sambil memberikan titipan Gracia.


"Gue udah susah sabar, gue udah lapar banget nih, ayo masuk tapi gue mau makan dulu yah"


"Iya deh, kita temani loe makan"


Mereka pun masuk ke dalam rumah Gracia.


"Loe makannya pelan-pelan ajah kali, kita nggak mau ngambil tuh makanan loe" ucap Zahra sambil bergidik ngeri melihat Gracia yang makan sangat lahap.


"Abis lapar banget gue tahu nggak, dan sejak tadi gue makan-makanan yang nggak layak konsumsi, baru ini yang layak konsumsi" ucap Gracia.

__ADS_1


"Maksud loe nggak layak konsumsi gimana?"


"Gini yah gue kan tadi jalan sama pacar gue kan dan loe tahu dia yang beri gue makanan yang nggak layak konsumsi tahu nggak padahal dia kaya banget" ucap kesal Gracia.


Zahra dan Fania pun kembali tertawa.


"Kalian jangan tertawa dong" sungut Gracia.


"Lagian lucu sih, kasian banget loh" ucap Zahra.


"Jangan-jangan dia bukan orang kaya lagi" ucap Fania.


"Nggak lah, dia orang kaya gue tahu banget" ucap Gracia.


"Terus kenapa dia memberikan loe makanan yang nggak layak konsumsi?" tanya Zahra.


"Pasti dia nggak punya uang tuh" ucap Zahra lagi.


"Iya loe benar banget Zahra" ucap Fania juga.


Karena dia lagi pura-pura miskin, lebih baik gue nggak usah bilang deh batin Gracia.


"Sudahlah nggak usah bahas itu mungkin dia lagi menguji gue ajah, lebih baik besok kalian bawah gue lihat cewek yang kalian benci itu, karena malam itu nggak terlalu jelas sih gue lihatnya, terus kita buat perhitungan sama dia"


Sekaligus gue mesti pastikan juga nih kalau Zahra dan Rafa saling kenal atau nggak, mereka kan kuliah di tempat yang sama batin Gracia.


"Boleh juga tuh, oke besok deh" ucap Zahra.


#####


Malam harinya di rumah Rara


Tiga orang pria berhasil membuat Rara bertambah pusing karena tak ada yang mau mengalah, padahal masalahnya hanya sepele menurut Rara tapi tidak untuk Rafa, Rafa tidak suka jika Rara harus mengambilkan makanan untuk Fandi dan juga Aldi, yang Rafa mau Rara hanya boleh mengurus dirinya saja tidak dengan Fandi dan juga Aldi.


Tapi Rara tetap saja melakukannya karena menurut Rara itu hal yang biasa dan itu membuat Rafa menatap kesal pada dua orang pria di dekatnya itu sedangkan dua orang pria itu melihat Rafa dengan senyuman kemenangan.


Setelah makan malam, Rafa langsung menyuruh pulang Fandi dan Aldi, mereka pun akhirnya pulang.


"Rafa ada yang ingin aku bicarakan sama kamu" ucap Rara setelah duduk di sofa.


"Apa Rara?" tanya Rafa dan ikut duduk juga di sofa dekat Rara.


"Rafa kita cerai saja sekarang toh tidak ada bedanya antara sekarang dan nanti kita juga akan tetap bercerai, biar kamu bebas Rafa bersama Gracia" ucap Rara.


#################


Mampir ke novelku yang lain juga yah judulnya...


-Takdirku bersamamu


-Cinta presdir tampan


klu nggak nemu di pencarian,, tinggal klik fotoku ajah,,semuanya novelku ada di profil

__ADS_1


Makasih sebelumnya buat yang sudah baca😊😊😊


__ADS_2