Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Sedikit lebih lama...


__ADS_3

Denis langsung tertawa begitu mendengar ucapan Citra.


"Dengar sendiri kan Rara dia nggak apa-apa disaat-saat terakhir dia,, jadi kamu tidak usah menghabiskan air mata kamu hanya untuk dia,, dia nggak kenapa-kenapa kok,, dia pasti sudah sangat siap untuk menghilang dari muka bumi ini," ucap Denis sambil terus tersenyum menakutkan.


"Aku mohon jangan lakukan apapun pada Citra,, aku mohon," ucap Rara yang hanya bisa memohon pada Denis.


"Ra,, tidak usah memohon sama banci seperti dia,, jangan menangis juga,, aku yakin Rafa akan datang kok,, meskipun aku pasti sudah tiada,,," ucap Citra sambil melihat Rara dan juga Denis.


Lagi-lagi Citra mendapatkan tamparan dan ketika Denis ingin menggores wajah Citra tiba-tiba anak buahnya yang lain masuk ke dalam ruangan yang membuat Denis membatalkan niatnya untuk menggores wajah Citra. Dia langsung menoleh ke arah anak buahnya.


"Ada apa?" tanya Denis.


"Maaf bos saya mengganggu,, bos besar sudah datang,," ucap anak buah Denis.


"Hah sudah datang,, cepat sekali,, aku pikir dia akan sedikit lebih lama paling tidak setelah kematian wanita ini," ucap Denis sambil melihat Citra.


Wanita ini benar-benar sangat menjengkelkan,, lebih dari apa yang aku duga,, bisa-bisanya dia ngatain aku banci terus,, aku ingin sekali melenyapkan dia duluan tapi bos besar sudah datang,, batin Denis kesal.


Sedangkan Citra dan Rara mengernyitkan keningnya bingung begitu mendengar ucapan anak buah Denis. Mereka pikir Denis lah bosnya ternyata masih ada lagi bos Denis. Rara dan Citra sangat penasaran dengan bos Denis yang tentunya dalang dari penculikan mereka.


"Dia sudah datang bos,, dia lagi ada di depan sekarang," ucap anak buah Denis.


"Oke aku akan ke sana,,," ucap Denis.


"Setidaknya kematian kamu di undur sebentar,, lumayan beruntung juga kamu,, kalian gunakan lah waktu kalian yang sedikit ini untuk berbincang-bincang yah," ucap Denis sambil tersenyum sinis lalu segera keluar dari dalam ruangan Rara dan Citra di sekap.

__ADS_1


"Cit,, kamu nggak apa-apa kan?" tanya Rara.


"Iya nggak apa-apa kok Ra,, cuma segini doang,," ucap Citra berusaha tersenyum.


"Kalau kita bebas dari sini aku akan mengobati kamu,," ucap Rara.


"Nah gitu dong Ra,, kamu harus berpikiran seperti itu,, aku yakin kita pasti akan selamat kok,, Rafa pasti akan datang,," ucap Citra.


"Iya semoga Cit,, aku hanya bisa berdoa saja sekarang," ucap Rara.


"Iya Ra,, aku juga sejak tadi berdoa supaya Rafa cepat menyadari kalau kita berdua hilang,, karena aku yakin kalau dia tau pasti dia akan segera mencari keberadaan kita,," ucap Citra.


"Maafin aku banget Cit,, karena aku,,, kamu jadi seperti ini,, kalau kamu nggak ikut aku,, pasti hanya aku saja yang akan mengalami ini,, dan aku lebih suka itu daripada kamu harus ikut-ikutan seperti ini,, padahal kamu tidak ada hubungannya dengan semua ini,," ucap Rara yang sangat merasa bersalah pada Citra.


"Sudahlah Ra,, ini semua sudah terjadi,, ini sudah takdir aku,,, dan aku nggak pernah menyesali nya,, aku kan yang datang ke rumah kamu karena kesepian di rumah Aldi,, dan aku juga yang pengen ikut kamu ke kantor Rafa,, jadi nggak apa-apa kok" ucap Citra lagi.


"Udah nggak usah merasa bersalah terus,," ucap Citra lagi.


"Ra,, kira-kira siapa yah bos besar laki-laki banci itu?" ucap Citra.


"Cit,, kamu jangan bicara seperti itu lagi,, nanti dia dengar dan kamu mendapatkan tamparan lagi,, dan jangan sampai dia akhirnya melakukan hal yang aku takutkan sejak tadi,, aku benar-benar nggak bisa membayangkan nya Cit, aku lebih memilih kita mati bersama daripada kita harus di bunuh satu-satu,, jadi jangan bicara seperti itu lagi,," ucap Rara.


"Ra kita pasti di tolong,, kamu lihat aku tertunda kan kematiannya berarti kita mungkin akan di tolong,, atau setidaknya kamu akan di tolong,," ucap Citra lalu tertawa.


Dia berusaha tidak terlalu tegang,, dia mencoba tertawa meskipun dia tidak tau akan seperti apa akhir mereka nanti.

__ADS_1


"Cit,, jangan bercanda dong,, aku lagi serius banget ini," ucap Rara.


"Kamu jangan bicara seperti tadi lagi yah,, kita berusaha saja memohon pada bos pria itu,,, siapa tau dia mau baik dan melepaskan kita,," ucap Rara yang langsung membuat Citra tertawa.


Anak buah yang menjaga Citra dan Rara mengernyitkan dahinya begitu melihat Citra tertawa.


Ada apa dengan wanita ini,, apa dia sudah gila karena sebentar lagi akan mati,, sehingga dia tertawa-tawa seperti itu,, karena mana ada orang waras akan tertawa ketika dia tau sebentar lagi akan kehilangan nyawanya,, batin anak buah Denis sambil melihat Rara dan Citra.


"Cit,, kamu kok malah tertawa sih,, kita jadi pusat perhatian tau,, nanti mereka tersinggung dan memukuli kamu lagi,, kamu jangan tertawa Cit," bisik Rara sambil melihat wajah menyeramkan anak buah Denis yang sedang melihat mereka juga.


"Abis yah Ra,, kamu itu lucu banget,, nggak usah mohon-mohon sama bos pria itu,, mana mungkin sih Ra dia mau baik sedangkan dia dengan sengaja menculik kita,, jadi tidak usah memohon karena percuma saja, menurunkan derajat kamu saja, kamu itu istri Rafa nggak usah memohon pada mereka," ucap Citra.


"Apaan sih Cit,, jangan bawa-bawa derajat disaat seperti ini,, ini demi keselamatan kita,, jadi nggak apa-apa kan,, kamu jangan buat mereka kesal aku mohon yah Cit,, jangan buat mereka kesal,," ucap Rara.


"Nggak tau lah Ra,,, aku sudah pasrah dengan nasib aku sekarang,,, yang pasti Ra kalau Rafa tidak datang sudah pasti kita juga akan mati jadi tidak usah memohon pada mereka,, jadi di akhir-akhir kehidupan aku ini,, aku mau menghina mereka habis-habisan dulu,, supaya aku mati dengan tenang," ucap Citra asal lalu tertawa lagi.


"Hee kamu kenapa tertawa-tawa seperti orang gila?" ucap anak buah Denis yang sudah kepo dengan Citra yang tertawa terus padahal sekarang mereka sedang dalam keadaan tidak untuk tertawa.


"Ngapain kamu tanya-tanya,, dasar orang kepo," ucap Citra dengan lancarnya seperti air yang mengalir.


Rara lagi-lagi terkejut dengan tingkah Citra.


"Cit,, jangan seperti itu,, aku mohon nanti kamu malah akan disiksa lagi," ucap Rara khawatir.


"Biarlah Ra,, aku lagi pengen berucap seperti itu," ucap Citra.

__ADS_1


Benar saja anak buah Denis langsung datang mendekat ke tempat Citra dan Rara. Dia langsung menampar Citra.


"Kamu semakin kurang ajar saja yah,, mungkin tamparan tadi kurang untuk kamu sehingga kamu butuh di tampar lagi,, biar bibir kamu ini tidak sembarangan berucap," ucap Anak buah Denis setelah menampar pipi Citra.


__ADS_2