
"Panjang ceritanya Fandi yang intinya gue bakalan menikah dengan Rafa dalam waktu dekat ini, tapi Rafa sangat membenciku dan dia juga mencintai Zahra" ucap Rara.
"Memang kalian kenapa sih harus menikah tanpa cinta begini?" tanya Fandi lagi lalu meminum jus yang sudah di pesannya.
"Ini sebenarnya karena orang tua" ucap Rara singkat lalu meminum juga jusnya.
"Baiklah gue ngerti" ucap Fandi. Tapi tadi Rafa melamar Zahra gimana sama loe, loe mau batalin atau gimana Rara? tanya Fandi penasaran dengan jawaban Rara.
"Nggak, gue nggak bakal batalin" ucap Rara.
"Bagus deh" ucap Fandi senang.
"Bagus? kok kayaknya loe senang banget Fandi mendengar jawaban gue" ucap Rara penuh selidik kepada Fandi.
Fandi pun tersedak minumannya mendengar ucapan Rara.
"Hati-hati dong loe kalau minum Fandi" ucap Rara.
"Iya, emm gue senang karena loe mau nikah sama Rafa, loe nggak batalin pernikahan loe, Rafa itu sebenarnya baik kok dan gue senang banget loe menikah sama orang baik" ucap Fandi.
"Tapi dia cintanya sama Zahra gue nggak enak Fandi" ucap Rara.
"Loe nggak usah mikirin itu, lagian Zahra itu nggak cocok sama Rafa, dia itu perempuan sombong banget" ucap Fandi.
"Jadi menurut loe udah cocok nih gue nikah dengan Rafa?" tanya Rara.
"Iyalah cocok banget" ucap Fandi. Nggak usah loe mikirin yang nggak perlu loe pikirin, pikirin ajah alasan kenapa loe harus menikah dengan Rafa ucap Fandi lagi.
"Iya loe benar Fandi dan gue juga bakalan jadi istri yang baik buat Rafa" ucap Rara.
"Loe nggak apa-apakan karena Rafa itu bukan anak orang kaya" ucap Fandi ingin memastikan walaupun dia sudah yakin kalau Rara nggak akan mempermasalahkan itu semua.
"Yah nggak apa-apa lah, gue nerima dia apa adanya kok" ucap Rara lalu tersenyum.
Beruntung banget loe Rafa bisa nikah sama Rara, gue yakin nanti kalian bakalan saling jatuh cinta batin Fandi.
"Iya gue tahu karena emang loe Rara yang sangat baik" ucap Fandi.
"Berlebihan loe Fandi, pulang yuk gue udah selesai curhat" ucap Rara sambil nyengir.
"Oke gue bayar dulu" ucap Fandi.
__ADS_1
"Kita bayar masing-masing ajah" ucap Rara.
"Nggak boleh dong, biar gue yang bayar, gue kan udah mau dengerin curhatan loe" ucap Fandi.
Rara pun hanya menggelengkan kepalanya.
Setelah membayar mereka pun berjalan keluar cafe.
"Terima kasih Fandi loe udah traktir gue" ucap Rara di samping Fandi sambil berjalan keluar.
"Iya santai ajah kalau sama gue" ucap Fandi.
Begitu sampai di tempat parkiran Fandi dan Rara pun masuk ke dalam mobil kemudian Fandi mengemudikan mobilnya menuju kos Rara.
#####
Zahra dan Fania pun sudah berada di dalam mobil, Fania lagi mengemudikan mobilnya menuju club malam, pakaian mereka benar-benar sexy, Rara pun tidak sengaja melihat Zahra dan Fania, begitupun Zahra dan Fania tidak sengaja melihat Rara sedang bersama Fandi di dalam mobil Fandi.
"Itu kan Zahra dan Fania" ucap Rara yang melihat Zahra dan Fania di dalam mobil dan berpakaian sangat terbuka.
Fandi pun melihat juga namun dia tidak menghiraukan, dia cuma lihat sesaat lalu fokus kembali menyetir karena memang mereka cuma saling melewati.
"Pakaian belum selesai di jahit mereka sudah memakainya, heran gue sama Rafa, dia itu suka sama Zahra di lihat dari segi mananya sih" ucap Fandi sambil menggelengkan kepalanya.
"Rafa itu di bodohkan sama cintanya" ucap Fandi.
"Loe nggak boleh ngomong gitu Fandi" ucap Rara.
"Cie yang belain calon suaminya, iya deh gue nggak ngomong gitu lagi" goda Fandi.
"Apaan sih loe, gue larang loe ngomong gitu karena dia kan teman loe juga Fandi" ucap Rara.
"Iya-iya percaya gue" ucap Fandi lalu tersenyum.
Rara pun langsung diam.
Sedangkan di mobil Fania, Zahra benar-benar jengkel melihat Rara bersama Fandi tadi.
"Sialan tuh pelayan bisa-bisanya dia bersama Fandi malam-malam begini" ucap Zahra.
"Iya, mereka darimana yah" ucap Fania.
__ADS_1
"Gue nggak perduli mereka darimana yang jelas gue benci banget liat dia bersama Fandi" ucap Zahra dengan kesalnya. Kenapa sih bukan Fandi ajah yang melamar gue tadi kenapa mesti si Rafa sih pelayan miskin itu, coba kalau Fandi pasti gue bakal terima dengan senang hati tahu nggak ucap Zahra lagi.
"Makanya loe harus lebih usaha lagi buat deketin Fandi" ucap Fania sambil fokus mengemudikan mobilnya.
"Gimana coba gue mau fokus, Fandi itu dekat mulu dengan pelayan kampungan itu akhirnya susah banget" ucap Zahra.
"Kita harus buat Fandi benci sama pelayan kampungan itu" ucap Fania.
"Loe punya ide nggak?" tanya Zahra.
"Punya gue besok deh kita atur rencana" ucap Fania dengan senyum liciknya.
"Oke" ucap Zahra dengan senyum liciknya juga.
#####
Fandi pun sudah tiba di depan kos Rara, Rara pun mengucapkan terima kasih lagi lalu turun dari mobil Fandi tak lupa dia mengucapkan kata hati-hati buat Fandi.
Fandi pun mengemudikan mobilnya lagi untuk pulang ke rumahnya sedangkan Rara masuk ke dalam kosnya. Rara pun bersih-bersih kemudian dia berbaring di tempat tidur sederhananya yang berada di dalam kosnya.
Rara mengingat semua kejadian yang terjadi padanya, mengingat seberapa bencinya Rafa kepada dirinya, dia benar-benar tidak ingin di benci oleh Rafa, tapi apa boleh buat jika itu sudah takdirnya di benci oleh Rafa. Rara akan berusaha untuk bersabar karena ini semua yang dia lakukan untuk permintaan terakhir ayahnya.
Sedangkan di kosnya Rafa, Rafa hanya mengingat Zahra saja.
#####
Zahra dan Fania sudah tiba di club malam. Fania pun memarkirkan mobilnya lalu mereka berdua masuk ke dalam club yang sudah sering mereka kunjungi. Kekasih Fania yang bernama Reno sudah menunggu Fania sedangkan Zahra belum memberitahu kekasihnya. Fania masuk ke dalam dengan mencari-cari keberadaan kekasihnya sampai kekasihnya datang memeluk Fania dari belakang.
"Sayang kamu lama sekali datangnya" bisik Reno kekasih Fania sambil memeluk Fania dari belakang dan mencium pipi Fania.
"Kamunya saja sayang yang datang terlalu cepat" ucap Fania sedikit nyaring karena suara musik yang benar-benar nyaring.
Reno pun membawa Fania dan Zahra untuk duduk.
"Zahra, Andre mana?" tanya Reno.
"Ini baru mau gue suruh datang kesini" ucap Zahra.
Zahra pun mengirimkan pesan kepada Andre.
"Okelah, minum ajah dulu" ucap Reno yang sudah menuangkan minuman ke gelas dan memberikan kepada Zahra dan juga kepada Fania kekasihnya.
__ADS_1
Fania dan Zahra pun mulai meminum, Reno pun minum juga sambil tangannya sudah mulai tak terkendali kepada Fania. Zahra biasa saja melihat itu karena dia sudah terbiasa, Fania pun biasa saja dan dia tidak melarang Reno.
Kekasih Zahra yang membaca pesan dari Zahra langsung saja segera ke club yang di maksud Zahra.