Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Hanya tau makan...


__ADS_3

Reno tampak panik begitu mamanya terus menyuruh dia mengangkat panggilan telfon dari Fania,,, karena dia tidak mau kalau sampai mamanya semakin memperkeruh suasana,,, karena sekarang Fania masih marah pada dirinya.


"Reno ayo angkat panggilan telfon dari orang itu,, kamu kenapa seperti orang linglung begitu sih,, tinggal angkat saja panggilan telfon dari orang itu,, terus beres dehh,, kamu ini kenapa sih aneh banget,," ucap mama Reno sambil sengaja melihat kesal pada Reno membuat Reno merinding seketika.


"Iya tante benar banget padahal cuma angkat saja tuh panggilan telfon,,, kan kasihan tuh yang nelfon terus kamu nggak angkat,," ucap Ana yang ikut merasa heran pada Reno.


"Udah deh jangan ikut campur,," ucap Reno yang langsung membuat Ana mencebikkan bibirnya.


"Siapa juga coba yang mau ikut campur,," ucap Ana.


"Yah kamu lah,," ucap Reno lagi.


"Reno cepetan angkat panggilan telfon dari orang itu,, dia nelfon terus itu,," ucap mama Reno yang semakin yakin itu dari Fania karena ponsel Reno berdering terus.


"Nggak usah lah ma,," ucap Reno sambil nyengir.


"Ayo Mama masak,, aku udah lapar nih," ucap Reno lagi.


"Kamu mau angkat atau mama yang mengangkat panggilan telfon dari orang itu?" tanya mama Reno.


"Baiklah Reno angkat ma,," ucap Reno cepat lalu segera mengangkat panggilan telfon dari Fania.


"Halo,, ini siapa yah? sejak tadi kamu nelfon terus sepertinya kamu salah nomor,, silahkan cek kembali yah karena nomor ponsel kamu tidak ada di kontak aku,, jadi aku tutup dulu jangan telfon lagi,, aku lagi sibuk,," ucap Reno yang langsung membuat Fania mengernyitkan dahinya bingung sekaligus merasa kesal,, bisa-bisanya Reno memperlakukan dirinya begitu padahal sudah jelas-jelas Reno tau nomor ponselnya.


Maaf Fania,, nanti aku jelaskan sama kamu,, ini semua karena ada mama,, batin Reno.


Setelah mengucapkan itu Reno langsung menutup panggilan telfon dari Fania. Sedangkan mama Reno benar-benar dengan susah payah menahan tawanya karena melihat kelakuan anaknya itu.


Reno,, Reno itu sudah sangat jelas kalau kamu lagi berbohong, hemm sudah pasti itu adalah Fania,,, dasar nih anak,, cara bohongnya goblok banget lagi,, batin Mama Reno lalu tertawa di dalam hatinya.


Sementara di tempat Fania.


"Kenapa Fania?" tanya Zahra bingung sendiri.


"Reno angkat kan panggilan telfon dari kamu,, kok cepat banget dia tutup panggilan telfonnya padahal kamu belum bicara sedikit pun,," ucap Zahra lagi masih dengan eksepsi wajah herannya.


Sialan kamu Reno bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu padaku,, batin Fania yang semakin kesal pada Reno.


"Fania kamu kenapa? kok diam sih,, aneh banget,," ucap Zahra lagi karena Fania tidak menggubris dirinya.


"Zahra aku kesal banget sama Reno,, bisa-bisanya dia bilang aku salah nomor Zahra,, dia larang aku menelepon dia lagi karena dia lagi sibuk,, ngeselin banget sih dia,, aku sudah menurunkan derajat aku untuk menelepon dia duluan walaupun aku lagi marah dan dia malah berbicara seperti itu,, sakit banget hati aku tau nggak," omel Fania.


Zahra benar-benar terkejut begitu mendengar ucapan Fania.


"Serius Reno ngomong begitu?" tanya Zahra untuk meyakinkan pendengarannya.


"Iya Zahra,, dia kenapa sih," ucap Fania kesal.


"Lah aku juga nggak tau,, aneh banget sih tuh orang,, jangan-jangan dia lagi bersama wanita lain lagi,, makanya dia berbicara seperti itu sama kamu Fania,," ucap Zahra yang malah semakin membuat Fania panas.


"Emm atau kamu yakin nggak itu suara Reno? jangan-jangan bukan Reno lagi,, atau jangan-jangan kamu memang salah nomor Fania,," ucap Zahra yang semakin tidak masuk akal menurut Fania.


"Nih kamu nggak lihat nama kontak dia di ponsel aku,, lagian tadi itu aku yakin banget kalau itu suara Reno,, aku udah pacaran lama dengan dia masa aku nggak tau sih suara dia dan suara orang lain Zahra,, aku tuh tau banget suara dia tau nggak," ucap Fania lagi yang semakin kesal.

__ADS_1


"Lalu kenapa dia seperti itu?" tanya Zahra.


"Mana aku tau,, kalau aku tau aku nggak mungkin seperti ini kan,, kenapa dia berubah sih Zahra,, pokoknya aku harus mencari tau dia dimana sekarang dan aku harus menemui dia,, lama-lama dia semakin bikin kesal aja," ucap Fania.


"Kamu mau cari tau bagaimana juga coba,," ucap Zahra.


"Kamu nggak punya kenalan gitu yang bisa di suruh untuk mencari tau keberadaan seseorang,, please aku pengen banget tau Reno lagi dimana sekarang Zahra,," ucap Fania.


"Duhhh merepotkan banget sih,, aku punya kok,, hanya malas aja menyuruhnya untuk mencari tau keberadaan Reno,, kayak nggak ada yang lebih penting aja sih," ucap Zahra.


"Kok kamu gitu sih Zahra,, please perintah orang itu untuk mencari tau keberadaan Reno,, itu saja aku pengen tau dia lagi dimana sekarang,, terus udah deh,, aku bakalan samperin Reno ke sana kalau aku sudah tau," ucap Fania lagi.


"Hemmm iya deh biar kamu diam," ucap Zahra lagi. Lalu segera menghubungi seseorang.


"Halo," ucap orang itu dari balik telfon.


"Halo,, aku ada tugas untuk kamu,," ucap Zahra.


"Tugas apa bos?" tanya orang itu.


"Cari tau keberadaan seseorang,, namanya Reno,, aku akan mengirimkan kamu fotonya,, kamu cukup cari tau saja dia lagi berada dimana sekarang,, terus laporkan sama aku,," ucap Zahra lagi.


"Oke beres bos,," ucap orang itu.


"Oke bagus,," ucap Zahra lalu segera menutup panggilan telfonnya dengan anak buahnya itu.


"Kirimkan aku fotonya Reno karena aku nggak punya foto dia,," ucap Zahra.


Dan Zahra segera mengirimkan itu kepada anak buahnya.


"Kita tinggal tunggu saja kabar dari anak buah ku,, aku yakin nggak lama dia akan mengabari kita kok,, jadi kamu santai aja dulu,, nggak usah marah-marah terus dan nggak usah dulu mikir macam-macam deh,, karena sebenarnya aku malas lihat orang galau,," ucap Zahra.


"Iya,," ucap Fania menurut.


"Apa aku telfon dia lagi sekarang?" tanya Fania pada Zahra.


"Emmm nggak usah dulu,, kita tunggu informasi dari anak buah ku saja dulu,, kalau udah ada informasi baru kamu tentukan mau menelepon dia lagi atau mau nyamperin Reno,," ucap Zahra.


"Oh iya juga yah,, oke aku tunggu informasi dari anak buah kamu saja kalau gitu,," ucap Fania semangat.


"Iya," ucap Zahra sambil terus melihat ponselnya,, menunggu kabar dari anak buahnya.


Sementara di rumah Reno.


Syukurlah Fania nggak nelfon lagi,, tapi sepertinya dia semakin marah atas ucapan aku tadi,, tapi bentarlah aku jelaskan pasti dia akan mengerti kok,, kalau tadi itu demi kebaikan,, batin Reno yang berharap semoga Fania mengerti dengan situasi tadi dan tidak memperpanjangnya lagi.


"Nggak nelfon lagi yah tuh orang," ucap mama Reno.


"Iya ma,, dia salah nomor tuh,," ucap Reno lagi yang merasa lega.


"Oh,, ya udah ayo Ana kita masak,, dan kamu Reno disini aja, jangan kemana-mana, karena kalau ada sesuatu yang dibutuhkan kamu yang akan ambil,, Ana suruh Reno saja yah kalau kamu ingin dia mengambilkan sesuatu untuk kamu," ucap mama Reno lagi.


Gila yang benar saja mamaku ini,, aku seperti pembantu dia saja berarti kalau begitu,, batin Reno meronta-ronta.

__ADS_1


Sedangkan Ana langsung tersenyum jahat sambil melihat Reno.


Hahaha aku akan menyuruh-nyuruh dia,,, batin Ana.


"Baik tante,," ucap Ana sambil tersenyum.


Mereka pun masak bersama.


"Reno simpan ponselmu,," ucap mama Reno begitu melihat Reno ingin mengirim pesan.


Reno sedikit terlonjak kaget begitu mendengar ucapan mamanya dan dia pun menyimpan ponselnya.


"Aku harus panggil kamu kakak aja yah sepertinya supaya lebih sopan," ucap Ana tiba-tiba.


"Terserah kau saja lah,," ucap Reno.


"Baiklah,, kak Reno tolong dong ambilin itu,," ucap Ana sambil menunjuk sesuatu.


"Apa?" tanya Reno.


"Air kak,," ucap Ana.


"Astaga kamu nggak lihat jaraknya nih,, lebih dekat sama kamu ambil saja sendiri,, ngapain kamu menyuruh aku," sewot Reno.


"Tante kak Reno nggak mau tuh,," ucap Ana sambil menahan tawanya karena melihat ekspresi wajah Reno.


Issshh dasar dia benar-benar memanfaatkan keadaan ini namanya,, batin mama Reno.


"Reno kamu kenapa seperti itu,, ayo ambilkan kasihan kan Ana kalau angkat yang berat-berat,," ucap mama Reno yang membuat Reno melongo tak percaya begitu mendengar ucapan mamanya.


"Ma,, itu nggak berat sama sekali coba deh mama lihat air itu ya ampun,, nggak habis pikir aku kalau itu berat,," ucap Reno lagi.


"Duhh Reno ambilkan saja,, kamu disini tuh untuk di perintah dan untuk memperhatikan juga jadi nggak usah banyak komentar kamu," ucap Mama Reno lagi.


Reno pun pada akhirnya menuruti ucapan Ana karena desakan dari mamanya.


"Nih,," ucap Reno sambil memberikan pada Ana.


"Terima kasih kak," ucap Ana dengan senyum mengejeknya.


"Emm oh iya daripada kakak duduk nggak ada yang dikerjakan lagi,, kakak kerja sayur ini yah,, karena aku mau mengiris bawang,, biar cepat kak,, supaya kakak cepat makan juga kan kalau cepat masak,," ucap Ana lagi sambil tersenyum semakin mengejek pada Reno.


"APA!!! kamu bilang apa tadi?" tanya Reno untuk memastikan ulang pendengarannya karena siapa tau dia hanya salah dengar saja.


"Kerja sayur ini kak,, biar cepat,, karena aku masih sibuk kerjakan yang lain,, dan mama juga lagi sibuk jadi kakak yang kerjakan sayur ini yah,," ucap Ana lagi.


Mama Reno hanya berusaha menahan tawanya begitu melihat Ana yang sengaja mengerjai Reno.


Reno nggak pernah melakukan itu,, cocok banget nih kalau Ana jadi menantu aku serasa dapat teman untuk mengerjai Reno,, seandainya yah Ana mau jadi menantu aku pasti asik banget,, batin Mama Reno.


"Aku nggak mau,, yang benar saja aku kerja sayur,, kamu kerjakan saja sendiri,, atau ini bibi bisa kerja,, bibi tolong yah kerjakan sayur-sayur itu,, aku nggak tau kerja sayur bi,, aku hanya tau makan sayur saja," ucap Reno lagi.


"Reno,," ucap mama Reno.

__ADS_1


__ADS_2