Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Menutup


__ADS_3

"Siapa suruh dia mau nikah sama gue, padahal dia udah tahu kalau gue nggak mencintai dia" ucap Rafa sadis.


"Biarpun loe nggak cinta, mulai sekarang loe harus bisa belajar mencintai Rara, lupakan Zahra, dia itu benar-benar nggak baik buat loe dan gue nggak mau kalau loe menyesal nanti" ucap Fandi.


"Nggak usah ceramah terus sama gue, gue muak banget dengarnya, seakan-akan Rara itu cewek paling baik padahal dia itu cewek paling nggak baik yang pernah gue kenal" ucap Rafa.


"RAFA" teriak Fandi dengan emosinya.


"Fandi sudah, nggak apa-apa kok" ucap Rara cepat sambil mencoba menenangkan Fandi.


"Loe teriak sama gue cuma karena perempuan ini, nggak nyangka gue kenapa nggak kalian berdua ajah yang menikah sih, kenapa harus gue" ucap Rafa.


Fandi baru mau menjawab namun Rara menahannya, Fandi pun diam.


"Rafa gue minta maaf banget sama loe karena gue nerima perjodohan ini tanpa mikirin perasaan loe" ucap Rara.


"Percuma loe minta maaf, percuma loe bilang seperti itu kita sekarang sudah menikah, jadi percuma semuanya percuma" ucap Rafa dengan kesalnya.


"Rafa kalau dalam 1 tahun kamu masih belum bisa menerima pernikahan kita, kamu bisa ceraikan aku dan aku akan menerimanya" ucap Rara sambil tertunduk sedih.


Sebenarnya Rara tidak ingin bercerai, dia hanya ingin menikah satu kali dalam seumur hidupnya tapi apa boleh buat, ini semua dia lakukan karena melihat Rafa yang sangat membencinya.


Fandi dan Rafa sama-sama terkejut mendengar ucapan Rara.


"Loe serius?" tanya Rafa dengan mata berbinar bahagia.


"Rara loe jangan ngomong seperti itu, pernikahan itu bukan permainan dan gue tahu loe pasti nggak mau juga kan" ucap Fandi.


"Nggak apa-apa kok Fandi" ucap Rara sambil mencoba tersenyum.


"Dan iya Rafa gue benar-benar serius, asal loe tolong jangan perlihatkan ketidaksukaanmu sama gue di depan paman dan bibiku, gue benar-benar takut mereka akan kepikiran sama gue" ucap Rara lagi. Apa loe bisa? tanya Rara lagi kepada Rafa.


"Oke tidak masalah itu gampang buat gue" ucap Rafa.


"Terima kasih Rafa" ucap Rara lalu tersenyum.


"Rara loe kenapa sih kayak gini" ucap Fandi yang masih belum terima.

__ADS_1


"Udahlah Fan nggak apa-apa kok, loe harus janji sama gue kalau rahasia ini loe nggak bakalan bilang ke siapapun cuma kita bertiga ajah yang tahu" ucap Rara lalu mengacungkan jari kelingkingnya.


Fandi pun dengan terpaksa berjanji.


"Fandi loe nggak boleh marah sama Rafa, kita bertiga kan sahabat" ucap Rara dengan senyumnya.


Namun Fandi hanya diam saja begitupun dengan Rafa.


"Fandi" rengek Rara kepada Fandi biasanya Fandi akan langsung luluh kalau Rara bersikap seperti itu kepada Fandi dan benar saja Fandi langsung luluh.


"Iya deh Rara" ucap Fandi kemudian meminta maaf kepada Rafa, Rafa pun juga meminta maaf kepada Fandi.


Rara benar-benar bisa meluluhkan keras kepalanya Fandi batin Rafa heran karena dia tahu betul sifat Fandi.


"Gitu dong, Rafa kita bisa kan jadi sahabat?" tanya Rara kepada Rafa.


"Bisa kok" ucap Rafa.


"Terima kasih Rafa" ucap Rara lagi lalu tersenyum.


"Emm Rafa bisa kah loe ikut pulang ke rumah bibi gue karena kalau loe nggak pulang mereka akan mikir macam-macam cuma semalam kok" mohon Rara kepada Rafa.


"Ya udah ayo Rara gue antar loe pulang" ajak Fandi.


"Nggak usah Fandi terima kasih, biar gue sama-sama Rafa ajah, loe pasti capek kalau mesti antarin gue lagi dan nanti bibi gue heran lagi" ucap Rara memberi penjelasan kepada Fandi.


"Oh iya juga yah nanti bibi loe heran siapa suaminya, ya udah pakailah jaket gue naik motor malam pasti dingin" ucap Fandi lalu memakaikan jaketnya kepada Rara.


Rafa pun hanya menonton kejadian itu.


Fandi sok romantis banget batin Rafa.


"Terima kasih Fandi" ucap Rara lalu tersenyum lagi.


"Ayo kita pulang sekarang" ucap Rafa.


Mereka pun keluar kos Rafa, lalu pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


#####


"Loe kenapa bisa sama-sama Fandi ke kos gue?" tanya Rafa di jalan sambil mengendarai motornya.


"Oh tadi Fandi datang ke rumah bibi gue nyariin loe, terus gue bilang kalau loe keluar dan nggak tahu loe keluar kemana, terus Fandi langsung izin ke paman dan bibiku dan narik tangan gue ajah masuk ke mobilnya" ucap Rara menjelaskan.


Fandi pasti tahu kalau gue bakalan bersikap seperti ini batin Rafa.


Mereka pun saling diam setelah pembicaraan itu hingga tiba di rumah. Paman dan bibi Rara sudah menunggu Rara.


"Rara sama nak Rafa, nak Fandi kemana? tadi Fandi sama-sama kamu nak" ucap bibi Rara yang melihat Fandi sudah tidak bersama Rara karena tadi Fandi pergi bersama Rara.


"Oh Fandi sudah pulang bi, aku nggak enak kalau dia mau mengantar aku lagi lagian kan ada Rafa" ucap Rara.


Paman dan bibi Rara berusaha mengerti dengan panggilan Rara yang belum berubah kepada Rafa, pasti itu semua karena hubungan mereka tidak baik, meskipun mereka lihat sekarang Rafa terlihat seperti baik-baik saja kepada Rara namun mereka tahu kalau itu mungkin hanya drama semata.


"Oh begitu yah, kalau gitu masakan suami kamu nak, pasti suami kamu belum makan. Iya kan nak?" tanya paman Rara kepada Rafa.


"Iya saya belum makan paman" jawab Rafa karena dia memang belum makan sejak tadi.


"Ya ampun pasti paman dan bibi belum makan juga kan maafkan saya paman dan bibi yang keluar rumah terlalu lama, saya akan memasak cepat, Rafa kamu tunggu juga yah" ucap Rara dan langsung berlari ke dapur.


Rara memang sudah sempat memasak tadi namun itu sudah habis karena dia memasak untuk makan siang.


"Heem anak itu terlalu berlebihan khawatirnya sama kita" ucap bibi Rara lalu tersenyum sambil melihat Rara yang sudah kabur menuju dapur.


"Memang dia suka begitu yah bi?" tanya Rafa.


"Iya nak, dia itu semenjak kedua orang tuanya meninggal dia sangat menjaga kita berdua, katanya dia sangat takut kehilangan kita karena dia tidak akan punya siapa-siapa lagi" ucap bibi Rafa.


"Oh gitu yah bi" ucap Rafa.


"Iya nak, oh iya kamu bersih-bersih lah dulu lalu istirahat di kamarmu nanti Rara akan memanggil kamu kalau udah siap makan malamnya" ucap bibi Rara.


"Baiklah bibi dan paman, kalau begitu saya ke dalam dulu" pamit Rafa lalu berjalan masuk ke kamarnya dan Rara.


Begitu Rafa masuk ke dalam kamar, Rafa langsung baring di tempat tidur, setelah cukup lama berbaring dia pun ke kamar mandi untuk segera mandi cukup lama Rafa di kamar mandi.

__ADS_1


Rara pun sudah selesai dengan memasaknya, bibi Rara pun menyuruh Rara untuk memanggil Rafa di kamarnya.


"Aaaaaa" teriak Rara setelah membuka pintu kamarnya lalu menutup matanya menggunakan kedua tangannya.


__ADS_2