
Rafa langsung melihat ke arah Ana.
"Oh jadi kamu mau kuliah disini Ana?" tanya Rafa.
"Iya kak,,, aku mau pindah kampus aja,, karena aku sudah betah di Indonesia apalagi ada kak Rara,, jadi aku mau kuliah disini aja deh,," ucap Ana.
"Bagus juga sih kalau kamu disini Ana biar nih rumah ada juga isinya,,," ucap Rafa.
"Kak Rafa walaupun aku nggak disini tapikan ada kak Aldi dan juga pelayan,," ucap Ana.
"Kalau Aldi sibukkan pasti rumah ini hanya ada pelayan saja,, pemilik rumahnya nggak ada," ucap Rafa.
"Iya juga sih," ucap Ana lagi.
"Kamu sudah pilih di kampus mana kamu akan pindah?" tanya Rafa.
"Mau aku bantu mencarikan kamu kampus yang bagus?" tanya Rafa lagi.
"Iya Ana boleh juga tuh saran Rafa,, atau kamu masuk saja di kampusnya keluarga Alexander,,, tempat sekarang Rara,, aku dan Rafa kuliah,," ucap Fandi.
Ana tampak berpikir,, sejujurnya Ana tidak mau memakai kekuasaan untuk bisa masuk dan juga dia tidak mau di tahu dengan teman-temannya nanti kalau dia itu ada hubungan keluarga dengan Rafa ataupun dia itu adiknya Aldi,, karena mengingat Aldi juga cukup di tahu kekuasaannya,, Ana hanya ingin menjadi mahasiswi biasa,, yang tidak terlalu menonjol supaya dia bisa mendapatkan teman sejati tanpa di lihat dari status sosialnya,, dan juga dia bisa menikmati baik-baik masa-masa kuliahnya.
"Ana kok kamu malah diam?" ucap Fandi heran.
"Aku lagi mikir kak,, tapi sebelumnya terima kasih yah kak Rafa sudah menawarkan aku hanya saja aku tidak mau di tahu,, aku ingin menjadi mahasiswi biasa saja,, aku ingin mendapatkan teman yang benar-benar tulus sama aku,, bukan melihat dari kekayaan,, aku juga ingin menikmati masa-masa kuliahku,, jadi nanti aku urus sendiri saja kak,,, aku sudah tahu kok dimana aku akan pindah,, dan sekarang juga aku lagi mau mengurus semuanya,, setelah libur nanti aku pasti bisa masuk di kampus itu menjadi mahasiswi pindahan," ucap Ana.
"Tapi aku juga nggak mau di tahu kalau aku juga adik kak Aldi,, pokoknya aku ingin biasa aja,, nggak kaya dan nggak miskin juga pokoknya sedang-sedang aja,, bisakan kak Aldi?" tanya Ana kepada Aldi juga.
"Yah nggak bisa dong,, gimana kalau kamu di anggap remeh sama orang,, aku nggak mau dek,, walaupun aku itu sering gangguin kamu tapi aku itu kakak yang sayang sama adiknya,, jadi nggak boleh kamu harus di tahu, biar nggak ada yang seenak jidatnya sama kamu,," ucap Aldi tidak mau di bantah.
__ADS_1
Aldi sudah melihat semuanya pada Rafa,, bagaimana Rafa di anggap remeh sama orang karena hanya orang biasa. Dia tidak mau adiknya di hina-hina,, dia tidak akan bisa terima semua itu.
Isshh kak Aldi kok gitu sih,, aku kan pengen kuliah tanpa harus di istimewa kan,, aku juga sangat ingin mendapatkan teman yang tulus,, batin Ana.
Rafa yang mengerti situasinya segera mengalihkan pembicaraan karena sekarang mereka juga masih makan,, sedangkan Fandi,, Citra dan Rara diam saja tidak mau terlalu ikut campur.
"Udah nanti itu di bahas sekarang kita makan dulu,, nanti keburu kenyang,," ucap Rafa.
Mereka segera melanjutkan makan lagi,, dengan Ana yang masih terus berpikir supaya Aldi mau mengikuti keinginannya.
Setelah makan seperti biasa mereka duduk di ruang keluarga.
Ana terus melihat kakaknya,, dan itu di tahu oleh Aldi.
"Kenapa Ana lihatin aku terus,, aku tahu kok kalau aku ini ganteng,, jadi nggak usah lihatin aku terus karena aku sudah tahu,," ucap Aldi.
"Iishh pantas saja kak Aldi jomblo terus karena kak Aldi terlalu kepedean tahu nggak,," ucap Ana.
"Terserah kak Aldi deh,, aku cuma pengen kak Aldi mau mengabulkan permintaan aku tadi,, mau yah kak," mohon Ana.
"Nggak mau Ana,, pokoknya kamu nggak boleh menyembunyikan apapun,, aku itu nggak mau kalau kamu sampai di hina-hina atau apalah,, intinya kakak tidak mau,," ucap Aldi lagi.
"Kak Rafa bantuin aku dong," rengek Ana pada Rafa.
"Ehh jangan minta bantuan sama Rafa dong,, nggak adil banget kamu minta bantuan,, tapi terserah deh Rafa juga pasti akan mendukung aku karena dia udah rasakan gimana diperlakukan dengan orang lain hanya karena kita nggak mampu di mata mereka," ucap Aldi.
"Nggak apa-apa kok Aldi kalau Ana maunya seperti itu,, lagian aku dan dia kan beda,," ucap Rafa pada akhirnya.
"Lahh kamu kok dukung Ana sih Rafa,, lupa yah kamu kalau aku selalu mendukung kamu,," ucap Aldi.
__ADS_1
"Hmm aku lagi nggak mencalonkan untuk jadi Presiden ini,, jadi aku nggak butuh dukungan,," ucap Rafa lalu tertawa.
"Begitu kamu yah Rafa,, siapa juga sih yang bilang kamu lagi mencalonkan,, lupa yah kamu sama dukungan aku selama ini,," ucap Aldi.
"Pokoknya kamu dukung aku jangan dukung Ana,," ucap Aldi lagi.
"Aku nggak akan pernah lupa Aldi sama apa yang telah kamu lakukan selama ini padaku,, pada Rara terutama,, hanya saja kalau untuk yang ini aku mendukung Ana,, biar saja kalau dia maunya seperti itu,, yang penting kan dia tetap tinggal di sini,, dan memang bagus kok kalau Ana ingin mendapatkan teman yang tulus,, aku dukung banget,, karena zaman sekarang itu sangat susah mendapatkan teman yang benar-benar baik dan tulus,," ucap Rafa.
Ana tampak bahagia mendapatkan dukungan dari Rafa.
"Senang kamu yah di dukung dengan Rafa,," ucap Aldi sambil melihat Ana yang lagi tersenyum bahagia.
"Iya dong senang banget aku,, kak Aldi mau saja,, aku tahu kok kak Aldi melakukan itu karena kak Aldi sayang sama aku,, tapi aku nggak kenapa-kenapa kok kalau harus begitu kak,, aku lebih menikmati kuliah aku tanpa di tahu latar belakang aku," ucap Ana.
"Hemm,, kita vote dulu,, suara terbanyak,, itu yang menang,," ucap Aldi.
"Apaan sih kak,, kayak pemilihan aja ihh,," ucap Ana.
"Yah terserah aku dong,, aku yakin pasti aku mendapatkan dukungan dari Fandi dan Citra kalau Rara masih tanda tanya,, jadi kita memerlukan satu orang lagi,, untuk penentuannya,," ucap Aldi.
"Astaga kak Aldi nggak usah sampai segitunya dong,, tinggal setuju aja kan bagus kak,," ucap Ana lagi.
"Nggak mau," ucap Aldi cepat.
"Ya udah tanya dulu kak Fandi kalau gitu,," ucap Ana mengalah.
"Fandi kamu dukung siapa,, aku atau Ana?" tanya Aldi sambil memberikan kode pada Fandi agar Fandi mendukungnya.
Hahaha dasar si Aldi main kode-kodean segala,, batin Fandi sambil tertawa di dalam hatinya.
__ADS_1
"Maaf Aldi aku dukungnya Ana,," ucap Fandi sambil nyengir.
Tega kamu Fandi mengkhianati aku,, sudah aku kasih kode juga, aku yakin dia mengerti dengan kode aku tadi,, batin Aldi.