
"Pasti Fandi mah lebih-lebih waktu itu,, bukan hanya itu ajah," ucap Aldi.
"Sembarangan ajah kamu kalau ngomong," ucap Fandi.
"Ayo kita keluar," ucap Fandi lagi.
"Jangan dulu, gimana nih tentang Gracia?" tanya Aldi.
"Yah nggak gimana-gimana, tunggu informasi ajah Aldi,, tapi semoga sih dia udah beneran nggak ada di dunia ini,, bukannya aku senang yah dia udah nggak ada,, hanya aku rasa lebih bagus ajah gitu kalau dia nggak ada di dunia ini,, hidup bisa lebih tentram dan damai,, tahu sendiri itu wanita gilanya kayak gimana," ucap Fandi.
"Haduhh itu sama ajah kamu senang si Gracia udah nggak ada di dunia ini,," ucap Aldi.
"Terserah deh kamu mau menanggapinya bagaimana," ucap Fandi lagi.
"Ini si Rafa dari tadi diam ajah," ucap Aldi.
"Rafa tuh masih dilema sampai sekarang tentang kematian Gracia,, makanya dia lebih banyak diam," ucap Fandi.
"Udahlah ayo kita keluar,, aku cuma mau memberitahu itu kok," ucap Rafa.
"Astaga Rafa kamu cuma mau memberitahu itu tapi ngajakin aku masuk ke ruang kerja segala,, menghabiskan waktuku seharusnya kamu bilang ajah di luar tadi," ucap Aldi sambil menggelengkan kepalanya.
"Terserah aku dong mau memberitahu kamu dimana,,, udah ayo kita keluar aku udah mau balik ke kantor nih,, nggak baik bos terlambat," ucap Rafa sambil berjalan ke luar.
Fandi dan Aldi pun mengikut di belakang.
"Mereka ngomongin apaan sih,, kok lama banget," ucap Ana.
"Iya nih,, aku pengen banget si Fandi itu segera balik,, dan nggak ada lagi disini," ucap Citra.
"Cie kamu Fandi terus,, aku curiga nih," goda Ana.
"Curiga apaan sih,, nggak jelas banget kamu," ucap Citra lagi.
"Curiga kamu ada rasa sama kak Fandi," ucap Ana.
"Astaga nggak akan pernah, udahlah jangan gangguin aku melulu,, aku itu beneran sangat membenci Fandi,, kesal aku tahu kamu gangguin terus," ucap Citra lagi.
__ADS_1
"Mereka udah datang tuh," ucap Rara begitu melihat Rafa, Aldi dan juga Fandi sedang berjalan menuju ke tempat mereka.
Citra dan Ana langsung diam.
"Udah?" tanya Rara.
"Udah sayang," jawab Rafa.
"Rara kamu amankan tadi? Ana kamu jagain Rara kan tadi?" tanya Fandi yang membuat Citra langsung merasa tersinggung akan pertanyaan Fandi.
"Apaan sih Fandi, aku baik-baik ajah kok,, lagian disini kan aman,, ini rumah Aldi," ucap Rara lagi sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya kak tenang ajah aku jagain kok kak Rara jadi aman banget," ucap Ana.
"Iya Rara disini itu memang aman kalau rumahnya,, tapi orangnya ada yang nggak aman, ada yang kayak nenek sihir" ucap Fandi lagi sambil melirik sinis pada Citra.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu?" tanya Citra yang sudah tidak bisa menahan kekesalannya.
"Nggak ada maksud apa-apa kok, kenapa kamu tersinggung,,, berarti kamu merasa dong kamu nenek sihir," ucap Fandi lalu tertawa.
"Ngapain aku tersinggung toh aku manusia kok," ucap Citra.
"Balik sana kamu,, nggak usah disini lama-lama menyakiti mataku saja," ucap Citra.
"Yee kamu nggak ada hak kali usir-usir aku,,, Fandi dan Ana ajah nggak ngusir aku tuh,, kenapa kamu malah mau ngusir aku,, emang kamu siapa," ucap Fandi lagi.
"Isshh dasar manusia menjengkelkan," ucap Citra lalu segera berjalan menuju kamarnya dengan sengaja menyambar bahu Fandi sedikit.
"Ihh sudah ngeselin,, mirip ondel-ondel,, terus modus lagi sama aku," ucap Fandi yang membuat Citra langsung menghentikan langkah kakinya.
"Apa kamu bilang aku modus sama kamu,, ihh ogah banget, memangnya kamu siapa," ucap Citra sambil berjalan kembali ke dekat Fandi.
"Aku Fandi," jawab Fandi dengan santainya.
"Terus ngapain kamu bilang aku modus sama kamu,, kamu itu bukan siapa-siapa tahu nggak,, artis juga bukan,, sok bilangin aku modus sama kamu,,, nggak malu banget kamu," ucap Citra.
"Siapa sih yang bilang aku artis,, kamu memang modus sama aku,, ngapain sentuh-sentuh bahu aku,, aku mesti mandi banyak kali nih sebentar, karena satu kali ajah nggak cukup untuk menghilangkan kuman-kuman yang sudah kamu kasih sama aku," ucap Fandi.
__ADS_1
"Istriku sayang aku balik ke kantor dulu yah," ucap Rafa tiba-tiba kepada Rara dan itu membuat mereka menoleh kepada Rara dan Rafa.
"Fandi kamu disini ajah, lanjutin ajah yah aku mau pergi kerja," ucap Rafa lagi sambil melihat Fandi.
"Aku ikut lah,, ngapain aku disini lama-lama,, aku bisa sih lama-lama disini asal nggak ada dia disini," ucap Fandi sambil menunjuk Citra.
"Pergi sana kamu,, dasar cowok menjengkelkan,, aku nggak mau kali kamu lama-lama disini," ucap Citra tidak mau kalah.
"Aku serius banget mengatakan ini,, kalian itu benar-benar sangat cocok," ucap Aldi kepada Fandi dan Citra.
"Ayo Rafa kita balik ke kantor,, Aldi ini semakin lama ngomongnya semakin ngawur ajah,, aku nggak mungkin banget cocok dengan wanita ini,, kalau jengkel baru benar," ucap Fandi.
Pengen banget deh cowok ini aku sumpel mulutnya pakai kaos kaki,, dia ini ribut banget,, aku pikir dia orangnya kalem waktu lihat di rumah sakit awalnya,, ternyata nggak banget,,, dan kalau bicara to the point banget,, kepedean lagi,, batin Citra.
"Aku lebih nggak mungkin banget," ucap Citra juga.
Ana hanya tersenyum melihat itu semua,, sejak tadi dia terus melihat Fandi dan Citra yang ribut,, mereka sangat tidak cocok,, Ana juga heran sendiri dengan itu semua karena mereka belum lama saling kenal,, bahkan tidak pernah kenalan secara langsung tapi sudah membuat mereka saling benci seperti ini.
"Udah Fandi nggak usah ribut lagi," ucap Rafa cepat begitu melihat Fandi ingin berbicara lagi.
Fandi pun diam sambil melihat kesal pada Citra.
"Aku ke kantor dulu yah,, kamu tunggu disini biar aku datang menjemput kamu lagi sebentar kalau udah pulang kerja," ucap Rafa sambil mengusap lembut rambut Rara.
"Iya kamu hati-hati yah,, dan Fandi hati-hati juga, jangan marah-marah terus yah,, nanti cepat tua," ucap Rara sambil tersenyum.
"Dia emang udah tua kok," ucap Citra pelan namun masih di dengar oleh Fandi.
"Kamu tuh yang tua," ucap Fandi juga.
"Kamu," ucap Citra tidak mau kalah.
"Sudah jelas banget kamu,," ucap Fandi lagi.
"Citra udah,, kapan Fandi dan Rafa bakalan balik,, kalau kamu terus mengajak ribut Fandi," ucap Aldi begitu melihat Citra ingin meladeni ucapan Fandi.
"Kok aku sih yang disalahin,, kan Fandi duluan," ucap Citra kepada Aldi.
__ADS_1
"Udah salah nggak mau ngaku lagi," ucap Fandi.