Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Rencana


__ADS_3

"Maafkan saya non" ucap pembantu itu sambil tertunduk takut.


"Maaf, Maaf emang dengan kata maaf loe kamar ini bisa langsung bersih apa, cepat bersihin kamar ini, gue keluar dari ruangan ganti kamar ini harus sudah bersih, ngerti. Loe di gaji mahal-mahal di sini terus loe kerja nggak ada becus-becusnya" ucap Fania kemudian masuk ke ruang ganti.


Pembantu itu dengan cepat membersihkan kamar Fania, beruntung Fania selesai mandi kamarnya tinggal sedikit lagi bersih sehingga pas Fania keluar dari ruang ganti pembantu itu sudah selesai membersihkan kamar Fania.


"Panggilin teman gue, suruh dia ke kamar gue, terus buatin kita makanan, ingat jangan pakai lama" perintah Fania setelah melihat kamarnya sudah bersih.


"Baik non" ucap pembantu itu lalu dengan cepat keluar dari kamar Fania menuju ke tempat Zahra dan memberitahukan pesan dari Fania secara sopan kepada Zahra. Lalu pembantu itu pun dengan cepat ke dapur untuk menyiapkan makan buat Fania dan Zahra.


Zahra yang sudah di beritahukan oleh pembantu itu langsung berjalan ke anak tangga, menapaki satu per satu anak tangga menuju kamar Fania, lalu setelah sampai di depan kamar Fania di bukanya pintu kamar Fania.


"Udah segar loe?" tanya Zahra sambil berjalan masuk ke kamar Fania dan duduk di tempat tidur Fania karena Fania juga sedang duduk di tempat tidurnya.


"Udah sih, walaupun badan gue masih pegal-pegal dikit" ucap Fania.


"Gila pacar loe" ucap Zahra.


"Kayak pacar loe nggak gitu ajah" ucap Fania balik.


Zahra hanya tertawa begitu mendengar ucapan Fania.


"Oh iya tumben loe mau nongol di rumah gue?" tanya Fania heran karena biasanya Fania yang ke rumahnya Zahra.


"Gimana gue nggak mau kesini coba kalau loe gue telfon, loe nggak angkat-angkat ternyata loe enak-enakan tidur, dan gue kesini tuh mau bahas rencana loe yang supaya Rara di benci sama Fandi yang loe bilang semalam, lupa loe yah?" tanya Zahra penuh selidik.


"Oh gara-gara itu pantas saja loe nongol ke rumah gue, nggak lupa kok gue tapi bentar kita bahasnya, kita makan dulu udah lapar gue" ucap Fania.


"Okelah gue juga udah lapar nih, pembantu loe yang lelet itu udah siapin makanan belum?" tanya Zahra.


"Nggak tahu juga tuh di dapur, gue udah suruh tadi supaya dia buat makanan cepat, awas saja kalau gue ke meja makan terus makanannya belum siap" ucap Fania.

__ADS_1


"Ya sudah ayo kita turun" ajak Zahra.


"Ayo" ucap Fania, kemudian mereka keluar kamar lalu menuruni anak tangga bersama menuju ke meja makan.


Ketika tiba di meja makan, ternyata makanan sudah siap membuat mereka berdua tidak jadi marah.


Lega lah perasaan pembantu-pembantu itu karena menyiapkan makanan tidak terlambat.


Zahra dan Fania mulai makan setelah makan mereka menyimpan saja piring-piring itu lalu berjalan kembali menuju kamar Fania.


Pembantu dengan segera membersihkan meja dan piring-piring kotor.


Setelah sampai di kamar Fania, Fania mengunci kamarnya lalu mereka berdua duduk di sofa kamar Fania.


"Jadi apa rencana loe?" tanya Zahra tidak sabaran.


"Rencana gue...belum selesai Fania berbicara ponsel Fania pun berbunyi, di lihatnya siapa yang menelepon dirinya ternyata Reno sang pujaan hatinya.


Fania segera mengangkat panggilan telepon dari kekasihnya.


"Halo sayang, kamu udah bangun?" tanya Reno dari balik telepon.


"Iya sayang aku udah bangun, kalau belum bangun mana mungkin aku mengangkat telepon dari kamu sayang" ucap Fania.


"Siapa tahu kan sayang kamu angkat panggilan telepon aku ini sambil tidur karena kecapean" ucap Reno lalu tertawa. Badan kamu nggak sakit-sakit kan sayang? tanya Reno lagi setelah dia menyelesaikan tawanya.


"Badan aku sakit-sakit sayang dan ini gara-gara kamu yang minta banyak kali" ucap Fania.


"Maafkan aku sayang habis kamu benar-benar buat aku pengen nambah terus" ucap Reno. Ya sudah kamu istirahatlah sayang ucap Reno lagi.


"Iya sayang, disini ada Zahra juga kok" ucap Fania.

__ADS_1


"Oh ya sudah kalian istirahat deh" ucap Reno.


"Iya sayang" ucap Fania.


Setelah mendengar ucapan Fania,, Reno segera menutup panggilan teleponnya dengan Fania.


"Sudah mesra-mesraannya?" tanya Zahra jutek.


"Apaan sih loe, gitu ajah ngambek, udah kok ayo kita lanjutkan ngobrol tentang rencana gue" ucap Fania lalu tersenyum.


"Ya udah buruan bilang" ucap Zahra tidak sabaran.


"Loe nggak sabaran banget sih kalau urusan Fandi" ucap Fania.


"Emang baru tahu loe yah, udah cepetan bilang rencana loe" ucap Zahra lagi.


"Jadi gini gimana kalau kita nyuruh orang buat nyulik Rara, terus kita suruh orang itu buat apa-apain Rara, pasti preman itu mau dengan senang hati apalagi kalau kita udah bayar mahal, kita nyiapin memang tempat buat preman itu bawah Rara, di sana kita nyiapin kamera tersembunyi, kita harus buat Rara pingsan supaya terlihat seperti Rara mau dengan senang hati melakukan hubungan itu nanti preman itu kita ajar deh supaya terlihat dia dan Rara seperti sama-sama menginginkan, dan loe bisa bayangin kalau Fandi melihat itu semua pasti Fandi nggak bakal mau dekat-dekat lagi dengan Rara bahkan mau melihatnya pun Fandi tidak akan sudi, terus kalau videonya kita sebarin secara otomatis Rara akan di keluarkan dari kampus secara tidak hormat karena dia sudah merusak nama baik kampus, gimana setuju nggak loe sama rencana gue?" tanya Fania kepada Zahra.


"Gila otak loe tumben ada gunanya, setuju banget gue, kapan kita akan menjalankan rencana itu?" tanya Zahra dengan semangatnya. Nggak usah tunggu lama-lama yah, gue udah nggak sabar untuk rencana kita ini sambung Zahra lagi.


"Kira mesti mikirin dulu, jumlah preman yang mau kita bayar berapa" ucap Fania.


"Dua orang ajah sepertinya cukup, jangan terlalu kebanyakan entar orang curiga" ucap Zahra.


"Oke dua orang ajah kalau gitu, terus tempat Rara mau di bawah kemana nih, pokoknya tempat itu harus aman" ucap Fania lagi.


Zahra tampak berpikir dan Fania juga ikut berpikir.


"Gimana kalau di rumah tante gue ajah, kebetulan rumahnya sekarang lagi kosong karena tante gue lagi ke luar kota sekarang, kalau satpamnya biar gue yang urus kebetulan pembantunya juga lagi di liburkan cuma satpam ajah yang jagain rumahnya, setuju nggak?" tanya Fania.


"Setuju lah gue, jadi kapan kita jalankan rencana kita?" tanya Zahra lagi dengan semangatnya.

__ADS_1


"Bentar malam ajah, yang gue tahu pelayan kampungan itu suka pulang agak larut dari tempat kerjanya dan ada jalan sunyi yang dia lewati. Kita suruh preman itu nungguin pelayan kampungan itu pulang dari tempat kerjanya di jalan sunyi itu terus dia culik" ucap Fania dengan senyum liciknya.


"Rencana yang sangat bagus" ucap Zahra dengan senyum liciknya juga.


__ADS_2