Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Berjalan tak tentu arah


__ADS_3

Rara benar-benar tidak habis pikir dengan perlakuan Rafa kepada dirinya, kenapa bisa Rafa setega itu pada dirinya.


Bisa-bisanya Rafa mengangkat panggilan telfon dari wanita lain di saat Rafa sedang menindihnya seperti sekarang bahkan dia dengan teganya memanggil wanita itu dengan panggilan sayang dengan jelasnya di telinga Rara.


"Minggir" ucap kesal Rara yang terdengar sangat jelas di telinga Rafa maupun Gracia membuat Rafa melototkan matanya kepada Rara sambil panik.


Namun itu tak mempengaruhi Rara sedikit pun, dia dengan kekuatan penuh mendorong tubuh Rafa dari atas tubuhnya.


Rafa yang lagi panik kehilangan pertahanannya, hampir saja dia nyungsep ke lantai akibat Rara yang mendorongnya dengan kekuatan penuhnya mana di tambah dengan perasaan kesalnya Rara.


Rara lalu menarik selimut karena sekarang dia sudah hampir tidak memakai sehelai benang pun akibat ulah Rafa. Lalu Rara ke lemari pakaiannya mencari pakaian untuk di pakainya.


"Rafa itu suara siapa?" tanya Gracia.


"Emm bukan suara siapa-siapa sayang hanya suara tetangga yang lagi nonton sepertinya dan suara tv mereka nyaring banget" ucap Rafa yang masih jelas di dengar oleh Rara membuat Rara hanya melirik Rafa sebentar lalu dengan segera masuk ke dalam kamar mandi untuk memakai pakaiannya.


"Oh aku pikir kamu lagi bersama wanita lain" ucap Gracia.


"Nggak dong sayang, mana mungkin aku bersama wanita lain kamu tahu sendiri bagaimana perasaan aku terhadap kamu" ucap Rafa berusaha biasa saja, padahal Rafa benar-benar tidak mau kalau sampai Gracia curiga kalau dia lagi bersama wanita lain dan mengetahui dirinya yang sudah menikah.


Rafa sangat menjaga perasaan Gracia.


Ucapan Rafa itu di dengar oleh Rara.


Dasar jantan batin Rara.


Rara pun keluar dari dalam kamar dengan sengaja membanting pintu kamar sekeras mungkin agar Gracia dan Rafa dengar, dan benar saja kelakuan Rara itu berhasil membuat Rafa terlonjak kaget sedangkan Gracia lagi-lagi heran dengan bunyi yang di dengarnya.


Dia kenapa menjadi menakutkan ketika sedang cemburu dan marah batin Rafa yang tidak habis pikir kalau Rara bisa melakukan itu semua.


"Sayang itu suara apa sih?" tanya Gracia lagi.


"Nggak tahu sayang sepertinya tetanggaku lagi berantem dengan suaminya" alasan Rafa.


"Oh begitu yah, kasian banget sih kamu sayang jadi nggak tenang begitu kamu istirahatnya ada ajah yang ribut, sebaiknya kamu kembali ke rumahmu sayang" usul Gracia sengaja.


"Iya sayang nanti aku kembalinya sekaligus membawamu ke rumahku, karena aku ingin serius dengan kamu" ucap Rafa.

__ADS_1


Gracia benar-benar langsung sangat bahagia setelah mendengar ucapan Rafa, dia seperti orang yang habis mendapatkan harta karun.


"Benarkah yang kamu bilang itu sayang?" tanya Gracia memastikan.


"Iya benar dong sayang, aku mencintai kamu, jadi aku harus serius dong sama kamu" ucap Rafa.


Ya ampun aku nggak menyangka kalau Rafa sudah berpikiran sampai kesitu, padahal aku baru mau merayunya agar dia cepat-cepat memikirkan tentang pernikahan, ehh sekarang dia sudah memikirkan itu, bagus deh aku nggak perlu repot-repot lagi batin Gracia bahagia.


Semua ucapan Rafa itu di dengar oleh Rara membuat Rara benar-benar merasa sedih dan hancur. Hatinya bagaikan hancur berkeping-keping. Rara dengan segera berjalan ke luar rumah tanpa sepengatahuan Rafa. Bahkan Rara tidak membawa ponselnya atau apapun itu, dia langsung saja ke luar rumah sambil menangis, berjalan tak tentu arah sambil mengingat semua ucapan Rafa kepada Gracia.


"Sayang aku benar-benar sangat bahagia sekarang" ucap Gracia.


"Baguslah sayang, aku senang kalau kamu bahagia karena kebahagian kamu itu utama buat aku" ucap Rafa lagi lalu tersenyum meskipun Gracia juga tidak akan melihatnya.


Untung saja dia tidak mikir macam-macam aku benar-benar nggak mau dia mikir macam-macam kepadaku dan maragukanku batin Rafa lega.


"Oh iya ada apa sayang kamu meneleponku malam-malam begini, biasanya juga jam segini kamu sudah mau tidur sayang" ucap Rafa sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


Heem aku mana mungkin bisa tidur jam segini sih, jam segini tuh bagusnya ke club batin Gracia.


Gracia pun teringat dengan tujuannya menelepon Rafa.


Gracia ingin memastikan karena besok dia akan ke kampus bersama Zahra dan Fania, Gracia bertanya sambil berharap bahwa Rafa tidak akan ke kampus besok padahal itu tidak mungkin terjadi karena Rafa, Zahra maupun Fania sekelas dan Gracia belum mengetahui itu.


"Iya sayang aku ke kampus, besok terakhir final, kenapa memangnya, kamu mau jalan-jalan lagi sayang?" tanya Rafa senang.


Gracia langsung bergidik ngeri mendengar ucapan Rafa, dia benar-benar tidak mau lagi pergi jalan-jalan jika harus menderita. Gracia tidak mungkin bisa jalan versi rakyat jelata bersama Rafa.


"Emm nggak sayang, aku cuma mau tanya saja, baiklah kamu istirahatlah sayang pasti kamu capek juga kan jalan bareng aku tadi, terus besok mau ke kampus juga" ucap Gracia dengan alasannya berpura-pura perhatian.


"Emm aku nggak capek kok sayang asal itu membuat kamu bahagia. Oh iya orang tuamu lagi ngapain sekarang sayang?" tanya Rafa.


"Mereka lagi di kamar sayang mungkin lagi istirahat karena mereka pasti capek habis perjalanan jauh tadi" jawab Gracia yang lagi-lagi bohong.


"Oh iya juga yah, baiklah kamu juga sebaiknya istirahat sayang, dan salam kepada orang tuamu yah" ucap Rafa.


"Iya sayang, kamu juga istirahat yah" ucap Gracia.

__ADS_1


"Aku tutup dulu telfonnya sayang" ucap Gracia.


"Iya sayang."


Gracia pun menutup panggilan telfonnya bersama Rafa.


#####


Setelah berbicara dengan Gracia, Rafa pun mengingat Rara yang tadi sempat membuatnya panik dengan kelakuannya, yang hampir membuat Gracia curiga dan pikir macam-macam.


"Ya ampun ternyata hujan yah kok aku baru sadar, deras banget lagi. Rara kemana kenapa dia nggak masuk kesini saja" ucap Rafa sambil berjalan ke luar mencari Rara untuk menyuruhnya masuk ke dalam kamar.


"Rara" teriak Rafa sambil berjalan ke luar kamar.


"Rara" teriak Rafa lagi karena Rara tidak menjawabnya dan juga dia tidak melihat Rara.


Rafa pun mulai mencari-cari Rara sambil masih teriak karena hujan yang deras di sertai kilat, guntur, petir, dan angin kencang.


Rafa mulai panik karena Rara tidak menyahutnya sama sekali dan juga Rafa belum menemukan Rara padahal rumah itu tidak luas. Rafa juga melihat ponsel Rara jadi percuma saja jika dia menghubungi Rara.


"Apa jangan-jangan Rara pergi dari sini, hujan deras begini" ucap Rafa semakin panik dan dia pun akhirnya memastikan bahwa Rara pergi karena sama sekali tidak menemukan Rara di dalam rumah.


"Cari keberadaan istriku sekarang juga, jangan sampai ayahku tahu mengenai ini" perintah Rafa melalui panggilan telfon.


Rafa juga segera pergi mencari Rara menembus hujan deras malam itu dalam keadaan yang luar biasa khawatir.


#################


Mampir ke novelku yang lain juga yah judulnya...


-Aku bukan pelakor


-Takdirku bersamamu


-Cinta presdir tampan


klu nggak nemu di pencarian,, tinggal klik fotoku ajah,,semuanya novelku ada di profil

__ADS_1


Makasih sebelumnya buat yang sudah baca😊😊😊


__ADS_2