Seorang Pelayan

Seorang Pelayan
Dia sudah menyusun rencana..


__ADS_3

Fandi dan Citra langsung melihat ke arah Rafa secara bersamaan.


"Kok,, aku sih? kamu nggak?" tanya Fandi.


"Iya Rafa,, kamu juga harus ikut bawa Rara juga sekalian,, Rara juga harus diperiksa loh siapa tau aja ada cedera di dalam," ucap Citra yang sebenarnya sudah tau Rara tidak kenapa-kenapa,, dia hanya mencari alasan saja supaya tidak berdua dengan Fandi di dalam mobil,, dia benar-benar akan merasa deg-degkan dan tidak tau lagi apa yang akan dia lakukan.


"Nah benar tuh kata Citra," ucap Fandi yang juga sebenarnya tidak mau berdua saja dengan Citra,, karena dia sudah biasa adu mulut dengan Citra jadi berasa lain-lain saja kalau dia harus mengantar Citra ke rumah sakit tanpa teman.


"Kompak banget sih kalian,, aku mau ke kantor polisi dulu,, dan istriku biar aku yang urus,, jadi kalian pergilah berdua," ucap Rafa.


"Nggak mau," ucap Citra dan Fandi bersamaan.


Rafa dan Rara langsung melihat kepada Fandi dan Citra.


"Jadi kalian maunya gimana ini? aku mau ke kantor polisi nih,," ucap Rafa.


"Yah aku maunya kamu ikut bareng Rara juga,, lagian kita kan nggak pernah akur,, kebayang kan kalau kita pergi berdua ke rumah sakit,, bisa-bisa kita nggak sampai di rumah sakit karena sudah lebih dulu ribut dan pulang ke rumah masing-masing," ucap Fandi.


"Iya benar tuh,, atau Rara ikut aja dan kamu Rafa ke kantor polisi," ucap Citra memberikan penawaran.


"Nggak mau,, aku takut nanti terjadi lagi istriku di culik,," ucap Rafa cepat.


"Kan ada Fandi,, takut banget kamu,, pasti Fandi jagain Rara dong,, iyakan Fandi?" ucap Citra sambil melihat Fandi.


"Iya kamu benar banget Citra,, aku pasti jagain Rara,, jadi Rara bersama kita aja dan kamu ke kantor polisi,, udah begitu aja,, kamu setuju aja Rafa," ucap Fandi.


Mereka ini,, mau ke rumah sakit dan ke kantor polisi aja lama banget,, saling tawar menawar dulu,, Hem,, Hem,, Hem,, batin Aldi yang masih jadi pendengar setia.


"Iya Rafa,, kalau kamu nggak setuju,, aku nggak usah aja deh ke rumah sakit,, aku langsung pulang saja,,, paling juga ini sembuh kok kalau udah lama jadi nggak perlu aku khawatirkan," ucap Citra.


"Ehhh jangan dong Cit,, ayo kita ke rumah sakit,, sayang kamu ke kantor polisi aja aku nggak usah ikut,, nanti aku telfon sebentar kalau udah selesai,," ucap Rara pada Rafa.


Citra pun tersenyum bahagia begitu mendengar ucapan Rara yang mau ikut bersama mereka jadi dia tidak perlu jalan berdua dengan Fandi sedangkan Fandi malah sangat senang Rara akan ikut bersamanya.


"Tapi sayang,, aku takut nanti mereka lalai menjaga kamu,, dan terjadi seperti ini lagi, jadi lebih baik kamu dengan aku saja," ucap Rafa.

__ADS_1


"Nggak mungkin dong,, Fandi loh ini yang jagain aku,, kamu tau sendiri kan Fandi gimana orangnya, jadi nggak usah khawatir yah," ucap Rara sambil tersenyum manis pada Rafa.


"Rafa sih pasti alasan aja tuh,, karena dia mau berduaan dengan kamu Ra,, tapi untuk kali ini kamu harus mengalah dulu yah Rafa,, biarkan Rara bersama kita,," ucap Fandi.


"Hemm ya udah deh,, kalian hati-hati yah,, dan jaga baik-baik istri aku,," ucap Rafa.


Yes akhirnya nggak jadi duduk berdua dengan Citra di dalam mobil,, batin Fandi senang.


"Ya ampun aku sampai lupa kalau lagi bicara dengan Aldi," ucap Rafa lagi yang tiba-tiba teringat kalau dia sedang bicara dengan Aldi.


Rafa pun melihat ponselnya dan Aldi masih belum menutup panggilan telfonnya dengan Rafa dia masih jadi pendengar terbaik.


"Halo Aldi maaf yah aku lupa kalau sedang bicara dengan kamu," ucap Rafa sambil nyengir.


"Iya nggak apa-apa,, udah biasa kok aku diginiin," ucap Aldi.


"Yee baper,, aku tutup dulu telfonnya yah,, dan Citra akan ke rumah sakit sekarang," ucap Rafa.


"Dan makasih juga kamu udah bantuin," ucap Rafa lagi.


"Aku tutup dulu kalau gitu," ucap Aldi lagi.


"Oke," ucap Rafa.


Aldi pun segera menutup panggilan telfonnya dengan Rafa setelah mendengar ucapan Rafa.


"Ya udah kita pergi sekarang aja,, aku ke kantor polisi,, kalian ke rumah sakit," ucap Rafa sambil menyimpan ponselnya di kantong celananya.


"Sayang hati-hati yah,, jangan jauh-jauh dari Fandi dan Citra,, kamu juga Citra jangan jauh-jauh dari Fandi,," ucap Rafa lagi.


"Iya," ucap Rara.


"Jangan iya-iya aja tapi di ingat juga yah sayang," ucap Rafa.


"Iya aku ingat kok,," ucap Rara lagi.

__ADS_1


Rafa mengecup kening Rara lalu mereka segera pergi ke tempat tujuan masing-masing.


Rara terus memperhatikan wajah Citra,, dia begitu kasian melihat Citra yang seperti itu.


"Udah Ra nggak usah liatin aku terus,, nanti kamu suka lagi sama aku," ucap Citra yang menyadari kalau Rara sejak tadi melihat wajahnya yang tampak sangat banyak memarnya.


"Apaan sih Cit,, aku masih waras dan normal banget ini,, aku masih suka pria," ucap Rara cepat.


Fandi hanya menyunggingkan senyumnya begitu mendengar ucapan Rara.


"Yah abis kamu liatin aku terus,, aku kan jadi mikir aneh-aneh," ucap Citra sambil nyengir.


"Iya tapi jangan mikir sampai kesitu juga dong,, aku liatin kamu karena wajah kamu memar-memar nya semakin jelas terlihat," ucap Rara dengan perasaan khawatir dan juga kasian pada Citra.


"Apa kamu nggak merasa sakit Cit?" tanya Rara.


"Nggak kok,, cuma hati aja yang sakit Ra," jawab Citra yang keceplosan.


Aduhh nih bibir yah,, ngapain bicara seperti itu,, malu banget kalau sampai ketahuan aku suka sama Fandi,,, sedangkan Fandi nggak melirik aku sama sekali,, Fandi kan sudah memiliki wanita yang dia cintai,, batin Citra.


"Hati kamu kenapa Cit? siapa yang menyakiti hati kamu?" tanya Rara.


"Emmm itu perkataan pria tadi sangat menyakiti hati aku Ra, masih terngiang-ngiang sampai sekarang di telinga aku," ucap Citra yang tiba-tiba langsung menemukan alasan yang tepat.


"Oh pria itu,, iya juga sih perkataan dia memang menyakiti hati,," ucap Rara sambil mengingat perkataan Denis.


"Kenapa kalian nggak membalas dia tadi?" ucap Fandi.


"Karena sudah ada Rafa dan juga dia akan mendapatkan balasan yang setimpal di kantor polisi jadi aku rasa sudah cukup untuk pria itu," ucap Rara.


Fandi tersenyum begitu mendengar ucapan Rara dan Citra hanya terus memperhatikan Fandi.


Kenapa yah Rara mudah banget membuat Fandi tersenyum seperti itu,, batin Citra.


Sementara di tempat lain ada Fania yang sudah menunggu Ana,, dia sudah menyusun rencana sebagus mungkin untuk menyingkirkan Ana dengan caranya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2