
Mereka pun meminum minuman yang telah di buatkan oleh pembantu di rumah Zahra.
"Ayo dong cerita alasan loe kenapa bisa pergi gitu ajah waktu itu? nomor ponsel loe nggak aktif pokoknya loe menghilang gitu ajah gue pengen tahu alasan loe" Tanya Zahra lagi.
Gracia pun melirik Fania yang sedang duduk dan Zahra mengerti maksud dari lirikan Gracia.
"Udah tenang ajah dia itu sama kayak kita kok sifatnya" Ucap Zahra.
"Iya kok gue diam gini karena baru kenal loe ajah" Ucap Fania yang juga mengerti maksud dari lirikan Gracia.
"Oh kirain bagus deh" Ucap Gracia.
"Jadi gini gue itu pergi mendadak waktu itu karena gue ikut cowok gue yang kaya dan gue juga cinta sama dia bahkan gue memilih pindah sekolah, dan gue pikir kekayaan dia melebihi pacar gue yang disini, dan loe tahu sendiri kan orang tua gue sangat tidak mau kalau gue menikah dengan orang yang biasa-biasa ajah, tapi ternyata sekarang dia menduakan gue dan pergi bersama dengan wanita lain sehingga gue gagal menikah. Dan loe tahu gue baru tahu ternyata cowok yang gue tinggalin itu kaya banget Zahra bahkan nggak ada apa-apanya dengan cowok yang gue ikut itu" Ucap Gracia.
"Cowok loe yang mana sih, loe punya banyak cowok kan" Ucap Zahra dengan wajah bingungnya.
Fania pun hanya mendengarkan saja.
"Loe pernah dengar nama Rafindra Alexander nggak?" Tanya Gracia.
"Pernah dong bahkan gue tahu banget karena gue lagi nungguin anaknya dia loh Rafandra Alexander yang lagi kuliah di luar negeri, yang wajahnya belum gue ketahui sampai sekarang karena dia yang tidak mau terekspos oleh media" Ucap Zahra.
"Oh jadi waktu itu Rafandra yang loe maksud Zahra?" Tanya Fania seakan tidak percaya karena dia juga mengetahui tentang keluarga Alexander.
"Iya dia yang gue maksud, dia itu anak orang yang sangat kaya raya pewaris tunggal tahu nggak" Ucap Zahra dengan mata berbinar.
"Oh iya kenapa loe nanya tentang itu?" Tanya Zahra kepada Gracia.
Sebaiknya gue nggak usah bilang dulu kepada Zahra tentang Rafa batin Gracia.
Gracia pun memutuskan untuk tidak memberitahu mengenai Rafa kepada Zahra.
"Nggak sih gue cuma nanya doang karena pacar gue keluarga dari Rafindra Alexander" Ucap Gracia dengan bangganya.
__ADS_1
"Wah serius loe, tapi pacar loe yang mana sih gue penasaran banget?" Tanya Zahra.
"Loe belum pernah ketemu dengan dia, gue pernah mau ketemuin loe sih tapi nggak jadi" Ucap Gracia.
"Ya sudah nanti loe ketemuin gue yah, siapa tahu ajah gue bisa tahu tentang Rafandra dan pasti pacar loe itu tahu dong" Ucap Zahra.
"Iya dia pasti tahu dong, tapi dia itu orangnya agak tertutup gitu dia ajah nggak pernah bahas tentang Rafandra sama gue" Bohong Gracia.
"Yang penting gue ketemu ajah dulu" Ucap Zahra.
"Oke nanti deh" Ucap Gracia.
"Zahra terus Rafa loe mau kemanain?" Tanya Fania.
"Yah gue kejar juga dong, Rafandra kan belum balik juga" Jawab Zahra.
"Tapi lebih baik nggak usah deh loe kejar dia lagian dia itu hanya pelayan juga" Ucap Fania.
"Zahra loe gila yah ngapain loe ngejar pelayan bikin malu keluarga ajah sih" Ucap Gracia kesal.
Heem pelayan yang ini tuh beda, dia pelayan kaya kali batin Zahra.
"Kalau ini dendam pribadi jadi walaupun dia miskin gue tetap harus dapatin dia karena dia pacaran sama cewek yang gue sangat jengkel banget, gue harus buat cewek itu patah hati dan menderita makanya gue turunin dikit harga diri gue buat ngejar pacarnya yang hanya seorang pelayan" Ucap Zahra yang mencoba menjelaskan kepada Gracia.
"Emang loe nggak punya cara lain gitu?" Tanya Gracia sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Nggak punya itu sudah cara yang paling bagus tahu nggak, kalau kita pakai kekerasan selalu saja kita yang kena juga bukan cewek itu" Ucap Zahra kesal.
"Iya benar juga yang di bilang Zahra sih, kita sudah coba berbagai cara tapi kita yang kena juga dia selalu beruntung" Ucap Fania.
"Gue jadi penasaran sama wanita itu" Ucap Gracia.
"Nanti kapan-kapan gue kasih lihat ke loe orangnya, cewek sok polos yang sangat menjengkelkan itu" Ucap Zahra.
__ADS_1
"Kenapa sih loe bisa dendam sama cewek seperti itu?" Tanya Gracia.
"Panjang ceritanya yang pada intinya dia itu selalu dekat dengan Fandi teman sekelas gue, yang gue pengen dapatin juga karena dia orang kaya, tapi susah banget karena dia hanya mau dekat dengan cewek itu, makanya gue jengkel banget sama cewek itu terus sekarang dia juga sudah pacaran dengan teman Fandi yang lagi gue kejar sekarang ini si pelayan itu, dia di belain terus tahu nggak makanya gue pengen banget dapatin pacarnya biar dia patah hati dan berkurang juga yang belain dia, bagus kan rencana gue" Ucap Zahra sambil tersenyum bangga.
Gracia pun tampak berpikir begitu mendengar nama Fandi, dia teringat dengan teman Rafa yang namanya juga Fandi.
Nggak mungkin lah mereka orang yang sama batin Gracia.
"Gracia kenapa loe diam sih?" Tanya Zahra.
"Nggak kok, cuma gue ada kenal juga dengan cowok yang bernama Fandi tapi nggak mungkin juga mereka orang yang sama" Ucap Gracia.
"Iyalah nggak mungkin, oh iya loe nginap di rumah gue kan?" Tanya Zahra.
"Iya dong memang gue udah rencana mau nginap di rumah loe" Jawab Gracia.
"Loe Fania nginap disini juga kan?" Tanya Zahra pada Fania.
"Nggak deh gue pulang ajah lagian loe kan baru ketemu sama sepupu loe, jadi loe kangen-kangenan ajah dulu dengan dia" Jawab Fania.
"Yah kok pulang sih loe nggak asik banget" Ucap Zahra.
"Dasar loe, gue balik yah. Gracia gue balik dulu" Ucap Fania kemudian berjalan keluar kamar Zahra menuju mobilnya.
#####
Fandi yang berada di rumahnya benar-benar tidak sabar menunggu informasi dari bawahannya mengenai Gracia.
Dulu Fandi tidak terlalu memperhatikan Gracia yang penting yang Fandi tahu Gracia itu gadis yang baik tapi entah kenapa sekarang Fandi meragukan Gracia.
Melihat Gracia yang pergi dengan seenaknya dan datang juga dengan seenaknya membuat Fandi tak suka. Fandi tidak suka orang yang mempermainkan perasaan Rafa, Fandi tahu betul betapa patah hatinya Rafa pada saat di tinggalkan oleh Gracia tanpa jejak bahkan Gracia pun tidak menyelesaikan pendidikannya waktu itu, dan lagi sekarang sudah ada Rara, Fandi lebih tidak suka lagi kalau ada yang menyakiti perasaan Rara bahkan Rafa sekalipun.
Setelah lama menunggu ponsel Fandi pun akhirnya bunyi, dan orang yang meneleponnya adalah orang yang sudah dia tunggu-tunggu sejak tadi untuk meneleponnya.
__ADS_1