
"Tidur bareng gue, nggak boleh pisah tempat tidur" ucap Rafa lagi mengulangi kata-katanya.
"Tapi Rafa masa gue tidur bareng loe di sini" Kata Rara.
"Memang kenapa coba, ayo sini kita tidur besok mau masuk kampus" ajak Rafa.
Rara pun mengikutinya.
"Ngapain nih guling di tengah-tengah kita?" tanya Rafa.
"Pembatas biar loe nggak kelewatan batas" Kata Rara santai.
"Enak ajah, buka itu guling" perintah Rafa.
"Nggak mau" ucap Rara cepat.
"Oh berarti loe mau gue lewati batas nih sekarang" ucap Rafa mendekati Rara sambil tersenyum mesum.
"Itu gue udah buka, tidur nggak" ucap Rara cepat.
"Nah gitu dong" ucap Rafa dengan senyum kemenangannya lalu memeluk Rara.
"Rafa jangan peluk gue" ucap Rara.
"Masih bagus gue peluk, mau loe gue ganti dengan minta jatah malam pertama hemm" ucap Rafa santai.
Rara pun berhenti bicara dan langsung menutup matanya berusaha untuk tidur. Sedangkan Rafa tersenyum dan berusaha untuk tidur juga sambil memeluk Rara.
Pagi harinya Rafa terbangun duluan dan melihat Rara yang memeluknya. Dia pun menunggu Rara untuk bangun karena tidak mau membangunkan Rara.
Dan setelah menunggu akhirnya Rara bangun juga.
"Enak yah peluk-peluk gue" ucap Rafa.
Rara pun tersenyum malu karena sadar dengan kelakuannya.
"Iya enak karena loe seperti guling" Kata Rara lalu segera beranjak ke kamar mandi.
"Mau mandi bareng nggak, gue enak kayak air loh" ucap Rafa lagi.
"Apaan sih kalau ngomong suka sembarangan banget" Kata Rara tersenyum malu lalu berjalan.
Rafa pun tersenyum, dia suka menggoda Rara yang selalu tersenyum malu-malu.
#####
"Rafa turunin gue di sini ajah nanti kita di liat oleh Zahra" ucap Rara cepat mengingatkan Rafa.
"Biarin ajah, masa gue turunin loe di sini nggak boleh dong lagian Fandi nggak ada di belakang kita nanti loe kenapa-kenapa" Kata Rafa.
"Tapi Zahra nanti salah paham sama kita, loe jadi tambah susah mengejar dia" Kata Rara lagi.
__ADS_1
Rafa pun hanya diam saja mendengar ucapan dari Rara sambil terus melanjutkan mengendarai motornya tanpa menurunkan Rara.
Tiba di parkiran ternyata Zahra maupun Fandi belum datang, mereka pun berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Fandi kok belum datang yah, apa dia masih sakit" Kata Rara sambil berjalan di samping Rafa.
"Pasti dia sudah sembuh kok mungkin sebentar lagi dia datang" Kata Rafa.
Rara pun memutuskan untuk menelepon Fandi. Namun Fandi tidak mengangkatnya karena Fandi sudah berada di belakang mereka sedang berjalan juga.
"Rara, Rafa" teriak Fandi.
Rara dan Rafa pun berbalik ke belakang kemudian mereka menunggu Fandi buat jalan bersama.
"Itu Fandi gue bilang juga apa pasti dia sudah sembuh" ucap Rafa.
"Iya bagus deh" Kata Rara.
Perhatian banget sama Fandi batin Rafa.
"Rafa siapa yang lakuin ini sama loe?" Tanya Fandi langsung setelah melihat wajah Rafa memar habis terkena pukulan.
"Emm gue di keroyok di jalan semalam waktu kita pulang dari jenguk loe" Ucap Rafa.
"Rara loe nggak kenapa-kenapa kan?" Tanya Fandi lagi setelah mengetahui Rara juga ada di saat Rafa di keroyok.
"Nggak kok Fandi" ucap Rara.
"Emm terus siapa yang lakukan ini sama kalian?" Tanya Fandi lagi.
Fandi pun merasa curiga terhadap Zahra dan Fania.
"Kenapa loe nggak bilang biar gue yang urus" ucap Fandi.
"Loe lagi sakit Fandi lagian gue nggak kenapa-kenapa cuma luka begini" ucap Rafa.
"Rafa seperti itu gara-gara gue Fandi" ucap Rara merasa bersalah.
"Apaan sih ini bukan salah loe, jadi nggak usah salahin diri loe sendiri lagi dan Fandi nggak usah cari tahu lagi tentang orang-orang itu, mereka hanya kumpulan preman" ucap Rafa yang mengerti betul sifat Fandi.
Namun Fandi mana mungkin mau mendengarkan ucapan Rafa begitu saja, dia sangat khawatir terhadap Rafa dan dia tentu saja akan membalas perbuatan preman-preman itu.
"Ya sudah gue ke toilet dulu kalian masuk duluan ajah" ucap Fandi.
Rara dan Rafa pun masuk duluan ke ruangan.
Di dalam toilet, Fandi tentu saja menghubungi orang suruhannya untuk mencari tahu orang-orang itu. Dan dia juga menyebutkan kalau dia curiga terhadap Zahra dan Fania. Jadi dia menyuruh juga untuk memulai pencarian dari kedua wanita itu.
Di dalam kelas Rafa mengikuti Rara dan duduk di sampingnya.
"Rafa loe ngapain duduk di sini biasanya juga di belakang atau loe usahain duduk di dekat Zahra lagian Fandi udah datang juga" Ucap Rara.
__ADS_1
"Oh begitu yah loe karena Fandi sudah datang loe jadi membuang gue, tega banget sih loe istriku" Ucap Rafa.
"Rafa loe jangan ngomong seperti itu kalau ada yang dengar gimana" ucap Rara panik.
"Biarin siapa suruh loe nyuruh gue pindah lagian di samping loe juga masih kosong tuh" ucap Rafa kesal.
"Gue cuma heran saja Rafa karena kebiasaan loe tidak seperti ini, gitu ajah ngambek nggak boleh tahu, loe jadi tambah jelek kalau ngambek" ucap Rara tersenyum sambil menatap Rafa dan mencolek dagu Rafa.
"Wah tangan loe mulai nakal yah, gue jadi pengen cium nih" bisik Rafa di telinga Rara.
"Iihh Rafa loe jangan mulai deh, ini di kampus tahu nggak" ucap Rara panik.
"Oh berarti di kos boleh yah" ucap Rafa.
"Nggak" ucap Rara cepat.
"Ya sudah di sini saja kalau begitu" bisik Rafa lagi.
"Iya-iya di kos boleh" bisik Rara cepat sebelum Rafa bertindak.
"Ehem sekarang udah bisik-bisikan yah" goda Fandi kepada Rara yang telah masuk ke ruangan dan duduk juga di samping Rara.
"Iya nih Rara sejak tadi goda gue terus, nggak mau nunggu sampai di kos ajah" ucap Rafa pelan.
"Rafa" Kata Rara sambil mencubit pelan perut Rafa.
"Aww sakit Rara loe tega banget sama gue" rintih Rafa yang sedang berpura-pura sakit.
"Ya ampun Rafa maafin gue yah, abis loe kalau ngomong sembarangan ajah deh" ucap Rara khawatir sambil mengelus-ngelus perut Rafa.
"Iya-iya tapi elus-elus terus sampai gue nggak kesakitan lagi" ucap Rafa.
Rara pun dengan polosnya mempercayai Rafa dan mengikuti perintah Rafa. Sedangkan Fandi hanya menggelengkan kepalanya melihat Rafa yang memanfaatkan kepolosan Rara.
Zahra dan Fania pun masuk ke ruangan dan melihat Rafa dan Fandi yang duduk dekat dengan Rara serta Rara yang masih sibuk dengan perintah Rafa dan Rafa yang lagi senyum-senyum memperhatikan Rara serta Fandi juga yang sedang memperhatikan Rara.
"Sialan tuh cewek" ucap Zahra setelah duduk.
"Iya kesal banget gue lihatnya, tapi sepertinya dia juga semakin dekat dengan pelayan miskin yang satunya" ucap Fania.
"Cih, jangan-jangan dia lagi yang menyuruh Rafa agar nggak mengerjakan tugas gue" ucap Zahra.
"Bisa jadi, mana Fandi dekat juga lagi sama dia" ucap Fania.
"Heem iya, tapi gue harus bisa dekat juga dengan Fandi" ucap Zahra.
Mereka pun belajar seperti biasa dengan Zahra dan Fania yang tidak mengumpulkan tugas dari dosen dan sudah pasti mereka akan dapat konsekuensinya nanti.
Setelah selesai mata kuliah mereka, Rara pun bersiap-siap untuk segera pergi kerja.
"Kenapa buru-buru banget?" Tanya Rafa.
__ADS_1
"Mau kerja Rafa, lupa yah" ucap Rara.
"Nggak usah kerja hari ini, kita pulang ke kos" ucap Rafa.