
Begitu sampai di depan pintu kamar Fandi, Rafa langsung saja masuk tanpa mengetuk pintu membuat Rara jengkel karena tidak sopan menurutnya.
"Rafa kok loe nggak ngetuk pintu dulu sih kan nggak sopan" ucap Rara menghentikan langkah Rafa.
"Aduh nggak apa-apa kok, gue udah biasa dan pasti Fandi juga udah nungguin kita" ucap Rafa lalu dia menarik tangan Rara lagi untuk segera ketemu dengan Fandi.
Rara pun lagi-lagi hanya mengikuti Rafa lagi.
Seberapa sering sih dia ke rumah Fandi batin Rara.
Dan benar saja Fandi sudah menunggu kedatangan Rafa dan Rara di atas tempat tidurnya.
"Rara, Rafa kalian datang juga akhirnya, gue udah nungguin kalian dari tadi" ucap Fandi begitu melihat Rafa dan Rara datang bersamaan.
"Tuh kan benar yang gue bilang pasti Fandi udah nungguin kita" ucap Rafa sambil duduk di sofa yang ada di kamar Fandi.
"Iya loe benar" ucap Rara.
Rara pun mendekati Fandi di tempat tidurnya.
"Fandi loe udah agak mendingan belum? maaf yah nggak sempat bawa apa-apa, kita nggak sempat tadi karena buru-buru" ucap Rara.
"Iya gue udah mendingan kok dan nggak apa-apa kalau kalian nggak bawa apa-apa yang penting kalian udah datang" ucap Fandi lalu tersenyum.
Rafa pun berdiri dari sofa lalu berjalan mendekati Fandi juga yang lagi duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Iya sorry yah nggak sempat tadi gara-gara kita hindari Zahra agar nggak ikut ke rumah loe" ucap Rafa.
"Untung dia nggak ikut, gue bisa tambah sakit kalau dia ikut" ucap Fandi.
"Fandi loe nggak boleh ngomong kayak gitu, nanti loe tambah sakit beneran, gue pengen loe cepat sehat, kesepian gue di kampus kalau nggak ada loe" ucap Rara sungguh-sungguh karena Rara memang sangat akrab dengan Fandi.
"Oh jadi tadi itu loe nggak anggap gue, loe masih kesepian padahal tadi gue di dekat loe" ucap Rafa yang tidak habis pikir dengan perkataan Rara.
"Loe dan Fandi kan beda" ucap Rara sadis.
Fandi pun hanya tertawa saja mendengar percakapan mereka.
"Ngapain loe ketawa nggak boleh tahu, oh iya loe sakit apa sih?" tanya Rafa lagi.
"Maaf-maaf kalau gue ketawa habis kalian lucu dan kalau sakit ini gue juga nggak tahu karena gue langsung nggak enak badan ajah sekaligus gue lagi malas ke kampus tadi" ucap Fandi lalu tertawa lagi.
"Sialan loe" ucap Rafa lalu melempar Fandi pakai bantal.
"Rafa loe jangan lempar Fandi kayak gitu kasian tahu dia lagi sakit" ucap Rara.
"Sakit gini doang besok juga dia sembuh" ucap Rafa.
"Fandi loe udah di periksa dokter dan minum obat belum?" tanya Rara lagi walaupun tadi waktu di kampus ketika menelepon Fandi, Fandi sudah bilang kalau dia sudah meminum obat.
"Sudan kok Rara" ucap Fandi lalu tersenyum melihat Rara.
"Rara nggak usah terlalu perhatian sama dia, dia udah gede gitu, pasti udh tahu kalau sakit harus minum obat" ucap Rafa.
__ADS_1
Rara hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Rafa. Sedangkan Fandi hanya tersenyum mendengar ucapan Rafa.
"Oh iya Rafa tumben loe menghindari Zahra?" tanya Fandi yang merasa heran dengan sikap Rafa yang tidak seperti biasanya.
"Lagi pengen ajah" ucap Rafa.
"Ya udah kita berdua pulang dulu, loe cepat sembuh yah besok harus masuk kampus" ucap Rafa lagi.
"Yah pulang sekarang, cepat banget Rafa" ucap Rara yang seperti masih ingin lama-lama menjenguk Fandi.
"Iya pulang sekarang, nggak mau loe ngerjain tugas?" tanya Rafa kepada Rara.
Rara pun teringat akan tugas yang di berikan kepada mereka oleh dosen.
"Mau lah, tapi Fandi gimana sama tugas loe kalau lagi sakit gini" ucap Rara lagi.
"Aduh Rara, Fandi itu pasti ngerjain tugasnya, iya kan Fandi?" tanya Rafa kepada Fandi.
"Iya Rara gue pasti kerjain kok" jawab Fandi.
Rafa sudah tahu kalau Fandi pasti mengerjakan tugasnya.
"Kirain loe belum bisa ngerjain tugasnya biar gue yang ngerjain kalau loe belum bisa" ucap Rara.
"Bisa kok lagian gue udah rasa mendingan kok sekarang" ucap Fandi kepada Rara.
"Baiklah kita pulang dulu yah Fandi kalau gitu, cepat sembuh yah" ucap Rara kepada Fandi dengan senyumannya.
Lalu mereka berdua pun pulang dari rumah Fandi.
#####
Di jalan Rafa masih saja ngerjain Rara dengan menyuruh Rara berpegang kepadanya, kalau dia merasa Rara tidak memeluknya dia pasti akan ngebut membuat Rara benar-benar kesal sepanjang jalan.
Ini Rafa pasti lagi ngerjain aku, kalau nggak takut meninggal gue pasti malas banget dengar suruhannya batin Rara.
Di jalan yang sunyi Rara dan Rafa kembali di tungguin oleh preman kali ini lebih dari dua orang, preman-preman itu suruhan Zahra dan Fania lagi. Zahra dan Fania menyuruh preman-preman itu mencelakai Rara dan Rafa.
"Rafa gue takut" ucap Rara sambil tangannya sudah gemetar dan wajahnya sudah pucat setelah melihat preman-preman itu, dia seakan teringat dengan kejadian yang belum lama menimpahnya.
"Udah loe nggak usah takut, gue ada di sini" ucap Rafa yang merasa memang Rara sangat ketakutan karena tangannya saja yang memeluk Rafa gemetar.
Rafa pun memberhentikan motornya.
"Tapi mereka banyak Rafa, kita kabur ajah" ucap Rara.
"Mana bisa kita kabur mereka udah halangin gini, loe tunggu di sini dan doain gue ajah" ucap Rafa mengelus rambut Rara yang sudah membuka helmnya lalu Rafa mendekati preman-preman itu.
"Kalian mau apa?" tanya Rafa kepada preman-preman itu.
"Kita mau nyawa kalian berdua, tapi kalau buat gadis cantik itu kita akan bersenang-senang dulu sebelum mengambil nyawanya" ucap salah satu preman itu sambil tersenyum mesum kepada Rara.
Rafa yang mendengar dan melihatnya langsung saja memberi tendangan di mulut preman yang bicara itu membuat gigi preman itu copot satu lantaran kerasnya Rafa menendang mulutnya.
__ADS_1
"Jaga bicara loe dan langkahi dulu mayat gue" ucap Rafa dengan marahnya.
"Sialan loe" ucap salah satu preman itu.
Terjadilah pertengkaran lagi di antara Rafa dan preman-preman itu namun mereka semua belum bisa memukul Rafa karena Rafa yang memukul mereka terus, Rafa selalu saja bisa menghindar hingga di tengah-tengah pertengkaran salah satu preman mendekati Rara.
"Rafa" teriak Rara yang sangat ketakutan karena preman itu memegang tangannya.
Rafa pun melihat ke arah Rara yang membuat salah satu preman itu mempunyai kesempatan untuk meninju wajah Rafa dan memberi tendangan kepada Rafa karena Rafa hilang konsentrasi.
Rara yang melihat Rafa benar-benar khawatir. Rara pun teringat akan senjata pamungkasnya. Langsung saja Rara memberi tendangan kepada preman yang memegang tangannya di bagian masa depan preman itu membuat preman itu benar-benar meringis kesakitan lalu melepaskan pegangan tangannya kepada Rara dan Rara menambah lagi memukul preman itu dengan kayu yang ada di sekitar situ di bagian masa depan preman itu membuat preman itu semakin meringis kesakitan.
Lalu Rara melihat Rafa yang sudah di keroyok tanpa pikir panjang Rara langsung saja memberi pukulan kepada preman-preman itu dengan kayu yang di pegangnya membuat Rafa ada kesempatan untuk bangun dan menghajar lagi preman-preman itu tanpa ampun hingga preman-preman itu memutuskan untuk kabur.
Setelah preman-preman itu kabur Rafa langsung terbaring di aspal karena kelelahan.
"Rafa loe nggak kenapa-kenapakan?" tanya Rara panik dan langsung saja menangis.
"Hei gue nggak kenapa-kenapa loe jangan nangis jelek tahu, gue itu cuma mau istirahat saja capek" ucap Rafa lalu menghapus air mata Rara.
"Tapi itu wajah loe memar-memar gitu pasti sakit" ucap Rara dengan rasa bersalahnya.
"Iya emang sakit" ucap Rafa sambil meringis kesakitan yang di buat-buatnya, dia ingin Rara mengkhawatirkan dirinya dan memberinya perhatian seperti sama Fandi.
Dan benar saja Rara langsung sangat khawatir.
"Ayo kita pulang gue akan obati luka-luka loe" ucap Rara sambil ingin memapah tubuh Rafa dan Rafa pun mengikuti kemauan Rara yang ingin memapahnya padahal dia masih kuat buat jalan sendiri.
Dia polos banget sih batin Rafa sambil tersenyum.
"Loe bisa bela diri?" tanya Rafa kepada Rara.
"Nggak gue cuma asal pukul ajah, abis gue benar-benar khawatir loe di keroyok tadi gara-gara gue" ucap Rara sambil masih memapah tubuh Rafa menuju motor.
"Terus preman yang di dekat loe, loe apain?" tanya Rafa.
"Gue tendang masa depannya" ucap Rara lalu tertawa.
"Wah loe benar-benar menakutkan" ucap Rafa sambil melihat Rara.
"Udah loe nggak usah banyak bicara dulu nanti loe tambah sakit, sini kunci motor" ucap Rara setelah mereka sampai di samping motor.
Rafa mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Rara.
"Buat apa?" tanya Rafa.
"Gue yang bawa motor dan loe duduk istirahat saja di belakang" ucap Rara.
"Emang loe bisa bawa motor?" tanya Rafa penuh selidik.
"Sedikit" ucap Rara sambil nyengir kuda.
"APA" ucap Rafa sangat nyaring membuat Rara menutup kedua telinganya.
__ADS_1