
Sofia yg sudah semakin lemah karena darahnya terus keluar pun hanya bisa menggenggam tangan Alfi. Sementara mobil pun langsung tiba tak lama setelah Satria memanggil anak buahnya. Sofia pun langsung dibawa menuju ke rumah sakit terdekat bersama Alfi.
Satria yg kesal pun ikut memukul Vall tanpa ampun, hingga Sean yg berada disana memisahkan mereka dibantu dengan Bima.
"Senior.. hentikan dia sudah K.O.." ucap Bima.
"Gara-gara dia putriku harus terluka.." ucap Satria kesal.
"Aku dan tuan Sean akan mengamankannya.. anda pergilah ke rumah sakit menyusul Sofia.. " ucap Bima.
"Iya ayah.. kita harus kesana.. " balas Kenan.
"Baiklah, pastikan ba*****an ini membusuk dipenjara.." ucap Satria.
Lalu Kenan langsung menuju ke mobilnya yg sudah disiapkan anak buahnya. Mereka berdua pun langsung menuju ke rumah sakit yg dituju Sofia.
Sementara Alfi, ia sibuk menelpon rekan-rekannya yg bertugas di rumah sakit yg akan dituju agar Sofia lekas ditangani.
"Sofia bertahanlah.." ucap Alfi yg tanpa sadar menangis.
"Alfi kau menangis?" tanya Sofia dengan suara pelan.
"Sofia kenapa kau menolongku, harusnya aku saja yg tertembak bukan kau.." ucap Alfi memarahi Sofia.
"Hei, aku ini terluka malah dimarahi.. kau itu jahat.." ucap Sofia.
"Sudah diam, darahnya akan terus keluar jika kau berbicara.." ucap Alfi membungkam mulut Sofia.
"Ehmmm.." ucap Sofia mulai kesakitan.
"Tunggulah Sofia kita sebentar lagi sampai.." ucap Alfi.
Sofia hanya mengangguk menahan rasa sakit dan tubuhnya semakin lemah. Setibanya dirumah sakit, sudah ada rekan Alfi yg menjemputnya dan bersiaga dengan ranjang daruratnya.
Seketika anak buah Sofia langsung membukakan pintu dan membantu Alfi memindahkan Sofia menuju ranjang.
"Wah lukanya cukup dalam.. harus segera dioperasi.." ucap rekan Alfi.
"Ya.. itu alasanku meminta bantuanmu.." balas Alfi.
"Ayo bawa dia ke ruangan operasi.. dan juga panggil keluarganya untuk persiapan transfusi darah jika dibutuhkan.."
"Mereka sedang menuju kemari." balas Alfi.
Setibanya di ruang operasi, Alfi diminta menunggu diluar dan ia sangat tahu prosedur rumah sakit.
Tak lama Kenan dan Satria tiba di tempat tersebut. Setelah bertanya pada bagian resepsionis, mereka langsung menuju ke ruangan operasi. Satria pergi lebih dahulu, sementara Kenan mengurus administrasinya.
"Alfi bagaimana dengan Sofia??" tanya Satria.
"Sedang ditangani di dalam.. paman siapa yg golongan darahnya sama dengan Sofia?" tanya Alfi.
"Aku dan Kenan.." jawab Satria.
"Baguslah kalian sudah tiba, mereka meminta persiapan transfusi darah karena Sofia banyak mengeluarkan darah.." ucap Alfi.
"Baik dimana ruangannya..?" tanya Satria.
__ADS_1
"Ayo ikuti aku.." balas Alfi.
Mereka pun menuju ruangan transfusi darah, dan Satria langsung diambil darahnya. Sementara Kenan bingung karena ayahnya dan Alfi menghilang di depan ruang operasi.
Kenan pun menghubunginya.
"Halo Al.. Dimana?" tanya Kenan.
"Aku di ruangan transfusi darah bersama ayahmu.." ucap Alfi.
"Apakah masih kurang?" tanya Kenan.
"Cukup Ken, kau tunggu saja.." ucap Alfi.
Namun, Kenan yg ikut panik pun menyusul ke ruang transfusi dan menyerahkan darahnya.
"Kalian ini.. membuatku iri saja.." ucap Alfi.
"Sudahlah, Sofia bisa cepat ditangani juga pasti berkat bantuanmu.." balas Kenan.
"Kalian berdua, aku duluan ke ruang tunggu operasi Sofia.." ucap Satria.
"Baik ayah.." balas Kenan.
Satria pun berjalan menuju ruang operasi dengan penuh kecemasan. Ia sangat takut hal buruk menimpa putrinya. Tak lama Reina beserta beberapa keluarga lainnya tiba di rumah sakit.
Reina langsung berlari menemui suaminya dan bertanya keadaan Sofia.
"Sayang bagaimana keadaan Sofia?" tanya Reina panik begitu dikabari Sofia dibawa ke rumah sakit.
"Sedang ditangani.." ucap Satria lemas setelah melakukan transfusi darah.
"Ya lukanya cukup dalam dan banyak mengeluarkan darah.." balas Satria.
"Apa kau baik-baik saja, kau kelihatan pucat dan lemas..?" tanya Reina melihat keadaan Satria yg lemas.
"Aku baru saja melakukan transfusi darah untuk Sofia, Kenan juga sedang melakukannya.." ucap Satria.
"Kau harusnya beristirahat.. lihatlah wajahmu begitu pucat." ucap Reina.
"Aku tak bisa tenang sebelum mendengar kabar Sofia.." balas Satria.
"Dasar.. yasudah.." ucap Reina lalu menghubungi anak buahnya untuk memberikan makanan dan susu untuk suaminya.
Kenan pun langsung menuju ke ruang tunggu operasi dan melihat keluarganya sedang berkumpul.
"Ibu sudah tiba.." ucap Kenan.
"Iya.. dan kemarilah.." ucap Reina menarik tangan Kena untuk duduk.
"Makanlah ini.. kau pasti lemas.." ucap Reina.
"Apakah sudah ada kabar tentang kakak?" tanya Kenan.
"Belum.. sudah makan saja.. kalian berdua ini keras kepala sekali.." ucap Reina.
"Sudah turuti saja ibumu, aku juga tadi dimarahi dan disuruh makan dan minum susu .." ucap Satria.
__ADS_1
Mau tidak mau Kenan pun menghabiskan yg sudah disiapkan ibunya. Meskipun tubuhnya masih terasa lemas tapi ia tetap menunggu kabar kakaknya.
Kenan pun teringat akan para tamu undangan yg masih ia tinggalkan tadi.
"Ibu bagaimana dengan para tamu undangannya?" tanya Kenan.
"Aduh anak ini.. memangnya ibumu setega apa? mereka semua selamat dan sudah ditangani.. mungkin sekarang mereka sudah pulang.." ucap Reina.
"Syukurlah.." balas Kenan.
Alfi pun madih duduk dengan sabar menanti pintu ruangan terbuka dengan membawa kabar baik. Ia tahu luka Sofia cukup serius tapi ia yakin Sofia pasti selamat karena di dalam mobil ia sudah memberikan pertolongan pertama. "Kumohon Sofia bertahanlah.." doa Alfi dalam hati.
Tak berapa lama, pintu operasi pun terbuka.
"Bagaimana Rich??" tanya Alfi pada rekannya bernama Richard.
"Nona Sofia selamat dan baik-baik saja.. jadi kau tenang saja.. sebentar lagi nona Sofia akan dibawa menuju ruang perawatan dan kalian bisa mengunjunginya.." ucap Richard.
"Baiklah, terimakasih aku berhutang padamu.." ucap Alfi.
"Tidak, ini adalah tugasku. Dan juga berkat keluarga nona Sofia yg dengan cekatan segera mendonorkan darahnya jadi nona Sofia tak mengalami masa kritis." ucap Richard.
"Baiklah terimakasih.." ucap Alfi.
Lalu Richard pun meninggalkan ruangan tersebut. Dan semua keluarga yg menunggu pun merasa lega setelah mendengar kabar baik tersebut. Kini perawat tengah membawa Sofia ke ruang perawatan. Dan keluarga bergantian masuk ke dalam.
Alfi pun tak beranjak dari kamar Sofia memantau kondisi kekasihnya. Ia merasa sangat bersalah karena Sofia sampai mengorbankan dirinya.
Donald pun tiba setelah bertemu dengan putrinya. Ia cukup terkejut insiden ini berakhir dramatis. Ia langsung menuju ke rumah sakit menyusul yg lainnya.
"Hei bro.. bagaimana keadaan Sofia?" tanya Donald.
"Dia baik-baik saja dan hanya menunggu sampai ia sadar saja." balas Satria.
"Kau habis mendonorkan darahmu?" tanya Donald melihat wajah pucat Satria.
"Iya, putriku membutuhkannya." balas Satria.
"Apa kau belum beristirahat?" tanya Donald.
"Belum.." balas Satria kemudian ia pun pingsan.
"Oh ya Tuhan.." ucap Donald yg membantu memapah tubuh Satria yg lemah.
Akhirnya Satria dibawa ke ruangan untuk beristirahat, mengingat usianya yg tak muda lagi dan juga ia tadi habis bertarung. Reina pun menemaninya di ruangannya sementara Kenan dan Alfi menjaga Sofia.
Diruangan Sofia.
"Hei sudahlah, ini bukan salahmu.." ucap Kenan.
"Aku tetap merasa bersalah Ken.." balas Alfi.
"Ya mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi yg penting kakakku sudah lebih baik.." balas Kenan.
"Tapi ia belum sadar Ken aku belum tenang.." ucap Alfi.
"Yasudah kau tunggu dia sampai sadar.. aku mau istirahat.. tubuhku masih lemah.." ucap Kenan.
__ADS_1
Kenan pun menyusul ayahnya untuk ikut beristirahat setelah mengetahui kondisi kakakknya membaik.
"Dasar kalian berdua ini sok kuat tapi tumbang juga.." ucap Reina melihat putranya dan juga suaminya beristirahat di ranjang karena kondisi tubuhnya yg lemah.