
Diana pun berusaha ditenangkan oleh Kenneth. Kemarahannya memuncak dan meledak-ledak tak seperti biasanya. Brian pun hanya bisa mengawasi dari cctv dan melihat ada orang yg mengijinkan para preman itu masuk dengan kartu aksesnya.
"Sayang tenanglah dan duduk dulu.." ucap Kenneth.
"Aku tak bisa tenang, pasti ada yg tak beres." ucap Diana.
"Memang ada orang yg mencurigakan sepupuku.." ucap Brian.
"Bagaimana kau bisa tahu..?" tanya Diana.
"Lihat cctv ini.." ucap Brian mengecek cctv.
"Oh tidak ini kan tuan Brandon.. " ucap Diana.
"Brandon si**lan itu rupanya biang keladinya.." ucap Kenneth lalu mengambil alih cctv dan mencari keberadaannya.
Namun, orang tersebut sudah pergi setelah mengetahui misinya gagal. Kenneth pun tak tinggal diam dan akan menangkapnya bersama tim keamanan SHIELD. Dan juga seorang tim keamanan yg merupakan kaki rangan tuan Brandon.
"Siapa disini yg bernama Juno..?" tanya Kenneth pada tim keamanan.
"Saya tuan, ada apa?" balasnya.
Bughh..
"Berani sekali kau membantu mereka masuk.. dan mengeroyok istriku.." ucap Kenneth.
"Aku tak mengerti maksud anda tuan.." ucap Juno.
Bughh..bughh..
"Ikut aku dan akan kubuat kau mengerti.." balas Kenneth setelah puas memukulinya.
Setelah mengintrogasi Juno, Diana pun menahannya hingga Brandon tertangkap.
"Juno, aku tak tahu apa yg ditawarkan si bre**sek itu.. tapi kau membuat keputusan yg salah.." ucap Diana.
"Ampun nona, saya terpaksa.." ucap Juno.
"Memangnya dia mengancammu apa?" tanya Diana mengeluarkan pisau.
"A-a.. Dia akan mengancam anak dan istriku nona.." ucap Juno.
"Benarkah? kau tidak bohong kan?? pisau ini tajam lho.." balas Diana.
Glekk.. "Aku salah mencari musuh, harusnya aku tak berkhianat dan tetap pada pendirianku.." gumam Juno dalam hati.
"Tidak nona, saya benar-benar terpaksa dan berada di bawah tekanan.." ucap Juno.
"Baiklah, aku akan menyelidikinya tapi jika kau berbohong kau tahu kan konsekuensinya.." ucap Diana.
"Saya mengerti nona, saya siap untuk dipecat jika berbohong.." balas Juno.
"Oke.. sekarang aku akan mencaritahu dimana Brandon kabur.." ucap Diana.
"Dia ada di rumahnya yg berada di daerah Ct.." ucap Juno.
"Oke.. terimakasih infonya.." ucap Diana.
__ADS_1
Langsung saja Diana membentuk tim untuk mencari Brandon di kediamannya di daerah Ct. Malam yg semakin larut, membuat Kenneth tak tega membiarkan Diana yg terus bekerja dan ia akan menangkap Brandon untuknya.
"Sayang kau disini saja.. aku yg akan menangkap si kep***t itu.." ucap Kenneth.
"Aku ikut, aku ingin sekali menghajarnya.." ucap Diana.
"Kau disini saja atau pulang bersama Brian.." ucap Kenneth.
"Tapi, aku.." ucap Diana yg mulai merasakan sakit perutnya.
"Sudah kau istirahat saja.. aku berjanji akan menangkapnya hidup-hidup.." ucap Kenneth.
"Baiklah, aku percaya padamu.." ucap Diana pasrah karena perutnya terasa mengencang.
"Oke.. aku akan meminta Brian untuk menjagamu.." ucap Kenneth.
"Iya hati-hati.." ucap Diana.
Sebelum pergi, Kenneth pun memeluk istrinya dan menitipkannya pada Brian. Brian pun mengerti karena tugasnya juga hampir selesai. Kenneth pun pergi bersama tim yg sudah diperintahkan Diana.
"Lebih baik kau temani aku menyelesaikan urusan ini.." ucap Brian.
"Ya.. aku juga lelah.." ucap Diana.
"Apa anda butuh sesuatu nona..?" tanya Stefani.
"Tidak Stef.. aku hanya ingin istirahat.." ucap Diana.
"Baik nona.." balas Stefani.
Brian pun bekerja sambil memerhatikan Diana. Ia sungguh takut Diana kenapa-kenapa karena bertarung dengan orang-orang tadi. Dilihatnya Diana kelihatan lelah dan ia ingin segera membereskan pekerjaannya. Karena sistem yg sedang ia retas adalah buatan Dadnya, Brian sudah menghubungi ayahnya dan meminta ijin. Walau awalnya Kenan bingung, tapi ia bisa mengerti posisi Diana dan Brian adalah orang yg tepat dalam masalah ini. Dan Kenan memberikan beberapa kunci dalam sistemnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Brian.
"Perutku sakit.." ucap Diana.
"Ckk.. kenapa tidak bilang daritadi.." ucap Brian yg langsung mengamankan laptopnya dan segera membawa Diana ke mobilnya untuk dibawa ke rumah sakit.
"Nona Stefani, kau bawakan saja laptopku ke dalam mobil.. dan aku akan membawa Diana.. kita kerumah sakit sekarang.." ucap Brian.
"Baik tuan.." balas Stefani.
Mereka pun segera masuk ke dalam mobil melalui pintu belakang dan langsung menuju ke rumah sakit. Stefani bertugas menjaga Diana di belakang dan Brian mengemudi sembari menelpon Hana.
"Halo, Hana kau ada di rumah sakit kan?" tanya Brian.
"Iya benar, apa ada yg ingin melahirkan lagi?" balas Hana.
"Tidak, Diana perutnya sakit, aku takut Diana kenapa-kenapa .." ucap Brian.
"Kau ada dimana?" tanya Hana.
"Sedang menuju ke rumah sakit.." ucap Brian.
"Nyonya Diana tidak mengalami pendarahan kan?" tanya Hana.
"Aku tak tahu.." balas Brian.
__ADS_1
"Coba periksa.." balas Hana.
"Nona Stefani, apa Diana mengalami pendarahan?" tanya Brian.
"Tidak tuan.. " ucap Stefani.
"Oke.." balas Brian.
"Tidak, Diana hanya sakit perut dan tubuhnya lemah.." ucap Brian.
"Apa yg telah ia lakukan hari ini?" tanya Hana.
"Aku tak tahu Hana, yg pasti ia bekerja seharian di kantornya.." ucap Brian.
"Apa dia melakukan aktifitas berat?" tanya Hana.
"Itu juga aku tidak tahu, tapi dia habis menghajar orang.." ucap Brian.
"Astaga.. itu maksudku Brian.." ucap Hana.
"Baiklah segera bawa kemari secepatnya.." ucap Hana.
"Baik aku akan kesana secepatnya.. " balas Brian.
Dan Brian pun segera menuju ke rumah sakit secepatnya. Ia meminta Diana dan Stefani untuk berpegangan dan memakai sabuk pengaman karena ia akan sedikit mempercepat laju mobilnya. Hingga mereka tiba di rumah sakit dan Hana beserta Alfi ada disana untuk menunggu Diana.
"Brian.. " ucap Alfi melihat keponakannya.
"Uncle.. maaf aku tak bisa menjaga Diana.." ucap Brian.
"Ya.. tapi syukurlah Diana bisa kemari dengan cepat.." ucap Alfi.
Diana pun dipindahkan ke ranjang dan di bawa ke ruangan untuk diperiksa. Dan Hana dengan cekatan memasang infus dan menyuntikan beberapa obat. Sementara Brian dan Alfi pun menunggu di luar. Brian pun menceritakan apa yg terjadi pada Diana, membuat Alfi geram. Tapi Kenneth sedang menangkap orang yg sudah membuat Diana celaka, entah bagaimana reaksinya jika tahu istrinya masuk rumah sakit.
Tak berapa lama, Dion dan Sofia tiba di rumah sakit. Mereka cemas saat dikabari dan langsung menuju ke rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Diana.?" tanya Sofia pada Alfi.
"Dr.Hana sedang menanganinya.." ucap Alfi.
"Kuharap tak terjadi sesuatu padanya.." balas Sofia.
"Brian, apa yg terjadi?" tanya Dion.
"Tadi ada penyerangan saat aku sedang berada di kantor SHIELD. Dan Diana menghajar beberapa orang.. lalu tiba-tiba dia mengeluh sakit perut 30 menit setelah menghajar mereka" ucap Brian.
"Diana benar-benar tidak bisa diam.." ucap Dion.
Lalu dr. Hana keluar dan menjelaskan kalau Diana baik-baik saja. Diana hanya lelah dan butuh istirahat, hal itu membuat semua orang menjadi lega. Lalu dr.Hana bilang untuk membiarkan Diana istrirahat diruangannya.
Sementara Kenneth ia menemukan Brandon dan menyeretnya ke SHIELD. Meskipun ada sedikit perlawanan tapi bukan hal sulit melumpuhkannya. Tapi saat menuju ke SHIELD, Diana sudah tak ada dan membuat Kenneth menghubungi Brian karena ponsel istrinya tertinggal di kantor.
Kenneth pun sangat terkejut mendengar Diana berada di rumah sakit. Dan rasa kesalnya pun ia lampiaskan pada Brandon dengan memukulinya sampai babak belur.
"Cukup tuan." ucap tim keamanan pada Kenneth.
"Berani sekali kau mencelakai istriku.." ucap Kenneth lalu menyudahinya dan langsung ke rumah sakit. Pikirannya makin kacau setelah mendengar Diana dirawat, apalagi kalau bukan karena Diana sedang mengandung anaknya. Kenneth yg cemas pun memacu mobilnya dengan cepat menuju ke rumah sakit. Ia bahkan berlarian saat sudah sampai dirumah sakit, walaupun sudah ditegur tapi ia tetap berlari dan petugas keamanan tak mampu mengejarnya.
__ADS_1
"Ck.. Kenn ini rumah sakit kenapa kau berlarian..?" tanya Brian.
"Bagaimana aku tidak panik mendengar Diana dibawa kemari.." ucap Kenneth langsung masuk ke ruangan Diana yg sedang dijaga oleh Sofia.