
Season 2..
Setelah insiden penculikan tersebut Sofia merasa kedua anaknya tidak aman. Dan ia semakin memperketat pengawasan. Mereka pun tidak memberi kabar pada Kenan yg sedang berbulan madu bersama Alice karena tak ingin merusak suasana. Mereka hanya mengabari kalau keponakan mereka sudah lahir.
Sofia pun hampir tidak bisa meninggalkan si kembar sejenak. Ia bahkan menaruh anak buahnya di depan kamarnya jika ia hendak ke toilet. Dan juga pengasuhnya si kembar harus orang dapat dipercaya. Ia menjadi sulit tidur, karena harus selalu waspada. Hal ini membuat Alfi khawatir akan kesehatan Sofia.
"Sayang, istirahatlah.. sudah banyak yg menjaga si kembar.." ucap Alfi.
"Ya.. tapi aku akan selalu waspada.. aku takut kejadian kemarin terulang lagi.." ucap Sofia.
"Ya.. aku akan menjaga mereka. Kau tidurlah.." ucap Alfi.
"Baiklah.. hanya untuk 3 jam.." ucap Sofia.
"Iya tidurlah dulu.." pinta Alfi.
Alfi pun sesungguhnya merasa panik saat anak laki-lakinya diculik tapi ia lebih mementingkan psikologis Sofia dan yg terpenting si kembar sudah kembali aman dalam jangkauannya. Ia juga merasa sudah gagal sebagai pemilik rumah sakit, ia berfikir bagaimana jika hal itu terjadi pada bayi lain. Dan juga ia sangat takut kehilangan kedua anak kembarnya.
Dilihatnya putra-putrinya yg sedang tertidur. Dion yg baru beberapa hari pun sudah terlihat lebih berisi dengan pipinya yg cubby. Lalu Diana, ia terlihat sangat cantik seperti boneka, membuat Alfi tak ingin kehilangan keduanya yg sangat berharga.
"Daddy berjanji akan selalu menjaga kalian.." ucap Alfi.
Keesokan harinya, para keluarga pun belum beranjak dari Singapura. Hanya Siska dan Bima yg sibuk dengan pekerjaannya. Mereka sesekali datang saat weekend. Karena Satria menugaskan Bima untuk memimpin perusahaan sementara. Satria tak ingin insiden kemarin terjadi lagi.
Satria benar-benar sedang menyelidikinya langsung siapa dalang dibalik penculikannya. Hingga kini penculiknya masih bungkam dan belum bersuara. Satria pun sedang mengintrogasinya kini.
"Jadi siapa yg menyuruhmu??" tanya Satria.
"Aku tidak akan berbicara." ucapnya.
"Kau ingin kusiksa baru mau bicara.??" tanya Satria tegas.
"Silahkan saja, kesetiaanku tidak akan hilang.." ucapnya.
Dorr..Dorr...
"Akhh.." teriaknya saat Satria menembak lengan dan kakinya.
"Jadi cepat katakan apa rencanamu?" tanya Satria.
"Aku hanya ingin bayi itu dan kujual dengan mahal.. hahahahha.." ucapnya tertawa.
Satria pun merasa pria tersebut berbohong dan meninggalkannya karena hanya akan membuang-buang tenaga. Tidak ditemukan ponsel atau alat canggih lainnya, hanya ada pistol dan pisau kecil yg cukup untuk melukai orang.
"Bagaimana apa sudah ada tanda-tanda??" tanya Satria.
"Belum ada tuan, kami sudah berusaha keras.."
"Baiklah, tetap waspada.. jangan sampai cucuku kembali hilang.." ucap Satria.
__ADS_1
"Baik tuan.." jawab mereka.
Satria pun pergi, dan menuju ke apartemen. Ia menyusuri jalanan menuju ke apartemen Sofia. Ia mencari jalan-jalan lain yg mungkin dilewati penculik lain. Tak ada yg mencurigakan, membuatnya terus berfikir keras. Ingin rasanya meminta bantuan Kenan tapi ia tak ingin mengganggu liburan Kenan.
"Mungkin ini ulah si bre****ek Vall..! tidak berhasil mendapatkan putriku, kini ia ingin menculik cucuku.." umpat Satria dalam hati.
Ia pun tak menyerah dan tetap berkeliling meski sudah tiba di apartemen. Ia memeriksa setiap sudut apartemen yg tidak terdeteksi kamera pengawas dan menaruh anak buahnya disekitarnya.
"Kalian waspada dan laporkan jika ada yg mencurigakan.." ucap Satria.
"Baik tuan.." balas mereka.
Satria pun kembali ke unit apartemen Sofia.
"Bagaimana kabarmu nak?" tanya Satria.
"Aku baik ayah.." ucap Sofia.
"Sofia bagaimana kalau kalian pindah saja.." ucap Satria.
"Pindah? tapi aku tak tahu apakah tempat itu aman atau tidak.." ucap Sofia.
"Ayah dan ibu akan membelikan kalian mansion baru dinegara ini sekalipun, kami juga akan memperketat pengawasan.." ucap Satria.
"Tidak ayah, aku ingin hidup mandiri.." ucap Sofia.
"Ini demi mereka.. dengan begitu tidak ada yg bisa masuk sembarangan ke rumah kalian.." ucap Satria.
"Iya bicarakanlah, aku ingin kau hidup dengan tenang.." ucap Satria.
"Terimakasih ayah sarannya.." ucap Sofia.
Dan tiba-tiba, pengasuh bayi mereka tidak masuk kerja hingga membuat Sofia kewalahan mengurus si kembar. Alfi pun memilih ijin bekerja dan mengurus segalanya dari rumah demi membantu Sofia. Reina pun selalu bersiaga di apartemen Sofia.
Sofia dan Satria pun merasa curiga hingga mereka tak lagi menyewa jasa babysitter. Mereka takut, ini adalah jebakan agar musuh mereka menaruh mata-mata yg menyamar menjadi pengasuh bayi. Reina pun tak kehabisan akal, ia langsung mendatangkan pelayan di rumahnya untuk membantu Sofia. Pelayan yg sudah membantu mereka bertahun-tahun dan dapat dipercaya.
"Siti, aku percaya padamu tolong bantu putriku merawat kedua bayinya.." ucap Reina pada Siti.
"Siap nyonya.." balas Siti.
"Bagus, gajimu akan kunaikan 3x lipat.." ucap Reina.
"Terimakasih nyonya.." ucap Siti.
Siti pun mulai bekerja dan membantu Sofia dengan cekatan. Sofia pun sangat terbantu dengan hadirnya Siti yg sudah ia kenal sejak kecil.
"Bi.. aku mau mandi, titip mereka ya.." ucap Sofia.
"Siap non.." ucap Siti.
__ADS_1
Siti pun menjaga keduanya yg sedang tertidur pulas. Hingga sebuah insiden mengerikan pun terjadi. Seorang kurir pengantar makanan pun tiba dengan membawakan pesanan Sofia untuk semua orang. Tempat makanan yg selalu menjadi langganan Sofia, hingga ia sudah yakin kalau makanannya aman. Tapi ada yg menyabotase makanan tersebut.
Pengawal yg sudah memakannya pun sakit perut dan dilarikan ke rumah sakit. Hingga kini penjagaan melonggar. Untungnya Siti dan Sofia belum memakan makanan tersebut.
"Siti, ada apa dengan para pengawal..?" tanya Sofia yg baru saja memegang ponselnya.
"Mereka dilarikan ke rumah sakit non, katanya habis makan makanan yg biasa kita pesan.." ucap Siti.
"Siti kau belum memakannya kan??" tanya Sofia.
"Belum non, saya tidak bisa meninggalkan si kembar.." ucap Siti.
"Bagus.." ucap Sofia kemudian menelpon seseorang dan membungkus kembali makanan tersebut.
Bel pun berbunyi, Sofia mengira itu anak buahnya yg baru ia hubungi. Ia pun langsung membukakan pintu dan ternyata pria tak dikenal. Sofia yg langsung bersiaga pun menutup pintu tapi pria itu berhasil menahannya.
"Siapa kau??" tanya Sofia.
"Kau sudah melupakanku sayang??" ucap pria tersebut.
Sofia pun tak asing dengan suaranya, hingga ia teringat satu nama yg membuatnya merinding.
"Bi Siti.. kunci pintu dan hubungi ibuku.. Kode merah..!" perintah Sofia sembari berteriak dan Siti pun melakukan tugasnya. Sofia juga melihat anak buahnya yg berjaga sudah tumbang.
"Sayang, kau masih seksi meski telah melahirkan.." ucap Vall.
"Jadi semua ini ulahmu, semua jadi masuk akal.." ucap Sofia.
"Kau memang pintar, sayang pasti suamimu sedang bekerja, bagaimana jika kita bermain sebentar.." ucap Vall.
"Aku tak punya waktu pergilah .." ucap Sofia.
"Aku tak suka diusir sayang.." ucap Vall.
Sofia pun membuka pintu, dan langsung menendang Vall ke area perut.
Duakk..
Saat Vall mundur, Sofia segera menutup pintu tapi Vall kembali mendorong pintunya sekuat tenaga hingga Sofia pun kalah.
Hingga muncul anak buah Vall, dengan keadaan Sofia yg belum kembali 100% pasca melahirkan, sudah dipastikan ia tak sanggup melawan mereka.
"Ayah kumohon datanglah.." gumam Sofia dalam hati.
Mau tak mau Sofia melawan mereka untuk mengulur waktu hingga bala bantuan tiba.
Sementara Siti, ia yg sudah menghubungi Reina pun diarahkan untuk membuka pintu rahasia apartemen mereka yg bersebelahan untuk masuk ke dalam apartemen miliknya. Dengan arahannya Siti berhasil membuka pintu dan membawa si kembar ke unit sebelah milik Reina. Reina meminta Siti untuk bersembunyi sampai Satria datang dengan bantuannya.
Dengan cepat mereka berusaha untuk menuju ke apartemen tersebut setelah mengurus perusahaan. Satria sudah mengirim bala bantuan tambahan dan terkejut pengawal yg telah ia perintahkan sampai keracunan dan dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1
"Sofia bertahanlah.." ucap Satria.
Reina juga segera mengabari Alfi. Alfi juga terkejut saat diberitahu pengawal yg dirawat di rumah sakitnya kalau mereka keracunan. Apalagi setelah ibu mertuanya menelpon, Alfi langsung bergegas pulang dan melupakan meetingnya.