
Di dalam kamar sebuah mansion, Reina nampak tersadar. "Ini dimana? rasanya disini bukan rumahku? bukan juga rumahsakit?" gumam Reina yg baru tersadar.
"Anda sudah bangun nyonya.." ucap seorang perawat.
"Ya.. maaf aku sekarang ada dimana?" tanya Reina.
"Nyonya ada di mansion tuan kami, tuan kami yg membawa nyonya.."
"Lalu, siapa tuan kalian? " tanya Reina penasaran karena tak mungkin Kenan membawanya ke sebuah mansion tanpa ada orang yg tak dia kenal.
"Nanti tuan kami akan mengunjungi nyonya.. sekarang saya akan siapkan makanan untuk nyonya.." ucapnya.
"Baiklah, terimakasih.." balas Reina. "Mencurigakan..!" gumam Reina dalam hati.
Ya sangat mencurigakan karena kemarin ia kecelakaan bersama pengawalnya dan kini berada di sebuah mansion bergaya Italia. Reina sangat yakin kalau dirinya berada di Italia. Tapi ia hanya diam dan patuh, pura-pura polos dan mengikuti apa kemauan musuhnya.
Hingga setelah makan, ia diberi obat dan mulai mengantuk. Akhirnya Reina kembali tertidur, namun di dalam mimpinya ia memimpikan Sofia dipaksa menikah dengan seseorang.
"Aaakkhh.." teriak Reina.
"Ada apa nyonya?" tanya si perawat.
Setelah sadar dan melihat sang perawat Reina mengatur nafasnya, lalu menjawab pertanyaan dari si perawat.
"Aku hanya bermimpi buruk.." ucap Reina.
"Baiklah nyonya, jika ada apa-apa panggil aku saja.."
"Ya terimakasih.." balas Reina.
Kini pikirannya kalut memikirkan Sofia. Ia merasakan ada firasat tidak enak mengenai putrinya. "Apa Sofia baik-baik saja? akh bagaimana aku keluar dari tempat ini.." gumamnya dalam hati.
Selepas perawat itu pergi Reina kembali beristirahat karena obat yg ia minum memiliki efek yg kuat. Itu sengaja dilakukan agar Reina tetap tenang di dalam mansion tersebut hingga rencana Vall tercapai.
Pada malam hari Vall pergi mengunjungi mansionnya dimana Reina berada. Reina tengah duduk di ranjangnya setelah makan malam. Saat Vall tiba ia langsung senang mengetahui Reina sudah sadar dan bergegas menuju ke kamarnya.
"Selamat malam nyonya Reina.. " ucap Vall membuat Reina bingung tapi sesaat kemudian ia sadar dialah sang tuan rumah.
"Selamat malam juga tuan.. oh aku tahu anda pasti pemilik mansion ini.." ucap Reina.
"Ya anda benar nyonya. Bagaimana kondisi anda saat ini?" tanya Vall.
"Ya aku jauh lebih baik.. tapi kalau boleh tahu siapakah anda dan kenapa membawaku kesini?" tanya Reina.
"Aku Vallentino Felix, anda pasti tahu bukan keluarga Felix?" ucap Vall.
"Oh, putera tuan Felix.. Terimakasih atas bantuannya, tapi kenapa anda membawaku kemari bukan ke rumah sakit?" tanya Reina.
"Karena terlalu berbahaya nyonya.. anda tahu bukan BlackStar sedang mengincar anda?" ucap Vall.
__ADS_1
"Oh jadi begitu, terimakasih tuan atas perlindungannya. Tapi aku rasa anda juga tahu kan siapa suamiku?" tanya Reina.
"Ya sama-sama nyonya. Tentu saja saya tahu nyonya." ucap Vall.
"Ya kalau anda tahu, bisakah anda membawaku ke kantor SHIELD.. aku yakin mereka mampu melindungiku.." ucap Reina.
"Maaf nyonya keadaannya terlalu berbahaya, nanti setelah semua aman aku akan meminta anak buahku untuk membawamu kesana." ucap Vall.
"Baiklah, sekali lagi terimakasih atas bantuannya.." ucap Reina tersenyum walaupun dalam hatinya ia tahu orang dihadapannya tengah berbohong.
"Iya nyonya tak perlu sungkan.. kalau begitu silahkan beristirahat sudah malam.. " ucap Vall.
"Iya Tuan.. " balas Reina. "Dasar pria licik, jangan-jangan kau sendiri anggota BlackStar? kau tak bisa membohongiku.." gumam Reina dalam hati.
Selepas Vall pergi, ia begitu senang karena nampaknya Reina tidak tahu apa-apa mengenai dirinya dan juga BlackStar. "Aku akan sedikit membohongi ibu mertuaku agar rencanaku berjalan mulus. Dan nampaknya ia memang terlalu polos.." gumam Vall dalam hati.
☘☘☘
Dikamarnya Sofia duduk melamun, banyak hal yg membebani pikirannya. "Jika aku memilih Alfi ibu bisa dalam bahaya, tapi jika aku menikahi mafia gila itu hidupku dan keluargaku bisa dalam bahaya juga.. apa yg harus kuperbuat saat ini?" gumamnya.
Satria pun masuk ke dalam kamarnya karena ia sudah mengetuk pintu dan memanggil putrinya tapi tidak ada jawaban.
"Hei Sofia kau belum tidur? ayah kira kau sudah tidur.." ucap Satria.
"Belum, kenapa ayah tidak ketuk pintu dulu?" ucap Sofia terkejut.
"Aku tidak apa-apa ayah, aku mungkin tadi sedang di kamar mandi.." ucap Sofia berkilah.
"Ya ampun putriku kau tidak bisa membohongiku. Aku tahu kau pasti bingung, tapi tenang saja semua akan baik-baik saja. Percayalah pada ayah.." ucap Satria memeluk putrinya.
"Benarkah ayah? aku takut mereka menyakiti ibu .. " ucap Sofia menangis.
"Apa yg kau lihat divideo tersebut.?" tanya Satria.
"Ibu sedang tertidur dan salah seorang anak buahnya menodongkan pistol di kepalanya." jawab Sofia.
"Tidak, bukan itu maksud ayah. Maksudnya sebuah petunjuk mengenai tempat dimana ibumu berada." ucap Satria.
"Hanya sebuah kamar dengan nuansa klasik." ucap Sofia mengingat-ingat.
"Apakah kamar itu cukup besar?" tanya Satria.
"Aku tidak tahu, tapi dilihat dari ranjangnya ukurannya besar ayah.. mungkin sedikit lebih besar dari kamar ini.." ucap Sofia.
"Yasudah, kau makan dulu nanti kita bicara lagi. Kau istirahat saja,." ucap Satria.
"Aku tidak lapar ayah.." ucap Sofia.
"Tapi kau belum makan, kau harus makan walaupun sedikit. Biar ayah suapi saja.." ucap Satria.
__ADS_1
"Tidak usah aku akan makan sendiri.." ucap Sofia.
"Apa mau Alfi yg menyuapimu baru mau makan?" goda Satria pada puterinya.
"Akh Kenan pasti sudah menceritakannya.." ucap Sofia malu.
"Tentu, sekali lihat juga ayah tahu dia menyukaimu. Jadi pilih disuapi ayah atau Alfi?" tanya Satria.
"Aku pilih ayah.. " ucap Sofia.
"Baik kalau begitu buka mulutmu.." ucap Satria menyuapi putrinya.
Dan Sofia pun akhirnya mau makan setelah dipaksa oleh Satria. Setelah makan Sofia diberi obat untuk diminum.
"Minum ini, ini dari Alfi.." ucap Satria memberikan obat.
"Hmm obat?" tanya Sofia bingung.
"Ya salah sendiri memilih seorang dokter, pasti ia akan memberimu obat.." ucap Satria tersenyum.
"Ya lebih baik daripada mafia gila itu.. " balas Sofia langsung menelan obat tersebut.
"Hahaha.. reponmu lucu sekali, yasudah tidurlah. Ayah janji besok kita akan membahasnya dan takkan ada yg disembunyikan." ucap Satria.
"Oke, janji ya.." ucap Sofia.
"Ya, kau istirahatlah.." ucap Satria.
"Oke ayah.." balas Sofia tersenyum.
Sementara Satria pergi dari kamar putrinya. Sofia sudah jauh lebih tenang ketimbang kondisinya tadi. "Ayah memang selalu bisa membuatku tenang dan tersenyum.." gumamnya.
☘☘
Saat Satria masuk ke kamar Kenan pun bertanya pada ayahnya keadaan kakaknya.
"Bagaimana ayah?" tanya Kenan.
"Sudah aman.. awalnya dia memang sangat terguncang tapi dia sudah lebih baik." ucap Satria.
"Syukurlah, aku khawatir melihatnya seperti orang kebingungan di tengah jalanan." ucap Kenan mengingat peristiwa tadi siang.
"Iya kita harus menjaga Sofia dengan baik.. Besok kita akan bicarakan dengannya masalah rencana kita." ucap Satria.
"Baik ayah.. aku lega kakak mau makan dan meminum obatnya." ucap Kenan.
"Sudah malam mari kita beristirahat Kenan." ucap Satria.
"Ya ayah.." ucap Kenan melangkah menuju tempat tidurnya yg bersebelahan dengan tempat tidur Satria.
__ADS_1