Gadis Tangguh

Gadis Tangguh
EP.58


__ADS_3

Tom pun membujuk Gracia dengan berbagai macam penawaran, mulai dari mobil, apartemen, rumah hingga perlengkapan senjata dan lainnya. Namun, Gracia hanya bisa mengajukan 1 permintaan diluar penawaran tom, yakni ia ingin tinggal di apartemen di dekat sana dan tak ingin tinggal di kamp latihan.


"Nona bisakah anda pertimbangkan lagi?" tanya Tom.


"Tidak, aku rasa aku sudah dijebak. Meskipun kalian memindahkan kamarku sekalipun pasti ada kamera lain yg terpasang." ucap Gracia tegas.


"Maaf nona, bagaimana dengan penawaranku tadi? mobil sport mewah? apartemen? atau perlengkapan senjata yg lengkap?" ucap Tom memberikan penawaran.


"No.. kau pikir aku tertarik dengan itu semua? maaf tuan saya sudah memiliki semuanya.. " ucap Gracia menarik ulur.


"Lalu apa yg harus saya lakukan agar anda tidak pergi? kami sangat membutuhkan bantuan anda.." ucap Tom.


"Baiklah, karena aku punya dendam dengan SHIELD aku takkan pergi, tapi ada syaratnya.." ucap Gracia tersenyum.


"Apa itu nona?" tanya Tom.


"Aku akan memilih sendiri tempat dimana aku tinggal. Takkan jauh dari sini.. jadi aksesku mudah untuk menuju kesini.." ucap Gracia.


"Baiklah nona.. terimakasih anda mau membantu kami.." ucap Tom.


"Ya.. " balas Gracia lalu pergi menuju tempat latihan. Tak lupa sebelum itu ia membawa tasnya menuju ke dalam mobil. Ia sangat takut jika tasnya diisi alat penyadap atau kamera lainnya. Gracia pun memeriksa semua barangnya di dalam mobil dan memastikan mereka takkan menaruh sesuatu, kemudian ia menaruhnya di bagasi mobilnya.


Gracia pun kembali ke tempat latihan. Ia mengungkapkan kemarahannya saat latihan. Ia menembak membabi buta sampai menghancurkan target yg telah mereka siapkan.


Dorr..Dorr..Dorr..


Semua orang yg ada disana pun berteriak dan bertepuk tangan takjub.


"Goodjob lady.." ucap mereka.


Namun Gracia hanya tersenyum kecut, membuat mereka heran. Dan muncullah desas-desus tentang kamera pengawas yg ditaruh di dalam kamar Gracia. Hingga mereka paham akan kelicikan ketua mereka Tom.


"Pantas saja wanita itu kesal.."


"Iya mereka sudah keterlaluan, padahal wanita itukan kemampuannya bisa diandalkan.."


"Justru itu, tuan Tom ingin wanita itu ada dalam genggamannya.."


"Yah masuk akal.. tapi sebaiknya kita hati-hati mulai sekarang.."


"Ya kau benar..

__ADS_1


Dan mereka pun menghentikan obrolan ketika ada pengawas yg masuk. Mereka pura-pura mengobrol ringan dan beristirahat.


"Bagaimana dengan hasil latihannya?" tanya Tom pada pengawas.


"Baik, ada satu orang yg cukup menonjol.."


"Siapa dia?" tanya Tom.


"Nona Gracia, dimana anda menemukannya? Ia mampu mengalahkan penembak terhebat kita."


"Ya hanya kebetulan bertemu dan kami langsung mengajaknya bergabung." ucap Tom.


"Jangan lepaskan wanita itu..apalagi sampai kau berbuat macam-macam, sepertinya ia bukan hanya pandai menggunakan pistol.."


"Benarkah?" ucap Tom tak percaya.


"Aku bisa melihat semua gerakannya.."


"Baiklah kalau begitu, kumohon awasi dia dan selalu laporkan padaku.." ucap Tom.


"Siap tuan."


Dan latihan hari ini pun selesai. Gracia yg lelah pun hanya menyapa teman-temannya disini lalu pergi. Karena ia harus mencari tempat tinggal baru. Ia merasa mereka sungguh merepotkan dan ia pun sudah mengantisipasi hal ini. Ia melihat-lihat beberapa gedung sebelumnya hingga ia tahu akan kemana. Kini ia memasuki sebuah hotel dan menginap disana selama latihan. Tom berjanji akan memberikan uang untuk menginap di hotel manapun tapi Gracia mengabaikannya dan tak perduli.


Tak lupa ia mengecek ponselnya yg sudah dipasang alat penyadap. Ia pun menarik nafas panjang dan segera meninggalkannya dalam mobilnya, lalu masuk kembali ke dalam hotel.


Ia pun mengabari Kenan dan Noah lewat email. Setelah mengirim laporan, kini Sofia selalu mengecek tempat dimana ia akan tinggal karena syok atas kejadian hari ini. Setelah memastikan tak ada apapun ia baru berani mandi dan berganti pakaian di kamar hotelnya. "Gara-gara mereka aku sampai se-parno ini.." gumam Sofia.


Setelah membersihkan diri, dia merebahkan tubuhnya dan memesan makanan. Seharian ini ia bahkan tak berani makan ditempat tersebut. Takut kalau diracuni atau diberi obat penenang. Tak lama kemudian, makanan pun diantarkan ke kamarnya. Sofia pun senang bisa makan dengan tenang. Setelah makan pikirannya masih dipenuhi rasa takut bagaimana ia menyelamatkan SHIELD dan semua orang disekelilingnya. Dan setiap malamnya Sofia selalu berfikir segala cara untuk menyelamatkan SHIELD.


Seminggu kemudian, semua ketua pun berkumpul untuk membahas agenda penyerangan SHIELD. Sementara seluruh anggota pun tidak diberitahu. Hingga Sofia tidak mengetahui hal itu.


Dan selama seminggu itu pula, Gracia mencari orang-orang yg sudah muak dengan BlackStar. Dan ternyata ada diantara mereka yg sudah muak dan ingin keluar dari BlackStar. Gracia pun mengumpulkan mereka dan mengajak mereka untuk keluar bersama.


"Gracia apa kau yakin kami bisa keluar?" tanya salah seorang.


"Ya.. mereka itu licik.. keluarga kami jadi alasan kami bertahan."


"Apa kalian akan terus setia pada mereka, aku yg baru beberapa hari saja muak.. kalau kalian tidak merubahnya sendiri kalian tidak akan berubah.." ucap Gracia.


"Aku hanya takut.."

__ADS_1


"Ya aku juga."


"Kami juga, dan kau tahu kan alasannya.."


"Ya kalian takut keluarga kalian terancam bahaya.." ucap Gracia.


"Aku punya solusi untuk itu.. Pertama pindahkan keluarga kalian diam-diam ke tempat yg jauh dari sini.." ucap Gracia.


"Apakah mereka tidak curiga?" tanya seseorang.


"Tidak asalkan kalian bermain rapi.. Bilang saja keluargamu sedang pergi ke kampung halamannya yg jauh. Tapi sebutkan 2 tempat yg berbeda dan tidak mencolok.." ucap Gracia.


"Masih ada kemungkinan berhasil kalau itu.. tapi masalahnya keuangan kami Gracia." ucap mereka.


"Aku akan bantu asalkan kalian jadi sekutuku.. " ucap Gracia.


"Benarkah? kau tidak sedang bercanda bukan?" ucap mereka.


"Ya.. aku akan membuktikannya malam ini.." ucap Gracia.


Dan mereka semua pun sepakat untuk memberontak. Tak lupa Gracia juga mengajak West. West juga tertarik dan sudah muak dengan BlackStar. Tapi masalahnya ia sekarang tak mengetahui rencana penyerangan terhadap SHIELD.


Sehari sebelumnya ia dan tim pemberontak berhasil mencari tahu dan mendapatkan rencana mereka. Gracia pun mengepal geram setelah tahu rencana mereka. Tapi untungnya semua anggota keluarga tim nya sudah dipindahkan berkat bantuan West dan juga orang-orangnya. Hingga mereka bisa bernafas lega dan bertarung sampai mati.


Malam itu mereka pun mengatur strateginya. Dan tim pemberontak pun mendengarkan Gracia. Mereka mengajukan usulan-usulan yg didengar dan diterima oleh Gracia. Mereka pun beruntung Gracia datang dan membantu mereka keluar dari semua ini. Mereka juga berterimakasih pada Gracia.


"Gracia jika misi ini berhasil, kami berhutang banyak padamu.."


"Tidak apa, aku tahu masalah kalian kita juga sudah seperti keluarga." balas Gracia.


"Kalaupun aku mati, tapi aku tenang karena anak dan istriku selamat.. "


"Sudahlah, jangan menyerah sebelum bertarung.. " ucap Gracia.


"Tapi bolehkah kami bertanya?" ucap salah seorang.


"Apa kau benar-benar Gracia dan bukan seseorang yg menyamar..?" tanyanya.


Gracia pun tersentak dan sedetik kemudian tersenyum.


"Kalian benar, tapi aku tulus membantu kalian.. nanti saat misi ini selesai aku akan memberitahukannya pada kalian.." ucap Gracia.

__ADS_1


"Baiklah, tapi kami tetap mempercayaimu Gracia." ucap mereka.


"Ya dan mari kita berjuang bersama.." ucap Gracia sebelum mereka membubarkan diri.


__ADS_2