
Setelah selesai meluruskan segalanya, mereka berdua memilih untuk memesan makanan dan dibawa pulang. Mereka pun keluar dari tempat tersebut karena terlalu berbahaya jika berlama-lama ada di luar. Mereka pun langsung keluar setelah membayar makanan dan melajukan mobilnya menuju apartemen.
"Sofia aku lega bisa mengutarakannya hari ini.." ucap Alfi memegang tangan Sofia di dalam mobil.
"Makanya dicoba dulu baru tahu hasilnya.. " ucap Sofia.
"Iya, nanti aku akan jujur pada ayahmu.." balas Alfi.
"Lalu Kenan?" tanya Sofia.
"Dia sudah tahu, bahkan dia yg mendorongku untuk menyatakannya padamu.." balas Alfi.
"Dasar kau ini.. ehh tunggu apa kau melihat mobil hitam dibelakang? sepertinya mengikuti dari lampu merah.." ucap Sofia.
"Iya aku juga tahu Sofia, kita akan berputar-putar sebentar.." ucap Alfi.
"Baiklah.. aku juga akan bersiaga.. " ucap Sofia.
"Kau ini memang tidak bisa duduk manis dan menunggu.. " ucap Alfi.
"Tentu saja kau kan sudah mengenalku.." balas Sofia sembari memantau situasi, ia juga sudah menyiapkan pistol dibalik bajunya.
Mereka berdua pun berputar-putar untuk mengelabui mereka. Tapi ternyata mereka dihadang dari depan oleh anak buah Vall.
"Oh mereka benar-benar menantangku.." ucap Sofia.
"Al kita akan putar balik begitu aku bertindak.." ucap Sofia.
"Apa yg akan kau lakukan?" tanya Alfi, tapi Sofia langsung bertindak dan menembak ban mobil yg ada dibelakangnya.
Dorr..Dorrr..Dorr.Doorr..
"Sekarang Al.." teriak Sofia.
Dan Alfi pun memutar balik dengan cepat. Lalu Sofia kembali menembak mobil yg ada di belakangnya.
Dorr...Doorrr..
"Selesai sudah.." ucap Sofia.
"Sofia itu berbahaya.." ucap Alfi.
"Aku cukup ahli menembak Al.." ucap Sofia.
"Tapi kalau ada yg tertembak bagaimana?" ucap Alfi.
"Tapi tidak kan???" jawab Sofia.
"Ya kita aman sekarang.. aku akan segera menuju apartemen.." balas Alfi.
Alfi pun melajukan mobilnya dengan cepat, tapi lagi dan lagi mereka menghadang mobil yg ditumpangi oleh Sofia dan Alfi.
"******.." umpat Alfi.
"Sofia kita harus melawan.. apa kau siap?" tanya Alfi.
"Tentu saja.." ucap Sofia.
Mereka pun membuka pintu mobil dan melawan orang-orang BlackStar. Orang-orang BlackStar pun melawan kedua orang tersebut dengan tujuan membawa Sofia ke hadapan bos mereka.
Pertarungan pun berjalan cukup sengit karena mereka berdua dikeroyok oleh sekelompok orang berjumlah 10 orang. Tapi mereka berdua mampu menumbangkan semuanya.
__ADS_1
Bughh..Bughhh..Bughh..
Bughhh..Bughhh..
"Sofia kau tidak apa-apa?" tanya Alfi.
"Oh ayolah, mereka ini bukan tandinganku jangan khawatir.." balas Sofia.
"Kau tak bertanya keadaanku?" tanya Alfi.
"Aku yakin kau baik-baik saja dan tak selemah mereka.." balas Sofia.
"Baiklah, ayo kita pulang.. " ucap Alfi menggandeng tangan Sofia.
"Oke.." balas Sofia.
Tapi seseorang sedang panas melihat pemandangan tersebut. Karena tak tahan ia keluar dari dalam mobil dan menyerang Alfi dari belakang. Beruntung Alfi menghindar dan melepaskan tangannya Sofia.
"Kau lagi kau lagi.. bosan aku melihat wajahmu.." ucap Sofia.
"Dengar sayang kita sudah bertunangan.. ayo ikut denganku.." ucap Vall mengulurkan tangan.
Tapi Alfi pun panas mendengar kata "sayang" dari Vall untuk Sofia. Lantas Alfi menendang tangan Vall sebelum menyentuh Sofia.
Duakkk..
"Akhh.. ******..!" umpat Vall kesakitan.
"Ayo Sofia kita pergi.." ajak Alfi langsung menarik tangan Sofia.
Dan mereka berdua pun berusaha kabur tapi anak buah Vall muncul entah darimana asalnya.
"Kalian semua sudah memancing amarahku.." ucap Sofia geram.
Dorrr..Dorr..Dorr..
Alfi pun mengambil kesempatan tersebut untuk menuju ke arah mobil. Setelah ia menghidupkannya ia pun menabrak anak buah Vall dan menuju Sofia.
"Sofia cepat naik.." ucap Alfi.
Dengan segera Sofia naik dan tetap mengarahkan senjatanya pada anak buah Vall. Hingga terakhir Sofia menembak lengan Vall karena kesal melihat wajahnya.
Dorr..Dorr..Dorr..
Dorr..Dor..
"Akh.. Sial apa yg kalian lakukan? cepat kejar..!" perintah Vall.
Sebuah mobil pun tiba yg tak lain adalah William. Ia segera turun dan menghampiri bosnya.
"Tuan anda tertembak.. ayo bangun kita ke rumah sakit.." ucap William seraya membantu tuannya berdiri.
"Tidak, aku tidak apa-apa.. cepat kejar Sofia.. Jangan biarkan baj*****n itu bersama Sofiaku.." ucap Vall.
William pun menurutinya, dan membawa Vall sesuai arahan anak buahnya yg mengikuti mobil Sofia dan Alfi.
Sementara Sofia dan Alfi bingung kemana arah dan tujuan mereka karena mereka sudah berada jauh dari apartemen Kenan.
"Kenapa tidak terpikirkan olehku kita meminta bantuan tim SHIELD.." ucap Sofia.
"Kita terlalu terbawa suasana.." ucap Alfi sembari fokus menyetir.
__ADS_1
Dan sebuah tembakan tepat mengenai ban mobil mereka setelah Sofia meminta bantuan.
Dorr..Dorr..
Ckiiiiitt..
Mobil mereka pun oleng dan menabrak pembatas jalan yg sepi. Beruntung nyawa mereka selamat. Vall bahkan geram atas tindakan anak buahnya yg bodoh karena Sofia bisa saja celaka.
Alfi pun pingsan, sementara Sofia masih dalam keadaan sadar.
"Al bangun.. Al.. ayo kita keluar dan lari.." ucap Sofia tapi Alfi tak kunjung bangun juga.
Sementara orang-orang Vall sudah berada di samping mobil Sofia berusaha membuka pintu dan mengeluarkan Sofia.
"Nona ayo ikut kami.."
"Tidak..!" ucap Sofia berontak dan menghajar beberapa dari mereka.
Tapi usaha Sofia sia-sia saat seseorang memukul leher belakangnya hingga pingsan. Dan Sofia pun dibawa kabur oleh Vall sementara Alfi ditinggal begitu saja dipinggir jalan.
Satu jam kemudian Sofia membuka mata dan sudah berada di sebuah kamar hotel.
"Kau sudah bangun.." ucap Vall yg tengah duduk di sebuah sofa tak jauh dari tempat tidur.
"Ukhh.. apalagi rencanamu kali ini?" tanya Sofia.
"Apalagi kalau bukan memilikimu.." ucap Vall mendekat.
Sofia pun meraih pistol yg masih ada di balik bajunya dan mengarahkannya pada Vall.
"Oh.. kau masih saja tetap keras kepala.. mari kita lihat apa kau akan terus keras kepala setelah melihat video ini." ucap Vall menghidupkan sebuah layar televisi.
Di layar tersebut muncullah wajah Reina yg sedang diikat dan dijadikan tawanan.
"Apa yg kau lakukan pada ibuku..?" ucap Sofia kesal.
"Apalagi kalau bukan untuk meminta restu darinya.." ucap Vall.
"Dasar Psyco..! " teriak Sofia sembari masih mengarahkan pistolnya.
"Letakkan pistol itu Sofia jika kau tak ingin ibumu kusakiti.." ucap Vall.
"Jangan bercanda.. kau pikir aku percaya pada bualanmu?" balas Sofia.
"Baiklah jika kau tak percaya, aku akan menyuruh anak buahku melakukan sesuatu.. " ucap Vall memberi aba-aba pada William.
Dan William pun menelpon anak buahnya untuk menodongkan postolnya di kepala Reina. Dengan segera gambar pun muncul di depan mata Sofia melalui sebuah layar.
"Kalau kau masih menodongkan pistol tersebut, anak buahku juga takkan menurunkan pistolnya.." balas Vall.
"Dasar mafia gila.." ucap Sofia menitihkan air mata, dan dengan terpaksa melempar pistolnya ke lantai.
"Bagus Sofia, kini yg harus kau lakukan adalah menerimaku dengan begitu ibumu akan aman.. Oh iya sampaikan pada ayahmu permintaan maaf dariku, dan juga aku akan datang melamarmu.." ucap Vall.
Sofia pun hanya diam dan menitihkan air mata. Baru saja tadi ia bahagia dengan Alfi tapi kini disudutkan dengan pilihan yg sulit.
"Kalau kau diam, tandanya kau setuju.. baiklah kau boleh pulang dan memikirkannya.. Aku tunggu jawaban darimu 3 hari lagi.. dan 3 hari lagi aku akan datang meminta jawabanmu.." ucap Vall.
"Baiklah.. " ucap Sofia pergi meninggalkan Vall, tak lupa ia juga mengambil kembali senjatanya di lantai membuat mereka semua siaga.
"Aku baru memegangnya saja kalian sudah takut.." ucap Sofia sebelum pergi.
__ADS_1
Setelah itu baik Vall maupun William terlihat senang. "Akhirnya hari itu akan datang juga.. hari dimana aku melamar dan menikahi Sofia.." gumamnya sembari tersenyum lebar.
Sementara William garuk-garuk kepala melihat tingkah bucin Bossnya yg kadang kurang diterima dengan akal sehatnya. "Tuan benar-benar tergila-gila pada gadis itu.." umpatnya dalam hati.