
Alex dan ibunya Nathalie pun dipisahkan oleh petugas keamanan karena membuat keributan di cafe tersebut. Jangan tanyakan tampilan Alex karena kini ia sudah berantakan dan babak belur di hajar ibu-ibu yg tengah emosi.
Akhirnya mereka memutuskan untuk membicarakannya lagi nanti dengan kepala dingin. Alex pun semakin lama semakin merasa bersalah tapi ia juga tak bisa menikahi Nathalie tanpa ada rasa cinta. Dan terjawab sudah semua mimpi-mimpi buruk Alex selama ini yg membuatnya sedikit depresi. Masalah demi masalah yg muncul yg selalu ia tahan itu menumpuk dan membuatnya depresi hingga ia membutuhkan psikiater. Mulai dari orangtuanya yg memaksakan perjodohan, patah hatinya pada Sofia, hingga ia membuat seorang wanita hamil. Semuanya menumpuk dan tak terbendung lagi.
Alex pun perasanya ingin meledak, hingga ia memutuskan untuk konsultasi ke psikiater terdekat. Ia berkunsultasi dan mengonsumsi obat-obatan yg diresepkan dokter. Perlahan hatinya mulai terbuka untuk menerima Nathalie. Ia pun membicarakannya pada Nathalie dan ibunya. Mereka sepakat untuk menikah sebelum Nathalie melahirkan. Alex pun harus kembali ke negaranya untuk meminta ijin orangtuanya.
Beberapa minggu setelahnya Alex menghilang tanpa kabar. Semua nomor teleponnya pun tidak bisa dihubungi. Nathalie pun mulai merasa resah, ia merasa Alex sudah membohonginya. Ia tak tahu harus berbuat apa, dan menghubungi Sofia untuk menanyakan tentang Alex. Mereka pun bertemu di sebuah cafe.
"Jadi ada apa Nathalie? kau tidak pernah menghubungiku sebelumnya.." ucap Sofia.
"Aku minta maaf untuk sebelumnya, aku membuat banyak masalah denganmu.. tapi aku ingin meminta bantuan yg kau tawarkan padaku.." ucap Nathalie.
"Katakanlah.. apa ini mengenai Alex?" tanya Sofia.
"Iya, kau benar. Dia menghilang, padahal ia sudah berjanji akan menikahiku sebelum anak ini lahir.." ucap Nathalie yg tanpa sadar menangis.
"Jadi dia tetap menjadi pria bre****k.. Baiklah, kau pulanglah nanti aku akan mengabarimu.." ucap Sofia.
"Kau akan membantuku..?" tanya Nathalie.
"Ya, sebagai sesama wanita aku akan membantumu.." ucap Sofia.
"Terimakasih Sofia aku akan selalu mengingat kebaikanmu.." ucap Nathalie.
"Jangan terlalu cepat berterimakasih, aku bahkan belum melakukan apa-apa.." ucap Sofia.
"Tapi kau bersedia membantuku.. itu membuatku merasa bersalah atas masa lalu.." ucap Nathalie.
"Sudahlah, aku sudah memaafkanmu.. sekarang kau pulang dan beristirahat, tunggu kabar dariku.." ucap Sofia.
"Baiklah.." ucap Nathalie.
Mereka pun berpisah di cafe tersebut, sementara Sofia menghubungi anak buahnya untuk mencaritahu dimana keberadaan Alex. Tak butuh waktu lama, 1 hari kemudian Sofia sudah mendapatkan kabar.
"Apa?? jadi pria itu memang benar-benar baj***an.." ucap Sofia kesal.
"Benar nona, itu info yg kami peroleh.." ucap anak buah Sofia.
"Terus awasi pria itu.." ucap Sofia.
"Siap nona.."
Sofia pun mulai merasa gerah, sebagai seorang wanita yg sama-sama sedang mengandung ia pun tak terima atas perlakuan Alex pada Nathalie. Alex sudah memberinya harapan palsu, bahkan kini Alex tengah merencanakan pertunangan dengan wanita lain. Sofia yg kesal pun tengah merencanakan sesuatu, ia sampai meminta ijin pada Alfi dan berdebat. Tapi akhirnya Alfi luluh dan mengijinkannya dengan catatan, harus ada dokter yg ikut bersamanya. Bukan hal sulit bagi keduanya, apalagi Sofia memiliki semua fasilitas yg dibutuhkan.
Setelah mendapatkan ijin, Sofia pun menghubungi Nathalie. Ia langsung mengunjungi apartemen Nathalie.
"Kau tak seharusnya kemari.." ucap Nathalie.
"Ini darurat, kau kemasi barang-barangmu dan ikut denganku.." ucap Sofia.
"Kita mau kemana?" tanya Nathalie.
"Kita ke Inggris, ke tempat dimana Alex berada.." ucap Sofia.
__ADS_1
"Sekarang? aku bahkan belum membeli tiket.." ucap Nathalie.
"Kau punya pasport kan?" tanya Sofia.
"Ya aku punya.." ucap Nathalie.
"Bawa saja itu, semua sudah kusiapkan.." ucap Sofia.
"Baiklah, tunggu sebentar.." ucap Nathalie.
Nathalie pun berkemas, ia membawa barang-barang kebutuhannya ke dalam koper. Lalu mengikuti Sofia, tak lupa ia menelpon ibunya untuk mengabari keberangkatannya. Ibunya cukup terkejut, tapi ia mengijinkannya demi masa depan putrinya.
"Sofia, kita mau kemana?" tanya Nathalie.
"Ke bandara, tapi letaknya tak jauh dari kantorku.." ucap Sofia.
"Kurasa bandara bukan ke arah sini.." ucap Nathalie bingung dan Sofia hanya diam.
Setelah tiba, Nathalie dibuat melongo karena mereka harus menaiki pesawat pribadi milik Sofia.
"Kita benar naik ini? berapa harga tiketnya?" tanya Nathalie.
"Sudah kubilang, ini urusanku.. kau duduk saja dan selesaikan masalahmu.." ucap Sofia.
"Tidak, pesawat seperti ini pasti mahal, aku tak enak padamu.." ucap Nathalie.
"Ini milik keluargaku, kau tenang saja karena aku sudah meminjamnya.." ucap Sofia.
"Ke-keluargamu.." ucap Nathalie terkejut, kini ia tahu Sofia berasal dari keluarga super kaya raya hingga memiliki pesawat pribadi.
Mereka pun akhirnya diam dan menikmati perjalanannya. Berjam-jam dipesawat dan bahkan ada dokter yg bersiaga, membuat Nathalie kagum pada Sofia. Setiap beberapa jam kondisi mereka dicek, terutama Nathalie yg kandungannya sudah besar.
Setelah menempuh perjalanan jauh, mereka tiba di negara tersebut. Sofia langsung menghubungi anak buahnya untuk melacak keberadaan Alex. Kemudian Sofia langsung membawa Nathalie untuk ke hotel dan beristirahat.
Keesokan harinya, Sofia berniat mempertemukan Nathalie dengan Alex bagaimanapun caranya. Dengan membawa banyak anak buahnya, Sofia pergi ke suatu tempat bersama Nathalie. Ia sudah menunggu orang-orangnya untuk membawa Alex padanya.
"Sebentar lagi Alex akan kemari.." ucap Sofia.
"Benarkah? semudah itu.." ucap Nathalie.
"Iya jika dia masih sayang nyawa, pasti dia akan kemari.." ucap Sofia tersenyum.
"Benarkah?" ucap Nathalie bingung.
Tak lama para pengawal pun datang bersama Alex. Sofia pun tersenyum karena Alex baik-baik saja, dan terlihat ia juga sudah menyiapkan pengawal.
"Baguslah, jika kau menurut maka semuanya akan selesai tanpa kekerasan.." ucap Sofia.
"Ada apalagi ini Sofia?" tanya Alex.
"Yah, sebagai laki-laki sejati kau harus jujur tentang apa yg terjadi.." ucap Sofia.
"Apa yg terjadi padamu? kenapa kau tidak bisa dihubungi?" tanya Nathalie yg maju ke depan.
__ADS_1
Sofia dan anak buahnya pun mundur, membiarkan kedua orang tersebut menyelesaikan masalahnya.
"Maaf aku tak bisa menepati janjiku.." ucap Alex.
"Maksudmu?" tanya Nathalie.
"Aku tak bisa menikahimu.. orang tuaku tak mengijinkanku menikahimu.." ucap Alex.
"Apaa?? lalu bagaimana dengan anak ini?" tanya Nathalie.
"Aku akan tetap bertanggungjawab.." ucap Alex.
Plaakkk..plaaakkk.. Nathalie yg kesal menampar kedua pipi Alex.
"Kau pikir semua bisa selesai dengan uang? kau pikir aku tak mampu mencari nafkah? kau lupa aku seorang dokter?" tanya Nathalie kesal.
"Maafkan aku.." ucap Alex.
"Jangan pernah menemui anak ini, jika kau tak menginginkannya. Lebih baik dia hidup tanpa ayah.." ucap Nathalie.
"Tapi aku bersedia bertanggungjawab secara materi.." ucap Alex.
"Sofia ayo kita pulang, tak ada gunanya berbicara dengan lelaki bre****k ini.." ucap Nathalie.
"Baiklah jika menurutmu ini cukup.." ucap Sofia lalu pergi bersama anak buahnya.
"Iya aku sudah menyerah.. aku bukan pengemis." ucap Nathalie.
"Ya mari kita pulang.." ucap Sofia.
"Dan kau.. aku tak tahu ternyata memiliki sisi menyedihkan begini.." ucap Sofia pada Alex.
"Tunggu Nathalie.." ucap Alex mengejar.
"Stop tuan.. anda dilarang mendekati kedua nona ini.." ucap pengawal Sofia.
"Turuti saja jika tak mau mati.." ucap Sofia pada Alex dengan tatapan tajam.
Sofia pun meninggalkan Alex dan langsung menuju hotel. Ia melihat Nathalie sangat kecewa yg sedang mengemasi barangnya.
"Apa kau yakin pada keputusanmu?" tanya Sofia.
"Iya Sofia, aku sudah tak mampu lagi bertahan.." ucap Nathalie.
"Oke.. hari ini kita pulang.. dan sebenarnya Alex akan bertunangan dengan wanita lain makanya ia tidak menghubungimu, entah keluarganya yg memaksanya atau keinginan dirinya sendiri aku tak tahu.." ucap Sofia.
"Terimakasih Sofia atas bantuanmu, aku akan selalu mengingatnya. Dan jangan bicarakan pria bre***k itu lagi.." ucap Nathalie menangis.
"Kau baik-baik saja?" tanya Sofia.
"Ya aku baik-baik saja.. kita bisa pulang hari ini kan?" tanya Nathalie.
"Tentu," ucap Sofia.
__ADS_1
Mereka pun pulang hari itu juga setelah menjalani pemeriksaan dokter. Sofia nampak tak tega pada Nathalie, tapi ia tak punya hak untuk ikut campur masalahnya.