
"Sofiaaa...!" teriak Vall lagi.
Dengan menyeret kakinya ia menengok ke luar jendela. Ia melihat Sofia tengah dikepung anak buahnya. Hingga tak lama kemudian Sofia kembali tertangkap karena kehabisan tenaga. Kini Sofia pingsan dan sudah dibawa ke ruangan khusus.
Sementara Vall sudah diobati luka-lukanya. Kini William menghampiri atasannya tersebut yg sedang melamun.
"Tuan?? apa anda sudah yakin pada keputusan anda?" tanya William.
"Sudah, tapi rasanya sulit Will. Gadis itu sudah membenciku.." ucap Vall.
"Ya, faktanya kita sudah melenyapkan kedua orang tuanya.. dan hampir membunuh saudaranya.. Dan anda bahkan.." ucap William terhenti.
"Cukup Will aku tahu semua dosa-dosaku.. bahkan jika ayahnya bangkit lagi dari kuburnya pun ia pasti akan memukulku sampai mati.." ucap Vall frustasi.
"Lalu bagaimana tuan? nona Sofia sendiri mampu melukai anda sampai seperti ini.." tanya William.
"Itu karena aku.. khilaf.." ucap Vall.
"Apaa.?? tuan jangan merendahkan harga diri anda.." ucap William tak percaya.
"Mau bagaimana lagi, dia ada dihadapanku dengan wajah polosnya.. aku tak tahan dan aku tak ingin jauh darinya Will.." ucap Vall.
"Ya ampun tuan sekarang jatuh cinta terlalu dalam pada wanita yg bahkan membencinya kini.." gumam Will dalam hati.
"Lalu apa rencana anda tuan?" tanya William.
"Aku akan menikahinya dengan cara apapaun Will.. kau ingat kan cincin yg ia kenakan saat datang? aku tak ingin ia menikah dengan siapapun.." ucap Vall.
"Lalu dengan nyonya? pasti ia takkan merestuimu.." ucap William.
"Ibu, aku akan meyakinkannya dan mengacaukan semua rencananya agar Sofia ada digenggamanku.." ucap Vall.
"Baiklah tuan, jika anda yakin aku akan mendukungmu.." ucap William.
"Terimakasih Will, kembalilah aku ingin sendiri.." ucap Vall.
Lalu William pun pergi meninggalkan Vall sendirian.
"Aku harus memiliki Sofia apapun caranya.. Bagaimana aku mengendalikannya? ia bahkan melawanku sampai seperti ini?" gumam Vall bingung menghadapi sikap Sofia yg tangguh tak seperti wanita pada umumnya.
Vall pun mulai berbicara sendiri di ruangannya.
"Kalau aku beri obat perangsang? ahh tidak aku seperti tak punya harga diri dan bisa langsung mati saat terbangun.."
"Mungkin Sofia menyukai cincin yg lebih bagus dan mahal dari yg dipakai kemarin..? siapa kira-kira pria yg menjadi kekasihnya? aku harus membeli yg lebih mahal dari miliknya.." gumam Vall.
Ia pun menyuruh William mencari cincin berlian paling bagus di negara tersebut. Pokoknya harus lebih bagus dari milik Sofia kemarin.
__ADS_1
"Will carikan pesananku, ingat harus lebih mahal dan lebih bagus dari cincin murahan itu..!" pinta Vall.
"Baik tuan.." ucap Will.
"Tuan benar-benar cinta pada gadis itu, tapi jika nyonya tahu bagaimana ya? aku bisa mati jika terus melindunginya.." gumam Will dalam hati.
William pun mencari seluruh toko perhiasan di negeri tersebut. Ia mencari yg paling mahal dan lebih indah dari milik Sofia sebelumnya. Tapi sayangnya ia tak tahu ukuran jari tangan Sofia. Ia pun menghubungi anak buahnya untuk mengeceknya langsung.
Saat Sofia tertidur, mereka pun mengukurnya perlahan. Dan menemukan ukurannya. Setelah mendapatkan ukuran yg pas William pun memesannya pada desainer perhiasan terkenal disana.
"Akhirnya pekerjaan merepotkan ini selesai, tinggal menunggu cincin tersebut dibuat, setelah itu diberikan pada tuan.. " ucap William.
Vall bahkan nampak menyiapkan makan malam spesial untuk Sofia. Ia memerintahkan anak buahnya untuk mendekorasi tempat tersebut.
☘☘☘
Sementara Sofia, saat terbangun ia kembali berada di ruangan berbeda. Ia yakin sekali kalau ia kembali tertangkap. "Akhh cobaan apalagi ini miskah??" gumam Sofia dalam hati.
Ia pun melihat tangannya yang kembali diikat dengan borgol. "Entah mengapa aku menjadi seperti tawanan.." gumam Sofia melihat borgol di lengannya.
Bahkan untuk makan pun Sofia masih dengan tangan diborgol walaupun sudah lebih direnggangkan agar ia mudah bergerak.
Siang itu Sofia pun tengah menikmati makan siangnya, walaupun dengan tangan diikat ia mencoba makan sebisanya. Tiba-tiba pintunya pun terbuka, ia tetap melanjutkan makannya tanpa menoleh karena pikirnya itu hanya penjaga disana.
"Hallo Sofia bagaimana kabarmu?" tanya Vall.
Sofia tetap diam dan tak menjawabnya. Ia tetap mengunyah makanan sebisanya.
Sofia tetap diam, dan tak bergeming. Vall pun mencoba menyuapinya.
"Sofia buka mulutmu.. kau harus makan dan sehat agar kita bisa segera menikah.." ucap Vall.
"Jangan bermimpi!!" ucap Sofia dengan tatapan tajam.
"Sofia kau tidak punya pilihan selain itu karena nyawa keluargamu ada dalam genggamanku jika menolak.." ucap Vall tersenyum.
"Sebelum kau melakukannya aku akan menghabisi kalian semua.." balas Sofia.
"Oh bagaimana caranya?? tanganmu saja diikat begini.." ucap Vall.
"Arggghhhhh.. "teriak Sofia lalu menendang Vall hingga terjatuh.
"Sofia kau harus memberiku kesempatan.." ucap Vall bangun.
"Tidak akan..!" balas Sofia.
"Perawat, cepat suntik Sofia.." ucap Vall.
__ADS_1
Dengan segera beberapa perawat dan juga penjaga memegangi tubuh Sofia yg meronta-ronta saat akan disuntik obat tidur. Tapi usahanya percuma karena tenaganya kalah oleh orang-orang yg memegangi tubuhnya. Hingga setelah jarum suntik menembus kulitnya, Sofia mulai tenang. Ia merasa mengantuk dan tak bisa menahannya hingga ia langsung tertidur.
Semua orang pun telah pergi saat Sofia tertidur kecuali Vall. Lelaki itu masih menatap Sofia yg tengah tertidur. Diciumnya kening Sofia dan dibelainya rambutnya.
"Sayang kau harus jadi milikku.. harus.." gumam Vall lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Sebenarnya Vall tak tega memborgol tangan Sofia tapi ia juga tak ingin Sofia pergi meninggalkannya. "Maaf Sofia kau harus terus berada disisiku.." gumam Vall dalam hati.
☘☘☘
Kenan dan rombongannya telah menjauh dari pulau tersebut. Kini ia juga sudah mendapatkan signal dan bisa berkomunikasi dengan Kakeknya. Doni pun senang anak dan menantunya masih hidup. Ia tersenyum menatap ponselnya saat melihat Kenan mengirimkan fotonya bersama ayah dan ibunya.
Tapi ada berita buruk dibaliknya, Sofia kini diculik oleh BlackStar. Doni pun panik bukan main karena Sofia hanya sendirian dan pasti sulit untuk kabur. Ia langsung menghubungi orang-orangnya untuk mengirimkan bantuan pada Kenan.
"Ayah.. kakek sudah mengirim bantuan, kini mereka tengah bersiaga di pelabuhan.." ucap Kenan.
"Kerja bagus Kenan,.." ucap Satria.
"Ya ayah, kini kita tinggal menunggu informasi tentang negara Y.. " ucap Kenan.
Setelah mendapatkan info yg diperlukan, Kenan pun membacanya dengan seksama. Satria pun ikut membacanya agar tau situasi di negara tersebut.
Negara Y, negara yg cukup aman dan damai. Dan BlackStar tak ada di negara tersebut sebelumnya. Artinya BlackStar kurang berpengaruh disana dan mereka juga pasti tidak banyak anggotanya disana. Kenan pun mulai menggali informasi dari tim SHIELD yg sedang mencaritahu mengenai kehadiran BlackStar di negara itu.
Menurut informasi, memang ada helikopter yg mesuk ke negara tersebut tapi helikopter tersebut langsung menghilang tanpa jejak.
"Sial.. ada yg tak beres dengan negara tersebut.." ucap Kenan.
"Mereka sedang membuat kita berpikir kalau mereka tak ada di negara tersebut.. aku sudah paham polanya.." ucap Satria.
"Kenan, kita akan menyamar sementara.. jika mereka menganggapku sudah mati, mari kita buat seolah aku memang mati.. aku dan ibumu butuh identitas baru.." ucap Satria.
"Baik ayah, segera diproses.." ucap Kenan.
"Tapi sebaiknya ibumu tidak terlibat lebih jauh, kita pulangkan saja ia ke tempat yg aman.." ucap Satria.
"Aku tahu ayah, kita akan mengirim ibu kemana.." ucap Kenan.
"Kalian mau mengirimku kemana?" tanya Reina.
"Ibu.. dengarkan ayah dahulu.." ucap Kenan.
Dan Satria pun menjelaskan kondisi yg sebenarnya agar Reina percaya dan mengikutinya.
"Sayang kau harus berada di tempat yg aman, ini adalah tugasku dan juga Kenan.. " ucap Satria.
"Ya bu, mereka pasti akan mengincar ibu jika kita ketahuan.." ucap Kenan.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mengikuti rencana kalian.. tapi jangan sampai kalian MATI..! MENGERTI..!" ucap Reina.
"Siap nyonya.." balas Kenan dan Satria tersenyum.