
Pagi hari pun tiba, dari malam hingga pagi penjaga pun tak ada yg meninggalkan tempat tersebut membuat sofia mendengus kesal. Mereka semalam hanya tidur berhantian dan ada yg pura-pura tidur untuk memantau situasi.
"Guys.. nampaknya akan sulit.. belum lagi kita kalah jumlah dan minim senjata.." ucap Sofia pelan.
Mereka hanya mengangguk mengerti. Mereka tak mau mati komyol dihadapan suku menyeramkan tersebut. Bahkan tak rela jika tubuh mereka jadi santapan suku tersebut. Membayangkannya saja mereka sudah merinding.
Tiba-tiba seseorang masuk dan membawa Sofia. Sofia pun menurut karena ingin melihat apa yg mereka mau. Dia digiring disebuah rumah dan dilepas ikatannya.
"Apa yg ingin kaliam lakukan?" tanya Sofia.
"Sudah ikuti saja.." ucap salah seorang.
Sofia pun ditinggalkan dan muncullah para gadis dari suku tersebut mengajak Sofia mandi. Sofia pun mengerutkan dahi dan mengikuti mereka. Mata Sofia menjelajah ke segala arah memperhatikan kemana ia akan dibawa. Nampak sebuah pemandian yg ditaburi oleh bunga.
"Maksudnya apa ini?" tanya Sofia pada mereka.
"Silahkan nona mandi disini.." ucap mereka.
Sofia pun menurut saja, sambil memikirkan apa yg akan terjadi. Apalagi rekan-rekannya masih terikat. "Apa lagi maunya orang-orang ini.." gumam Sofia menenggelamkan kepalanya ke dalam air cukup lama sembari berfikir. Sementara para gadis agak ketakutan karena cukup lama Sofia menenggelamkan diri. Dan saat gadis-gadis itu mendekat Sofia pun naik ke permukaan dan menyelesaikan mandinya.
Tubuhnya berasa lebih segar saat ini, semoga saja pikirannya juga lebih jernih dalam bertindak. Sofia pun langsung dibawa ke sebuah kamar dan diberikan baju ganti. Sofia menurut dan mengganti bajunya. Ia merasa ada yg berlebihan pada bajunya dan bertanya pada gadis-gadis itu.
"Kenapa bajukh seperti ini? sangat berbeda dari yg kalian kenakan?" tanya Sofia menatap tajam.
"Maaf nona, kami hanya menjalankan perintah.." ucap mereka.
Lagi-lagi Sofia mendengus kesal. "Aku ini mau diapakan?" gumamnya sembari berpikir.
Ia mengingat-ingat semalam ada yg datang ke gubuk mereka dan memuji kalau dia cantik. Seketika otak Sofia pun traveling. "Tidak..tidak semoga dugaanku salah.. Masa aku dinikahkan dengan kepala desa mereka..?" gumamnya membayangkan harus menikah secara paksa dan tinggal disini selamanya.
"Tidaakkkkkk!!!" teriak Sofia.
Para gadis tersebut pun menghentikan kegiatannya dan melihat wajah Sofia. Mereka pun saling pandang dan berbisik.
"Apa gadis ini gila?"
"Aku tak tahu, tiba-tiba ia berteriak tidak jelas.."
"Aku tahu ia cantik dan tuan kita tertarik tapi, apa ia yakin gadis ini normal?" ucap mereka berbisik-bisik.
"Sial.. berani sekali mereka mengataiku gila dan tidak normal.. Jelas-jelas tuan merekalah yg gila dan tidak normal memaksa menikahi gadis yg baru ditemui.. !" umpat Sofia dalam hati.
Sofia merasa kesal dengan niatan mereka. Dengan cara apapun Sofia harus pergi dari sini. Ia tak mau menikah secara paksa dengan orang tak dikenal dan tinggal selamanya di pulau tak jelas ini. Ia pun mengatur siasat agar bisa kabur.
__ADS_1
Saat para gadis-gadis itu pergi, Sofia mencoba kabur lewat jendela. Walaupun sulit dengan pakaian yg merepotkan ini. Setelah berhasil keluar ia pun merayap pelan-pelan menuju gubuk tempat ia dan rekannya ditahan.
Dengan mengendap-endap Sofia berhasil berada di dekat gubuknya. Lalu ia masuk dan memukul penjaga disana sampai pingsan.
BUGHHH..Bughhh..! Brukk..
"Ssttt ayo kita kabur.." ucap Sofia lalu membebaskan rekan-rekannya.
Setelah itu mereka pun mengikat penjaga yg pingsan dan bertanya kenapa Sofia memakai pakaian aneh.
"Nona, ada apa dengan pakaianmu?" tanya kapt.
"Ceritanya panjang, tapi aku sepertinya akan dinikahkan dengan kepala suku atau siapalah itu.. " jawab Sofia.
Kini wajah rekannya pun menahan tawa melihat Sofia.
"Guys.. ini tidak lucu tau, kalau anak kalian yg dinikahkan paksa bagaimana?" tanya Sofia membuat mereka terdiam.
"Maaf nona.." ucap mereka.
Kini mereka mengendap-endap keluar dari sana. Namun, karena Sofia hilang mereka pun mencarinya dan melihatnya hendak kabur bersama rekan-rekannya.
"Tangkap gadis itu..!" teriak mereka membuat semua mata mengarah pada Sofia.
"Apa mau kalian? kalian pikir aku takut?" teriak Sofia.
Tanpa basa-basi Sofia menghajar mereka yg mendekat walaupun dengan tangan kosong. Begitu juga dengan rekan-rekannya, mereka takkan tinggal diam melihat Sofia melawan seorang diri. Namun, perlawanan mereka tak berlangsung lama karena mereka terpojok dan kalah jumlah. Bahkan rekannya sudah diarahkan pada ujung tombak mereka.
"Baiklah.. jadi katakan apa mau kalian?" tanya Sofia menghentikan perlawanan.
"Aku yg akan langsung menjawabnya calon istriku.. kita akan menikah sore ini.." ucap Red.
"Apa kau gila? kau pikir aku ini apa seenaknya menikah.. kita ini manusia bukan hewan.." ucap Sofia.
"Tapi wanita kodratnya hanya menikah saat ada lelaki yg menginginkannya.. " ucap Red.
"Aturan dari mana itu? ditempat tinggalku orang menikah tanpa paksaan dan atas dasar cinta." ucap Sofia.
"Tapi ini ditempatku, maka aturanku yg berlaku.." ucap Ren tersenyum menarik dagu Sofia.
Sofia pun menepis tangannya. Plakkk..
"Jangan berani menyentuhku sembarangan..!" ucap Sofia menatap tajam.
__ADS_1
"Baiklah.. kalian bawa wanita ini dan kurung dia di kamar pengantin.. sementara teman-temannya kalian ikat lagi dan akan kira eksekusi setelah pernikahanku .." ucap Red.
"Ba*****an ini benar-benar minta di patahkan tangan dan kakinya.." umpat Sofia dalam hati.
Mau tak mau ia menuruti dan dibawa ke sebuah kamar agar rekannya selamat. Tapi ia juga harus berpikir bagaimana ia dan rekannya bisa selamat. Di dalam kamar ia hanya terdiam dan berpikir keras. Begitu juga dengan rekan-rekannya. Mereka sama-sama mengatur siasat agar bisa kabur bagaimanapun caranya.
"Dengar kita harus kabur.. ayo berfikir.." ucap kapt.
"Kapt benar, kalau tuan Doni tahu nona Sofia dinikahkan paksa.. bisa-bisa desa ini dilenyapkan olehnya.."
"Iya bahkan kita bisa jadi ayam geprek kalau tidak bertindak.."
"Jadi bagaimana kalau begini.."
"Ya begitu saja.."
Begitu juga dengan Sofia ia tersenyum saat sudah terpikirkan sebuah ide. "Aku harus mencobanya.." gumamnya.
☘☘☘
Disebuah goa, nampak tuan Ren berkunjung kesana. Tepatnya di tempat tinggal Reina dan Satria, ia bermaksud mengundang pasangan suami istri tersebut ke pernikahan anaknya.
"Jadi tuan dan nyonya saya hanya mau mengundang kalian pada pernikahan putra saya Red.." ucap Ren.
"Aku turut senang tuan Ren.. kami pasti akan datang.. " ucap Satria.
"Ya kami akan datang tuan, tapi siapa gadis beruntung itu?" tanya Reina.
"Dia gadis yg putraku temui, dan mereka saling menyukai " ucap Ren berbohong.
"Baiklah, sekali lagi selamat tuan Ren.." ucap Reina.
"Iya tuan dan nyonya.. aku menunggu kedatangan kalian nanti sore.." ucap tuan Ren kemudian permisi pergi.
Setelah tuan Ren pergi, Reina dan Satria pun berbincang.
"Kenapa mendadak sekali ya sayang?" tanya Reina.
"Sudahlah, yg penting bukan anak kita.. "ucap Satria.
"Awas saja kedua anak itu menikah tanpa kehadiran kita yg masih hidup." ancam Reina.
"Hei sudahlah.. mereka tidak akan seperti itu apalagi Sofia dan Kenan dekat denganmu.." ucap Satria menarik hidung istrinya dan tersenyum.
__ADS_1