
Setelah Brian mengajak Diana berlibur, Diana pun meminta ijin pada orangtuanya. Bukan hal sulit karena ia akan pergi bersama Brian jadi mereka pasti setuju. Dan Dion juga sempat meyakinkan kedua orang tuanya.
"Bagaimana?" tanya Brian.
"Mereka setuju dan mom bilang kalau aku juga butuh liburan.." ucap Diana.
"Bagus, aku akan mengajakmu ke tempat biasanya.. tapi.. ada yg memaksa ikut." ucap Brian.
"Siapa? Kenneth?" tanya Diana.
"Ck, kau sepertinya berharap dia ikut. Tapi sayang bukan dia.." balas Brian.
"Lalu siapa?" tanya Diana.
"Iris, adikku." ucap Brian.
"Tidak buruk ajak saja.." ucap Diana.
"Tak kau suruh pun dia sudah bersiap dari kemarin dan membuatku pusing." ucap Brian.
"Haha, Iris se-merepotkan itu?" tanya Diana.
"Ya, dan kau tahu dia berbelanja banyak pakaian. Sampai mom bilang dia seperti mau pemotretan pakaian 1 musim." ucap Brian.
"Haha.. sepertinya nanti kita harus banyak mengalah." ucap Diana.
"Kau benar.." ucap Brian.
Diana pun mengikuti keinginan Brian karena ia yg paling tahu kalau Diana butuh udara segar saat sedang tertekan. Dan Brian tahu tempat kesukaan Diana, yaitu Raja ampat. Disana Diana bisa puas memandangi alamnya yg indah dan menyejukkan mata.
Setelah serangkaian persiapan, akhirnya mereka bertiga pergi berlibur. Diana dengan membawa barang seadanya, begitu juga dengan Brian. Tapi tidak untuk Iris, gadis remaja itu benar-benar seperti model profesional yg hendak ikut pemotretan.
Sampai-sampai membuat Brian pusing dengan semua barang-barangnya. Beruntung Sofia membawakan pengawal untuk Diana.
"Iris, kita hanya beberapa hari kenapa kopermu sampai ada 3..?" tanya Brian.
"Kak, perlengkapanku banyak.." jawabnya.
"Kau terlihat ingin kabur dari rumah daripada ingin berlibur." ucap Brian.
"Sudah kalian hentikan.." ucap Diana menghentikan perdebatan dua saudara kandung tersebut.
"Kalian, bawakan koper nona Iris.." perintah Diana pada pengawalnya.
"Siap nona.."
Dan mereka pun memasuki pesawat pribadi milik Kenan. Mereka tiba beberapa jam setelahnya. Dan dari atas pesawat Diana bisa melihat hamparan lautan yg indah. Ia jadi sedikit melupakan tekanan yg ada di pikirannya.
Setelah pesawat mendarat, Diana pun merasa lega dan senang bisa berada disana. Udara yg sejuk dan pemandangan yg indah membuatnya pikiran dan hatinya tenang.
Apalagi Brian sudah memesan penginapan yg biasa mereka pesan. Brian dapat melihat ekspresi bahagia Diana seperti habis terlepas dari sebuah beban.
"Kau bahagia?" tanya Brian.
"Ya.. terimakasih sepupuku.." ucap Diana.
"Kak aku sangat senang berada disini.." ucap Iris.
"Baguslah, tapi ingat pesanku.." ucap Brian.
"Jangan manja dan jangan merepotkan orang.." ucap Iris mengingat kata-kata kakaknya.
__ADS_1
"Bagus, kau masuklah ke dalam kamarmu.. " perintah Brian.
"Aku mau jalan-jalan." ucap Iris.
"Tidak besok saja." ucap Brian
"Tapi kak.." ucap Iris.
"Aku lelah, mereka juga lelah." ucap Brian.
"Itu benar Iris, lebih baik kita beristirahat dan jalan-jalan besok." ucap Diana.
"Baiklah.." balas Iris.
Mereka pun beristirahat dan akan melakukan perjalanannya besok. Walaupun kecewa tapi Iris tak sanggup melawan kakaknya.
Dan keesokan harinya mereka mengunjungi tempat-tempat yg indah. Iris pun begitu bersemangat dan berfoto dimana-mana. Brian sampai pusing melihatnya, tapi disisi lain Diana begitu tenang menikmati pemandangannya. Hal tersebut membuat Brian merasa bisa sedikit membantu Diana.
Tak lupa, Brian selalu mengirimkan kabar mereka pada keluarga dan juga Kenneth. Kenneth yg dikirimkan foto-foto Diana yg begitu bahagia pun tersenyum di sela-sela meetingnya.
"Ehm.. tuan.." ucap Jack menyenggol tangan tuannya.
"Ada apa?" tanya Kenneth.
"Ini rapat penting, anda harus fokus. Mereka terus menatap anda tersenyum saat melihat ponsel tadi." ucap Jack.
"Dasar manusia merepotkan.." umpat Kenneth dengan suara pelan.
Kenneth pun menyimpan ponselnya dan melanjutkan rapatnya. Nampak ia lebih semangat setelah melihat foto Diana bahagia. Jack pun menyadari tuannya sedang bahagia.
"Tuan sepertinya anda sedang bahagia.." ucap Jack.
"Apakah sangat kelihatan?" tanya Kenneth.
Sementara beberapa orang datang dan mengepung kantor Kenneth, hingga membuat suasana hatinya kembali buruk.
"Tuan anda di dalam saja aku akan memanggil para pengawal.." ucap Jack.
"Biarkan mereka masuk, justru kalianlah yg harus mengunci ruangan masing-masing." ucap Kenneth.
"Tapi tuan Besar bilang.." ucap Jack lalu ucapannya dipotong oleh Kenneth.
"Aku ingin lihat preman seperti apa yg dikirimkan relasi kita yg baik ini.." ucap Kenneth melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya.
Glekk.. Seketika Jack sadar kalau tuannya adalah mantan ketua tim alfa. Pasukan elit khusus untuk menghadapi orang-orang berbahaya. Yg bisa dipastikan yg ada pengawal yg akan dilindungi Kenneth bukan sebaliknya.
Jack pun menyuruh para karyawannya bersembunyi di ruang khusus hingga situasi mereda dan membiarkan para preman menemui tuannya.
"Cepat tunjukkan ruangan CEO..!"
"Baik tuan.." ucap salah seorang pegawai laki-laki dengan tangan dan kaki bergetar hebat.
Hingga tibalah mereka di sebuah ruangan CEO.
"Buka pintunya..!" perintah mereka.
Karyawan tersebut pun membuka pintunya dan nampak atasannya sedang duduk di atas meja menunggu mereka.
"Kau pasti Kenneth Hayes..!"
"Itu benar, kalian ada apa mengunjungiku..?" ucap Kenneth lalu menyuruh karyawannya segera pergi.
__ADS_1
"Kau harus ikut kami.."
"Memangnya kalian sepenting itu sampai aku harus ikut.?" balas Kenneth.
"Cepat bawa dia..!" ucap salah seorang yg menjadi pimpinan.
"Maaf aku akan sedikit kasar.." ucap Kenneth.
Bughh..Buggh..Bughh..
Prannkkk..
Dalam sekejap beberapa orang yg akan menangkapnya pun jatuh, hingga menyisakan pemimpin mereka. Jack yg berada disana pun dilarang untuk ikut campur.
"Ayo silahkan maju? kau ingin membawaku kan?" tanya Kenneth.
"Si**l..! baiklah jangan menyesal.." ucapnya mengeluarkan pistol.
Dorr..Dorr.. namun, Kenneth sudah terbiasa menghindari peluru dan bisa dengan mudah menghindar.
"Lemah sekali, kau ternyata amatir.. kasihan sekali aku pada orang yg mengirimmu.." ucap Kenneth.
bughh..Duakkkhh.. Duakkhh..
Dan semuanya pun telah tumbang dalam hitungan menit membuat Jack bergidik ngeri pada tuannya.
"Bagaimana Jack?" tanya Kenneth.
"Bagus tuan.." ucap Jack memberi 2 jempol.
"Bukan itu, laporan ke pihak berwajib.." ucap Kenneth.
"Sudah tuan, mereka segera kemari.." ucap Jack.
"Bagus, dan biar aku introgasi salah seorang dari mereka." ucap Kenneth.
Kenneth pun mengintrogasi ketua mereka yg memimpin penyerangan. Dengan gaya tim alfa Kenneth membuatnya ketakutan dan berkata siapa orang yg menyuruhnya.
"Apa?? Cindy??"tanya Kenneth.
"Be-benar tuan.." ucapnya.
"Baiklah, katakan di kantor polisi maka aku akan membantumu mengurangi hukumanmu.." ucap Kenneth.
"Ba-baik tuan.." ucapnya yg takut saat Kenneth memegang pistol dan mengarahkan ke kepalanya.
Polisi pun tiba dan menangkap para preman tersebut. Dan sesuai perintah Kenneth mereka pun mengaku hingga menyeret nama Cindy. Cindy pun datang ke kantor Kenneth dan memohon ampunan.
"Ampunan?" tanya Kenneth.
"Ya.. kumohon.." ucap Cindy.
"Kau tahu, bagaimana jika ada karyawanku yg terluka? ini sebuah kejahatan.." ucap Kenneth.
"Maafkan aku, aku khilaf kumohon ampuni aku.." ucap Cindy.
"Aku bisa memaafkanmu tapi dengan beberapa syarat." ucap Kenneth.
"Apa itu?" tanya Cindy.
"Berhenti menggangguku dan Dianaku.." ucap Kenneth.
__ADS_1
"Mudah bukan?" tanya Kenneth.
"Baiklah.." balas Cindy dengan terpaksa karena dadnya tak mau membantunya sama sekali dan menyuruhnya membereskan kekacauan yg ia buat. Dan Kenneth menepati janjinya untuk membebaskan mereka semua setelah ia mengancam Cindy dan akan mengawasinya jika ia berbohong.