
Malam menjelang pagi, Satria dan anak buahnya tiba di desa. Beruntung anak buahnya berhasil diselamatkan walaupun ia masih terbaring lemah karena kehilangan banyak darah. Satria pun panik bukan main, bagaimana bisa ia kecolongan saat berada di dekat putrinya. "Bagaimana caranya aku menuju ke negara Y?? akhh sial, disini sama sekali tak ada alat komunikasi.." umpatnya kesal.
Sementara Reina yg baru diberitahu pun langsung menemui Satria yg berada di salah satu tabib disana.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Reina.
"Aku juga tidak tahu, bisa-bisa gadis itu nekat pergi sendiri.." ucap Satria.
"Kau yg pergi bersama Sofia bukan? bagaimana semua bisa terjadi?" tanya Reina pada rekan Sofia.
"Tadi nona sempat keluar dan kami mengikutinya, saat aku bertanya katanya ia tak bisa tidur. Lalu kami mendengar bunyi helikopter yg sedang mendarat, karena khawatir nona menuju hutan untuk memeriksa. Dan benar saja penjaganya hanya ada 1 orang itupun tertidur, jadi kami berinisiatif melawan sebelum mereka menyerang desa.."
"Kenapa kalian tak memanggil bantuan?" tanya Satria.
"Kami terlalu fokus mengusir mereka tuan, apalagi jumlah mereka lebih banyak dari tadi siang."
"AAaakkkhh.. bagaimana caraku mencari Sofia, alat komunikasi tak ada, transportasi pun tak ada.." umpat Satria semakin frustasi.
"Tenang sayang, kita harus tenang dan berfikir.. mungkin tuan Ren punya kenalan di negara Y.." ucap Reina.
"Semoga saja, awas saja orang tua itu tak membantu kita. Bisa-bisanya tidak ada yg menjaga dalam kondisi begini.." ucap Satria.
"Maaf tuan apa maksud anda?" tanya Ren tiba-tiba.
"Kemana saja penjaga suruhanmu? lihat anak buahmu terluka.. dan putriku diculik.." ucap Satria.
"Maaf tuan, aku akan meminta mereka berjaga lebih ketat lagi.." ucap tuan Ren.
"Semua ini karena kalian.. dan mereka kemari memang mencari kalian bukan? jadi jangan salahkan kami karena desa ini cukup nyaman sebelum kalian datang.." ucap Red.
"Kau..! Baiklah, setelah anak buahku datang aku akan pergi dari desa ini.. dan Terimakasih tuan Ren atas bantuannya selama ini.." ucap Satria kesal lalu meninggalkan tempatnya.
Reina pun ikut menyusul Satria menuju ke rumahnya. Satria yg sedang kalut pun hanya bisa berdiam diri. Ia mencoba menenangkan dirinya agar bisa berfikir jernih.
"Sayang tinggalkan aku sendiri, aku sedang ingin berfikir.." ucap Satria pada Reina.
"Baiklah.." balas Reina yg langsung pergi meninggalkannya.
Mereka berdua pun sama-sama menangis dalam diam. Selama ini mereka berfikir semua baik-baik saja namun ternyata tidak. Anak-anak mereka menjadi sasaran BlackStar. Mereka pikir setelah mereka menghilang keadaannya akan menjadi tenang lalu mereka bisa kembali saat ada kesempatan. Tapi semua jadi kacau berantakan. BlackStar benar-benar ingin menghancurkan SHIELD dan juga seluruh keluarganya.
"Tidak bisa dibiarkan.." gumam Satria mengepalkan tangannya.
Ia pun mengumpulkan senjata-senjatanya lalu menyiapkannya. Bahkan ia berencana mengambil kesempatannya untuk pulang beralih menyelamatkan Sofia di negara Y. Namun, ia juga masih berharap Kenan menemukan lokasi mereka.
__ADS_1
"Kenan kau masih kuandalkan hingga saat ini, cepatlah kirim bantuan kakakmu dalam bahaya.." gumamnya dalam hati.
Kemudian Satria berbicara pada Reina mengenai niatannya.
"Bagaimana sayang? tak apa kan kalau kita mencari Sofia dahulu.." ucap Satria.
"Tentu, Sofia anak kita.. Harus kita prioritaskan keselamatannya.." ucap Reina.
"Terimakasih sayang.. semoga ada jalan bagi kita untuk bisa pulang.." ucao Satria.
"Aminn, kita akan terus berusaha.. jangan menyerah semua akan baik-baik saja.." ucap Reina menggenggam tangan Satria.
Pagi pun datang, nampak warga mulai beraktifitas. Walaupun masih terbatas atas insiden tadi malam. Tuan Ren pun datang mengunjungi Satria.
"Ada apa tuan?" tanya Satria.
"Maaf atas kejadian semalam tuan, anakku mesih kesal pada anda.. Dan aku sudah menghukum anak buahku yg lalai.." ucap Ren.
"Ya ini juga karena kami, aku tahu kami bersalah.." ucap Satria.
"Jadi, sebentar lagi orangku bernama Guido akan datang.. kalian bisa pergi dengan tenang dan mencari bantuan untuk membebaskan putri anda.." ucap Ren.
"Terimakasih tuan Ren.." balas Satria.
Lalu Ren pamit undur diri. Sementara Satria dan Reina pergi mengunjungi anak buahnya yg terluka. Kondisi mereka sudah jauh lebih baik, dan mereka segera dibawa ke tempat Satria dibantu oleh rekannya yg lain.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Satria pada anak buahnya.
"Lebih baik tuan, maaf aku tak bisa membantu nona Sofia.." ucapnya.
"Sudahlah, pasti posisi kalian sangat sulit.." ucap Satria.
"Ayo kita pulang dan susun strategi.." ucap Satria lagi.
"Baik tuan.." balas mereka serempak.
"Yaya pulanglah, kalian ini benar-benar menyusahkan.." ucap Red.
"Red jika bukan karena ayahmu, mungkin saat ini aku sudah mematahkan tangan dan kakimu karena telah memaksa anakku untuk menikah denganmu.. jadi jaga bicaramu sebelum aku kehabisan kesabaran .." ucap Satria lalu mematahkan busur yg ada di depannya.
Krakkk..
"Berhati-hatilah jika tak ingin bernasib sama seperti busur ini.." ucap Satria.
__ADS_1
Namun, Red nampak membeku ditempatnya. Ia melihat busur yg begitu kokoh dipatahkan dengan mudahnya. Membuatnya tak mampu berkata apa-apa dan menelan air liurnya. Rasanya ia bisa benar-benar mati jika memancing emosi Satria lagi.
Sementara Satria pergi menuju tempat tinggalnya bersama anak buahnya.
Disaat Red masih terpaku kepalanya dipukul oleh ayahnya.
Plaakkk..
"Auu.. Sakit ayah.." gerutunya.
"Kau ini bodohnya keterlaluan.. Tuan Satria sedang kesal putrinya diculik kau malah memancing emosinya.." ucap tuan Ren.
"Mereka memang menyebalkan ayah.." ucap Red lagi
Plaakkk..
"Ahhh ayah kenapa memukulku terus.." ucap Red.
"Biar otakmu tidak membeku.. berhenti cari masalah dengan mereka, kau tahu mereka banyak membantu kita.. lihat desa ini sudah lebih maju.. bahkan nyonya Reina sampai membantu kita mencari uang untuk kebutuhan yg berasal dari luar desa.. " ucap Ren kesal.
"Maaf ayah.." ucap Red baru sadar.
"Sana latihan bersama yg lain, kalau masih mau jadi penerusku " ucap Ren.
"Baik ayah.. " balas Red lalu pergi meninggalkan ayahnya.
☘☘☘
Sementara Kenan dan tuan Guido hampir sampai di desa.
"Apakah masih jauh tuan Guido?" tanya Kenan.
"1 hari lagi kita sampai tuan.. bersabarlah.." ucap Guido.
"Baiklah.." ucap Kenan.
"Kalian bersiaplah jika sudah sampai.. aku juga akan bersiap.." ucap Kenan pada anggota SHIELD dan juga anak buahnya.
"Siap tuan.." balas mereka.
Disisi lain, Kenan merasa tak enak sejak semalam. Hatinya gelisah dan memikirkan kakaknya. "Ada apa dengan kakak, mengapa aku jadi gelisah begini..? Apakah kakak dalam bahaya? Semoga saja perjalanan ini cepat berakhir agar aku bisa menemukan kakak.." gumam Kenan dalam hati.
Kenan pun masih di depan laptopnya bekerja walaupun koneksi internet mulai tersendat. Terkadang ia kesal dan hanya bisa menarik nafas berat. Tapi nampaknya hari ini ia benar-benar tak bisa berkonsentrasi karena memikirkan kakaknya. Ikatan batin diantara mereka sangat kuat dan jika salah satu dalam bahaya pasti salah satunya merasakannya juga. Dan inilah yg sedang dialami Kenan.
__ADS_1