
Diana dan Kim pun membagi tugas mereka dan melaporkan hasil penyelidikan mereka. Diana merasa ada yg janggal dalam penginputan data, terutama tentang pembelian senjata.
"Kim apa data-data selalu begini?" tanya Diana.
"Tidak nona, harusnya balance.. ada yg mencurigakan.." ucap Kim.
"Baguslah, berarti bukan hanya aku yg berpikir demikian.." ucap Diana.
"Baiklah nona, aku akan meminta orang-orangku untuk memeriksanya .." ucap Kim.
"Aku ikut, dan aku akan menyamar." ucap Diana.
"Nona, anda yakin baik-baik saja?" tanya Kim.
"Aku akan menunjukkan wajahku jika tertangkap, siapa yg berani melawanku?" balas Diana.
"Baiklah, anda bisa pergi bersama mereka.." ucap Kim.
Diana pun menyamar sebagai prajurit wanita dengan memakai kacamata hitam.
"Nona, berhati-hatilah.. hubungi aku jika dalam bahaya.." ucap Diana.
"Baik Kim.. kau jangan khawatir dan rahasiakan ini dari keluargaku.." ucap Diana.
Diana pun pergi bersama orang-orang kepercayaan Kim. Mereka masuk ke dalam gudang penyimpanan dengan modus inspeksi dadakan. Diana dan orang-orangnya pun memeriksa jumlah senjata yg ada disana.
"Ingat hati-hati.." ucap Diana.
"Baik nona.." balas mereka.
Dan mereka pun masuk ke dalam gudang, Diana dan beberapa orang tersebut menghitung satu persatu senjata baru yg masuk bulan ini. Tapi sesuai dugaan, jumlahnya tak sesuai.
"Nona, bagian sini juga kurang.." ucap salah seorang.
"Iya aku juga.."
"Aku juga, malah cuma ada setengahnya.."
"Ini gila..! kemana mereka membawa senjata-senjata lainnya? aku ingat sekali berapa banyak yg diminta oleh tim gudang.." ucap Diana.
"Nona, kami sudah mengumpulkan bukti-bukti.."
"Bagus, simpan baik-baik dan serahkan pada Kim nanti.." ucap Diana.
"Siap nona.." ucap mereka.
Kriiieeet klaanggg..
"Akh apa itu suara pintu?" tanya Diana.
"Aku akan mengeceknya nona.."
Tak lama salah seorang itu pun datang kembali.
"Bagaimana?" tanya Diana.
"Dikunci dari luar nona.." ucapnya.
__ADS_1
"Jadi mereka mau mengunci kita.." ucap Diana lalu pergi untuk memeriksa.
Benar saja, mereka dikunci dari luar. Ada orang yg dengan sengaja melakukan hal itu. Dan Diana tetap tenang sementara anak buah Kim mulai panik karena tak dapat memanggil bantuan, ponsel dan alat lainnya tak bisa terhubung.
"Percuma saja, tak akana bisa.." ucap Diana.
"Bagaimana mungkin nona?" tanya salah seorang.
"Kakekku dan pamanku yg mendesain tempat ini, jadi aku tahu kalau di dalam takkan ada signal yg masuk.." ucap Diana.
"Lalu apa kita harus menunggu seseorang membukakannya..?"
"Kudengar gudang ini hanya dibuka jika ada pengecekan dan pengambilan barang saja.."
"Kita buat, seolah-oleh mereka berhasil mengurung kita disini.." ucap Diana.
"Lalu? apa kita bisa keluar darisini?" tanya seseorang.
"Kalian jangan khawatir, aku sudah dilatih untuk ini.." ucap Diana.
Diana pun naik ke atas tangga dan menutup Cctv yg ada di sudut. Anak buahnya hanya melihatnya dan membantunya. Lalu setelah kamera tertutup, Diana pergi ke sebuah tempat yg tidak terjangkau cctv. Nampak, ada sebuah cermin yg ternyata adalah sebuah layar. Diana pun memasukkan kata sandi dan juga sidik jarinya.
Pintu pun terbuka secara otomatis. Semua anak buahnya pun terkejut ada sistem semacam ini di dalam gudang senjata.
"Ini adalah pintu darurat, hanya keturanan kami yg di diberi akses untuk masuk.." ucap Diana.
"Terimakasih nona, akhirnya kami bisa keluar.." ucap mereka.
Mereka pun masuk ke sebuah lorong sempit, dimana ada pintu-pintu ruangan juga. Tapi Diana membawa mereka langsung keluar darisana. Dan mereka keluar melalui sebuah lukisan besar yg dipajang di sebuah ruangan.
"Kita tiba disini.." ucap Diana.
"Bagus, karena aku lelah.." ucap Diana.
"Nona duduk saja, kami yg akan mengawasi.."
"Terimakasih.." ucap Diana.
Baru segini saja Diana sudah lelah, bagaimana jika mereka meminta Diana untuk pergi ke tempat penyerangan ******* tersebut?? Pikiran Diana pun kacau karena ia tak mungkin membahayakan calon anaknya. "Nak kau harus kuat, maafkan mom yg punya tanggungjawab besar ini.." gumam Diana dalam hati.
Tak lama Kim pun tiba disana, mereka menyerahkan berkas laporan tersebut pada Kim. Dan Diana dibawa ke ruangannya karena sudah terlihat kelelahan.
"Nona harusnya biar mereka saja yg melakukannya.." ucap Kim.
"Kalau mereka yg melakukannya, mereka bisa mati terjebak dalam gudang itu.. karena tadi kami sengaja dikunci dari luar.." ucap Diana.
"Dasar bede*ah..! berani sekali dia pada nona.. Lalu bagaimana nona bisa keluar?" tanya Kim.
"Kakekku memberitahu pintu rahasia padaku. Jadi kami selamat.." ucap Diana.
"Syukurlah, aku tak tahu harus bilang apa pada tuan besar jika anda terjebak.." ucap Kim.
"Ya Kim, kau tenang saja.. Aku tak sebodoh itu.." ucap Diana.
"Anda istirahat saja nona, apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Kim.
"Aku minta air dingin dengan es batu yg banyak.." ucap Diana.
__ADS_1
"Anda mau dibuatkan minuman apa nona?" tanya Kim.
"Ambilkan saja, biar aku yg membuatnya sendiri, aku hanya ingin minum susu ibu hamil.." ucap Diana.
"Baiklah nona.." balas Kim lalu menyiapkannya.
Setelah Diana menikmati susu buatannya, ia kembali mengecek cctv. Nampak kedua orang penjaga gudang pun tertawa-tawa tepat setelah pintu gudang tertutup.
"Jadi mereka pelakunya.." ucap Diana.
"Benar nona.." ucap Kim.
"Pecat mereka.." ucap Diana tegas.
"Emm.. tapi besok saja agar jadi berita kejutan.." ucap Diana tersenyum.
"Siap nona.." ucap Kim yg senang karena Diana begitu tegas dan tak kenal ampun.
"Lalu interogasi siapa yg menyuruh mereka dan beri mereka imbalan yg pantas.." ucap Diana.
"Baik nona.." ucap Kim.
"Lalu bagaimana dengan penyelidikanmu?" tanya Diana.
"Ada sebuah truk mencurigakan yg datang setiap tengah malam.. dan malam ini aku akan beraksi bersama anak buahku.." ucap Kim.
"Kim aku mengandalkanmu.." ucap Diana.
"Baik nona, menurut laporan mereka. Itu hanya kayu-kayu bekas pengiriman. Tapi tentu kami tak langsung percaya.." ucap Kim.
"Selidiki dan tangkap mereka hidup-hidup ." ucap Diana.
"Siap nona.." ucap Kim.
"Hubungi sahabatku Fita jika terbukti ada sebuah penyelundupan." ucap Diana.
"Baik nona.." ucap Kim tersenyum.
"Tumben kau tersenyum, oh karena sahabatku Fita.." ucap Diana.
"Ampun nona, saya tidak berani.." ucap Kim.
"Memangnya aku orangtuanya Fita, aku tidak melarangmu berhubungan dengan siapa pun.." ucap Diana.
"Baik nona.." ucap Kim.
"Lanjutkan pekerjaanmu, jangan sampai lembur karena pekerjaan utama, dan karena tugas kita yg lain ada banyak.." ucap Diana.
"Siap nona.." balas Kim.
Diana dan Kim pun mengerjakan pekerjaan mereka. Dan sembari mengontrol pekerjaan bawahan Diana yg ia curigai. Sedikit demi sedikit mulai terkuak siapa saja orang yg dicurigai. Bukti demi bukti pun telah dikumpulkan. Sampai pada suatu rapat, dimana Diana diminta untuk mengunjungi lokasi tempat ******* tersebut.
"Apa kalian gila menyuruh atasan kalian sendiri!!" teriak Sofia tiba-tiba datang dengan mendobrak pintu.
Seketika mereka semua diam dan tak berdaya.
"Mau mati kalian semua!! Berani-beraninya memerintah atasan kalian.. kenapa tidak kalian saja yg pergi..?" teriak Sofia sangat marah.
__ADS_1
Sofia pun mendengar kabar Diana yg selalu dipojokkan saat meeting, hingga ia datang tepat saat meeting hari ini. Dengan emosi yg memuncak, Sofia pun menghukum mereka semua dengan pemotongan gaji.