
Alfi yg bingung pun kini mulai berpikiran macam-macam. "Aduh.. jangan bilang Rose dilecehkan.. tidak bisa kubiarkan..!!" geram Alfi dengan menambah kecepatan mobilnya. Ia yg tak tahu Rose ada di kamar no berapa dan apa yg sedang ia lakukan disana karena ponselnya tidak bisa dihubungi hanya bisa langsung masuk dengan santai agar tak ada yg mencurigakan.
Alfi melihat kesekelilingnya apakah ada bodyguard atau orang yg mencurigakan lainnya. Dan benar saja ada sekitar 5 orang berjaga di bawah. Alfi pun berpura-pura bertanya ke resepsionis yg sedang berjaga.
"Permisi nona, apakah ada tamu bernama nona Rose?" tanya Alfi.
"Sebentar tuan.. sepertinya tidak ada.."
"Tidak mungkin, coba anda cek dulu nona.." ucap Alfi menarik perhatian.
Beberapa bodyguard pun saling pandang dan mendekatinya. Kini Alfi paham situasinya, seperti yg diajarkan ayahnya gunakan insting dan lihat sekitar. Walaupun ia seorang dokter bedah tapi ia tetap mempelajari ilmu bela diri dari ayahnya, Bima. Kini Alfi tengah bersiap karena para bodyguard tersebut mendekatinya.
"Maaf tuan nona Rose tidak ada disini.. kau ingin pergi atau kami usir paksa.."
"Wah kalian ternyata memang suka kasar.." ucap Alfi.
Alfi pun kini bersitegang dengan mereka yg siap memukul. Namun, ia tenang dan menghindari pukulan salah seorang dari mereka. Ia pun membalas dengan memukul area vital mereka hinga mereka jatuh. "Mereka terlalu meremehkan aku.." gumam Alfi.
Sementara Alfi bertarung, kini Rose baru keluar dari lift.
Ting.. pintu lift pun terbuka.
Rose pun kaget melihat Alfi berada di hotel ini dan sedang berhadapan dengan para bodyguard Chris dibawah. Dengan fokus Rose mengarahkan pistolnya ke arah bodyguard tersebut. Dorr..Dorr..Dorrr...!
"ARGHHHH...!" teriak para bodyguard.
Rose pun dengan langkah gontai mencoba berlari ke arah Alfi dan mengisyaratkan untuk kabur. Alfi yg paham pun segera membantu Rose untuk pergi dari sana meninggalkan para bodyguard yg tengah terkapar.
"Ayo cepat Alfi pergi dari sini.." ucap Rose.
"Iya.. mobilku ada di depan ayo.." balas Alfi.
__ADS_1
Setelah tiba di depan mobil, Alfi membukakan pintu untuk Rose dan kemudian ia membantu Rose masuk baru ia masuk ke dalam. Dengan cepat Alfi menginjak gas dan menjauh dari tempat tersebut. Tiba-tiba ia mendapat panggilan dari tim SHIELD kepercayaan ayahnya.
"Tuan anda dimana?"
"Kami sudah keluar dari hotel.. nona Rose selamat.. kalian lacak ponselku saja.." ucap Alfi yg paham kinerja SHIELD.
"Baik tuan.."
"Cepatlah mereka mungkin mengejar kami.." perintah Alfi.
"Siap tuan.."
Tim SHIELD pun menyebar, sebagian menuju hotel untuk mengamankan dan sebagian menyusul Alfi untuk mengamankan atasan mereka.
Dan benar saja kini mobil mereka telah diikuti dari belakang.
"Apakah itu bala bantuan?" ucap Alfi menatap spion.
Alfi pun menambah kecepatan mobilnya untuk menjauh, tapi mereka terus menempel membuat Rose geram. "Kalian berani sekali mengganggu ku..!" gumamnya.
"Alfi tetap fokus.. aku akan menangani mereka.." ucap Rose.
"Apa yg akan kau.." ucapan Alfi pun terhenti saat melihat Rose membuka jendela dan mengeluarkan pistol miliknya. "Oh My God.. wanita ini benar-benar.." gumamnya.
Rose pun tanpa ragu menembak ban mobil mereka dan tepat sasaran membuat mobil mereka oleng dan menabrak sisi kanan. Hingga terjadilah tabrakan beruntun yg mengakibatkan sedikit kemacetan.
"Alfi mereka sudah beres.." ucap Rose dengan nafas tersengal-sengal.
"Oke.. tapi apa yg terjadi pada tanganmu?" tanya Alfi karena melihat ada handuk putih yg melilit telapak tangan Rose sudah berwarna merah darah.
"Ceritanya panjang, kau harus mengobatiku nanti aku ceritakan.." ucap Rose.
__ADS_1
"Baiklah.. Dibelakang ada handuk kecil bersih.. sementara gantilah itu sudah penuh dengan darahmu.." ucap Alfi.
Mereka pun menuju rumah sakit tempat Alfi bekerja. Ia dengan cepat membawa mobilnya menuju rumah sakit. Setelah tiba ia menelpon perawat untuk membawakan kursi roda karena Rose mulai lemah. Alfi pun segera mendorong Rose yg duduk di kursi roda dibantu perawat menuju ruangannya.
Setelah sampai, ia melihat luka di tangan Rose. Luka yg cukup besar hingga darah terus keluar dan itulah yg membuat Rose lemah. Ditambah lagi Rose bercerita kalau ia sempat dibius sehingga membuatnya semakin terkulai lemah. Kini Alfi sedang menjahit tangan Rose yg robek. Dengan teliti ia mengerjakan tugasnya sebagai seorang dokter. Ia pun takjub, wanita yg ada di depannya sangat tangguh. Ia bahkan rela melukai dirinya sendiri untuk bisa sadar dan kabur, bukan hanya itu ia bahkan sempat melawan dengan sisa tenaganya menggunakan pistol. "Kau memang luar biasa Rose.. kau wanita tangguh yg pernah kutemui.." gumam Alfi setelah menjahit tangan Rose. Sementara Rose sudah tertidur.
Tak lama ponsel Alfi terus berdering baik Kenan maupun tim SHIELD menghubunginya saat ia sedang menjahit tangan Rose.
Ia pun mengangkat telepon yg berdering yg tak lain adalah Kenan.
"Alfi.. bagaimana kabar kakakku?" tanya Kenan panik.
"Dia sedang tertidur, ia bercerita sedikit kalau ia dibius dan diculik oleh orang-orang tuan Chris.. kau mengenalnya?" tanya Alfi.
"Sial.. ! tentu saja aku tahu siapa dia.. lalu apa yg terjadi?" Kenan bertanya lebih lanjut.
"Rose berusaha untuk tetap sadar dan menggores tangannya sendiri dengan benda tajam, lukanya cukup besar dan ia banyak mengeluarkan darah.. tapi apa kau tahu apa yg dilakukannya?" ucap Alfi.
"Tentu saja melawan.." tebak Kenan.
"Iya dia melawan dengan sisa tenaganya, dan ia menembak orang-orang Chris tanpa ragu, juga menimbulkan kecelakaan saat menembak ban mobil yg mengikuti kami dari belakang." terang Alfi.
"Bagus.. pantas saja tim SHIELD saat ini tengah sibuk membereskan kekacauannya.." ucap Kenan bahagia.
"Tapi ia sungguh baik-baik saja kan?" tanya Kenan lagi.
"Untuk sementara ia terlihat baik-baik saja, besok kami akan mengecek keseluruhan saat ia bangun.." balas Alfi.
"Oke.. pokoknya kau harus pantau keadaan kakakku.. dan tentang D'Textile biar aku yg menanganinya.." ucap Kenan geram mendengar kakaknya hampir dilecehkan.
Kenan pun menutup telepon dan merencanakan sesuatu. Jika bisa ia akan terbang besok ke Italia menemui kakaknya dan mencaritahu tentang D'Textile dan misteri hilangnya kedua orang tuanya. "Chris kau berani macam-macam pada kakakku.. dan aku takkan tinggal diam.." gumam Kenan di depan laptopnya.
__ADS_1
Ia pun menelpon beberapa anak buahnya untuk membantunya meretas sebuah sistem. Kenan atasan berhati dingin pun tak peduli kalau saat ini sudah menjelang subuh. Ia meminta bantuan anak buahnya dan mereka dilarang protes bahkan dijanjikan bonus besar jika berhasil. Alhasil mereka pun mau tak mau membantu Kenan meretas Sistem D'Textile untuk membalas dendam pada Chris. Dan kini Kenan tengah sukses meretas sistem mereka. "Sekarang kalian akan kubuat bertekuk lutut.." ucap Kenan melihat aksi pertamanya telah sukses.