
"Jadi karena Sofia sudah menandatanganinya aku meminta hakku.." ucap nyonya Felix.
"Anda benar nyonya.. surat tersebut sudah ditandatangani kakakku.. tapi pengacaraku ingin menyampaikan sesuatu.." ucap Kenan tersenyum.
"Silahkan tuan Cornelius.." ucap Kenan dan nyonya Felix pun tersenyum.
"Setelah melihat surat ini dan tanda tangan asli nona Sofia, surat ini memang asli. Tapi yg perlu anda ketahui adalah surat ini sudah tak berlaku lagi.." ucap Cornelius.
"Ba-bagaimana bisa?? kalian tak bisa menipuku lagi.." ucap nyonya Felix.
"Tentu saja bisa.. karena pemilik saham S Group dan juga SHIELD Group bukan atas nona Sofia maupun tuan Kenan.." ucap Cornelius sementara Kenan pun tersenyum.
JDERRRR... Bak tersambar petir di siang bolong, nyonya Felix pun terdiam dengan wajah menyeramkan. Pikirnya baik Kenan maupun tuan Cornelius sudah menipunya.
"Kalian ini sudah berani menipuku.. akan aku laporkan kalian pada pihak berwajib.." ucap nyonya Felix.
"Sepertinya anda harus melihat ini nyonya.." ucap Kenan.
Lalu tuan Cornelius pun memberikan sebuah map berisi surat kepemilikan dll.
"Apa ini?" tanya nyonya Felix.
"Silahkan anda baca saja nyonya.." ucap Cornelius.
"Apa maksudnya ini pemiliknya bukan Sofia atau dirimu tuan Kenan.?" tanya nyonya Felix panik.
"Maksudnya sudah jelas bukan tak ada nama kami disana, artinya surat perjanjianmu tidak berlaku.." ucap Kenan.
"Ya nyonya, jika nyonya memaksa terpaksa akan kami laporkan.." ucap Cornelius.
"Ti-tidak.. Siapa Alfiansyah..?" tanya nyonya Felix geram.
"Bukan urusan anda nyonya, sekarang saya persilahkan anda keluar atau mau kupanggilkan bodyguard kami?" tanya Kenan tersenyum.
"Ck.. awas kalian.. aku akan laporkan kalian semua atas penipuan.." ucap nyonya Felix setelah menaruh map tersebut dan pergi meninggalkan ruangan rapat.
Setelah memastikan nyonya Felix pergi, Kenan yg memegang surat perjanjian Sofia dan Vall pun langsung merobeknya. "Sampah ini harus musnah.." gumam Kenan dalam hati.
"Nampaknya kakak anda sudah mengetahui ini tuan.. "ucap Cornelius.
"Ya tuan Cornelius, untunglah ada rekan kami yg mau membantu.." ucap Kenan.
"Aku tak menyangka akan jadi begini, tapi syukurlah perusahaan anda berdua selamat.." ucap Cornelius.
"Tapi bagaimana jika nyonya Felix melapor? apa tuntutan yg bisa kita lakukan?" tanya Kenan.
"Saya jamin dia takkan melapor tuan.. kalaupun melapor itu sama saja dengan bunuh diri.." ucap Cornelius.
"Ya.. sesuai dugaanku.. Terimakasih untuk hari ini tuan Cornelius." balas Kenan.
__ADS_1
"Sama-sama tuan, saya akan bersiaga jika nyonya Felix berani melaporkan anda dan kakak anda.." balas tuan Cornelius.
"Tentu, kau bersiaplah dengan dokumen-dokumen yg dibutuhkan jika kita dilaporkan.." balas Kenan.
Lalu Cornelius pun pamit undur diri dari ruangan tersebut. Nampak Kenan tersenyum lebar melihat apa yg terjadi hari ini. "Kuharap ia takkan berani melaporkan kami.. karena ia bisa mati jika melawanku.." gumam Kenan.
Lalu Kenan lanjut bekerja, dan melakukan meeting dengan beberapa kliennya. Ia juga menerima banyak simpati dari rekan bisnisnya mengenai pernikahan Sofia. Tak jarang juga ada yg mengeluh walau tak berani terang-terangan pada Kenan. Karena jika Kenan mendengarnya sahamnya akan ditarik dari perusahaannya.
Begitulah yg terjadi hari ini pada Kenan. Ia berhasil menyelesaikan rencana Sofia dengan baik. Dan nyonya Felix nampaknya tahu betul siapa Kenan Fransnata, lelaki dingin yg jenius. Tak ada yg berani macam-macam padanya, apalagi mengingat perusahaan suaminya yg akan jadi taruhannya nanti.
☘☘☘
Sementara Sofia masih terbaring di ranjang, Alfi pun masih setia menemaninya. Hingga Reina dan Satria pun tiba.
"Wah, Al kau masih disini?" tanya Reina.
"Iya Aunty.. " ucap Alfi.
"Kau tidak macam-macam kan pada Sofia..?" tanya Satria.
"Tidak paman, aku takkan berani.." ucap Alfi.
"Ayah sudahlah, harusnya ayah berterimakasih padanya karena ia dan Kenan menjagaku semalaman.." ucap Sofia.
"Ya baiklah karena itu permintaan putriku.." balas Satria.
"Iya paman, memangnya ada acara apa ya?" tanya Alfi.
"Hahhh.. kau ini, pokoknya aku menunggumu di rumahku, nanti temui aku disana jika sudah pulang.." ucap Satria.
"Sepertinya Siska perlu sedikit mengajarimu, karena kau cukup polos seperti Bima.." balas Reina tersenyum.
"Sudahlah, kalian membawakan aku apa?" tanya Sofia.
"Tentu saja makanan kesukaanmu.." ucap Reina membuka tas bawaannya.
"Yeaayy.. akhirnya makananku tiba.." ucap Sofia.
"Kau ini masih sangat tidak menyukai makanan rumah sakit ternyata.." ucap Satria.
"Begitulah paman, makanannya tadi hanya dimakan sedikit.." ucap Alfi.
"Iya Sofia memang begitu sejak kecil.." ucap Reina.
"Sudah sekarang kau makan sepuasnya.. biar kita bisa cepat pulang ke Indonesia.." ucap Satria.
"Tentu ayah.." balas Sofia.
Sofia pun makan dengan lahap, dan bercengkrama dengan ayah dan ibunya. Alfi pun disuruh pulang ke hotel dan bergantian berjaga dengan Reina dan Satria. Alfi pun tak bisa menolak permintaan Reina dan Satria hingga ia pulang ke hotel.
__ADS_1
Sesampainya di hotel ibunya menanyakan kabar Sofia dengan antusias. Siska sampai masuk ke kamar putranya agar bisa bercerita dengan bebas.
"Jadi bagaimana keadaan Sofia?" tanya Siska.
"Dia sudah baik-baik saja bu.. tengah malam ia tersadar.." ucap Alfi.
"Benarkah?? aku sangat lega mendengarnya .." ucap Siska.
"Dan begitu sadar ia langsung kelaparan.." balas Alfi tertawa kecil.
"Haha.. dia memang selalu apa adanya.. ibu suka pada sikapnya dan ketegasannya.." ucap Siska.
"Ibu paman Satria memintaku untuk menemuinya dirumahnya nanti kalau sudah pulang ke Indonesia." ucap Alfi.
"Lalu kau jawab apa..?" tanya Siska.
"Tentu saja aku jawab "Iya.." tapi apa yg ingin dibicarakan ya??" tanya Alfi bingung.
Plakkk.. Siska yg kesal pun memukul pundak putranya yg sangat tidak peka.
"Ibu sakit tahu.." ucap Alfi.
"Hahh.. kau ini sama seperti ayahmu dahulu sangat tidak peka.." ucap Siska kesal.
"Memang apa artinya..?" tanya Alfi.
"Pintar dalam hal belajar dan ilmu kedokteran ternyata tidak cukup membuatmu mengerti, kalau Satria itu ingin kau menegaskan hubunganmu dengan Sofia.." ucap Siska.
"Oh ternyata begitu, tapi aku memang sudah berencana menikah dengan Sofia.. ibu harus lihat cincin yg sudah kubeli.." ucap Alfi lalu mengambil cincin tersebut.
"Ini bu.. Lihatlah.." ucap Alfi memperlihatkan sekotak cincin.
Siska pun membuka kotak cincin tersebut dan melihatnya dengan seksama.
"Ternyata dibalik kepolosanmu, seleramu bagus juga nak.. " ucap Siska.
"Jadi menurut ibu ini bagus??" tanya Alfi.
"Ya ini sangat bagus, pasti harganya lumayan mahal.." ucap Siska.
"Ya begitulah.." balas Alfi.
"Baguslah jika begitu, Sofia keluarganya sangat kaya jadi kau tidak salah memilih cincin ini.. Walaupun Sofia pasti menerima apapun yg kau berikan.." balas Siska.
"Terimakasih bu.. aku memang bicara pada orang yg tepat.." balas Alfi.
"Iya mungkin jika kau berbicara pada ayahmu dia akan mengira kau sudah berbuat salah pada atasannya.. hahaha.." ucap Siska kemudian tertawa membayangkan suaminya yg masih selalu serius.
"Ibu benar.. " balas Alfi yg ikut tertawa.
__ADS_1