
Diana pun memerhatikan Sarah dengan seksama. Dan Kenneth juga mengikutinya karena Diana menyuruhnya untuk diam dan mendengarkan. Mereka pun menguping pembicaraan Sarah dan orang-orang yg berada di dalam.
"Bagaimana nona Sarah, mudah bukan..?" ucap Victor.
"Ta-tapi anu bagaimana dengan permintaanku bertemu dengan tuan Alexander..?" ucap Sarah.
"Itu mudah, ayahku sebentar lagi kemari. Ayolah, ini tak sulit.." balas Victor.
"Maaf, pekerjaanku sebelumnya hanya mengurusi bagian sekertaris bukan urusan pribadi.." ucap Sarah.
"Kau harus menurut, karena tuan Rome akan menandatangani project besar.." ucap Victor.
"Nona Sarah, aku akan baik dan lembut padamu.." ucap pria bernama Rome yg usianya mungkin seusia Alexander.
"Maaf, sekali lagi tidak.. aku akan mengundurkan diri jika begini cara kalian.." ucap Sarah.
"Dasar Ja****ng murahan..! kau berani menolak tuan Rome? ini adalah sevis kita agar dia menyetujui kontrak kita.." ucap Victor.
"Haruskah ku ulangi? aku hanya bekerja dengan otakku bukan dengan tubuhku.." ucap Sarah.
PLaaaakkkk..! Sebuah tamparan pun mendarat di pipi Sarah yg hendak meninggalkan ruangan.
"Dasar ja***ng tak berguna..!" umpatnya.
"Aku bukan wanita murahan, aku bekerja sesuai kemampuanku dan kau sangat tidak profesional.." ucap Sarah.
"Kau harus ikut dengannya bagaimanapun caranya.." ucap Victor.
"Ayo ikut aku nona Sarah aku bisa memberikanmu segalanya.." ucap Rome.
"Tidak.. lepaskan.." ucap Sarah saat lenggannya ditarik paksa oleh Rome.
Diana pun tak tinggal diam dan mendekat untuk melindungi Sarah.
"Kapt, kau sudah merekamnya dengan baik kan..?" tanya Diana.
"Sudah," balas Kenneth.
"Bagus, hubungi polisi aku akan menangani mereka sebelum polisi tiba." ucap Diana.
"Ta-tapi Diana.." ucap Kenneth tapi Diana tetap maju mendekat.
"Akh wanita itu memang gila, berani sekali ikut campur .." gumam Kenneth.
Diana pun datang dan menarik tangan pria bernama Rome.
"Lepaskan tuan.." ucap Diana.
"Ck.. siapa kau kenapa berani ikut campur?" tanya Rome.
"Diana.." ucap Victor.
"Ini bukan seperti yg kau lihat.." ucap Victor.
"Sarah adalah sahabatku, tapi aku menyesal membawanya kemari, bukannya bekerja tapi malah kau jual pada pria bre***ek hanya demi kontrak.." ucap Diana.
"Kau.. berani melawanku.. " ucap Rome hendak memukul Diana.
Diana pun menghindar dan menendang lutut Rome.
"Oh, maaf kakuku terpeleset, pasti sakit.." ucap Diana.
"Dan kau Victor, kau tahu gadis ini siapa?" tanya Diana.
"Dia Sarah.. temanmu, memangnya aku bodoh.." ucap Victor.
"Hentikan Diana jangan beritahu.." ucap Sarah.
__ADS_1
"Kau berani sekali padaku.. akan kuberi kau pelajaran.." ucap Rome.
"Jangan tuan Rome.." cegah Victor, tapi Rome tengah kesal karena gagal memiliki Sarah.
Diana pun menangkap pukulannya dan menendangnya. Bughh..
"Akh.."
"Diana, kau.." ucap Victor terkejut.
"Aku bisa bela diri, fungsinya untuk melawan orang-orang bre****sek seperti pria ini.. " ucap Diana menunjuk Rome.
Sirene polisi pun berbunyi, membuat mereka berdua ketakutan. Polisi pun langsung berlari masuk ke dalam resto dan menangkap 2 pria sesuai laporan Kenneth.
"Victor, jika kau ingin selamat hubungi ayahmu dan temui Sarah.." ucap Diana.
"Ck.. apa salahku..? lepaskan pak.." ucap Victor.
"Sarah kau tak apa?" tanya Diana.
"Iya aku tak apa.." ucap Sarah menangis.
"Aku tahu kau ingin mengatakan faktanya langsung, jadi aku takkan mengatakannya.." ucap Diana.
"Terimakasih Diana, kau selalu menolongku.." ucap Sarah.
"Maaf sarah, gara-gara aku tak memeriksa perusahaan ini kau hampir jadi korban.." ucap Diana.
"Tidak Diana, ini memang keinginanku dan bukan salahmu.." ucap Sarah.
Diana pun menenangkan Sarah, sementara Kenneth mengurus Rome dan Victor di kantor polisi. Kenneth menyerahkan video yg ia rekam saat kejadian dan menceritakannya pada polisi. Polisi pun segera menghubungi tuan Alexander sebagai pemilik perusahaan untuk bertanggungjawab atas tuntutan yg dilayangkan Kenneth mewakili Sarah yg masih belum stabil emosinya.
Keesokannya Alexander pun tiba di negara tersebut dan langsung menuju ke kantor polisi melihat putranya yg mendekam semalaman dalam penjara.
"Apa yg kau lakukan nak?" tanya Alexander.
"Tapi tidak dengan menjual kehormatan stafmu..! kau tahu saham perusahaan bisa jatuh dan kita bisa kehilangan banyak investor bahkan pegawai wanita.." ucap Alexander.
"Dad, kau bisa membungkam mulut wanita itu dengan uang.." ucap Victor.
"Kau..! dasar menyusahkanku saja.." ucap Alexander kesal bagaimana putranya bisa bersikap begini pada korban.
Alexander pun diminta menemui Sarah untuk berdiskusi, karena Sarah ingin bicara pada atasannya langsung. Alexander pun duduk di ruangan yg disediakan oleh polisi. Disana Diana dan Kenneth turut hadir sebagai saksi.
"Perkenalkan namaku Diana, aku teman sekaligus saksi dalam kejadian kemarin.." ucap Diana.
"Saksi kedua ada tuan Kenneth, dan korban adalah nona Sarah.. Dan nona Sarah ingin bicara pada anda." ucap Diana.
"Aku minta maaf dan aku mohon untuk mengampuni putraku.." ucap Alexander.
"Maaf tuan Alexander, keputusan ada di tangan nona Sarah.. aku hanya menemaninya karena ia sedikit trauma .." ucap Diana lalu menyuruh Sarah untuk bicara.
"Silahkan Sarah, ucapkan semuanya.." ucap Diana.
"Bisakah kau dan temanmu keluar.." ucap Sarah.
"Iya kami akan keluar.." ucap Diana lalu mengajak Kenneth keluar.
"Kau yakin tak apa..?" tanya Kenneth saat keluar ruangan.
"Ya.. mereka adalah orang tua dan anak.. biarkan saja.." ucap Diana.
"Jadi pria bre****sek itu adalah.." ucap Kenneth.
"Ya kau benar, aku hanya memberikan ruang bagi Sarah untuk mengatakan siapa dirinya." ucap Diana.
"Baiklah.." balas Kenneth.
__ADS_1
Mereka pun menunggu di luar, dan Diana mendapatkan telepon dari Claude.
"Hallo... akhirnya kau menelpon.." ucap Diana.
"Bagaimana?" tanya Claude.
"Itu bukan milik ibumu, tapi milikmu.. dan bisakah kau kemari membawa kalung tersebut.." ucap Diana.
"Tidak bisa Diana, ayahku mengawasiku sekarang.." ucap Claude.
"Jelaskan ada apa?" tanya Claude.
"Jadi, kau punya saudara kembar.. dan kata pemiliknya yg sekaligus pembuatnya dia membuat kalung tersebut untuk pasangan kembar.." ucap Diana.
"Apa?? tidak mungkin.." ucap Claude.
"Maka dari itu, lebih baik jika kau kemari dan membawa kalung tersebut agar kau bisa mendengar penjelasannya langsung." ucap Diana.
"Diana aku akan mengatakan sebuah fakta untukmu, jadi dengarkan.. ayahku adalah Fabio.." ucap Claude.
"Apaa..?? kapan dia menikah?" tanya Diana bingung.
"Aku tak bisa menceritakannya padamu, tapi dia mengawasiku.. aku ketahuan menyelidikinya.." ucap Claude.
"Diana ada yg datang.." ucap Claude lalu mematikan telepon.
"Claude..Claud.." ucap Diana.
Diana pun terpaku dan tak tahu harus berkata apa. Dan Kenneth menatapnya dengan bingung.
"Kau kenapa? kekasihmu memutuskanmu?" tanya Kenneth.
"Bukan.. " ucap Diana.
"Lalu??" tanya Kenneth.
"Aku menemukan saudaraku.. akhirnya aku menemukannya kapt.. aku menemukannya.." ucap Diana menangis dan memeluk Kenneth tanpa sadar.
"Iya.. iya baiklah, tapi siapa dia?" tanya Kenneth.
"Dia adalah dr.Claude.. tapi aku butuh tes DNA untuk meyakinkannya.." ucap Diana.
"Dan kenapa kau menangis dan bengong? bukannya harusnya kau senang?" tanya Kenneth.
"Aku tak tahu harus mengatakannya, tapi dia anak dari Fabio, kemungkinan Fabio memalsukan identitasnya.." ucap Diana.
"Kenapa jadi rumit begini.. kau harus cepat sebelum Claude dicuci otaknya oleh Fabio.." ucap Kenneth.
"Kapt, aku boleh minta tolong lagi.." ucap Diana sembari menggenggam tangan Kenneth.
"Ck.. kau tak harus begini.." ucap Kenneth melepas tangan Diana.
"Kapt, aku memohon dengan sangat padamu jika perlu aku bisa berlutut.." ucap Diana.
"Baiklah, katakan dulu aku mau dengar." ucap Kenneth.
"Untuk kabar ini, aku mohon rahasiakan dari keluargaku terutama kakekku.. aku tak ingin Fabio malah membunuh saudaraku atau membawanya pergi jauh.." ucap Diana.
"Baiklah.. tapi sampai kapan?" tanya Kenneth.
"Sampai aku melakukan tes DNA padanya.." ucap Diana.
"Baiklah, cepat kita selesaikan yg disini lalu pulang dan bertemu saudaramu.." ucap Kenneth.
"Terimakasih kapt.." ucap Diana mencium tangan Kenneth.
"Diana apa yg kau lakukan..? lepas, malu dilihat orang lain.." ucap Kenneth.
__ADS_1
"Maaf aku kelepasan.." ucap Diana senang.