Gadis Tangguh

Gadis Tangguh
S2.EP195


__ADS_3

Sofia pun akhirnya mengajak kedua ibunya untuk berbicara. Mereka pun menuju ke ruangan kerja Sofia.


"Sayang ada apa ini?" tanya Reina.


"Ibu, kalian duduklah dulu.." ucap Sofia.


"Oke.. kami sudah duduk.." ucap Siska.


"Ini mengenai Diana, kalian tahu bukan Diana sudah berumur 12 tahun dan akan memasuki masa remaja.." ucap Sofia.


"Tentu kami tahu itu.." ucap Reina.


"Lalu ada apa Sofia?" tanya Siska.


"Ini mengenai body shaming yg mungkin terjadi di lingkungan sekolahnya. Jadi aku akan membuat tubuh Diana lebih proporsional dan juga untuk mencegah obesitas." ucap Sofia.


"Tapi Sofia, Diana begitu mencintai makanan.. ibu tak tega jika tak membelikannya.." ucap Reina.


"Itu karena kalian selalu memanjakannya. Dia sudah memakai kacamata dan enggan melakukan prosedur operasi, lalu tubuh tambunnya.. aku tak tahu lagi jika dia harus dibully di sekolahnya.. mungkin aku akan membakar sekolahnya jika sampai itu terjadi.." ucap Sofia.


"Sofia kau terlalu berlebihan.. Diana masih menjadi anak yg manis.." ucap Reina.


"Benar, gemuk sedikit tidak apa.. nanti juga dia bisa mengurus dirinya.." ucap Siska.


"Ini demi kesehatannya, kumohon ibu kalian mengertilah.." ucap Sofia.


"Baiklah, aku hanya akan membelikannya sesekali.." ucap Reina.


"Oke Sofia, aku mengerti.." ucap Siska.


"Terimakasih ibu atas pengertiannya.." ucap Sofia pada kedua ibunya.


☘☘☘


Keesokan harinya, Alfi pulang dari Singapura dan membuat kejutan untuk Diana.


"Hallo Diana.. Sedang apa putri Daddy.." ucap Alfi datang tiba-tiba.


"Daddyy.. akhirnya pulang juga.." ucap Diana memeluk ayahnya.


"Kau ini seperti Daddy tidak pulang 3x puasa dan 3x lebaran saja." ucap Alfi.


"Dad, itu mah namanya bang Toyib.." ucap Diana cemberut.


"Tidak senang Daddy pulang?" tanya Alfi.


"Senang sih.. " balasnya tersenyum.


"Taadaa.. Daddy membawakan hadiah untuk Diana.." ucap Alfi.


"Wah terimakasih Dad.. " ucap Diana menerima paperbag pemberian Alfi.


"Bukalah, agar daddy tahu kau suka atau tidak.."ucap Alfi.


"Oke.. sepertinya ini sebuah tas.." ucap Diana menerka-nerka.


"Wah, tas merek c*** edisi terbaru.. Thank you Dad.." ucap Diana.


"Putriku sudah besar sekarang, bahkan tahu kalau itu model terbaru.." ucap Alfi tersenyum.

__ADS_1


"Sayang kau sudah pulang?" ucap Sofia dari lantai atas.


"Ya sayang, kemarilah aku bawakan hadiah untukmu.." ucap Alfi.


"Ok.. tunggu sebentar.." ucap Sofia menuruni tangga.


Sofia pun menerima hadiah kalung berlian dari Alfi. Ia sangat senang karena Alfi selalu memberikannya hal-hal kecil yg membuatnya bahagia. Mereka pun akhirnya bisa berkumpul bertiga setelah setengah bulan lamanya Alfi berada di Singapura.


Alfi juga, sudah mulai membuka cabang rumah sakit di Indonesia. Walaupun Reina dan Kenan sudah menawarkan diri untuk membantu tapi Alfi menolaknya karena ia ingin sukses tanpa bantuan keluarga.


Keesokan harinya, Diana pergi ke sekolah seperti biasa. Teman-temannya hanya akan memanggilnya "gendut" atau "Ndut" tapi tak pernah berniat untuk membully-nya hanya untuk sebutan saja. Dan Diana pun tahu temannya hanya iseng saja.


Hingga hari kelulusan dari sekolah dasarnya, Diana masih terlihat berisi. Walaupun Sofia sudah mulai mengatur pola makannya, terkadang Diana masih sembunyi-sembunyi untuk makan cake dan kue bersama Nenek dan juga Daddynya.


Hingga tibalah saat ia masuk ke sekolah menengah pertama. Ia berhasil masuk ke salah satu sekolah internasional dengan serangkaian tes yg telah dilaluinya. Ia pun senang bisa masuk ke sekolah impiannya.


"Selamat ya sayang.." ucap Sofia dan Alfi.


"Terimakasih mom.. Dad.." balas Diana.


"Kau mau hadiah apa dari mom?" tanya Sofia.


"Aku hanya butuh sepatu mom.." ucap Diana.


"Oke.. ayo kita pergi.." ucap Sofia.


"Lalu dari Dad?" tanya Alfi.


"Hmm.. aku mau puding coklat.." ucap Diana sembari melirik Sofia.


"Oke.. kau boleh membelinya, tapi jangan dimakan sendiri.." ucap Sofia.


Mereka pun pergi untuk membeli sepatu Diana dan juga makan puding coklat kesukaan Diana. Diana terlihat sangat bahagia hari itu. Namun, kebahagiaannya hilang saat hari pertama masuk ke sekolah barunya.


Diana yg memakai sepatu dan tas dari brand ternama pun menjadi pusat perhatian. Ia mulai mendengar kakak kelas dan juga siswa baru membicarakan dirinya.


"*Gayanya sih boleh lah anak baru itu, tapi lihat tubuhnya.. gendut.."


"Haha.. kau benar, untung orang tuanya kaya jadi bisa modis penampilannya.."


"Kau benar, kalau sudah miskin terus gendut dan jelek kan miris*.."


Diana yg mendengarnya pun langsung shock. Sungguh berbeda dengan teman-teman sekolah dasarnya yg masih menghargainya. "Apa aku salah masuk ke sekolah ini?" gumamnya.


Kemudian semua siswa baru berkumpul di lapangan untuk pengarahan dari guru dan Osis. Setelah itu, mereka masuk ke kelas yg sudah dibagikan di mading sekolah. Diana pun mencari namanya di papan pengumuman sekolah.


"Ish si gendut ini malah menghalangi jalan.." ucap seorang siswi yg mendorong Diana.


"Akh.. aku juga mau lihat.." balas Diana yg hampir terjatuh.


"Badanmu itu besar harusnya kau tahu diri.." ucapnya lagi.


Diana pun akhirnya mengalah dan melihat papan pengumuman hanya dengan memfotonya dan mempebesar gambarnya untuk mencari namanya.


"Ternyata di kelas 1-2" ucap Diana menuju ke kelasnya.


Naasnya lagi, ia satu kelas dengan siswi yg tadi mendorongnya.


"Wah, si gendut di kelas ini juga.. merusak pemandangan saja.." ucap siswi yg bernama Cindy.

__ADS_1


"Yah, tapi kau tidak lihat tas dan sepatunya merek cc dan nn" ucap Tiwi teman Cindy.


"Paling juga KW.." ucap Cindy.


Namun, Diana hanya diam dan duduk jauh dari meja Cindy. Diana justru berkenalan dengan teman barunya bernama Nada dan Fita. Mereka cukup baik dan meminta Diana untuk tidak meladeninya. Mereka bertiga pun jadi akrab dan selalu bersama.


Setiap harinya bully-an Cindy dan gengnya pun semakin menjadi. Tapi Diana beruntung masih belajar beladiri hingga ia mampu mengatasinya dan juga meredam emosinya. Diana juga selalu meraih nilai tertinggi di kelasnya hingga Cindy semakin tak suka padanya.


Dan pada tahun ketiga, Cindy dan gengnya masih saja membullynya. Walaupun kelas mereka sudah berbeda karena Diana masuk ke kelas khusus, namun Cindy dan gengnya masih terus mengganggunya.


Muncullah siswa baru laki-laki yg menjadi populer di sekolahnya. Bukan hanya tampan, tapi ia cukup pintar dan suka berolahraga membuat para siswi betah berlama-lama menonton siswa tersebut bertanding basket.


Siswa tersebut bernama Frederrick, teman-temannya memanggilnya Derrick. Kebetulan ia juga satu kelas dengan Diana. Dan pada saat jam olehraga, dilakukanlah pertandingan antara kelas Diana dan juga kelas Cindy.


Saat sedang seru bertanding, bola terlempar ke arah penonton yg berisi siswi perempuan. Bola tersebut tepat ke arah Diana dan teman-temannya sedang mengobrol. Diana yg melihat adanya bahaya pun berdiri dan meninju bola yg mengarah padanya dan teman-temannya.


"Kalian minggir..!" ucap Diana dan langsung berdiri meninju bola tersebut.


Buggghhhh... Prankkkk..


Bola yg ditinju Diana pun melayang ke arah ruangan gudang penyimpanan dan menghancurkan kaca jendelanya. Semua murid berteriak dan menyaksikan kejadian tersebut.


"Aaaaaaa.." teriak semua siswi.


"Hampir saja.." ucap Diana.


"Di.. kau baik-baik saja..?" tanya Fita.


"Fit tangannya berdarah.." ucap Nada.


"Aku tidak apa, hanya lecet.." ucap Diana lalu menerima tisu dari Nada.


Tim basket kelasnya pun menoleh ke arahnya dengan tatapan takjub.


"Diana kau tidak apa??"


"Iya, maaf teman-teman.. bolanya jadi melayang jauh.." ucap Diana.


"Diana maafkan aku.." ucap Derrick.


"It's oke.. ini hanya lecet.." ucap Diana.


Kemudian guru BP pun muncul dan memanggil Diana, Derrick yg bersalah pun membela Diana hingga mereka berdua bertugas membersihkan pecahan kaca dan juga membersihkan gudang. Diana langsung membayar ganti rugi atas jendela yg ia pecahkan.


"Diana ini bukan tentang uang, tapi ibumu harus tahu apa yg terjadi padamu.. lihat tanganmu berdarah.." ucap guru BP tersebut.


"Kabari saja bu, mereka pasti akan datang jika ibu panggil. Dan mereka mengajariku untuk bertanggungjawab atas apa yg kuperbuat.." ucap Diana kemudian ia pergi ke UKS untuk mengobati lukanya bersama Derrick.


Lalu mereka bersama-sama membereskan pecahan kaca dan membersihkan gudang.


"Aku heran padamu, kenapa kau meninjunya? bukankah kau bisa menghindar seperti temanmu?" tanya Derrick.


"Itu hanya gerakan spontan.. " ucap Diana.


"Aku akui, sepertinya pukulan itu cukup keras untuk ukuran anak perempuan.." ucap Derrick.


"Ya.. sepertinya aku juga kelepasan.. kau bersihkan sebelah sini dan aku akan bersihkan yg disana.." ucap Diana yg memakai maskernya.


Padahal Derrick sangat penasaran kenapa anak perempuan seperti Diana bisa memukul bola sekeras itu. Tapi ia mengurungkannya karena Diana nampak menjauhi pertanyaan itu.

__ADS_1


__ADS_2