Gadis Tangguh

Gadis Tangguh
EP.31


__ADS_3

Pertandingan kelima kali ini Rose akan melawan petarung laki-laki, ia adalah mantan juara bertahan disini. Tuan Guido pun tersenyum melihat anak didiknya naik ke atas ring. Rose pun memasuki arena dengan santai. Lelaki itupun tersenyum melihat Rose.


"Halo petarung cantik.. tapi aku berbeda dari orang yg kalu lawan sebelumnya.." ucapnya.


"Aku juga berbeda dari petarung-petarung yg aku lawan tadi.." balas Rose.


Setelah aba-aba dari wasit, pertandingan pun dimulai. Penonton pun semakin semangat, ditambah lagi taruhan judi pun menjadi semakin liar. Lelaki itu pun melihat Rose dan mendekat. Sementara Rose waspada.


"Ayo serang aku..!" pinta lelaki itu.


Dengan tenang Rose pun menyerang dengan kakinya. Ia memutar tubuhnya dan menendang ke arah wajah lelaki tersebut. Tapi orang tersebut pun menghindar dengan cepat dan menyerang balik menggunakan pukulannya. Bughh ..!


"Maaf nona perhatikan langkahmu.."


Tak terima dengan pukulan yg diterima Rose pun memukul area perutnya dengan kuat. Buugghh..!


Orang tersebut pun meringis kesakitan sementara Rose tersenyum.


"Boleh juga pukulannya.." gumam lelaki tersebut dalam hati.


"Kini kau yg harus berhati-hati..!" ucap Rose yg langsung menyerangnya dengan tendangan mematikan. Buggghhh..!


Lelaki itupun jatuh dan kesakitan namun ia kembali bangkit. "Maaf nona tidak seperti harapanmu.." ucapnya saat bangkit.


"Sial..! aku harus menjatuhkannya sebelum energiku habis.." gumam Rose dalam hati.


Mereka pun adu pukulan dan berhasil saling mengelak membuat pertarungan terlihat seimbang. Setiap pukulan yg diarahkan Rose berhasil ia hindari atau tepis, begitu juga yg dilakukan lelaki itu, setiap ia melancarkan pukulan Rose pasti bisa menhindarinya.


Penonton pun semakin semangat dibuatnya, karena jarang sekali terjadi pertarungan sengit seperti ini. Mereka terus berteriak nama petarung yg mereka dukung, mengingat inilah babak terakhir dari pertandingan malam ini.


Kenan pun terdiam menyaksikan pertandingan kakaknya. Ia berharap kakaknya bisa menang dan pulang dengan selamat tapi nampaknya saat ini kakaknya sedang kesulitan. Ia terus berdoa untuk kakaknya di kursi pemain cadangan berharap kakaknya mampu menang dan pulang dengan selamat.


Rose yg saat ini terpojok pun berusaha sekuat tenaga untuk terus melawan. Saat lawannya tengah fokus memukul, ia menendang kaki lawannya hingga terjatuh. Kemudian ia melancarkan tendanggannya saat lawannya baru saja bangkit. Lelaki tersebutpun kembali terjatuh. Rose dengan cepat mengunci tangannya dengan kuat. Tapi lawannya berhasil melepaskan diri.


Mereka berdua pun kini saling berdiri dengan sisa tenaga masing-masing. Melancarkan pukulan demi pukulan berharap lawannya bisa jatuh. Rose pun mencoba untuk tetap tenang dan memukul saat ada kesempatan. Saat ia melihat celah Rose pun melancarkan pukulan dengan tenaga penuh ke arah lelaki tersebut. "Jika habis ini dia masih bisa bangun tamatlah riwayatku.. ini ada tenaga terakhirku.." gumam Rose dalam hati.


Buggghh..!


Lelaki itupun jatuh ke lantai dan K.O. Semua orang pun bersorak menyaksikan sang juara baru mereka. Wasit pun mengangkat tangan Rose tanda ia memenangkan pertarungan. Setelah itu Rose pun turun untuk menemui tuan Guido dan Kenan. Baru saja ia mendekat ke kursi Kenan, ia pun terjatuh dan pingsan sesat.

__ADS_1


"Rose..!" teriak Kenan dan Alfi.


Mereka berdua pun langsung mendekat dan menangkap Rose yg jatuh. Rose yg saat itu pingsan langsung digendong oleh Kenan dan direbahkan di atas kursi. Alfi pun langsung memeriksa keadaannya.


" Kau tenang saja, ia hanya kelelahan.." ucap Alfi setelah memeriksa Rose.


Beberapa saat kemudian Rose pun terbangun. Ia yg merasa sangat lelah pun terduduk disamping Kenan.


"Kak.. apa kakak baik-baik saja?" tanya Kenan.


"Aku lelah, tenagaku benar-benar terkuras habis .." jawab Rose.


"Istirahatlah Rose.. atau kita segera pulang saja.." ajak Alfi.


Lalu tiba-tiba tuan Guido pun menghampiri mereka.


"Wah selamat nona Rose, kau sungguh luar biasa malam ini..!" ucapnya.


"Terimakasih tuan.. aku harap kau menepati janjimu.." balas Rose.


"Oke.. itu mudah, ini terimalah hadiahmu.." balas tuan Guido memberikan uang di sebuah tas.


"Tidak ini hadiah dalam pertandingan.. untuk bantuanku akan aku lakukan segera." balas tuan Guido.


"Baiklah.." balas Rose.


"Temui aku lusa jam 1 siang disini.." ucap tuan Guido.


"Baiklah.. tapi jika kau kabur kau akan menyesal tuan.." balas Rose.


Tuan Guido pun hanya tersenyum melihat kepergian Rose, Kenan dan juga Alfi. Mereka pun keluar dari gedung tersebut menuju area parkir. Namun perjalanannya tak mulus karena ada beberapa petarung yg menghadang mereka.


"Oh tidak.. apalagi ini?" umpat Rose.


"Berhenti..!"


"Iya.. apa mau kalian?" tanya Rose.


"Serahkan hadiahnya.."

__ADS_1


"Oh ini.. baiklah." ucap Rose lalu mendekat dan menyerahkannya.


"Semudah ini?" tanya salah seorang heran.


"Ya.. aku lelah dan kalau aku mau, aku bisa membeli tempat ini dan meratakannya dengan tanah..!" ucap Rose meninggalkan mereka diikuti Kenan dan Alfi.


Kenan pun hanya tersenyum melihat kelakuan kakaknya. "Dia akan semakin gila jika ada yg menghalanginya lagi.." gumamnya dalam hati.


Sementara Alfi hanya menggelengkan kepalanya. "Bagaimana aku bisa menyukai wanita ini selama bertahun-tahun.." gumamnya dalam hati.


Sementara para petarung itupun terdiam dan malu. Kemudian mereka hendak mengembalikannya tapi Rose dan yg lainnya sudah meninggalkan tempat tersebut.


Kini Rose, Kenan dan juga Alfi sedang menuju hotel tempat Rose dan Kenan menginap. Alfi pun mengikutinya untuk mengobati Rose. Sesampainya disana, Doni pun terkejut melihat Rose yg babak belur.


"Ada apa dengan wajah cantikmu nak? Kenan bisa kau jelaskan..?" tanya Doni pada kedua cucunya.


"Ceritanya cukup panjang kek.. mereka mau membantu tapi syaratnya kami harus mengalahkan petarung yg ada disana. Kakak melawan 4 orang, sementara aku hanya bisa melawan 1 orang itupun dengan sedikit memaksa kakak untuk beristirahat.." ucap Kenan.


"Dasar gadis gila ini kembali berulah.. Luka ditanganmu saja baru pulih kini wajah lihat wajahmu sudah seperti badut..!" ucap Doni kesal sementara Rose sudah tak mampu berkata-kata lagi.


"Maaf tuan, bolehkah aku mengobatinya sebentar?" tanya Alfi.


"Baiklah.." balas Doni.


Sementara Alfi mengobati Rose, Kenan pun menceritakan semua kejadian pada kakeknya hingga membuat Doni geleng-geleng kepala. "Cucu perempuan kesayanganku akan semakin gila jika dibiarkan.." gumamnya dalam hati.


"Kakek tenang saja, kakak hanya kelelahan.." ucap Kenan.


"Aku tak bisa mempercayai kenyataan, bagaiamana seorang wanita bisa segila ini Ken.." ucapnya.


"Ya mau bagaimana lagi kita sudah paham sifatnya, dan hanya bisa memantau dan melindunginya sebisanya.." balas Kenan tersenyum karena ia pun berfikir demikian juga.


"Baiklah, aku merasa dia akan semakin gila dan nekat jika kita melarangnya.." ucap Doni.


"Kakek benar, semoga saja tidak terjadi hal berbahaya nanti.." balas Kenan.


"Aku juga berharap begitu.." ucap Doni.


Setelah selesai mengobati Alfi pun menjelaskan kondisi Rose pada Doni dan Kenan. Kemudian ia pamit undur diri.

__ADS_1


__ADS_2