
Sofia dan keluarganya pun pulang setelah menyelesaikan semua urusan di negara tersebut. Sejujurnya mereka ingin berlibur sekeluarga tapi mereka sudah banyak mengambil cuti untuk menyelesaikan masalah ini. Sore hari ini mereka berangkat menggunakan jet pribadi S Group.
Setelah semua persiapan dan barang-barang mereka telah menumpuk itu berhasil dikemas. Terutama barang-barang milik Sofia, ia sudah terlalu lama di negara tersebut hingga barang miliknya adalah yg terbanyak dari keluarganya.
"Sudah berapa lama aku tinggal disini hingga ada banyak barang begini?" ucap Sofia bingung sendiri.
Tapi tentu saja ada bodyguardnya yg akan membawakan barang-barangnya. Hingga mereka pun naik ke pesawat dan lepas landas menuju negara tujuan.
Sepanjang perjalanan mereka habiskan dengan bercengkrama saat makan bersama, lalu menonton film, dan tidur. Begitulah waktu yg mereka habiskan untuk menempuh jarak yg jauh untuk sampai ke negaranya.
Setelah tiba di bandara, mereka turun dan disambut oleh Doni beserta Ayana. Mereka nampak merindukan anak dan cucunya. Mereka saling berpelukan untuk melepas rasa rindunya.
"Sofia kau baik-baik saja?" tanya Doni.
"Iya kek, aku baik-baik saja.. " balas Sofia.
"Kau harus pakai kursi roda, kakek sudah siapkan.." ucap Doni lalu memanggil pengawal pribadinya untuk membawa kursi roda untuk Sofia.
"Silahkan nona.. " ucap pengawal Doni setelah membawa kursi roda untuk Sofia.
"Iya terimakasih.." balas Sofia.
"Kakek nampaknya ini berlebihan.." ucap Sofia.
"Sudah kau itu turuti saja permintaan kakek tua ini.." balas Doni.
Doni pun meninggalkan Ayana, Satria, Reina serta Kenan.
"Cucu perempuan memang beda ya.." ucap Satria.
"Ya begitulah papamu.. Sudah kita jalan saja dibelakangnya.. " balas Ayana.
"Oke.. ma.." balas Satria dan juga Reina.
"Kenan kau kelihatan kurus sekali.. kau kurang tidur apa bagaimana?" tanya Ayana melihat Kenan yg kelihatan kurus.
"Tidak nek, aku hanya sedang sibuk sekali.. jadi kurang memperhatikan makanan.." balas Kenan.
"Baguslah nenek sudah memasak tadi, kau harus banyak makan masakan nenek.." ucap Ayana berjalan bersama Kenan meninggalkan Satria dan juga Reina.
"Sekarang kita ditinggalkan.."ucap Satria tersenyum.
"Ya sudah biarkan saja mereka, ayo kita naik mobil lain saja.." ucap Reina.
"Ok dengan senang hati sayang.." ucap Satria menggandeng tangan Reina.
Mereka pun pergi menuju ke rumahnya dengan mobil berbeda. Hingga sampai di rumah besar milik mereka. Nampak Sinta sudah berada disana dan menyambut mereka semua. Doni dan Sofia pun tiba lebih dahulu.
Jojo pun muncul untuk menyambut Sofia.
"Kak Sofia selamat datang.." ucap Jojo menyambut Sofia yg sedang didorong dengan kursi roda.
"Wah, terimakasih Jo.. " ucap Sofia.
"Paman biar aku yg membawa kak Sofia ke dalam.." ucap Jojo menggantikan pengawal kakeknya yg mendorong kursi roda Sofia.
__ADS_1
"Baik tuan muda.." balasnya.
"Nah begitu dong.. " ucap Doni bangga.
"Jojo kau nampak lebih tinggi dari terakhir kita bertemu.." ucap Sofia.
"Tentu saja kak, dan aku akan terus tumbuh tinggi.." balas Jojo.
"Memangnya kau pohon terus meninggi..?" tanya Doni.
"Haha.. maksudku aku masih bisa lebih tinggi lagi kakek.. ya kan kak..?" balas Jojo.
"Tentu, keturunan laki-laki keluarga kita kan memang rata-rata begitu.." balas Sofia.
"Siapa dulu kakeknya.." balas Doni dan mereka pun tertawa.
"Oh papa dan Sofia sudah tiba.." ucap Sinta.
"Selamat datang Sofia.." sambut Sinta.
"Terimakasih Aunty, sampai repot-repot begini.." ucap Sofia.
"Tidak kita memang harus makan bersama.. nenekmu sudah memasak ini semua dari subuh.." balas Sinta.
"Nenek memang begitu, tapi aku suka masakan buatan nenek.." balas Sofia.
"Orangtuamu dan Kenan belum tiba?" tanya Sinta.
"Belum Aunty, mungkin sebentar lagi.." ucap Sofia.
Masakan Ayana adalah makanan favorit mereka selama ini. Mengingat baik Reina maupun Sinta tak ada yg begitu pandai memasak. Hingga masakan itupun begitu dirindukan dan disukai semua anggota keluarga. Semua pun memakannya dengan lahap hingga habis tak bersisa. Ayana pun tersenyum puas melihat semua masakannya disukai keluarganya.
Mereka berkumpul hingga sore menjelang, semua anggota keluarga pun pamit undur diri agar mereka bisa beristirahat dengan nyaman. Dan mereka berempat pun kini langsung beristirahat saat semua anggota keluarganya telah pulang. Lelah selama perjalanan pun mulai terasa dan mereka semua memutuskan untuk tidur lebih awal. Sementara para pelayan sedang membersihkan rumah tersebut saat semua tamu telah pulang.
☘☘☘
Keesokan harinya mereka bangun dan memulai aktivitasnya. Kenan dan Reina akan mulai pergi kantor S Group, Sofia dan Satria berangkat menuju kantor SHIELD. Mereka menyempatkan diri sarapan pagi bersama kemudian berangkat menuju tujuan masing-masing.
Banyak agenda yg tertunda dan harus mereka selesaikan selama mereka berada di Italia untuk waktu yg lama. Semua pun nampak menyambut mereka dengan bahagia. Terutama Sofia, mereka bangga memiliki pemimpin yg handal walaupun ia seorang wanita. Sofia pun dapat banyak support dari anak buahnya. Hingga Sofia tersenyum di ruangannya.
"Bukan sedih karena batal menikah, tapi bangga dan dapat banyak dukungan karena batal menikah.." gumamnya.
Hingga Eva muncul ke ruangannya.
"Maaf nona, setelah ini kita ada rapat dengan S Group.." ucap Eva.
"Oh iya.. oke aku akan kesana.." ucap Sofia.
"Baik nona, tuan Kevin dan tuan Kenan sudah tiba nona.." balas Eva.
"Oke aku akan segera ke sana.." balas Sofia.
Sofia pun merapikan mejanya dan bergegas menuju ke ruangan rapat. Setibanya disana, ia sudah ditunggu oleh kakeknya dan juga ayahnya.
"Mati aku.. tatapan kakek mengerikan.." gumam Sofia dalam hati.
__ADS_1
Sofia pun masuk ke dalam ruangan rapat, dan tak lama setelahnya Alfi pun tiba juga disana. Mereka membahas mengenai pemindahan kekuasan kembali.
"Dasar gadis gila ini memang luar biasa .." ucap Doni.
"Kau benar-benar bersekongkol sampai mengajak Kenan, dan tidak mengatakan apa-apa pada kami.." ucap Satria.
"Kakek.. Ayah.. aku bisa jelaskan.." ucap Sofia tersenyum.
"Jadi ayah.. kakek.. begini.." balas Kenan tapi langsung dipotong oleh Doni.
"Kenan kau diam, biarkan gadis gila ini yg mengatakannya.." ucap Doni karena ia tahu jika Kenan yg berbicara ia akan kalah.
"Benar Kenan biar yg mempunyai ide gila ini yg bicara.." ucap Satria mendukung.
"Tamatlah riwayatku jika mereka mengamuk disini.." gumam Sofia dalam hati.
"Kakek aku akan tunjukkan sebuah surat perjanjian yg kubuat dengan Vall sewaktu di Itali.." ucap Sofia membuka galeri ponselnya dan menunjukkan foto perjanjian tersebut.
"Ini Kakek lihatlah.." ucap Sofia.
"Apa-apaan ini Sofia??" tanya Doni mulai kesal.
"Untuk mengantisipasi ini aku memindahnya sementara.. dan kalian tahu Alfi bukan? dia bukan orang lain dan sudah seperti saudara. Jika Alfi macam-macam paman Bima yg akan jadi jaminannya.." ucap Sofia sontak membuat Bima terkejut.
"Oh Tuhan tidak ibunya tidak anaknya selalu saja begitu.." gumam Bima dalam hati.
"Itu benar kakek, dan ayahpun tahu tentang surat perjanjian itu.." ucap Kenan.
"Ya tapi aku tak tahu kalian bisa sampai sejauh ini.." ucap Satria.
"Yasudah, sekarang masalah sudah beres dan surat perjanjian yg asli sudah musnah.. jadi kita tinggal menyuruh Alfi tanda tangan saja kan?" tanya Sofia dan mereka semua setuju.
Akhirnya semua saham milik Kenan dan Sofia pun kembali setelah Alfi menandatanganinya.
"Terimakasih Alfi atas bantuannya.." ucap Sofia tersenyum lebar.
"Sama-sama Sofia.. dan maaf semuanya jika membuat kalian khawatir.." ucap Alfi.
"Tunggu-tunggu, sejak kapan Sofia tersenyum begitu pada seoramg pria..?" tanya Doni.
"Karena kami akan menikah kakek, ayah juga sudah tahu itu bukan?" ucap Sofia santai sembari memegang tangan Alfi.
BRakkkk..! Doni pun memukul tongkat saktinya ke atas meja hingga pegangan Sofia dan Alfi terlepas.
"Sebelum menikah jangan sentuh cucuku dahulu.." balas Doni posesif.
"Maaf tuan.. " ucap Alfi menundukan kepala.
"Maaf kakek.. aku kelepasan.." balas Sofia santai.
"Hhh.. Alfi kau sudah berjanji bukan akan datang ke rumahku? jadi datanglah malam ini.." ucap Satria.
"Baik paman.." balas Alfi.
"Baguslah jika begitu, tapi ingat jangan sentuh cucuku sebelum kau menikahinya.."ancam Doni.
__ADS_1
Sementara Kenan diam menyaksikan tontonan seru itu, ia sedang berusaha keras untuk menahan tawanya.