
Kenan pun bisa bernafas lega melihat kakaknya sudah diruang perawatan dan sedang tertidur. Ia dan Alfi hanya bisa menatap Sofia yg tertidur dengan rasa bahagia akhirnya wanita itu mau menurut juga. Jangan lupakan penjagaan yg diberikan Kenan di depan ruangan Sofia agar ia tak bisa kabur lagi.
Dan Satria yg baru saja tiba pun menelpon Kenan.
"Hallo Ken.. kau ada dimana?" tanya Satria.
"Aku ada dirumah sakit ayah, sedang menjaga kakak.." ucap Kenan.
"Baguslah kakakmu sudah dirumah sakit. Aku baru saja tiba dan masih dibandara.. Sebentar lagi aku menuju ke rumah sakit.." ucap Satria.
"Oke ayah.." ucap Kenan, lalu panggilan pun terputus.
"Akhirnya ayah tiba juga.. " gumam Kenan dalam hati.
Kenan pun memanggil Kevin dan Eva untuk menyiapkan keperluannya dan juga Sofia selama di rumah sakit. Dan tak berselang lama mereka berdua pun tiba dengan membawa tas berisi keperluannya dan juga kakaknya.
"Oke.. Terimakasih Kevin.. dan Eva letakkan saja di dalam lemari kecil itu tas milik kakakku.." ucap Kenan.
"Baik tuan.." ucap Eva.
"Kevin dan Eva, kalian jaga kakakku. Aku mau mandi dulu.." ucap Kenan.
"Baik tuan.." balas Eva dan Kevin.
Kenan pun menuju kemar mandi yg ada di dalam ruang VVIP tersebut. Ia merasa gerah dan berantakan setelah menghajar pria tua yg sudah menembak kakaknya.
"Sepertinya aku akan sering melihat orang tertembak setelah ini.." ucap Eva..
"Tapi kau takkan tertembak, karena kau telah menembak hatiku.." ucap Kevin menggombal.
"Duh.. Kevin kau itu cukup berlebihan.." ucap Eva tertawa sembari menampol kepala Kevin.
"Sakit tau Sayang.." ucap Kevin.
"Uekkk.. kalian kalau mau pacaran jangan disini.." ucap Sofia.
"Ehmm.. nona sudah sadar.." ucap Eva malu begitu juga dengan Kevin.
"Iya aku sudah bangun saat kalian datang.. dan lagi Kevin gombalanmu sudah ketinggalan jaman.. " ucap Sofia.
"Benarkah nona? bukankah wanita suka pria humoris.." ucap Kevin.
"Ck.. benar sih tapi wanita lebih suka kepastian bukan gombalan.." ucap Sofia.
Jlebbb.. Kevin pun tertohok dengan ucapan Sofia.
"Anda benar nona.." ucap Kevin.
"Bekerjalah dengan benar agar tak hanya jadi gombalan saja.." ucap Sofia.
"Iya nona.." ucap Kevin.
"Hei.. semangatlah.. dan ingat aku masih belum memberikan kalian berdua hukuman.." ucap Sofia.
"Baiklah nona ternyata masih ingat.." ucap Kevin.
"Tentu saja, tidak susah kok apalagi sampai tertembak sepertiku.. kau pasti suka.." ucap Sofia.
"Baiklah nona.." ucap Kevin dan juga Eva.
Tak lama, Alfi masuk ke dalam ruangan dan mendapati Sofia sudah sadarkan diri.
"Sofia kau sudah sadar.." ucap Alfi.
"Ya.. belum lama aku sadar.. " ucap Sofia.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alfi.
__ADS_1
"Labih baik berkat dirimu.." ucap Sofia.
"Syukurlah, aku terkejut kau tertembak lagi.. dan lagi kau mencoba melindungiku.." ucap Alfi.
"Ya.. sudahlah tak apa..aku sudah terbiasa.." ucap Sofia.
"Terimakasih Sofia, tapi mulai sekarang sampai pernikahan kita aku sudah meminta ayahku dan ayahmu untuk tidak memberimu misi berbahaya.. bahkan aku meminta ijin untuk honeymoon nanti.." ucap Alfi.
"Wow.. kita saja belum menikah, bahkan pakaian pernikahan saja belum tahu seperti apa rupanya.. kau sudah memikirkan honeymoon.." ucap Sofia tersenyum.
"Sepertinya aku harus banyak belajar dari tuan Alfi.." ucap Kevin.
"Ya.. itu benar Kevin.. adikku sendiri saja aku tak tahu apa dia punya kekasih atau tidak.." ucap Sofia.
"Aku yg setiap hari bersamanya saja tidak tahu nona, karena yg tuan Kenan lakukan hanya bekerja saja.." ucap Kevin.
"Oh kalian sedang membicarakanku?" ucap Kenan mendengar ucapan mereka.
"Ya.. memang.. habisnya kau itu tidak pernah mengenalkanku pada kekasihmu.." ucap Sofia.
"Kau juga sama, hanya Alfi kan 1 1nya kekasihmu selama ini.." balas Kenan.
"Yah, mau bagaimana lagi aku wanita yg pemilih.. apalagi pekerjaanku berbahaya.." ucap Sofia.
"Aku juga sama, aku tak ingin asal memilih wanita.. " ucap Kenan.
"Tapi kau masih normal kan Ken?" tanya Sofia.
"Maksudmu kak??" tanya Kenan kesal.
"Jawab saja.." ucap Sofia.
"Tentu saja masih, memangnya aku terlihat bagaimana?" jawab Kenan.
"Oke.. aku menantangmu.. saat pernikahanku datanglah dengan seorang wanita.." ucap Sofia.
"Oke.. Kevin, Eva dan juga Alfi saksinya.." ucap Sofia.
"Baiklah.. deal.." ucap Kenan.
"Deal.." balas Sofia berjabat tangan dengan Kenan.
"Kalian lihat nanti aku akan membawa seorang wanita di pesta pernikahan Alfi dan kakakku.." ucap Kenan.
"Baik tuan.. " ucap Kevin dan Eva.
"Oke.. aku menantikannya Ken.." balas Alfi.
"Baiklah, agar aku tahu selera wanitamu seperti apa.." ucap Sofia.
"Kakak lihat saja nanti.." ucap Kenan.
Brak..
"Sofia bagaimana keadaanmu.." ucap Satria datang tiba-tiba.
"A-ayah.." ucap Kenan dan Sofia bersamaan..
"Ya.. ayah langsung kemari setelah mendengar kau tertembak.. maafkan ayah.." ucap Satria.
"Iya aku tak apa yah.. ini hanya luka kecil.." ucap Sofia.
"Benarkah Alfi?? apakah Sofia akan segera pulih sebelum pernikahan kalian?" tanya Satria.
"Iya paman, hanya akan meninggalkan bekasnya.." ucap alfi.
"Syukurlah, ayah akan menyesal seumur hidup jika kau harus berbaring disini saat pernikahanmu tiba.." ucap Satria.
__ADS_1
"Ayah berlebihan.. ayah kan sudah sering tertembak juga.." ucap Sofia.
"Ayah pernah tertembak tapi tak sesering dirimu dasar wanita ceroboh.." ucap Satria.
"Oke aku kalah.." ucap Sofia.
Dan mereka pun berbincang bersama-sama dan tersenyum. Kevin dan Eva pun pamit undur diri, setelah Satria tiba. Mereka memutuskan untuk pergi kencan karena tak ada pekerjaan untuk sementara.
Sementara Kenan sedang berfikir dimana ia bisa mendapatkan wanita yg bisa diajak untuk ke pesta pernikahan Sofia. Dan masalah pentingnya apa ia masih ada waktu untuk mencarinya?? Kenan pun berfikir keras. "Dimana aku menemukan wanita yg bisa kubawa nanti? apa aku menyewa seorang wanita saja hanya untuk datang ke acara kakak?" gumam Kenan dalam hati.
☘☘☘
Beberapa hari kemudian Sofia pun keluar dari rumah sakit dijemput ayahnya. Kenan tidak bisa datang karena ia harus segera pulang dan mengurus perusahaan.
Satria pun mengurus administrasi dan Sofia menunggu di ruang tunggu. Nathalie pun muncul dan melihat dari kejauhan. "Akhirnya wanita itu keluar juga.. " gumam Nathalie dalam hati.
Sofia pun pergi ke toilet selama menunggu ayahnya. Ia berpapasan dengan Nathalie dan cuek saja.
"Hei kau bagaimana kondisimu?" tanya Nathalie.
"Lebih baik, lalu bagaimana kondisi kakimu? kelihatannya masih berwarna biru ya, sampai kau tidak bisa memakai heelsmu.." balas Sofia tersenyum.
"Jadi kau sengaja melakukannya?" tanya Nathalie emosi.
"Tidak juga, aku tak suka ada menghalangi jalanku jadi kukira itu kayu dan kutendang.." balas Sofia.
"Dasar, kau sendiri bagaimana bisa sampai tertembak? atau jangan-jangan kau pelaku kriminal??" tanya Nathalie tersenyum.
"Jauh sekali pikiranmu Dr.Natahalie, dan kurasa aku tak punya waktu untuk menjelaskan segalanya.." ucap Sofia lalu pergi meninggalkan Nathalie.
"Tunggu.." ucap Nathalie menahan lengan Sofia.
"Lepaskan.." ucap Sofia.
"Tidak, jelaskan dahulu siapa dirimu hingga mengalami kondisi ini.." ucap Nathalie menunjuk lengan Sofia yg tertembak.
"Lepaskanlah, sebelum kesabaranku habis.." ucap Sofia.
"Bagaimana kalau begini?" tanya Nathalie menggenggam erat lengan yg terluka itu.
"Kau yg memancingku ya.." ucap Sofia lalu menarik lengan Nathalie dan menguncinya.
"Bagaimana?? sakit??" tanya Sofia.
"Akhhh.. lepaskan aku.." ucap Natahalie.
"Lepas?? Baiklah.." ucap Sofia mendorong Nathalie hingga jatuh.
"Dasar bi*** !" ucap Nathalie.
Tiba-tiba tim SHIELD pun datang mengerubungi Sofia.
"Nona, apa anda baik-baik saja?" tanya ketua tim alfa.
"Ya.. ada apa hingga kalian berkumpul disini?" tanya Sofia.
"Aku hanya ingin menyampaikan info terbaru nona.." ucap ketua tim alfa.
"Baiklah ayo ikut denganku.." ucap Sofia mengajak ketua tim alfa ke tempat agak sepi.
Sementara Nathalie, beberapa anggota SHIELD membantunya tapi ia menolak.
"Siapa kalian? dan siapa wanita yg kalian panggil nona itu??" tanya Nathalie menolak bantuan mereka.
"Maaf nona, anda tidak punya hak untuk bertanya dan silahkan anda berdiri sendiri kami permisi.." ucap tim alfa kemudian pergi meninggalkan Nathalie.
"Ck.. semakin mencurigakan.." gumam Nathalie.
__ADS_1
Alfi yg melihat Nathalie dari kejauhan pun menyayangkan sikapnya terhadap Sofia. Hingga ia memanggilnya ke ruangannya untuk memberikan peringatan.