
"Jadi Al, kau setuju bukan untuk kembali ke Indonesia?" tanya Satria.
"Tentu ayah, kini keselamatan Sofia dan Diana adalah yg utama.. ini juga demi agar Sofia bisa mempercepat pemulihannya.." ucap Alfi.
"Baguslah, aku masih mampu menangani SHIELD.. jadi Sofia bisa istirahat selama 2-3 tahun sampai ia siap untuk kembali.." balas Satria.
"Terimakasih ayah.." ucap Alfi.
"Aku tahu ini ujian berat untuk kalian, kau harus kuat karena Sofia begitu terpukul.." ucap Satria.
"Pasti ayah.. saat ini Sofia memang membutuhkan keluarganya.." ucap Alfi.
"Ya, kau hibur dia.. dan aku akan berusaha mencari Dion.." ucap Satria.
"Aku juga akan mengerahkan kemampuanku untuk mencari Dion, agar putraku lebih cepat ditemukan.." ucap Alfi.
"Bagus, selanjutnya kau perhatikan Sofia dengan baik .." ucap Satria.
"Dan kau bisa tinggal di rumah kami selama di Indonesia." ucap Satria.
"Tidak ayah, aku sudah memiliki rumah.. rencananya aku tahun depan akan pindah ke Indonesia, tapi sepertinya lebih cepat dari perkiraanku.." ucap Alfi.
"Oke.. katakanlah jika kau butuh bantuan kami selalu ada untuk kalian.." ucap Satria.
"Terimakasih Ayah.." balas Alfi dan memeluk ayah mertuanya.
Tak berselang, Sofia pun dipindahkan diruangan tersebut. Lukanya tak begitu parah karena ia memakai baju pelindung. Yg terluka cukup parah justru Max, karena ia berusaha melindungi Sofia di saat-saat terakhir.
Sofia pun mengigau memanggil-manggil Dion, membuat Alfi sedih, tapi ia selalu duduk di samping tempat tidur istrinya meskipun ia juga membutuhkan waktu istirahat. Keluarga dan Nathalie pun sudah memintanya untuk beristirahat kembali, tapi ia bersikeras untuk disamping Sofia sampai ia sadar.
"Dion.. Dion.. maafkan mommy.. semua karena mommy terlalu lemah.. hiks..hiks.." Sofia pun terus mengigau dan menyesali karena tak bisa membawa pulang putranya, Dion.
"Sayang, ini bukan salahmu.. sadarlah.. " ucap Alfi yg tak sadar menitihkan air mata juga.
Kondisi itu berlangsung selama 1 hari. Dan dihari berikutnya Sofia mulai membuka matanya. Ia tersadar sudah berada di ruangan asing. Dan juga tersadar bahwa fakta anaknya diculik adalah kenyataan.
"Dionn.. hiks..hiks.." ucapnya saat terbangun.
Alfi yg baru saja dari toilet pun mendekatinya.
"Sayang kau sudah sadar.." ucap Alfi mendekat dan memegang tangannya.
"Sayang Dion, diambil kembali oleh si ke***at itu.." ucap Sofia.
"Iya, aku dan ayah kita sudang mencarinya.. kau tenanglah.." ucap Alfi.
"Aku merasa bersalah, semua ini karena aku terlalu lemah.." ucap Sofia.
"Tidak, kau wanita tangguh yg pernah kutemui selama ini.. kondisimu adalah normal pasca melahirkan.." ucap Alfi.
__ADS_1
"Apa yg harus kulakukan?" ucap Sofia.
"Sayang dengarkan aku, kita masih ada Diana, dia sangat membutuhkanmu.. ibumu bilang Diana menangis dan seperti mencarimu.." ucap Alfi.
"Diana.. oh aku ibu yg bodoh, bagaimana aku melupakannya.. aku akan pulang sekarang.." ucap Sofia.
"Tidak kau harus istirahat 2 hari lagi.." ucap Alfi.
"Dia pasti haus dan merindukanku.." balas Sofia.
"Nanti aku akan minta pada ibu untuk membawanya kemari.." ucap Alfi.
"Bolehkah?" tanya Sofia.
"Aku pemilik rumah sakit ini, kau harus ingat itu.." ucap Alfi menenangkan Sofia. Mereka pun berpelukan.
Wajah terpukul Sofia masih jelas terlihat, tapi ia berusaha kuat untuk Diana. Ia ingat Diana masih membutuhkan asi dirinya. Walaupun ia juga membayangkan wajah Dion saat memberi asi Diana. Ia selalu berfikir, Apa Dion masih hidup? apa dia memperoleh kasih sayang? apa ia mendapatkan makanan yg tepat?.. membayangkan segalanya membuat Sofia terlarut dalam kesedihan.
Seluruh keluarganya dan keluarga Alfi selalu memberikan dukungan padanya. Mereka memberi semangat pada Alfi dan Sofia yg mengalami ujian berat dalam hidup mereka. Di depan keluarga Sofia masih bisa berpura-pura tersenyum, tapi saat ia sendiri di dalam kamar ia menangisi Dion. Dan hal itu terlihat oleh Alfi. Ia curiga mental istrinya terganggu setelah insiden ini.
Dan setelah mereka keluar dari rumah sakit, Alfi mempersiapkan segalanya untuk kepindahan mereka. Terlebih melihat Sofia yg selalu menangis melihat kamar bayi yg sudah mereka hias sedemikian rupa. Demi keamanan keluarganya, Alfi pun membawa Sofia dan juga Diana kembali ke Indonesia.
Mereka terbang menggunakan pesawat pribadi milik SHIELD, dan untuk sementara mereka akan tinggal dirumah Reina dan Satria demi kenyamanan Sofia. Semua dilakukan karena rumah yg akan mereka tinggali belum siap 100%, dan masih dalam tahap renovasi. Barulah 1 bulan kemudian mereka pindah ke rumah tersebut.
Hari pertama mereka pindah, Sofia cukup senang. Ia bisa sedikit melupakan kesedihannya dengan merawat Diana. Tapi sebuah kejadian pun terjadi, dimana Diana menghilang oleh pengasuhnya. Sofia marah-marah dan melampiaskan amarahnya pada orang-orang yg bekerja padanya. Ia bahkan sampai mengeluarkan senjata api miliknya saat mencari Diana.
"Dimana putriku?? kalian tidak melihatnya??" tanya Sofia kesal.
"Cari sampai dapat! " perintah Sofia.
Tak tinggal diam, Sofia menggeledah seisi rumahnya dan mancari ke lingkungan sekitarnya sembari mengantongi senjata api tersebut. Namun, Diana tak ditemukan membuatnya frustasi. Ia pun menembaki vas bunga yg berada di halaman rumahnya yg sepi, karena para Art ketakutan untuk mendekatinya.
Dorr..Dorr.. Prankk..
"Astaga Sofia! apa yg kau lakukan?" tanya Reina yg muncul bersama Diana.
"Ibu.. Diana.." ucapnya langsung melempar senjata apinya dan berlari menuju ibu dan anaknya.
"Diana putriku.." ucapnya menangis.
"Sofia, ibu membawa Diana untuk imunisasi.. kau tidak membaca pesan di ponselmu?" tanya Reina.
"Tidak, aku bahkan tak tahu dimana ponselku.." ucap Sofia.
"Kau bawa Diana masuk ke kamarnya.." perintah Reina pada pengasuh bayi tersebut.
"Ibu aku masih merindukannya.." ucap Sofia.
"Lihat Diana mengantuk habis imunisasi.." ucap Reina.
__ADS_1
"Dan sepertinya ibu harus bicara padamu.." ucap Reina menarik tangan Sofia.
"Kalian bereskan pecahan ini.. bahaya jika ada yg melintas.." ucap Reina.
"Baik nyonya.."
Sofia pun dibawa ke taman, disana ia melihat ibunya sangat serius menatap dirinya.
"Ibu ada apa ini?" tanya Sofia.
"Siapa dirimu?" tanya Reina.
"Aku putrimu bu.. ibu ini kenapa?" tanya Sofia kesal.
"Coba lihat dirimu dicermin, kelopak mata menghitam, rambut tak terurus acak-acakan, dan apalagi tadi kau marah-marah pada semua orang dan menembakkan senjata api?? kau bukan putriku, yg kutahu putriku bisa mengontrol semuanya dengan baik.." ucap Reina.
"Apa ibu tak tahu apa yg kurasakan? Diana adalah alasanku untuk hidup.." ucap Sofia.
"Tapi mungkin Dion bisa ditemukan.." ucap Reina.
"Aku tidak yakin, bagaimana kita menemukan bayi yg wajahnya bisa berubah? dan itu juga kalau si kepa***t itu membiarkan anakku hidup.." ucap Sofia.
"Sofia kau sudah berubah, dimana sikap putriku yg selalu percaya diri dan pantang menyerah? " tanya Reina.
"Ibu, cukup.. ! aku tak mau bicara lagi.." ucap Sofia.
"Sofia sikapmu makin berubah, jika begini ibu takut kau mencelakai Diana.." ucap Reina.
"Itu tidak mungkin terjadi.. aku masih waras." ucap Sofia.
"Waras? kau tadi memarahi semua orang.. kau periksakan dirimu ke psikolog.. atau ibu akan membawa Diana pergi.." ucap Reina.
"Tidak, ibu tidak bisa melakukannya.." ucap Sofia.
"Bisa, karena menjaga dirimu saja kau tidak bisa.. lihat tubuhmu yg tak terurus.. Lalu pengasuh Diana bilang kau selalu lupa memberinya asi.. " ucap Reina.
"Ibu jangan bawa Diana pergi, kumohon.." ucap Sofia.
"Kau periksakan dirimu ke psikolog.. mau dengan kenalan ibu atau kenalan suamimu terserah.. " ucap Reina.
"Tapi jangan bawa Diana.." ucap Sofia.
"Semua tergantung pada dirimu, ibu akan mengatakannya pada Alfi.." ucap Reina.
"Ibu..!" ucap Sofia mengejar ibunya saat menuju ke mobil.
"Sofia jernihkan pikiranmu, dan juga ikuti saranku.." ucap Reina.
Sofia pun terdiam dan masuk ke dalam rumah. Ia bercermin dan melihat dirinya yg menyedihkan bahkan tubuhnya yg masih berisi tak terurus. Ia menangis dan tak tahu harus berbuat apa. Alfi yg dihubungi Reina pun juga merasakan hal yg sama. Hingga ia berjanji akan membawa Sofia pada Dokter yg tepat.
__ADS_1
Sofia pun menuruti ibunya dan juga Alfi. Ia pergi untuk konsultasi tentang psikologisnya yg memburuk. Dan Diana dibawa ke rumah Reina karena Sofia pergi ke Singapura menemui kenalan Alfi. Reina pun dengan senang hati merawat cucunya bersama Siska. Siska pun mampir setiap hari untuk menemui cucunya. Bahkan Bima pun dibuat tersenyum melihat tawa Diana. Walaupun mereka merindukan Dion yg entah dimana keberadaannya.