Gadis Tangguh

Gadis Tangguh
S2.EP207


__ADS_3

Diana pun menemui dadnya di ruangannya. Ia yg penasaran pun langsung menuju ke ruang daddy-nya.


"Masuklah.." ucap Alfi saat pintunya diketuk.


"Dad aku datang.." ucap Diana.


"Kau cepat sekali Diana.." ucap Alfi.


"Kebetulan aku sedang mengunjungi rekanku yg dirawat disini.." ucap Diana.


"Rekanmu atau kekasihmu yg kesekian?? ha.. jawab.." ucap Alfi.


"Dia rekanku dad, lebih tepatnya kapten tim alfa. Dia menyelamatkanku dari tembakan saat misi kemarin, dan dia yg tertembak.." ucap Diana.


"Oh, baiklah.. yakin bukan kekasihmu? kau pagi-pagi sudah membuat roti.." ucap Alfi tersenyum.


"Dad, aku kasihan saja gara-gara aku dia tertembak.." ucap Diana.


"Oke.. aku percaya.." ucap Alfi.


"Jadi ada apa Dad?" tanya Diana.


"Ini tentang mom mu., Dia mendapat kabar dari Max kalau saudaramu sudah tiada.." ucap Alfi.


"Apa?? dad yakin??" tanya Diana sedih.


"Dad juga tak yakin sayang, tapi kakekmu sedang menyelidikinya." ucap Alfi.


"Lalu mom bagaimana?" tanya Diana.


"Dia sedang dirawat juga disini.." ucap Alfi.


"Pantas saja kalian langsung kemari.." ucap Diana.


"Dad minta kau bersiap jika harus menggantikan mommu.." ucap Alfi.


"Aku?? Dad, aku bahkan belum ada 1 tahun di tim alfa.." ucap Diana.


"Diana, dad hanya ingin kau bersiap jika sesuatu hal yg buruk terjadi.. Jika tidak kau tidak perlu melakukan apapun." ucap Alfi.


"Baiklah dad, aku mengerti.. tapi apakah saudaraku benar-benar sudah tiada?" ucap Diana menangis.


"Ya kita lihat saja perkembangan penyelidikannya.." ucap Alfi mendekat dan memeluk putrinya. Ia sadar kalau Diana sudah menyayangi saudaranya yg hanya ia temui saat bayi.


Setelah itu, Diana keluar dari ruangan Dadnya. Ia memilih untuk pergi ke taman yg sepi dan menangis disana. Ia duduk di sebuah kursi dan menangis sepuasnya. Rasanya belum juga ia berusaha tapi kenapa justru kenyataannya begitu sakit.


Kenneth yg sedang mencari udara segar ditaman pun merasa lebih baik. Ia berjalan-jalan di taman, kemudian duduk persis di belakang Diana yg hanya dibatasi tanaman yg tinggi.


"Disini lebih baik dari pada di kamar pasien.." gumamnya dalam hati.


Namun, tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis dari dekat. Ia pun menoleh ke kanan dan ke kiri tapi tak ada siapapun. Kemudian ia menoleh ke belakang, dan tampaklah ada seorang wanita duduk di kursi taman di belakangnya.


Hiks..hiks..


Awalnya Kenneth pun tak menghiraukannya, namun tiba-tiba suara wanita itu pun tak asing ditelinganya.


"Kenapa kau pergi secepat ini.. kita bahkan belum saling mengenal.." isak Diana.


"Tunggu.. suara barusan.." gumam Kenneth yg langsung melihat lagi wanita tersebut.


Dan ia pun yakin kalau wanita itu adalah Diana, anak buahnya yg menyebalkan di SHIELD. Kenneth pun diam saja tak berani mendekat. Namun, langkahnya terdengar oleh Diana.

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan menguping? kau pikir seru melihat wanita menangis?" ucap Diana kemudian ia berbalik.


"Maaf Diana aku tak bermaksud menguping." ucap Kenneth.


"Kapt.. kau sedang apa disini?" tanya Diana.


"Sedang mencari udara segar namun, tiba-tiba mendengar suara tangisan jadi aku penasaran ada apa.." ucap Kenneth.


"Ck.. sekarang sudah tahu kan .." balas Diana menghapus air matanya.


"Ada apa? tadi kau baik-baik saja.." tanya Kenneth.


"Bukan urusanmu.." balas Diana.


"Ya memang bukan urusanku, tapi kau tidak menemui ayahmu..?" tanya Kenneth.


"Aku sudah menemuinya, sejak kapan kapten jadi sangat cerewet dan peduli padaku?" tanya Diana.


"Ck.. aku hanya tak tega melihatmu menangis. Kupikir bisa menghiburmu, tapi kalau kau marah yasudah aku pergi.." balas Kenneth dengan kata-kata pedasnya.


"Terserah.." ucap Diana lalu pergi.


"Sepertinya moodnya sedang buruk, dia bahkan tak menggodaku saat aku marah, kenapa aku menunggu dia menggodaku?? akhh.. bodoh lupakan gadis itu.." gumam Kenneth dalam hati.


Kemudian Kenneth pergi dari tempat tersebut dan berjalan-jalan sebentar sebelum kembali. Tapi ia melihat pemandangan yg menyakitkan hatinya, dimana Diana berpelukan dengan seorang dokter yg seusia orang tuanya.


"Dari sekian banyak pria, kenapa harus pria tua itu? akh.. membuatku kesal saja.." gerutu Kenneth dalam hati.


Kenneth yg kesal pun pergi ke kamarnya. Ia melihat roti-roti buatan Diana dan memakannya dengan emosi. Padahal yg ia lihat adalah Diana sedang memeluk ayahnya karena ketahuan menangis.


☘☘☘


Dikamarnya datanglah anak buah Kenneth menjenguk. Mereka melihat keadaan kaptennya baik-baik saja dan besok sudah bisa pulang. Mereka pun mengobrol dengan santai membahas misi baru mereka.


"Baguslah kapt kalau begitu.." ucapnya.


"Hmm.. sepertinya ada seorang gadis yg menjengukmu.." ucap salah seorang.


"Ya.. lalu apa masalahmu?" tanya Kenneth.


"Roti-roti ini terlihat sangat enak kapt, aku minta satu ya.." ucapnya sembari meraih roti-roti tersebut.


Plakk..


"Akh kapt aku hanya minta satu.."


"Tidak boleh, semuanya milikku.. kau harus menjaga makananmu.. ingat itu..!" ucap Kenneth langsung mengambil roti-roti tersebut.


"Kapt, kenapa pelit sekali.."


"Sudahlah, mungkin kapt kita ini sedang jatuh cinta.." goda rekannya.


"Iya, lihatlah pita-pita manis ini di keranjang buahnya.." tambah yg lain.


"Ck..kalian itu berisik sekali.. sudah sana pulang aku mau istirahat.." ucap Kenneth mengusir.


"Oke kapt.. "


"Sudah ayo kita pulang, nanti kekasihnya datang kita hanya akan mengganggu.."


"Ckk.. sudah sana keluar..!" perintah Kenneth.

__ADS_1


"Hahaha.. baik kapt.." ucap mereka sembari tertawa.


"Jatuh cinta? tidak mungkin, aku hanya menyukai roti ini.. entah dimana gadis itu membelinya." gumam Kenneth.


☘☘☘


Sementara Claude, dia menyelidiki obat-obatan tersebut di sebuah laboratorium di rumah sakit tempatnya bekerja.


"Dimana kau menemukannya?" tanya rekannya yg bekerja di lab.


"Di jalanan sepertinya terjatuh.." ucap Claude.


"Ini termasuk obat-obatan baru, aku tak tahu siapa pembuatnya tapi ini belum banyak beredar.. kau harus hati-hati.."


"Baiklah terimakasih atas bantuanmu.." ucap Claude.


"Oke tak masalah.." ucap rekannya.


Claude yg baru saja merampungkan S2nya, pun kini sudah bekerja sebagai dokter spesialis bedah saraf. Ia cukup terkenal setelah membantu banyak pasien penyakit syaraf. Hingga ia banyak dicari pasien dari luar kota bahkan luar negara. Brian yg mendapat info tersebut dari rekannya pun mengabari Alfi, sebagai bentuk rasa pedulinya terhadap Sofia.


Alfi pun berencana untuk terbang ke negara paman sam tersebut. Setelah membuat janji, Alfi pun terbang ke negara tersebut. Dan terjadilah pertemuan antara ayah dan anak tanpa mereka berdua sadari.


Alfi menemuinya di rumah sakit saat jam praktiknya sudah selesai. Kebetulan ada rekannya juga di rumah sakit tersebut yg langsung memperkenalkannya pada Claude.


"Silahkan kalian berdiskusi karena aku masih ada pekerjaan" ucap rekan Alfi.


"Terimakasih kawan.." balas Alfi.


"Silahkan tuan, katakan apa tujuan anda menemuiku.." ucap Claude.


"Hmm kau sudah tahu bukan aku siapa.." ucap Alfi.


"Ya aku sudah tahu, kurasa anda juga tahu siapa aku.." balasnya tersenyum.


"Jadi ini mengenai istriku.." ucap Alfi yg lalu menceritakan kondisi Sofia yg semakin memburuk. Ditambah lagi ia mulai mengalami sakit kepala karena insomnianya.


"Baiklah tuan, bawa saja istrimu kemari, aku akan berusaha semampuku.." ucap Claude.


"Terimakasih dr.Claude. Aku harap kau dokter terakhir yg menanganinya.." ucap Alfi.


"Aku tak bisa menjamin apapun tuan, tapi aku akan berusaha.." ucap Claude.


"Kau tahu, kau mirip sekali dengan anggota keluargaku.." ucap Alfi.


"Benarkah? " tanya Claude sedikit bingung dengan pembahasan Alfi.


"Ya, kau mirip ayah mertuaku saat masih muda.. dan kau bisa sukses di usia muda.. orang tuamu pasti bangga." ucap Alfi.


"Mungkin saja tuan, aku hanya pemuda desa yg berusaha bekerja di negara besar ini.. dan pasti orangtuaku bangga padaku.." ucap Claude merendah.


"Jangan merendah begitu, sebagai sesama dokter aku juga seorang perantau sama sepertimu dahulu.. kau harus terus berusaha.." ucap Alfi.


"Benarkah? .." balas Claude.


"Ya.. aku pindah dari satu negara ke negara lain, hingga akhirnya bisa membeli sebuah rumah sakit." ucap Alfi.


"Kau sangat hebat tuan, kuharap nasibku juga sama sepertimu.." ucap Claude.


"Dengarlah anak muda, tiada yg tak mungkin.." ucap Alfi.


"Semoga saja begitu tuan. " balas Claude tersenyum. Ia merasa pria yg dihadapannya begitu hangat dan ramah padanya. Bahkan sampai mengajaknya makan malam sebelum ia kembali ke negaranya.

__ADS_1


Alfi juga merasa demikian, ia merasa Claude adalah pemuda yg sama seperti dirinya dahulu. Pekerja keras yg merantau dari satu tempat ke tempat yg lain. Belum lagi prestasinya yg hebat dibidangnya. Ingin rasanya ia merekrut pemuda hebat sepertinya jika ia bisa. Tapi pastinya pemuda itu merasa tak nyaman jika ia langsung mengatakannya.


__ADS_2