
Kenneth pun memilih untuk mandi dan menunggu Diana berbicara padanya. Setelah mandi Kenneth masuk ke dalam kamar dan melihat Diana menutupi tubuhnya dengan selimut, hingga ia mengira Diana sakit. Dengan kondisi handuk masih mengikat di tubuhnya Kenneth pun mendekati Diana.
"Diana ada apa? apa kau sakit?" tanyanya.
"Ck.. berhenti pura-pura tidur.. aku tahu kau belum tidur.." ucap Kenneth.
"Baiklah.. " ucap Diana bangun dan duduk tapi terkejut melihat Kenneth tak mengenakan apapun selain handuk yg melilit tubuhnya.
Otak Diana pun mulai traveling dan mengingat peristiwa semalam.
"Pakai dulu bajumu.." pinta Diana.
"Oke.." ucap Kenneth yg tanpa malu memakai baju di hadapan Diana.
"Ganti di kamar mandi atau dimanapun.. jangan dihadapanku.." ucap Diana.
"Lagipula kau kan sudah melihat semuanya.." ucap Kenneth tanpa ragu.
"Akh.. aku tak tahu lagi.." ucap Diana kembali menutup tubuhnya sampai kepalanya dengan selimut.
Sementara Kenneth berusaha untuk menahan tawanya melihat tingkah konyol Diana. Ia pun penasaran karena Diana tak marah sedikitpun padanya. "Apakah ia bisa menerimaku kalau begini?" gumam Kenneth dalam hati.
Setelah berpakaian lengkap, Kenneth pun mendekati Diana dan mengajaknya berbicara dari hati ke hati. Agar keduanya jujur tentang perasaan mereka masing-masing.
"Diana aku sudah pakai baju, jadi berhentilah menutupi wajahmu.. " ucap Kenneth menarik selimut.
"Akh.. kau ini aku bisa buka selimutnya sendiri.." ucap Diana.
"Jadi mau mulai darimana?" tanya Kenneth.
"Apa semalam kita benar-benar melakukanny?" tanya Diana.
"Apa kau tak merasakan apapun di tubuhmu?" balas Kenneth tersenyum.
"Itu.. Tentu saja, tubuhku remuk. Memangnya kita melakukannya berapa lama?" tanya Diana.
"Cukup lama, hingga dini hari.. kau tahu kenapa kau bisa seperti kemarin?" tanya Kenneth.
"Tidak, aku bingung kenapa aku bisa segila itu.. " ucap Diana.
"Kau meminum minuman yg telah dicampur oleh obat perangsang oleh Derrick. Beruntung aku, Brian dan Dion tiba tepat waktu.. " ucap Kenneth.
"Dasar baj***an itu benar-benar .. " ucap Diana kesal.
"Apa kau menyesal?" tanya Kenneth.
"Menyesal bagaimana?" tanya Diana.
"Menyesal melakukannya denganku.. aku tahu itu pertama kalinya bagimu.. " balas Kenneth serius.
"Entahlah, kurasa tidak dan untungnya aku melakukannya denganmu bukan dengan si bren***ek itu.." ucap Diana.
"Baguslah, kukira kau akan membunuhku.." balas Kenneth.
"Aku memang bukan istri yg baik untukmu.." ucap Diana.
"Baguslah jika kau sadar.." balas Kenneth tersenyum.
"Ishh.. kau itu terlalu jujur membuatku kesal.." ucap Diana memukul Kenneth dengan bantal.
"Baiklah, tidak sepenuhnya begitu. Tapi bagaimana hubungan kita selanjutnya?" tanya Kenneth.
"Maksudmu?" balas Diana.
"Kenapa kau jadi lemot begini sih? maksudku bagaimana hubungan kita kedepannya. Kita sudah ada ditahap kemarin, apakah masih sama atau ada perubahan..?" tanya Kenneth.
__ADS_1
"Aku.. tidak tahu. Semua diluar perkiraanku." ucap Diana.
"Diana belajarlah untuk mengambil langkah tegas dalam hidupmu. Kita ini sudah menikah, apakah akan selamanya begini.?" tanya Kenneth.
"Maaf.. bolehkah aku memikirkannya sejenak..?" pinta Diana.
"Aku beri waktu 3 hari, jika kau tak ada perubahan aku akan menikah lagi.." balas Kenneth.
"Apaaa?? kau mau kuhajar betulan?" tanya Diana tak terima.
"Kalau begitu cepat putuskan, pikirkan bagaimana jika tiba-tiba kau hamil.. pikirkan akan seperti apa rumah tangga kita kedepannya." ucap Kenneth.
"Kalau kau sendiri?" tanya Diana.
"Aku sudah memikirkannya dan selalu siap apapun yg terjadi.." ucap Kenneth.
"Baiklah, 3 hari lagi aku akan membicarakannya.." ucap Diana.
"Bagus, sekarang kau sudah makan?" tanya Kenneth.
"Belum.. apartemenmu benar-benar menyedihkan. Semuanya bahan-bahannya terbatas.." ucap Diana.
"Kenapa tidak bilang, aku bisa menyiapkannya.." ucap Kenneth.
"Kenapa aku harus bilang?" balas Diana.
"Karena aku tak mau memaksamu untuk mengurusi makananku.." ucap Kenneth.
"Oh jadi begitu.." balas Diana.
"Kalau begitu kau pakai kartu ini untuk belanja semua kebutuhanmu.." ucap Kenneth mengeluarkan sebuah kartu.
"Apa aku boleh menggunakannya sepuasnya?" tanya Diana.
"Ya pakailah, tapi tidak berlebihan karena ada banyak orang yg kesulitan diluar sana.." ucap Kenneth.
"Aku akan pesankan makanan, kita tunggu diluar kamar saja.." ucap Kenneth.
"Aku mau di kamar saja, tubuhku rasanya remuk.." ucap Diana.
"Maaf, tapi semalam kau sangat bersemangat ." balas Kenneth tersenyum.
"Ish.. kau ini minta maaf macam apa itu ." ucap Diana melemparkan bantal ke arah Kenneth.
Kenneth pun menunggu makanan dan setelah makanan datang ia segera memanggil Diana untuk keluar.
"Tuan putri, ayo makan.." ucap Kenneth.
"Ck.. jangan panggil aku tuan putri." ucap Diana.
Kenneth pun melihat Diana berjalan perlahan dan membuatnya tak tega. "Apa yg sudah kulakukan semalam sampai dia jadi begini?" gumamnya dalam hati.
"Kenapa lihat-lihat?" tanya Diana.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Kenneth.
"Tidak, rasanya sakit.. " ucap Diana.
"Maaf.. aku tak tahu kalau rasanya akan sesakit itu.." ucap Kenneth.
"Mau kegendong?" tanya Kenneth.
"Tidak usah, aku masih sanggup berjalan.." ucap Diana.
Akhirnya mereka berdua pun makan debgan tenang. Dan Diana benar-benar memikirkan ucapan Kenneth tentang kehidupan pernikahannya kedepannya. Sejujurnya ia belum siap untuk menikah, tapi karena keadaan ia harus menerima kenyataan ini. Sulit memang, bagi seorang Diana yg terbiasa hidup bebas. Tapi kini sudah ada Kenneth yg menjadi partner hidupnya yg harus ia pikirkan juga.
__ADS_1
"Kalau kau butuh apapun katakan saja.." ucap Kenneth.
"Ya.. aku pasti mengatakannya.." ucap Diana.
Keesokannya semua berjalan seperti biasa, Diana pun mulai bekerja dan tak ingin keluarganya mengkhawatirkannya. Brian maupun Dion benar-benar membuat hukuman yg setimpal untuk Derrick, terbukti keluarganya bahkan tak berkutik dan tak mampu melawan balik.
Sementara Diana setiap harinya memikirkan tentang ucapan Kenneth mengenai pernikahannya. Apalagi ia sempat menyinggung soal anak, apakah ia mampu memiliki anak? mampu merawatnya? belum lagi dengan segala problema dalam pernikahan.
Pertanyaan-pertanyaan yg ada di benaknya pun membuatnya tak fokus bekerja. Akhirnya Diana pulang lebih awal dan mencari jawaban atas pertanyaanya. Tanpa sadar Diana pulang ke rumahnya dan bertemu momnya.
"Diana, kenapa kau kemari?" tanya Sofia.
"Aku hanya rindu rumahku.." ucap Diana.
"Kemarilah sayang, mom juga rindu.." ucap Sofia memeluk putrinya.
"Apa Dad dan Dion sedang bekerja?" tanya Diana.
"Ya mereka masih bekerja.." ucap Sofia.
"Bagaimana rasanya menjadi CEO??" tanya Sofia.
"Tak begitu sulit mom.." ucap Diana.
"Lalu kenapa wajahmu seperti ini?" tanya Sofia.
"Aku bingung mom, " ucap Diana.
"Apa yg membuatmu bingung, kalau bicara jangan setengah-setengah." balas Sofia.
"Aku merasa belum siap untuk menikah.." ucap Diana.
"Kau belum siap karena tak pernah menjalaninya.. tapi jika kau menjalaninya dengan penuh keikhlasan tak ada yg tidak bisa kau lakukan.." ucap Sofia.
"Lalu, aku harus apa?" tanya Diana.
"Apa kau tidak menyukai Kenneth? dia sesuai keriteriamu bukan?" tanya Sofia.
"Ya.. dari semua laki-laki dia yg paling mendekati.." balas Diana.
"Jadi bagaimana perasaanmu padanya?" tanya Sofia.
"Tidak tahu," balas Diana.
"Apa kau merasa cemburu tiap kali ada wanita di dekatnya? atau kau merasa berdebar saat bersamanya atau bahkan mungkin sudah nyaman?" tanya Sofia.
"Aku.. mungkin pernah merasakannya.." balas Diana.
"Kau hanya perlu memahami dirimu dan isi hatimu.. " balas Sofia.
"Sepertinya mom benar.." ucap Diana.
"Makanya jangan hanya dipikirkan hal sulit saja, tapi coba kau jalani dengan sungguh-sungguh mungkin tak sesulit yg kau pikirkan.." ucap Sofia.
"Terimakasih mom, aku sedikit ada pencerahan.." ucap Diana.
"Baguslah, ayo makan bersama mom hari ini.." ucap Sofia.
"Oke.. sudah lama kita tak makan bersama.." ucap Diana.
Satu persatu, Diana pun paham dan mulai menggali lagi apa yg diinginkan hatinya. Hingga ia pulang ke apartemennya dan melihat Kenneth sudah pulang lebih awal.
"Kau darimana?" tanya Kenneth.
"Dari rumah mom.." balas Diana.
__ADS_1
"Lain kali kabari aku.. aku pikir kau kemana karena Kim bilang kau sudah pulang.." ucap Kenneth.
"Maaf, lain kali akan kukabari.." ucap Diana.