
Waktu pun mulai berjalan, kini Sofia ditemani beberapa pelayan untuk dirias bak putri yg hendak ke pesta. Sejujurnya Sofia tak suka memakai dress yg diberikan Vall. Karena roknya yg agak pendek membuatnya tak bebas bergerak. "Hhh.. aku harus bersabar jika ingin kabur.." gumam Sofia dalam hati.
Sofia hanya menuruti keinginan Vall untuk melihat seberapa besar rumah tersebut dan apa saja akses keluar dari sana. Sabar dan sabar kata-kata itu yg ada di kepalanya.
Hingga kini setelah selesai dirias ia dikawal menuju tempat Vall. Ia berjalan diiringi para bodyguard yg berjaga takut Sofia akan kabur. Sofia pun hanya berjalan santai mengikuti arahan mereka.
Ketika tiba disuatu tempat yg sudah dihias sedemikian rupa, Sofia pun nampak diam tanpa ekspresi. Namun, berbeda dengan Vall ia takjub akan penampilan Sofia malam ini yg begitu cantik dengan gaun dan polesan make up tipis diwajahnya.
"Sofia kau sangat cantik.." ucapnya.
"Terimakasih.." balas Sofia datar.
"Ayo kemarilah,.." ucap Vall mengulurkan tangannya, namun Sofia tak membalasnya dan mendekatinya.
"Aku tak suka disentuh sembarangan.. ingat itu..!" ucap Sofia masih dengan wajah datarnya.
"Baiklah.." balas Vall mencoba menahan diri. "Bisa ada di tahap ini saja sudah bagus.." gumam Vall dalam hati.
"Silahkan duduk.." ucap Vall, dan Sofia pun duduk dihadapannya.
"Well.. apa tujuanmu kali ini tuan Vall? ingin meracuniku dengan semua hidangan ini?" tanya Sofia tersenyum.
"Sofia apa kau tidak bisa mempercayaiku?" tanya Vall terkejut.
"Tidak sama sekali, bagiku kau masih musuhku yg bisa mengancamku.." balas Sofia.
"Aku sudah berusaha Sofia, aku tidak mengikatmu lagi dan memperlakukanmu seperti ratuku.. kau masih tak percaya?" tanya Vall.
"Maaf tuan, beberapa hari yg lalu kau masih menodongkan pistol ke kepalaku, apa kau lupa??" tanya Sofia.
"Sofia aku sudah berubah.. percayalah.." ucap Vall.
"Aku bukan orang bodoh dan sudah banyak bertemu orang-orang sepertimu yg pura-pura berubah tapi saat aku mempercayainya, ia bisa menusukku dari belakang.." ucap Sofia.
"Cukup Sofia, kalau tak percaya coba kau makan makanan yg disediakan.." ucap Vall.
"Oke.. " balas Sofia.
Kemudian muncul beberapa pelayan membawakan beberapa hidangan di atas meja. Vall pun mempersilahkan Sofia memakannya, namun Sofia tidak ingin ceroboh ia justru menyuruh Vall memakan masakan tersebut terlebih dahulu.
Akhirnya Vall memakan makanan yg ada di hadapannya agar Sofia percaya.
"Lihat Sofia aku baik-baik saja.." ucapnya.
"Baiklah.." balas Sofia.
__ADS_1
Mereka pun makan dengan tenang tanpa ada obrolan sedikitpun, yg ada hanya bunyi sendok dan garpu saja. Hingga muncullah hidangan penutup, Sofia tak terlalu berminat pada makanan manis.
"Sofia kenapa kau tidak makan cakenya?" tanya Vall.
"Aku tak suka cake.." ucap Sofia.
"Baiklah.." ucap Vall lalu menyuruh pelayan membawa semua cake yg disediakan.
"Aku sudah kenyang, terimakasih makanannya.." ucap Sofia lalu berdiri.
"Sofia tunggu dulu.. " ucap Vall menarik lengan Sofia.
"Sudah kukatakan, jangan menyentuhku sembarangan.." ucap Sofia tegas.
"Maaf.. tunggu sebentar.." ucap Vall.
"Ada apa?" tanya Sofia.
Vall pun berlutut dan mengeluarkan cincin berlian yg sudah dipesan William.
"Will you marry me?" tanya Vall dengan penuh keyakinan.
"Hentikan Vall, jangan pernah berfikir tentang pernikahan lagi apalagi dengan musuhmu.." ucap Sofia.
"Sofia apa kau pikir aku akan diam saja dan berlutut agar kau menerimaku.. aku akan lakukan segalanya agar kau menerimaku.." ucap Vall.
"Cukup Sofia kau harus memakainya.." ucap Vall sembari menarik kasar tangan Sofia dan memaksa memakaikan cincinnya.
"Hentikan Vall.." ucap Sofia berontak, tapi ia langsung diberondong senjata oleh pengawal Vall dari jarak dekat.
"Vall.. kau benar-benar sudah tidak waras.." ucap Sofia hingga tak terasa air matanya pun menetes.
"Sekarang kau sudah jadi milikku.. dan jangan berpikir untuk mencari cincin murahan dari pria lain.." ucap Vall memeluk erat Sofia.
"Aku harap kau menerimaku dan hidup bahagia bersamaku.." ucap Vall melerai pelukannya.
Bukan Sofia jika ia tak membalas perbuatan yg tidak ia sukai. Ia menendang kasar kaki Vall yg ia tembak beberapa hari yg lalu.
Dukkk..
"Akhh.. Sofia.." ucap Vall.
"Aku sudah memperingatkanmu jangan menyentuhku seenaknya.." ucap Sofia.
"Kalian, cepat antar aku ke kamarku aku takkan lari lagi.." ucap Sofia lalu pelayan pun mengantarnya ke kamarnya.
__ADS_1
Sementara Vall sudah dibawa ke ruangannya untuk diobati oleh dokter.
"Anda baik-baik saja tuan?" tanya William.
"Iya, aku rasa kata-katamu benar Will.." ucap Vall.
"Tuan, wanita itu mampu menghancurkan organisasi di US.. apalagi yg anda pikirkan.." ucap William.
"Aku tahu, tapi aku mencintainya Will.. dan rasanya seperti menggenggam erat sebuah pedang.." ucap Vall.
"Tuan, anda sudah memulainya.. tak mudah membuat pedang tersebut tumpul.." ucap Will.
"Kau benar, andai hidupku baik-baik saja dan menjadi Vallentino Felix.. pasti aku bisa mendekatinya.." ucap Vall.
"Tapi aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Sofia termasuk menghabisi seluruh keluarganya.." ucap Vall.
"Tuan, pikirkan lah dengan hati-hati.. jangan sampai salah langkah.." ucap Will lalu pamit undur diri begitu dokter tiba.
☘☘☘
Sementara Kenan sudah mendapatkan informasi mengenai BlackStar. Ia terus memantau informasi tersebut dari tim SHIELD. "Good.." ucap Kenan yg terus berada di depan laptopnya. Sementara Satria berkeliling dengan penyamarannya bersama anak buahnya.
Satria melihat beberapa anak buah BlackStar berkeliaran di sekitar toko perhiasan. Ia pun bingung, karena tak mungkin mereka merampok toko perhiasan jika bisnis mereka berkembang pesat.
Dan muncullah lelaki bertubuh besar masuk ke toko perhiasan tersebut sementara anak buahnya berjaga disekitarnya. Satria pun mengambil beberapa gambar untuk dianalisa tim SHIELD melalui kacamata pemberian Kenan. "Kena kalian.." gumam Satria dalam hati.
Kini anak dan ayah tersebut bekerja keras untuk mengintai BlackStar dengan cara masing-masing. Satria yg sejak dahulu lebih suka bekerja di lapangan, dan Kenan lebih suka mengendalikan semuanya dibalik layar monitor.
"Ken aku kirimkan beberapa gambar bagus, cepat sebarkan agar lebih cepat diidentifikasi.." ucap Satria.
"Bagus ayah.. akan segera kukerjakan.." ucap Kenan.
Dengan cepat Kenan menganalisa foto tersebut dan keluarlah sebuah nama William.
"Ayah aku sudah menemukannya.." ucap Kenan.
"Kau cepat sekali, siapa pria itu..?" tanya Satria.
"William.. hanya itu kudapatkan.." ucap Kenan.
"Baiklah dia adalah tangan kanan pemimpin BlackStar. Kemungkinan mereka masih berada dinegara ini.." ucap Satria.
"Baguslah, apa rencana selanjutnya?" tanya Kenan.
"Aku akan mengikuti mereka.. kau lanjutkan pekerjaanmu nanti kukabari.." ucap Satria.
__ADS_1
"Baik ayah.." ucap Kenan memutus sambungan telepon.
Satria pun mengikutinya menuju ke sebuah mansion besar. Tapi karena akses yg terbatas ia hanya bisa mengikutinya sampai di gerbang saja. "Kurasa Sofia mereka sembunyikan disini.." gumam Satria dalam hati. Lalu ia memutuskan kembali bersama anak buahnya membawa informasi penting untuk rencana selanjutnya.