
Diana pun pulang dengan bahagia membawa seluruh boneka yg ia dapatkan. Ia juga melihat boneka yg lucu-lucu, lalu mengambil satu boneka yg menurutnya mirip suaminya. Boneka macan yg nampak lucu itupun diambil dan dipisahkan, sementara yg lain akan ia bagikan pada pasien anak di rumah sakit.
"Kau senang?" tanya Kenneth yg baru selesai mandi.
"Tentu saja, rasanya main capit boneka itu seru sekali.." ucap Diana.
"Mau kubelikan mainannya? agar kau bisa main sepuasnya dirumah?" tanya Kenneth.
"Benarkah?? aku mauu.." ucap Diana bahagia dan mendekati suaminya.
"Boleh tapi kau harus berjanji agar tak bertarung dengan siapapun.. karena kau tahu kan bahayanya.." ucap Kenneth.
"Kalau aku terdesak bagaimana?" tanya Diana.
"Itu diperbolehkan tapi bukan gerakan berbahaya, bukankah ada Kim?" tanya Kenneth.
"Dia cuti beberapa minggi kedepan.. tapi aku sudah menyiapkan penggantinya.." ucap Diana.
"Oke.. lakukan jika kondisi terdesak, aku tak mau anakku kenapa-kenapa.." ucap Kenneth memeluk Diana.
"Baiklah.." ucap Diana.
"Oke.. sekarang kita tidur sudah malam.." ucap Kenneth.
"Oke.." balas Diana.
Diana pun membawa boneka macan tersebut ke tempat tidur membuat Kenneth heran.
"Kenapa bawa boneka itu?" tanya Kenneth.
"Habis dia mirip denganmu, apalagi kalau lagi galak.." ucap Diana.
"Ck.. dasar kau ini.. kalau sedang tidak hamil saja sudah ku terkam.." ucap Kenneth.
"Haha.. untungnya aku hamil.." ucap Diana.
☘☘☘
Keesokannya, Diana mampir ke rumah sakit ayahnya untuk memberikan boneka-boneka tersebut pada anak-anak. Kim pun bertugas membawa 2 karung boneka tersebut.
"Nona, dimana anda membeli semua boneka ini?" tanya Kim.
"Oh, aku mendapatkannya dari 3 mesin capit boneka.." ucap Diana membuat Kim terkejut. Sejujurnya ia ingin tertawa karena pasti pemiliknya kesal ada yg menguras boneka di mesin capit bonekanya.
"Anda hebat nona.." ucap Kim menahan tawa.
"Tentu saja Kim.. aku memang mahir bermain ini.. dan yg membuatku paling bahagia adalah ekspresi kesal pemiliknya.. haha.. " ucap Diana lalu tertawa membayangkan kembali ekspresi pemiliknya.
"Harusnya dia senang nona, karena bonekanya habis.." ucap Kim.
"Kau benar Kim, dan aku sudah menghubungi dad untuk membagikannya.." ucap Diana.
"Baik nona." ucap Kim.
"Kau bawa ini dan aku yg ini.." ucap Diana.
"Tidak aku akan bawa semuanya. " ucap Kim.
"Baiklah Kim.. tapi mereka akan melihatmu seperti sinterklas. " ucap Diana tersenyum.
"Tak apa nona, aku suka anak-anak.." ucap Kim.
Dan benar saja, anak-anak langsung berdatangan saat Diana dan Kim datang untuk membagikan boneka. Mereka pun senang mendapat boneka binatang pemberian Diana dan Kim. Tak lupa mereka mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih nona dan paman.." ucap anak-anak tersebut.
"Ya.. kalian harus lekas sembuh ya.." ucap Diana.
"Terus semangat ya.. " ucap Kim.
__ADS_1
"Baik.." ucap mereka.
Diana dan Kim pun tersenyum senang, dan Dion pun menghampiri mereka berdua.
"Hai bagaimana apa anak-anak senang?" tanya Dion.
"Ya.. mereka sangat senang.." balas Diana.
"Masih ada, mau?" tanya Diana.
"Untukku?" tanya Dion.
"Ya bawa saja biar cepat habis.." ucap Diana.
"Oke.." balas Dion.
Diana dan Dion pun berbicara sebentar, mereka sudah lama tak bicara karena kesibukan masing-masing dan tempat tinggal yg terpisah.
"Mom, ingin kau sesekali menginap.." ucap Dion.
"Baiklah, nanti aku bicarakan pada Kenneth.." ucap Diana.
"Baguslah, bagaimana kesehatanmu?" tanya Dion.
"Aku sangat sehat, hanya saja moodku saja yg kadang bahagia kadang merasa sedih atau marah.." ucap Diana.
"Itu normal, lalu keluhan seperti mual atau muntah?" tanya Dion.
"Hampir tak ada.." ucap Diana.
"Baguslah, tandanya keponakanku itu tidak rewel.." ucap Dion.
"Iya dia sangat tidak rewel.." ucap Diana.
Sementara Kim hanya tersenyum mendengarnya. "*Memang tidak rewel tapi banyak maunya.." guma*m Kim dalam hati.
Setelah itu Diana pergi dari rumah sakit tersebut dan kembali ke kantornya. Dion pun dihampiri pasiennya yg tak lain adalah Citra.
"Maaf, untuk itu rasanya aku tak bisa memberitahumu nona.." ucap Dion.
"Kenapa? apa dia kekasihmu..?" tanya Citra.
"Bukan.. ada apa memangnya?" tanya Dion.
"Tidak ada.. kalau begitu bonekanya buatku saja.." ucap Citra.
"Ya.. ambillah, lagipula aku tak suka boneka.." ucap Dion memberikannya.
"Terimakasih dok.." ucap Citra.
"Ya, kau jangan lupa untuk mengontrol tanganmu.." ucap Dion.
"Baik.." ucap Citra. "Kalau langsung diberikan berarti mereka tak ada hubungan apa-apa.." gumam Citra.
Hari ini adalah hari terakhir Citra berada di rumah sakit ini. Lebih tepatnya hari terakhir ia bisa melihat Dion, dan seterusnya ia hanya akan bertemu seminggu sekali.
Dan saat Citra hendak keluar dari rumah sakit pun, Dion akan mengeceknya untuk yg terakhir kalinya.
"Baik, semuanya sudah oke.. aku harap nona bisa beristirahat hingga lengan anda bisa digunakan untuk berlatih.." ucap Dion.
"Baik dok.." ucap Citra.
"Terimakasih dok, aku ada sedikit hadiah untuk dokter.." ucap Citra.
"Ini untuk dokter.. kuharap dokter berkenan menerimanya.." ucap Citra memberikan buket bunga dan hadiah.
"Terimakasih, tapi kurasa ini berlebihan nona.." ucap Dion.
"Tidak, ini malah kurang, berkat dokter aku bisa bermain lagi.." ucap Citra.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menerimanya.." ucap Dion tersenyum membuat citra salah tingkah.
"Kalau begitu sampai jumpa lagi dok seminggu lagi.." ucap Citra undur diri bersama sepupunya.
Sementara Dion tersenyum kaku, baru pertama kali ia menerima buket bunga. "Apa aku tak salah dapat sebuket bunga?" gumam Dion dalam hati.
Sementara Citra dan sepupunya saling berbisik.
"Dokternya tampan juga Cit, pantesan betah."
"Bukan cuma itu, tanganku bisa sembuh. Sementara dokter lain bilang aku tak ada harapan.." ucap Citra.
"Kalau begitu selamat, semoga kau bisa bermain dan meraih juara lagi.."
"Tentu saja.." ucap Citra.
☘☘☘
Sementara itu, Kim pun bekerja setengah hari karena memang ini adalah weekend.
"Kau akan pergi bersama Fita lagi?" tanya Diana.
"Benar nona.." balas Kim.
"Kau yakin tak menyukainya?" tanya Diana.
"Aku belum tahu pasti nona.." ucap Kim.
"Baiklah, apapun keputusanmu semoga yg terbaik untukmu.. " ucap Diana.
"Terimakasih nona, masih menghargai keputusanku.." ucap Kim.
"Tentu.." balas Diana.
Dan sepulang kerja Kim bertemu dengan Fita di tempat yg sudah dijanjikan. Fita mengajaknya ke lokasi oleh-oleh tersebut dan memilihkan barang oleh-oleh untuk Kim.
Setelah itu, Fita langsung pergi karena ada panggilan mendadak.
"Maaf Kim, aku harus pergi.. kita makannya kapan-kapan saja.." ucap Fita.
"Baiklah, kau yakin tak apa pergi sendiri?" tanya Kim.
"Ya aku baik-baik saja.." ucap Fita.
"Kalau begitu sampai jumpa lagi.." ucap Fita.
"Hati-hati.." ucap Kim.
"Ya.." balas Fita.
Kim pun lalu diam-diam mengikutinya, dan sampailah ia di sebuah tempat seperti restoran. Dan ada keluarga Fita disana. Kim yg terbiasa menyamar pun tak ada mencurigai gerak-geriknya termasuk Fita.
Kim pun ikut masuk dan mendengarkan pembicaraannya. Dan ternyata apa yg dibicarakan Diana benar, kalau Fita sudah dijodohkan.
"Jadi Fita, ini calonmu.. Andreas.." ucap ibu Fita.
"Salam kenal, namaku Andreas.." ucapnya sembari mengulurkan tangan.
"Fita.." balas Fita datar.
Obrolan pun berlanjut tapi nampaknya Fita tak bahagia. Terlihat dari caranya yg berbicara seadanya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu?" tanya Andreas.
"Baik-baik saja.." ucap Fita.
"Kau tak penasaran pada pekerjaanku?" tanya Andreas.
"Aku sudah tahu siapa anda tuan Andreas, Direktur Miracle company." ucap Fita.
__ADS_1
"Kau sudah tahu rupanya.." ucap Andreas.
Kim yg kesal pun memilih keluar dari sana, ia tak tahan lagi karena penyamarannya bisa terbongkar jika terus berada disana. Entah mengapa ia kesal dan sadar apa yg dikatakan Diana benar. Tapi ia merasa kesempatannya sudah hilang dan memilih pergi meninggalkan resto dengan lesu. "Aku terlambat .." gumam Kim dalam hati.